RSS

Seenak Malam Pertama

30 May

Jika ada orang yang bertanya kepada saya tentang rasa enak dari makanan yang sedang saya kunyah, maka saya biasa menjawab dengan “kata-kata bersayap” begini : “seenak malam pertama”. Wow!

Rasa adalah wilayah pribadi setiap orang. Apa yang menurut pendapat dan rasa saya enak, belum tentu enak menurut pendapat dan rasa orang lain. Demikian juga dengan makanan yang menurut pendapat dan rasa orang lain tidak enak, belum tentu tidak enak menurut pendapat dan rasa lidah saya.

Rasa itu absurd. Beda dengan halal dan haram yang memiliki dasar hukum yang sangat jelas. Jangan pernah sekali-kali menjatuhkan “vonis” dan “stigma” tentang rasa dari sebuah makanan. Tidak ada gunanya memperdebatkan rasa. Serahkan saja kepada lidah masing-masing orang.

Karena itu, saya kurang setuju dengan indikator yang seringkali digunakan untuk menilai sebuah makanan enak dan tidak enak. Konon, jika ada warung makan atau restoran yang pengunjungnya sampai membludak dan antri, maka kemungkinan besar makanan (dan minuman) yang disajikan enak.

Saya lebih setuju dengan deskripsi rasa yang digunakan oleh istri saya. Meskipun pintar memasak, istri saya selalu mengingatkan kepada saya bahwa makanan hasil masakannya memiliki “rasa nggak janji”. Apapun makanan yang dimasak oleh istri saya, ia selalu bilang “rasa nggak janji”. Oops!

Sungguh bahagia saya, sebab di dunia ini, mungkin hanya saya yang pernah merasakan bagaimana makan makanan “rasa nggak janji”. Apakah anda pernah makan rendang “rasa nggak janji”?  Apakah anda pernah makan sayur lodeh “rasa nggak janji”? Apakah anda pernah makan lagsana “rasa nggak janji”.? Dalam hal pengalaman makan makanan “rasa nggak janji”, saya boleh menyombongkan diri sebagai “The Special One”.

 ***

Soal rasa orang tidak bisa berdebat. Kalau Bondan Winarno mencoba untuk mendeskripsikan enak dengan kata-kata “maknyus”, itu memang cara khas Bondan untuk menggugah anda agar “rajin” mengadakan wisata kuliner. Ada yang mendeskripsikan rasa enak dengan “eunakkk tenan” sembari mbujuki “coba-en rek”! Semua boleh-boleh saja dan sah-sah saja.

Mengapa saya menggunakan “seenak malam pertama” untuk mendeskripsikan makanan yang enak? Ya, itu kreatifitas saya dan kebiasaan saya menghindari bertele-tele dengan definisi. Tidak usah diperdebatkan. Asumsi saya, setiap orang yang punya pengalaman dengan malam pertama, pasti bisa membayangkan. Saya jamin, imajinasi liar anda akan kreatif.

Rasa enak malam pertama yang saya alami belum tentu sama dengan rasa enak malam pertama yang anda alami. Nah, persis seperti itulah rasa enak sebuah makanan. Tidak bisa di-“gebyah uyah” (digeneralisir) untuk semua orang.

 ***

Sejatinya, saya mengindari untuk memberikan komentar terhadap rasa sebuah makanan, baik enak maupun (terutama) tidak enak. Sekali lagi, selera dan rasa tidak dapat diperdebatkan. Bagaimanapun, enak dan tidak enak bukan hal yang prinsip.

Setiap hari selalu ada penjaja makanan yang lewat di depan rumah saya. Mulai dari penjaja yang menjual kue donat, bubur kacang hijau, bakso, sampai dengan penjual yang menjajakan kue putu. Beberapa kali saya pernah membeli salah satu makanan tersebut. Setelah itu, saya tidak pernah membeli lagi.

Apakah karena tidak enak maka saya tidak membeli makanan itu lagi? Hanya kepada istri saya “buka-bukaan” (baca : berterus terang). Saya tidak pernah mengatakan apapun tentang rasa makanan yang pernah saya makan kepada orang lain. Mengapa?

Selera dan rasa adalah sangat pribadi.  Beda dengan masalah halal dan haram, ada kewajiban saya untuk mengingatkan (terutama mereka yang muslim). Tetapi kalau rasa, saya tidak memiliki kewajiban untuk menceritakan kepada orang lain. Bahkan, andaikan saya merasa “tertipu” telah makan makanan yang dari segi rasa tidak enak (menurut pendapat subyektif saya), saya berpendapat bahwa saya tidak memiliki hak untuk mengatakan rasa makanan itu. Saya lebih memilih opsi untuk “berbohong” dan mengatakan belum pernah makan makanan itu.

Mengapa? Saya tidak ingin menjadi orang yang menghalang-halangi rezeki orang. Apa yang saya katakan tentang rasa makanan mungkin akan menjadi “dalil” bagi orang lain. Menurut pendapat saya, jika saya mengatakan sesuatu, maka yang sampai tidak hanya kata-kata saja, melainkan terutama energi yang menyertai perasaan dan pikiran saya.

Andaikan saya mengatakan makanan yang saya makan tidak enak, mungkin perkataan saya akan mempengerahui sikap dan perilaku orang lain. Mungkin saya tidak bermaksud “mencerca” dan “menghujat” mutu dan rasa sebuah makanan, tetapi kata “tidak enak” sudah cukup mengaduk-aduk emosi dan perasaan orang lain. Jika kemudian orang membatalkan membeli makanan yang sudah saya “vonis” tidak enak, maka saya telah menjadi penghalang bagi rezeki orang lain. Naudzubillahi mindzalik.

Ada dua alasan saya tidak mau berkomentar tentang rasa sebuah makanan. Pertama, saya menghormati para penjual makanan adalah seorang job creator, baik menciptakan lapangan kerja untuk dirinya sendiri maupun lapangan pekerjaan untuk orang lain. Dalam konteks lapangan kerja yang terbatas dan tingkat pengangguran yang relatif tinggi, derajat job creator relatif lebih terhormat ketimbang job seeker yang hanya bisa mencari pekerjaan.

Kedua, saya selalu teringat oleh “wejangan” Prof. Bagir Manan, mantan Ketua Mahkamah Republik Indonesia, tentang fungsi dari pengadilan.  Fungsi utama dari pengadilan adalah memeriksa, mengadili, dan memutuskan perkara. Padahal, menurut Prof. Bagir Manan, “memutuskan perkara atau sengketa tidak sama persis dengan ‘menyelesaikan’ sengketa.”

Dengan mengatakan bahwa makanan yang telah saya makan “tidak enak”, maka saya telah menjatuhkan “vonis”, atau minimal “stigma”. Dengan memutuskan (dan menyebarluaskan) bahwa sebuah makanan tidak enak, maka  saya tidak menawarkan solusi, justru menciptakan masalah bagi si penjual makanan. Sedangkan stigma, meskipun tidak memiliki kekuatan hukum, sangat sulit untuk dihilangkan dari benak manusia.

 Kebayoran Baru, 30 Mei 2013

 
Leave a comment

Posted by on May 30, 2013 in Selasar

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: