RSS

Monthly Archives: June 2013

Image

Mlle. Yunita Siregar # 2

Mlle. Yunita Siregar # 2

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on June 27, 2013 in Photography

 

Villach

Apa perbedaan wisata di Indonesia dengan di Eropa Barat?. Di Indonesia, kita harus percaya dan patuh pada peribahasa warisan leluhur : “malu bertanya sesat di jalan”. Meskipun tidak ada jaminan bahwa setelah bertanya tidak akan tersesat, peribahasa itu kita terima “taken for granted”.

Saat wisata di Eropa, tidak ada keharusan bagi kita untuk bertanya. Kita bisa menggunakan peribahasa “baru”, yaitu “tidak perlu bertanya dan pasti tidak sesat di jalan”. Justru “malu-maluin” kalau banyak bertanya. Kelihatan banget berasal dari “emerging country”. Apakah tidak akan sesat di jalan?. Apakah ini bukan sikap dan perilaku sombong? Bukankah para leluhur sudah meningatkan kita agar “ojo dumeh” (jangan mentang-mentang)?.

Di Indonesia, ada kecenderungan petunjuk selalu dipahami sebagai informasi lisan. Nara sumber yang dapat dipercaya adalah manusia. Ada kecenderungan untuk “husnudzon” bahwa nara sumber yang dapat dipercaya adalah orang-orang setempat. Bagaimana jika orang-orang lokal tidak mampu berbahasa Inggris atau bahasa Indonesia? Bukankah informasi yang disampaikan oleh nara sumber bisa salah pada saat diterjemahkan dalam bahasa Inggris? Atau, nara sumber telah memberikan informasi yang benar, penerima informasi salah memahaminya?

Industri penerbangan mencatat sejarah, bahwa komunikasi yang tidak becus antara pilot dengan petugas ATC (Air Traffic Control) dapat berujung pesawat menabrak gunung. Kita semua mahfum, pilot dan petugas ATC adalah orang-orang yang cakap berbahasa Inggris. Tetapi “forty” dan “fourteen” bisa kedengaran di telinga sangat mirip. Boleh jadi petugas ATC memerintahkan pilot bertahan di ketinggian 40.000 kaki (“forty”), tetapi pilot mendengarnya “fourteen”.

Di Eropa Barat, petunjuk tersedia dalam jumlah melimpah, mudah diakses, dan mudah dipahami oleh siapapun. Informasi tentang kota dan tempat-tempat wisata selalu tersedia secara tertulis. Informasi juga tersedia di website dan dapat diunduh setiap saat oleh siapapun.

Sebagian besar kota-kota di Eropa selalu memiliki peta kota dan peta transportasi. Mobilitas manusia sangat penting, baik untuk tujuan bersenang-senang seperti wisata, maupun tujuan “serius” seperti perjalanan dinas. Karena itu, keberadaan peta kota dan peta transportasi sangat penting.

Setiap masuk kota yang saya kunjungi, saya selalu mengambil peta kota dan peta transportasi yang ada di setiap stasiun KA dan disediakan gratis. Meskipun sebelumnya saya telah browsing peta dan tempat-tempat wisata suatu kota, “edisi” hardcopy selalu menjadi pegangan saya.

Bagaimana dengan kota Jakarta?. Kota tua yang baru saja merayakan hari jadi ke 486 ini memang memiliki peta kota, tetapi tidak memiliki peta transportasi. Bayangkan, sebuah ibukota negara tidak memiliki sebuah peta transportasi. Walikota dan gubernur boleh silih ganti berdatangan, tidak satupun yang tergerak untuk menyediakan peta transportasi Jakarta.

Keramahtamahan sebuah kota tidak hanya diukur dengan karakter, sikap, perilaku sopan dan santun dari warganya. Keramahtamahan sebuah kota juga ditentukan oleh keberadaan peta kota dan terutama peta transportasi. Tanpa peta tranportasi, setiap pengunjung seperti disambut dengan salutasi “selamat datang di hutan belantara kota”.

Kota kecil seperti Villach memiliki peta kota dan peta transportasi yang dapat diperoleh, diakses, dan dipahami secara mudah dan cepat oleh para pendatang. Tidak perlu bertanya, semua informasi diterangkan sangat jelas.

Itulah sebabnya, saya tidak merasa sedikitpun khawatir untuk mengunjungi Villach seorang diri. Perjalanan wisata ke Villach adalah perjalanan pertama saya ke luar negeri seorang diri. Sebelumnya, saat melaksanakan ibadah haji, tidak ada kekhawatiran karena memang perjalanan ke luar negeri bersama-sama dengan banyak orang. Demikian juga saat ke Belanda, saya dipandu oleh keluarga Aryoso Nirmolo, sehingga tidak ada rasa cemas.

Meskipun tidak dijemput di bandara Klagenfurt, saya tidak khawatir untuk “menjajal” sistem transportasi di Austria. Secara umum tidak ada perbedaan yang signifikan dengan sistem transportasi di Jerman. Sistem transportasi di Austria juga menyediakan jaminan tepat waktu, aman, dan nyaman. Petunjuk yang diberikan oleh keponakan saya Yosi sangat jelas dan di lapangan memang seperti itu adanya.

***

Tidak ada orang yang tahu arti dan asal kata Villach. Seorang kakek dan penduduk Villach yang “ngobrol” dengan saya di bandara internasional Klagenfurt (“tetangga” Villach di Austria) bilang bahwa Villach berasal dari kata viel dan lach (lachen). Austria juga menggunakan bahasa Jerman, sebagian dengan dialek masyarakat Bavaria. Dalam bahasa Jerman, viel berarti banyak, dan lachen berarti tertawa. Jadi, Villach berarti banyak tertawa.

Bild

Image courtesy of http://www.region-villach.at

Benar atau tidak arti dan sejarah kata Villach tidak penting bagi saya. Yang pasti, saya memang merasakan ada perbedaan antara karakter, sikap, dan perilaku orang-orang Austria pada umumnya, dan orang-orang Villach pada khususnya. Tidak jarang saya disapa oleh orang-orang Austria yang kebetulan berpas-pasan dengan saya di jalan. Karakter, sikap, dan perilaku yang hampir pasti jarang ditemukan di Jerman, apalagi di kota Leipzig dan Dresden.

Villach adalah sebuah kota kecil yang terletak di sebelah selatan Austria dan termasuk dalam wilayah negara federal Carinthia (kalau di Indonesia semacam propinsi). Peringkat Villach adalah sebagai  kota nomor 7 terbesar di Austria, tetapi kota nomor 2 terbesar di Carinthia. Meskipun demikian, per 1 Januari 2012 penduduknya hanya 59.585  jiwa.

Meskipun kota kecil, perusahaan-perusahaan asing juga memiliki kantor di Villach. Dengan tingkat kepadatan penduduk yang hanya 440 jiwa / km2, saya berani menyimpulkan bahwa Villach adalah kota yang ideal untuk hidup dan bekerja. Saya tidak heran keponakan saya Yosi dan keluarga betah tinggal di sini. Sangat mungkin mereka menemukan kondisi yang dicari-cari semua orang Jakarta : work-life balance!.

Austria dan Swiss adalah tuan rumah Piala Eropa tahun 2008. Villach juga “kecipratan” rezeki, salah satu hotel di Villach ditunjuk sebagai tempat penginapan salah satu timnas sepakbola peserta kejuaraan tersebut.

Seperti kota-kota di Eropa pada umumnya, Villach juga “dibelah” oleh sungai Drava. Indikasi bahwa perkembangan kota, mobilitas manusia dan barang di masa yang lalu tergantung pada sistem transportasi air dan sungai. Tetapi saat ini, saya tidak melihat sungat Drava dimanfaatkan untuk wisata air.

Secara geografis, Villach relatif jauh dari kota Wina, ibukota negara Austria. Tetapi itu tidak menjadi masalah besar. Dengan sistem transportasi kereta api yang relatif maju, jarak antara Villach dengan Wina dapat ditempuh dalam waktu kurang lebih 3 jam. Untuk mengunjungi kota Salzburg (kota kelahiran Wolfgang Amadeus Mozart) pun hanya butuh waktu kurang lebih 2 jam.

Salah satu keunggulan kompetitif dari Villach adalah letaknya yang berdekatan dengan negara-negara lain, terutama Italia dan Slovenia di sebelah selatan, dan Swiss dan Liechtenstein di sebelah barat. Bahkan, untuk “nembus” ke Hungaria dan Slovakia yang berada di sisi timur perbatasan Austria pun tidak terlalu sulit. Dari Villach sampai ke perbatasan Itali hanya membutuhkan waktu 30 menit. Saat berkunjung ke Venesia pada tahun 2009 yang lalu, saya juga berangkat dari Villach. Demikian juga saat mengunjungi Slovenia, terutama kota Bled dan Ljubljana, keberangkatan juga dari kota Villach.

***

Saya tidak rugi berkunjung ke Villach 2 kali, yaitu musim panas Agustus 2009 dan kemudian saat musim dingin Desember 2009. Saya juga melewatkan malam tahun baru di Villach. Paling tidak ada 3 keuntungan yang saya peroleh. Pertama, saya dapat mengunjungi keponakan saya. Kedua, Yosi dan keluarga secara suka rela (atas biaya mereka sendiri) mengantar saya untuk wisata ke beberapa negara tetangga. Ketiga, saya menikmati wisata kuliner.

Semula, wisata ke berbagai negara adalah tujuan yang paling realistis. Tetapi karena Vitri Sidharta, istri dari Yosi sangat pintar memasak, maka saya seperti mendapat durian runtuh berupa wisata kuliner. Soal rasa masakan Vitri saya tidak mungkin berbohong : seenak malam pertama!.

Bild

Image courtesy of La Sagrada Familia Aryoso Nirmolo

Tidak banyak pesan yang dapat saya sampaikan kepada anda. Tetapi jika anda adalah wisatawan tulen,  punya hasyrat yang menggebu-gebu untuk mengunjungi beberapa negara di Eropa sekaligus, dan bernafsu mempercantik “portofolio” kota-kota yang pernah anda kunjungi, maka Villach adalah kota yang tepat untuk menjadi titik start. Coba-en Rek!

Tampak Siring, 24 Juni 2013

Catatan : data tentang Villach diunduh dari en.wikipedia.org pada tanggal 24 Juni 2013

 

Ich bin ein Berliner!

Saya termasuk orang yang sulit jatuh cinta kepada apapun dan siapapun.  Tetapi saya tidak butuh waktu lama untuk jatuh cinta kepada kota Berlin. Saya tinggal selama 2 minggu di Berlin. Waktu sesingkat itu sudah cukup bagi saya untuk bilang “Ich bin ein Berliner” (saya orang Berlin).

Mungkin saya memang “mabuk kepayang” terhadap Berlin. Selama 12 bulan tinggal di Jerman, saya bermukim di 5 kota yang berbeda, yaitu Saarbruecken, Mannheim, Magdeburg, Kassel, dan terakhir di Berlin. Tidak pernah saya mengatakan, misalnya, “Ich bin ein Mannheimer” (saya orang Mannheim) atau “Ich bin ein Magdeburger” (saya orang Magdeburg).

Jika ada penduduk Mannheim dan merupakan “orang asli” Mannheim bertanya kepada saya tentang impresi dan persepsi saya tentang Mannheim, paling banter saya bilang “Mannheim ist meine zweite Heimat” (Mannheim adalah kampung halaman saya kedua).

Sejatinya, bukan hanya saya yang kepincut terhadap kota Berlin. John Fitzgerald Kennedy pun merasakan betapa repot menahan cinta. Saat masih menjabat Presiden Amerika Serikat dan berkunjung ke kota Berlin, di hadapan rakyat Berlin, Kennedy pernah berkata lantang (persis seperti yang saya ucapkan) : Ich bin ein Berliner. Oops……ketahuan siapa yang “nyontek”.

BildImage courtesy of Wisanggenia Photography

“Insting” saya dapat “membaca” sikap dan perilaku orang-orang Jerman terhadap kota mereka. Orang-orang Jerman sangat bangga terhadap kota dan daerah mereka. Maksud saya, bukan hanya orang-orang Bayern yang sangat terkenal bangga dengan Bayern. Mirip orang Catalan di Barcelona “sesuka hati” mereka mengklaim Barcelona bukan Spanyol (maunya mereka, Spanyol itu ya Barcelona), orang Bayern juga yakin bahwa Bayern itu adalah identik dengan Jerman.  Tetapi orang-orang Jerman dari kota-kota kecil atau daerah kecil pun bangga dan percaya diri dengan daerah mereka.

Orang-orang Jerman terkenal berperasaan “dingin”, “kaku” dan bicara blak-blakan (terutama masyarakat eks Jerman Timur). Secara umum, masyarakat eks Jerman Barat relatif lebih “hangat” dan “supel”, meskipun tetap saja mempertahankan sikap ogah fleksibel. Tetapi orang-orang Jerman juga tahu kapan harus memuji dan berbasa-basi.

Setiap saya pindah ke kota lain, mentor dan guru bahasa Jerman saya selalu bilang bahwa kota yang akan saya tempati  adalah kota yang indah dan nyaman. Herr George Hallemayer, guru bahasa Jerman saat saya di Saarbruecken, juga bisa memuji kota Mannheim. Herr Hallemayer yang orang Bayern tulen itupun tidak pernah bilang kepada saya untuk mengunjugi Bayern, ia justru berpesan kepada saya untuk berkunjung ke kota Mainz (tempat kelahiran Johann Guttenberg, penemu mesin cetak).

***

Kecintaan orang-orang Jerman terhadap daerah mereka masing-masing dapat menjelaskan mengapa di Berlin tidak terjadi urbanisasi yang parah seperti di Jakarta. Setelah Jerman bersatu, Berlin menyandang sebagai ibukota Jerman.

Sebagai ibukota dari negara yang memiliki perekonomian 3 besar di dunia, Berlin tidak gemerlap dan genit sebagaimana kota-kota besar di negara lain. Bahkan, dibandingkan Jakarta, “kemegahan” Jakarta pun bisa menandingi Berlin (kecuali untuk gedung-gedung peninggalan sejarah dan gedung kesenian yang layak untuk pentas musik klasik kelas dunia).

Pesona Berlin tidak mampu menjadi “magnet” yang “menyedot” penduduk Jerman dari berbagai daerah untuk tinggal dan bekerja di Berlin. Berbeda dengan Jakarta yang menjadi pusat untuk semua hal, terutama pusat pemerintahan dan pusat ekonomi (dan karena itu mendorong orang untuk datang ke Jakarta), Berlin bukanlah pusat segala-galanya. Jakarta adalah kota “palugada” (lu mau apa gua ada)

Tidak ada pull factor (faktor yang menarik) dari Berlin yang memaksa orang-orang Jerman untuk berdatangan tinggal dan bekerja di Berlin. Juga tidak ada push factor (faktor yang mendorong) orang dari daerah-daerah untuk tinggal dan bekerja di Berlin.

Orang-orang Jerman merasa bahwa mereka tetap “menjadi orang”, meskipun tinggal di kota-kota kecil. Orang-orang Jerman juga merasa rezeki ada di setiap kota. Di Indonesia, sebagian besar orang dipaksa dan terpaksa pergi ke Jakarta untuk bekerja. Ketimpangan pembangunan antardaerah, dan terutama ketimpangan antara Jakarta dan daerah-daerah lain, memaksa orang untuk “menjadi orang” dengan cara tinggal dan bekerja di Jakarta.

Pengembangan kota secara merata dan “penunjukan” kota-kota tertentu di Jerman sebagai pusat dari kegiatan tertentu  membuat perkembangan kota-kota di Jerman merata. Hamburg dikenal sebagai kota pelabuhan. Stuttgart adalah “markas besar” produsen mobil Mercedes-Benz. Industri mobil VW dan Audi memilih kota kecil Wolfsburg sebagai lokasi pabrik (sekedar informasi, pesepakbola Edin Dzeko pernah merumput di klub sepakbola Wolfsburg yang disponsori oleh VW). 

Sistem transportasi dan distribusi barang yang tertata rapi membuat mobilitas barang menjadi lancar, cepat, dan aman. Padahal, pantai-pantai di Jerman terletak di sisi utara dan barat laut Jerman, sedangkan pelabuhan laut terbesar terletak di kota Hamburg. Tetapi tidak menjadi masalah bagi Mercedes-Benz dan BMW memilih lokasi pabrik mereka di Stutgart dan  di Bayern  yang notabene terletak di kawasan Jerman sebelah selatan. Karena sistem transportasi dan distribusi barang di Jerman sangat mengandalkan kereta api, termasuk para produsen mobil.

Bandingkan dengan kawasan industri yang sebagian besar berada di kawasan sekitar Jakarta. Sistem transportasi dan distribusi barang dan jasa yang jauh dari sempurna membuat pabrik-pabrik di bangun mendekati Jakarta, lokasi di mana pelabuhan terbesar di Indonesia berada. “Mobil naik mobil” menjadi lazim di Indonesia, mengingat sistem transportasi laut dan kereta api di Jawa belum dapat diandalkan.

***

Sebagian besar orang Indonesia, mungkin juga penduduk dunia, mengenal Berlin karena faktor tembok Berlin yang sangat bersejarah. Ada yang mengenal Berlin lebih spesifik, terutama Charlie Check-Point. Dibandingkan kota-kota lain di Jerman, Berlin memang kota yang sarat dengan sejarah dan haru biru perkembangan Jerman. Seperti apakah kota Berlin? Wikipedia menulis sebagai berikut :

“Berlin is a world city of culture, politics, media, and science. Its economy is primarily based on high-tech industries and the service sector, encompassing a diverse range of creative industries, research facilities, media corporations, and convention venues. Berlin also serves as a continental hub for air and rail transport and is a popular tourist destination. Significant industries include IT, pharmaceuticals, biomedical engineering, biotechnology, electronics, traffic engineering, and renewable energy.

Berlin is home to renowned universities, research institutes, orchestras, museums, and celebrities and is host to many sporting events. Its urban setting and historical legacy have made it a popular location for international film productions. The city is well known for its festivals, diverse architecture, nightlife, contemporary arts, public transportation networks, and a high quality of living.” (en.wikipedia.org, 20 Juni 2013)

Meskipun banyak bangunan tua, Berlin juga mempercantik dirinya dengan berbagai renovasi. Pada tahun 2006 Jerman ditunjuk sebagai tuan rumah Piala Dunia Sepakbola. Pertandingan babak penyisihan salah satunya juga diadakan di Berlin. Bahkan, partai final yang mempertemukan timnas Perancis melawan timnas Italia juga diselenggarakan di Berlin.

Beberapa bangunan yang sempat direnovasi sehubungan piala dunia terutama adalah Olympic Stadium dan stasiun kereta api. Stasiun KA Berlin adalah yang terbesar setelah stasiun KA di Leipzig yang meskipun juga bagus tetapi masih menyisakan kesan eks Jerman Timur.

Pendapat saya pribadi, Berlin adalah kota arsitektur dan kota sejarah. Beberapa bangunan tua yang “wajib” dikunjungi adalah Bradenburg Gate, gedung parlemen Reichstag Building (di dalamnya ada Reichstag Dome), dan Kathedral Berlin. Sedangkan bangunan yang “sunnah” anda kunjungi adalah Charlottenburg Palace, Bellevue Palace (Istana Presiden Jerman), Bundeskanzleramt (kantor Kanselir Jerman, sekaligus tempat tinggal), Memorial Church (bekas gereja yang di bom dan “dibiarkan” terbengkalai), dan masih banyak tempat wisata lainnya. Jika anda suka “dugem”, tidak ada salahnya anda menyempatkan diri mampir ke Potsdamer Platz, Alexander Platz dan Sony Center. Hampir semua obyek wisata di Berlin sudah saya kunjungi, kecuali Kebun Binatang Berlin.

Berlin juga kota sejarah. Salah satu indikatornya adalah museum yang “bertebaran” di mana-mana. Untuk menghormati dan memperingati tragedi pembunuhan massal bangsa Yahudi misalnya, Berlin memiliki beberapa museum khusus tentang Yahudi. Salah satu yang “wajib” anda kunjungi adalah “Memorial to the Murdered Jews of Europe”. Kebetulan lokasinya di samping kiri Bradenburg Gate. Dari situ, sekalian tinggal jalan kaki untuk menuju ke eks tembok Berlin yang dibiarkan tersisa “secuil”.

Mentor dan guru saya di Jerman memang pernah bilang, kalau sudah menyangkut Yahudi, bangsa Jerman seperti “kerbau dicocor hidungnya”. Mungkin karena beban perasaan bersalah di masa lalu, bangsa Jerman, terutama pemerintah Jerman, selalu “mengiyakan” apapun yang dimaui oleh Israel.

Tetapi bukan hal itu yang menarik bagi saya. Keseriusan bangsa Jerman terhadap sejarah patut diacungi jempol. Bung Karno pernah bilang bahwa “jangan sekali-kali meninggalkan sejarah”. Bangsa Jerman tidak pernah melupakan dan meninggalkan sejarah. Bahkan, untuk “kebenaran”  sejarah, bangsa Jerman ikhlas untuk menelanjangi diri mereka sendiri. Semua kekejaman orang Jerman di era Adolf Hitler diungkapkan kepada generasi penerus dan publik. Di Jerman, sejarah adalah history. Tidak ada dusta di antara sesama anak bangsa.

Bandingkan dengan sejarah tentang Gerakan 30 September 1965 yang tidak pernah selesai dengan segala kontroversinya. Siapa yang menjadi korban sudah jelas, para jenderal yang menjadi pahlawan revolusi dan seluruh rakyat Indonesia. Tetapi siapa yang menjadi “aktor intelektual” masih belum tuntas diperdebatkan. Di Indonesia, sejarah memang belum tentu history sebagaimana seharusnya kita memahaminya, tetapi bisa jadi his story.

***

Jangan bandingkan Berlin dengan Jakarta dalam hal pusat-pusat bisnis dan perdagangan. Secara fisik, bangunan perkantoran dan pusat perdagangan di Berlin “kalah kelas” dengan yang ada di Jakarta. Kantor kanselir Jerman Frau Angela Merkel pun tampak biasa-biasa saja. Bukan hanya gedungnya yang biasa, penjagaan keamanan pun tidak mencolok (Di bumi pertiwi, soal-soal ujian nasional pun dikawal oleh personil keamanan dan pertahanan. Mantabs bro!) Tetapi saya yakin, teknologi keamanan dan pengamanan kantor kanselir Jerman pasti super istimewa.

Tetapi jangan pernah anggap remeh teknologi dan fungsi dari bangunan-bangunan di Berlin. Orang-orang Jerman memang mengutamakan fungsi ketimbang gaya. Teknologi ramah lingkungan pun menjadi ciri utama bangunan perkantoran dan pusat perdagangan di Berlin.

Saat mengikuti seminar International Management Kompetenz di Berlin selama 3 hari, semua aktivitas dilakukan di lantai 1. Jarak antara bangunan dengan jalan raya relatif dekat. Tetapi saya tidak pernah mendengar suara bising kendaraan bermotor. Pencahayaan ruangan pun sangat efisien, karena memanfaatkan cahaya matahari yang masuk ke ruangan secara merata.

Jika mau, bandingkanlah Berlin dengan Jakarta dalam hal sistem transportasi. Sistem transportasi di Berlin telah selesai dibangun berpuluh-puluh tahun yang lalu, tertata rapi, dan sudah bertahun-tahun digunakan oleh publik secara nyaman. Sedangkan sistem transportasi di Jakarta masih dalam tahap wacana dan tidak memiliki strategi yang jelas. Wacana tentang sistem transportasi di Jakarta masih tidak beranjak jauh dari diskusi tentang nomor genap dan nomor ganjil. Alamak! Seperti menebak nomor lotere saja!

eBERLINO1

Image courtesy of Wisanggenia Photography

Last but not least, GDP per capita tahun 2007 Berlin adalah 24,473.00 Euro. Saya hampir tidak pernah melihat mobil mewah lalu lalang di jalan raya Berlin. Indikasi bahwa ketimpangan sosial bukan karakteristik kota Berlin.

Tampak Siring, 20 Juni 2013

 

Mangkus dan Sangkil

Selama menjadi “santri” di “pondok pesantren manajemen” saya belum pernah mendengar para “kyai manajemen” menggunakan  mangkus dan sangkil sebagai padanan dari kata-kata efisien dan efektif. Saya juga belum pernah menemukan dalam karya tulis tentang manajemen (buku, makalah, jurnal, majalah, dan lain sebagainya) menggunakan kata-kata mangkus dan sangkil.

Iki piye iki piye. Dari zaman Bapak Manajemen Modern Frederick F. Taylor sampai saat ini, manajemen tidak pernah “lari” dari pembahasan tentang efisien, efektif, produktif, dan inovatif. Apapun teori, konsep, dan pendekatan yang digunakan, manajemen “ujung-ujungnya” selalu berbicara tentang efisien, efektif, produktif dan inovatif.

Iki piye iki piye. Istilah mangkus dan sangkil sudah lama disosialisasikan oleh para ahli bahasa. Apakah tidak bisa menghargai karya para ahli bahasa yang sudah “membanting tulang” untuk menerjemahkan kata-kata asing ke dalam bahasa Indonesia?. Apakah memang kita malu menggunakan bahasa Indonesia untuk berkomunikasi dengan saudara-saudara sebangsa dan setanah air.

Apakah sebagian besar dari kita memang tidak mampu (dan tidak memiliki kemauan) untuk menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar? Apakah memang kita mesti belajar dari pebalap Motor GP dari Spanyol, Jorge Lorenzo dan Dani Pedrosa yang masing-masing menggunakan bahasa Indonesia “Semakin Di Depan” dan “Satu Hati” di kostum dan motor balap mereka.

Benar, Lorenzo dan Pedrosa dibayar untuk menggunakan kostum yang telah dibiayai oleh para sponsor. Ada kepentingan komersial, bukan promosi tentang Indonesia. Tim pabrikan sadar bahwa penduduk Indonesia yang lebih dari 220 juta orang merupakan pasar otomotif yang gurih dan potensial untuk meraih keuntungan.

Sebagai orang Indonesia, tidak alasan bagi kita untuk tidak mendahulukan bahasa Indonesia. Tetapi selalu saja das Sollen (apa yang seharusnya) dan das Sein (apa yang ada) bertolak belakang. Justru orang-orang yang sepatutnya berbahasa Indonesia secara baik dan benar, sama sekali tidak menunjukkan keteladanan berbahasa yang baik dan benar.

Sebagai contoh adalah beberapa anomali yang saya temukan di “pondok pesantren manajemen”. Saya tidak mengerti mengapa untuk memberi nama toko buku pun menggunakan bahasa Inggris “book store”.  Untuk memberi nama sebuah perpustakaan pun menggunakan kata library. Saya juga tidak habis pikir, mengapa untuk memberi nama Executive Lounge, kok tidak menggunakan bahasa Indonesia saja, misalnya Adi Sasana (Sasana Utama). Apakah karena “bertaraf internasional”?.

Masih dapat diterima jika dua bahasa yang digunakan, yaitu bahasa Indonesia dan bahasa Inggris.Tetapi jika hanya bahasa Inggris yang digunakan, sungguh tidak ada relevansi dan kemendesakan (urgensi) untuk menggunakannya, apalagi di wilayah Indonesia.

Dalam perjanjian bisnis juga lazim digunakan dua bahasa (Indonesia dan Inggris). Tetapi aturan yang harus dihormati adalah jika terjadi perbedaan penafsiran arti tentang suatu hal, maka bahasa Indonesia yang digunakan. Sudah tepat jika pengadilan memilih bahasa Indonesia yang digunakan sebagai referensi utama. Hal ini mengacu pada kelaziman pilihan domisili (choice of domicile) dan pilihan hukum (choice of law) di Indonesia, sehingga harus menggunakan bahasa Indonesia.

Saya masih bisa memahami jika petunjuk dalam bahasa Inggris “didampingi” oleh bahasa Indonesia. Di negara-negara lain praktek yang sama juga dilakukan. Di Barcelona, setiap petunjuk tentang benda, tempat, arah, dan lain sebagainya selalu menggunakan 3 bahasa, yaitu bahasa Inggris, bahasa Spanyol, dan bahasa Catalan. Barcelona adalah bagian dari Spanyol. Tetapi masyarakat Barcelona sangat bangga dengan budaya dan bahasa Catalan. Bahkan, dalam berbagai kesempatan El Clasico FC Barcelona dan FC Real Madrid, fans Barcelona terlalu bersemangat memajang spanduk bertuliskan “Catalonia is not Spain”. Wow.

***

Apa yang kurang dari bahasa Indonesia? Bukankah bahasa menunjukkan bangsa? Mungkin saja ada kekurangan bahasa Indonesia. Tetapi yang  pasti yang kurang adalah manusia Indonesia, yaitu “kurang ajar” tidak menghargai bahasa Indonesia. Termasuk saya yang sering menggunakan istilah bahasa Inggris untuk judul tulisan saya dalam blog saya (misalkan “Nothing is impossible” dan “Arriverdeci Carlito”)  dan judul rubrik blog (contoh “el silencio”).

Barangkali, jika para pemuda dan pemudi  yang berikrar Sumpah Pemuda pada tahun 1928 mengetahui anak cucu mereka tidak menghargai bahasa Indonesia mereka akan kecewa sekali. Satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa yang diperjuangkan dengan pengorbanan darah dan nyawa kurang mendapatkan penghargaan yang sepatutnya dari generasi penerus.

Saya salut terhadap bangsa Jerman yang gigih memajukan bahasa Jerman agar menjadi salah satu bahasa yang dipergunakan dalam komunikasi internasional. Kepada para penerima beasiswa untuk sekolah di perguruan tinggi maupun pelatihan-pelatihan jangka pendek (3 bulan sampai 1 tahun), orang-orang Jerman “memaksa” orang-orang dari bangsa lain untuk belajar bahasa Jerman. Mereka tidak peduli orang lain sampai “keseleo lidah” untuk berkomunikasi dalam bahasa Jerman.

Kegigihan bangsa Jerman memajukan bahasa Jerman membuahkan hasil yang manis. Di dunia nyata, bahasa Inggris adalah bahasa internasional, di samping bahasa China, Arab, Perancis, dan Jerman. Bahasa Jerman hanya digunakan oleh negara-negara tetangga Jerman, antara lain Swiss dan Austria. Tetapi di dunia maya, bahasa Jerman adalah bahasa nomor 2 yang digunakan untuk berkomunikasi di tingkat internasional.

Sungguh aneh memang orang Indonesia. Negara yang terdiri dari beribu-ribu pulau dengan suku bangsa, budaya dan bahasa yang berbeda-beda, tidak mampu merasakan betapa penting arti dari sebuah bahasa nasional. Orang-orang Indonesia mesti belajar dari bangsa India yang tidak memiliki bahasa nasional sebagai bahasa pemersatu untuk rakyat India yang juga tidak kalah bhinneka dibandingkan Indonesia.

Bild

Sumber : mahessaangga.blogspot.com

Penghormatan dan penghargaan yang sangat kurang terhadap bahasa Indonesia sebagai bahasa dalam komunikasi sehari-hari maupun di tempat kerja menunjukkan bahwa peringatan Hari Kebangkitan Nasional dan hari Sumpah Pemuda yang setiap tahun kita rayakan masih terbatas sekedar ritual tanpa makna.

***

Menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar bukan suatu pilihan, tetapi kewajiban. Untuk itu diperlukan rasa hormat kepada bahasa Indonesia, komitmen dan konsistensi dalam penggunaannya. Tidak hanya dalam jurnal ilmiah maupun makalah resmi, melainkan terutama dalam komunikasi sehari-hari, baik tulisan dan terutama lisan.

Sejatinya, bahasa Perancis dan bahasa Jerman sangat ruwet, terutama dalam hal penggunaan artikel. Bahasa Perancis relatif lebih sederhana, karena “hanya” memiliki 2 artikel untuk setiap benda, untuk laki-laki maupun perempuan. Bahasa Jerman lebih “njelimet” lagi dan memiliki 3 artikel untuk setiap kata benda. Sama seperti bahasa Perancis, tetapi bahasa Jerman mengenal artikel untuk kata benda netral, yaitu das.

Bagi orang-orang asing yang belajar bahasa Perancis dan bahasa Jerman, artikel tersebut sangat membingungkan. Bahkan, secara umum kesan dan pendapat subyektif saya, jika semua artikel itu dihapuskan saja, juga tidak ada efek apapun terhadap kedua bahasa tersebut.

Tetapi bangsa Perancis dan bangsa Jerman tetap bergeming menggunakan artikel untuk kata benda. Komitmen dan konsistensi kedua bangsa tersebut untuk berbahasa secara benar tidak pernah lekang karena panas dan tidak pula lapuk karena hujan.

Almarhum Taufik Kiemas menyebut ada 4 pilar kebangsaan, yaitu Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika. Menurut saya, bahasa Indonesia adalah hasil cipta, rasa dan karsa dari para leluhur yang juga patut disebut sebagai pilar kehidupan berbangsa dan bernegara.

 Tampak Siring, 19  Juni 2013

 
Leave a comment

Posted by on June 19, 2013 in Selasar

 

Sungai-Sungai di Jerman

Saya mendapat banyak pertanyaan dari para sahabat tentang perihal yang sama, yaitu banjir di Jerman. Dari sekian banyak pertanyaan, ada dua pertanyaan utama yang mereka ajukan. Pertama, mengapa di Jerman banjir?. Kedua, kok bisa di Jerman banjir.

Jawaban untuk pertanyaan kedua sangat mudah dan saya sudah menjawab melalui e-mail, bbm, sms, dan telepon (saya tidak menggunakan twitter). Bahkan, mereka yang bertanya pun sudah mengetahui jawabannya sebelum saya jawab. Melalui berbagai media komunikasi tersebut saya menjawab bahwa, hanya di surga tidak ada banjir. Tidak percaya? Tanyakan saja kepada para pengembang (developer).

Saya menganggap pertanyaan pertama lebih serius, paling tidak diwakili oleh kata tanya “mengapa”. Tetapi artikel ini tidak secara langsung menjawab pertanyaan mengapa di Jerman banjir. Penyebab banjir di Jerman, terutama banjir yang melanda kota-kota eks Jerman Timur seperti Magdeburg (saya pernah tinggal di kota ini sekitar 3,5 bulan) dan Berlin adalah air sungai yang meluap. Mengapa bisa begitu? Saya persilakan anda menyimak berita di media cetak dan elektronik.

***

Kawasan Jerman “dikepung” oleh sungai. Hampir tidak ada kota-kota di Jerman yang tidak “dibelah” oleh sungai. Mulai dari kota besar seperti Berlin dan Frankfurt am Main sampai dengan kota kecil seperti Saarbruecken dan Heidelberg, semua “dibelah” oleh sungai.

Di Berlin mengalir sungai Spree. Di Frankfurt am Main mengalir sungai Main, sedangkan sungai Rhein  membelah kota Duesseldorf. Demikian juga dengan Saarbruecken yang dialiri oleh sungai Saar (secara harfiah, Saarbruecken berarti “jembatan-jembatan di atas sungai Saar”.  Dalam bahasa Jerman,  brueck berarti jembatan, bruecken adalah bentuk jamak). Sedangkan di kota Heidelberg mengalir sungai Neckar.

Di Jerman ada dua kota yang memiliki nama sama, yaitu Frankfurt. Kota Frankfurt yang satu disebut Frankfurt am Main dan yang lain disebut Frankfurt an der Oder yang terletak di sisi timur laut Jerman dan berbatasan dengan Polandia. Sungai menjadi pembeda kota. Frankfurt yang satu “dibelah” oleh sungai Main, sedangkan di kota Frankfurt yang lain mengalir sungai Oder. Jika ada terbang ke Jerman, pesawat anda akan mendarat di Frankfurt am Main.

Bild

Sungai Rhein di Duesseldorf-Jerman, Agustus 2009

Sejatinya, bukan hanya di Jerman sungai “mengepung” suatu negara dan “membelah” suatu kota. Hampir semua kota di Eropa Barat, Eropa Selatan, dan Eropa Timur yang pernah saya kunjungi, semua “dikepung” dan “dibelah” oleh sungai. Budapest, ibukota negara Hongaria, dibelah sungai Danube, yang memisahkan Buda di sebelah atas dan Pest di sebelah bawah dari kota. Austria juga dibelah oleh sungai Danube (atau sungai Donau, dalam bahasa Jerman) yang merupakan sungai yang sama mengalir di Budapest.

Sungai adalah sumber kehidupan. Di mana ada air, di situ ada kehidupan manusia. Di “zaman kuda gigit besi”, manusia sangat tergantung kepada sungai. Kehidupan manusia, terutama mobilitas manusia, tidak dapat dipisahkan dari sungai. Bahkan, sungai juga merupakan sumber inspirasi. Untuk melukiskan kekagumannya yang membuncah pada sungai Danube, komponis Johann Strauss II bahkan menggubah sebuah karya “Blue Danube” (“An der schönen blauen Donau“ dalam bahasa Jerman). Jika anda suka musik klasik atau nonton balet, anda akan tahu bahwan Blue Danube adalah musik wajib yang harus dimainkan ketika “dansa dansi”.

***

Mengapa di “zaman kuda gigit besi” sungai memiliki peranan vital dalam kehidupan manusia dan menjadi andalan untuk mobilitas manusia dan barang? Bahkan kini, terutama yang saya pernah lihat di Koblenz, sebuah kota di sebelah barat Jerman, sungai masih diandalkan untuk mobilitas barang. Peranan vital dari sebuah sungai dapat dijelaskan melalui teori perkembangan kota atau daerah.

Para sosiolog membedakan 3 teori perkembangan kota sebagai berikut : pertama, concentric  zone hypothesis yang digagas oleh Ernest W. Burgess; kedua, axiate hypothesis of urban growth yang digagas oleh Charles J. Galpin; dan ketiga, sector hypothesis dari Homer Hoyt? Membingungkan bukan?

Untuk memudahkan anda, saya menggunakan istilah yang dapat diterima dan dimengerti oleh semua orang. Teori pertama dari Burgess saya sebut “Teori Konsentris”, gagasan dari Galpin saya sebut “Teori Jalur Transportasi”, dan teori dari Hoyt saya sebut saja sebagai “Teori Inti”. Bagaimana, lebih mudah?

Menurut “Teori Konsentris”, suatu kota berkembang dari pusat kota dan kemudian membesar atau “melebar” ke arah luar. Pusat kota menjadi pusat dari semua aktivitas manusia, terutama bekerja. Pusat bisnis (kantor dan pabrik) berada di tengah kota. Tepian kota menjadi kawasan hunian atau tempat tinggal. Demikian seterusnya kota berkembang ke arah luar. Setelah kota menjadi padat manusia, pabrik tidak lagi berada di tengah kota, tetapi dipindahkan ke luar kota. Burgess merujuk kota Chicago sebagai kota yang berkembang menurut “Teori Konsentris”.

Menurut “Teori Jalur Transportasi”, sebuah daerah atau kota akan berkembang mengikuti perkembangan jalur transportasi. Hampir semua daerah atau kota di dunia – terutama di “zaman kuda gigit besi” – berkembang di sepanjang jalur transportasi. Di saat teknologi kendaraan darat (kendaraan bermotor roda 4 atau lebih dan kereta api) dan transportasi udara belum berkembang pesat, teknologi transportasi air adalah primadona. Itulah sebabnya, semua kota dibangun selalu dekat dengan sungai. Secara tradisional, mobilitas manusia dan barang sangat mengandalkan transportasi sungai. Karena itu, di masa yang lalu, sungai sangat mempengaruhi perkembangan suatu daerah dan kota. Di masa yang lalu, hampir semua kota di Jerman berkembang menurut “Teori Jalur Transportasi”. Bahkan, beberapa kota di Eropa Barat (Austria, Paris) dan Eropa Timur (Budapest dan Ljubljana) juga berkembang di sepanjang jalur sungai.

Sedangkan menurut “Teori Inti”, suatu daerah atau kota berkembang menurut pusat-pusat kegiatan yang menjadi pusat aktivitas manusia untuk mengadakan kerja sama dan transaksi. Pusat perdagangan, kawasan industri, kawasan wisata, adalah contoh inti yang menjadi magnet bagi manusia untuk melakukan aktivitas di kawasan tersebut dan menjadikan kawasan tersebut menjadi berkembang.

Secara umum, kota-kota di Jerman mengikuti pola perkembangan kota di sepanjang jalur sungai (transportasi). Tetapi beberapa kota di Jerman berkembang sesuai dengan teori inti. Sebut saja kota Wolfsburg, kota industri tempat mobil VW dan Audi diproduksi. Kota Stuttgart juga menjadi lebih “hidup” karena produsen mobil Mercedes-Benz memilih “markas besar” mereka di sana.

Tetapi kota kecil seperti Heidelberg pun tetap dapat eksis dan berkembang di Jerman dengan mengandalkan diri sebagai “kota pendidikan”. Mereka yang belajar kedokteran pasti mengenal Universitas Heidelberg yang terkenal dengan fakultas kedokteran. Demikian juga dengan kota Chemnitz yang terkenal sebagai pusat perkembangan teknologi serat optik. Sementara kota Schwerin dikenal sebagai pusat penelitian energi terbarukan.

Di Jerman, setiap kota memiliki kekhasan dan “competitive advantage” yang menjadi andalan untuk perkembangan kota. Setiap kota mengemban tugas sebagai pusat perkembangan sehingga beban Berlin sebagai ibukota negara tidak terlalu berat. Pemerintah Republik Federal Jerman, terutama setiap pemerintah di negara bagian, cerdik mengelola daerah mereka masing-masing sehingga memiliki “competitive advantage” yang menjadi andalan untuk perkembangan daerah masing-masing.

Di Jerman, anda tidak akan pernah menemukan urbanisasi. Berlin bukan segala-galanya. Bahkan, ketika ibukota Jerman Barat masih di Bonn, daerah ini tidak lebih seperti sebuah kecamatan di Indonesia. Tidak semua ada di Bonn, bahkan bandar udara internasional yang menjadi pintu keluar dan masuk mobilitas manusia dan barang. Saat itu, Bonn adalah kota pemerintahan.

Itulah kreativitas bangsa Jerman yang mengandalkan otak mereka untuk membangun daerah masing-masing, tidak hanya tergantung dari penerimaan pajak. Bandingkan dengan kota-kota di Indonesia yang dibangun dengan mengandalkan pajak dan restribusi. Karena membutuhkan dana untuk membangun kota dan gaji pegawai, maka tidak heran di suatu masa pernah ada tindakan “menghalalkan” (baca: melegalkan) prostitusi. Sebuah ironi di negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam. Hiks…… hiks…… hiks…

***

Kini, peran sentral sungai sebagai pendorong kemajuan sebuah daerah dan kota, serta pendukung utama mobilitas manusia dan barang di Jerman, telah digantikan oleh sarana transportasi lain, terutama kereta api. Bukan berarti peran sungai telah berakhir. Romantisme dengan sungai tetap berlanjut, antara lain untuk tujuan wisata.

Era “kuda gigit besi” telah berakhir. Tak ada lagi besi yang tersisa yang bisa digigit oleh kuda. Semua besi telah habis untuk membangun rel yang menghubungkan seluruh wilayah Jerman, tidak hanya antarkota, melainkan juga antardesa.

Saya merekomendasikan,  kalau anda mau merasakan pengalaman dan pengamalan sila keempat Pancasila “Kemanusian Yang Adil dan Beradab” di sektor transportasi, nikmatilah sensasi naik kereta api di Jerman. Nantikan artikel saya tentang “Naik Kereta Api Tut…. Tut….Tut….”

 

Tampak Siring, 16 Juni 2013

 

“Dinding Badinding”

Saat sedang membaca koran minggu, secara tidak sengaja mata saya tertuju pada rubrik kontak jodoh. Beberapa tahun yang lalu, sebelum ketemu jodoh, saya sering “iseng” menyempatkan diri membaca rubrik yang ternyata tidak hilang dengan kehadiran teknologi dan media sosial.

Kalau sekarang saya membaca lagi rubrik kontak jodoh, sama sekali tidak ada niat saya untuk “tebar pesona” mencari istri kedua. Jangankan nikah lagi, untuk perkenalan saja saya tidak punya uang. Maklum, sebagai purnawirawan karyawan swasta, saya tidak sanggup kalau harus membayar uang senilai Rp. 10 juta agar dapat berkenalan dengan seorang wanita. Bahkan, kalau Rp. 10 juta itu ada tambahan doorprize “bobok-bobok sore”, saya tetap tidak sanggup menggelontorkan uang sejumlah itu.

Lalu mengapa saya tertarik dengan rubrik kontak jodoh? Zaman sudah banyak berubah. Teknologi sudah sangat maju. Berbagai media jejaring sosial juga tumbuh menjamur. Semuanya memberikan kemudahan bagi manusia untuk mengadakan kontak sosial dengan banyak orang dari 8 penjuru mata angin.

Para ahli memang meramalkan bahwa teknologi akan mengubah kehidupan manusia. Bukan hanya sampai di situ, para ahli juga berpendapat teknologi bahkan akan mengubah cara manusia memandang kehidupan itu sendiri. Bagi sebagian orang yang “melek teknologi”, harkat dan martabat manusia pun ditentukan dari penguasaan teknologi.

Teknologi juga telah merubah cara manusia berkomunikasi. Teknologi mampu menyiasati jarak dan waktu sehingga jarak dan waktu bukan lagi perkara besar bagi manusia untuk menyampaikan data dan informasi dalam waktu “seketika”. Kehadiran internet telah memungkinkan manusia mengirimkan data dan informasi dalam waktu sekejap ke seluruh penjuru dunia.

Teknologi juga telah merubah cara manusia bersosialisasi. Teknologi juga telah merubah mindset untuk berpikir, bersikap, dan berperilaku praktis. Ucapan permintaan maaf, ucapan selamat ulang tahun, undangan pernikahan, atau bahkan ucapan turun berduka cita, dianggap telah cukup memadai dan santun meskipun hanya disampaikan melalui pesan singkat (sms), e-mail, maupun kicauan di media twitter.

Tetapi perubahan teknologi yang relatif cepat sama sekali tidak membuat urusan jodoh menjadi lebih mudah. Kemudahan-kemudahan yang ditawarkan teknologi tidak serta merta diimbangi dengan kemudahan dalam urusan menemukan jodoh. Buktinya, komunitas bernama Ijolumutan (ikatan jomblo lucu imut-imut pisan) masih tetap eksis.

***

Dalam film You’ve Got Mail yang dibintangi oleh aktor kawakan Tom Hanks dan aktris cantik Meg Ryan dikisahkan bahwa cinta bisa datang dari e-mail. Jalur dan proses cinta tidak lagi datang dari mata turun ke hati. Di zaman modern, dua anak cucu Adam dan Hawa tidak perlu bertemu muka untuk saling mencintai. Melalui e-mail pun cinta dapat bersemi. Anda tidak percaya?

Bild

Image courtesy of http://www.ownlocal.com

Dua keponakan saya ketemu jodoh melalui “mak comblang” bernama internet. Berkat “rajin” chatting dan saling kirim e-mail, cinta tidak hanya bersemi, tetapi berlanjut sampai ke hadapan penghulu. Padahal, kedua keponakan saya adalah orang yang pintar (keduanya doktor lulusan universitas di Eropa Barat), ganteng-ganteng,  supel, grapyak, dan jauh dari karakter clingus (pemalu). Last but not least,  mereka adalah anak-anak yang saleh.

Tetapi kesibukan dan waktu yang terbatas tidak memungkinkan mereka menjadi lebih mudah menemukan jodoh. Beruntung mereka hidup di zaman yang disebut oleh Bill Gates sebagai zaman Web Lifestyle dan Web Workstyle. Singkat kata, mereka mampu memanfaatkan secara optimal kehadiran teknologi untuk memburu pasangan hidup.

***

Saya membayangkan, dengan kemajuan teknologi yang semakin canggih dan perkembangan media jejaring sosial yang semakin pesat, manusia akan semakin mudah berkomunikasi dan menemukan pasangan hidup. Bahkan, kesempatan dan kemudahan untuk menemukan pasangan hidup tidak hanya difasilitasi melalui dunia maya saja.

Saat ini komunikasi sosial sudah sangat terbuka dan berbagai komunitas tumbuh menjamur, mulai dari komunitas yang berbasis hobby sampai dengan komunitas yang ditujukan untuk aktivitas sosial. Melalui keanggotaan partai politik pun orang bisa menemukan jodoh. Dibandingkan dengan kakek dan nenek kita “tempo doeloe”, anak-anak muda sekarang menjadi lebih mudah untuk menjalin persahabatan.

Ternyata, masih banyak anak cucu Adam dan Hawa yang mengalami kesulitan besar untuk menemukan pasangan hidup. Tidak hanya itu, jika ada yang berhasil naik ke pelaminan, dalam waktu yang relatif singkat sudah bercerai.

Teknologi memang mampu mengatasi kendala jarak dan waktu. Tetapi teknologi ternyata tidak serta merta mampu mengatasi jarak sosial dan jarak psikologis di antara sesama manusia. Meskipun manusia sudah mencapai tahap ketergantungan dan ketagihan terhadap teknologi, tetap saja teknologi tidak mampu menumbuhkan saling pengertian, saling menghormati, dan saling menyayangi di antara sesama manusia.

Jarak sosial dan psikologis itu masih tetap ada, meskipun dua sejoli telah sepakat berikrar sehidup semati sampai akhir hayat. Jarak sosial dan psikologis di antara manusia masih akan tetap ada ………. sebagaimana Merle Haggard mengingatkan dalam lagunya “Somewhere Between” :

Somewhere between your heart and mine

There’s a window that I can’t see through

There’s a wall so high it reaches the sky

Somewhere between me and you

Tampak Siring, 2 Juni 2013

 
 

“Kertas Putih”

Masih segar dalam ingatan saya, bagaimana raut muka sahabat saya saat tertawa terbahak-bahak dan terpingkal-pingkal menertawakan saya. Saya hanya bilang kepada teman saya begini : “buah apel jatuh tidak jauh dari pohonnya.”.

Lho, bukankah buah apel jatuh tidak jauh dari pohonnya. Almarhum dan almarhumah orang tua saya juga selalu mengatakan demikian. Tetapi justru mengapa sahabat saya bilang “buah apel jatuh jauh dari pohonnya”. Bagaimana bisa?

Tentu saja bisa. Pernyataan buah apel jatuh dari pohonnya hanya benar jika pohon itu tertanam di tanah yang datar. Tetapi jika pohon apel berada di tebing,  di tepi jurang atau di tepi sungai, ya sangat mungkin buah apel jatuh jauh dari pohonnya.

***

Apakah mungkin seorang anak memiliki karakter dan akhlak yang berbeda dengan kedua orang tuanya?. Jika kita menggunakan “dalil” buah apel jatuh tidak jauh dari pohonnya, maka hampir mustahil seorang anak memiliki karakter dan akhlak yang berbeda sama sekali dari kedua orang tuanya. Bahkan “dalil” itu cenderung menyimpulkan bahwa karakter dan akhlak anak adalah sama dengan karakter kedua orang tuanya.

Asumsi yang mendasari bahwa karakter dan akhlak anak adalah karakter kedua orang tuanya adalah karena orang tua lah yang bertanggung jawab untuk menggambar “kertas putih”. Cara orang tua menggambar “kertas putih” pada umumnya relatif sama. Orang tua mewariskan kebiasaan-kebiasaan kepada anak-anak mereka. Itulah sebabnya, dengan melihat karakter, akhlak, sikap, dan perilaku anak-anak, secara umum kita bisa “menebak” karakter, akhlak, sikap, dan perilaku orang tua mereka.

Pernah pada suatu masa di bumi pertiwi ini ada semacam keyakinan bahwa, kalau orang tuanya anggota dari partai terlarang, maka si anak juga memiliki ideologi yang sama dengan orang tuanya. Padahal, agama, keyakinan, dan ideologi orang tua dan anak sangat mungkin berbeda. Bukan hanya partai dan klub sepakbola kebanggaan yang berbeda, tetapi tidak jarang kita temukan dalam sebuah keluarga yang anggotanya memiliki agama dan keyakinan yang bhinneka. Meskipun demikian, bisa jadi karakter dan akhlak di antara anggota keluarga memiliki kesamaan.

Sebaliknya, jika kita menggunakan pendekatan bahwa buah apel jatuh bisa jauh dari pohonnya, maka bisa saja terjadi anak memiliki karakter dan akhlak yang berbeda dan bertolak belakang dengan kedua orang tuanya. Tetapi apakah mungkin terjadi perbedaan karakter dan akhlak yang signifikan antara orang tua dengan anak-anak mereka?

***

Pernahkah anda mendengar orang tua mengatakan bahwa mereka tidak pernah mengajarkan kebiasaan-kebiasaan yang buruk kepada anak-anak mereka? Tentu saja setiap orang tua tidak pernah secara sengaja dan sistematis mengajarkan kebiasaan-kebiasaan, akhlak, sikap, dan perilaku yang buruk kepada anak-anak mereka.

Jangankan orang-orang “beriman”, orang-orang yang seringkali disebut sebagai “sampah masyarakat” pun tidak pernah berharap anak-anak mereka akan mengikuti “karir” mereka di “dunia hitam”. Setiap orang yang memiliki kalbu pasti memiliki hasyrat agar anak-anak mereka menjadi anak-anak yang saleh, saleha, berbakti kepada orang tua, berguna bagi masyarakat dan bangsa.

Lalu, dari mana anak-anak belajar tentang karakter, akhlak, sikap, dan perilaku yang buruk? Dunia tidak selebar daun kelor juga berlaku bagi anak-anak. Mereka bisa belajar dari siapa saja dan media apa saja. “Invasi” teknologi sudah masuk ke rumah dan ikut berperan menggambar “kertas putih”.

Justru aneh jika orang tua tidak tahu apa arti dan dampak dari kedua orang tua bekerja dan mengejar karir. Justru aneh jika para orang tua tidak mengetahui bahwa anak-anak mereka tidak hanya disuapin makanan bergizi oleh para pengasuh mereka. Bagaimanapun, anak-anak melihat kebiasaan-kebiasaan, sikap dan perilaku para pengasuh mereka.

AustriaImage courtesy of Wisanggenia Photography

***

Saya termasuk orang yang beruntung. Sepengetahuan saya, generasi angkatan saya juga termasuk orang-orang yang beruntung. Mengapa? Sepengetahuan saya, di era kanak-kanak saya, sebagian besar wanita masih fokus menjadi ibu rumah tangga.

Waktu itu belum terpikirkan untuk menjadi wanita karir. Kesempatan dan kebutuhan perempuan untuk bekerja di industri belum begitu banyak. Lagi pula, meskipun penghasilan suami sebagai kepala keluarga relatif “kurang”, ketimbang “mengejar” uang,  pada saat itu para wanita lebih memilih menyelamatkan karakter dan akhlak anak-anak mereka.

Almarhumah ibu saya adalah ibu rumah tangga. Beliau lah yang berperan besar terhadap pendidikan karakter dan akhlak anak-anak. Peran pembantu lebih pada aspek pekerjaan fisik seperti mencuci dan menyetrika baju. Itulah sebabnya, keluarga besar ibu saya bisa bilang bahwa saya adalah “copy paste” dari ibu saya.

Tidak perlu saya jelaskan secara rinci apakah ada perbedaan antara anak-anak yang dididik oleh seorang ibu dan diasuh oleh pembantu rumah tangga. Semua pasti beda, mulai dari kasih sayang, nilai-nilai, karakter, akhlak, sikap, perilaku sampai pola asuh dari ibu sangat berbeda dengan para “pembokap” (baca : pembantu). Jika ibu tidak ada di rumah, maka pembantu dan pengasuh, sengaja atau tidak sengaja, dikehendaki atau tidak dikehendaki, pasti ikut menggambar “kertas putih”.

Sebegitu pentingkah peran seorang ibu dalam pembinaan karakter  dan akhlak anak-anak? Muhammad Quthb, “Seorang anak yang rusak masih bisa menjadi baik asal ia pernah mendapatkan pengasuhan seorang ibu yang baik. Sebaliknya, seorang ibu yang rusak akhlaknya, hanya akan melahirkan generasi yang rusak pula akhlaknya.”

Saat ini, kita sulit untuk mengatakan bahwa karakter, akhlak, sikap dan perilaku anak-anak adalah “copy paste” dari karakter, akhlak, sikap dan perilaku orang tua mereka. Kondisi ini adalah harga yang harus dibayar para orang tua yang memilih strategi “double incomes”.

Kebutuhan hidup yang semakin mahal seringkali menjadi penyebab para wanita “turun gunung” untuk membantu suami mereka mencari tambahan penghasilan. Ada pula yang merasa sayang kalau “hanya” menjadi ibu rumah tangga saja, padahal wanita sudah lulus pendidikan tinggi. Ada juga orang tua yang mengatasnamakan “kasih sayang” sebagai pembenar untuk meninggalkan anak-anak mereka diasuh oleh para pembantu.

Di sebuah acara stasiun televisi swasta saya pernah mendengar pendapat seorang ahli yang mengatakan bahwa masa-masa bawah tiga tahun (batita) adalah masa-masa yang sangat kritis dan penting bagi pembentukan karakter, akhlak, sikap dan perilaku anak-anak.

Tetapi pakar di bidang keluarga itu hanya sampai berandai-andai saja. Jika saja para orang tua mengetahui bahwa masa-masa batita adalah masa-masa yang sangat kritis dan penting bagi pembentukan karakter, akhlak, sikap, dan perilaku anak-anak, mungkin tidak ada orang tua yang akan meninggalkan rumah dan membiarkan para pembantu ikut menggambar “kertas putih”.

Kelak, di hari akhir, hasil menggambar “kertas putih” itu akan dipertanggungjawabkan kepada Tuhan Yang Mahakuasa. Kelak, anak-anak akan mendapatkan kesempatan untuk memberikan pendapat mereka tentang proses dan hasil menggambar para orang tua mereka.

 

Tampak Siring, 1 Juni 2013

 
Leave a comment

Posted by on June 10, 2013 in Selasar