RSS

Merci Abidal !

01 Jun

FC Barcelona (“Barca”) telah memutuskan tidak akan memperpanjang kontrak kerja bek kiri Eric Sylvain Abidal. Kebugaran menjadi alasan utama Barca untuk “mendepak” Abidal. Abidal dapat memahami keputusan manajemen klub. Toh Abidal tak kuasa untuk “menggelontorkan” air mata. Sepakbola memang hanya mengenal satu kata : KONTRIBUSI!

Barca tidak mengatakan selamat tinggal kepada Abidal, melainkan sampai bertemu kembali. Barca memang tidak pernah menutup pintu jika Abidal ingin kembali, tetapi tidak sebagai pesepakbola aktif lagi. Barca sudah membisikkan kepada Abidal bahwa ia akan “disemayamkan” sebagai Direktur Teknik. Posisi yang cukup terhormat di klub sepakbola, sayang untuk saat ini Abidal menolak.

Sepakbola tidak hanya menuntut hard competency (baca : teknis) dan soft competency (baca : sikap mental), melainkan juga stamina (sehat, segar bugar, dan tidak cedera). Abidal memang telah merumput kembali setelah menjalani operasi transplantasi hati. Tetapi Abidal belum mencapai peak performance seperti dulu lagi.

Selama 6 tahun membela Barca (2007 – 2013), Abidal turut memberikan kontribusi kepada Barca untuk meraih 15 trofi. Kontribusi yang luar biasa, merci beaucoup Eric! Tetapi ke depan, tidak dapat dipungkiri bahwa kontribusi Abidal semakin menurun karena staminanya tidak setangguh dulu lagi.

Kegagalan Barca di Liga Champion 2012/2013 dan Copa del Rey 2012/2013 sebagian karena “kontribusi” titik lemah di sektor pertahanan. Barca perlu berbenah di lini belakang. Ke depan, kompetensi Abidal sudah tidak lagi “job fit” dan tidak  “organization fit”, meskipun karakter dan kepribadian Abidal masih memenuhi “cultural fit” dengan kultur Barca. Au revoir Abidal!

abidal 02Image courtesy of AFP/Getty Images

***

Meskipun bergaji besar dan fasilitas serba melimpah, pesepakbola di klub-klub kaya raya di Eropa Barat tidak hidup seenak dan setenang buruh-buruh di Indonesia. Mustahil, dan memang tidak lazim, bagi seorang pesepakbola menuntut diangkat sebagai “karyawan tetap”.

Di Indonesia, buruh sangat terbantu dengan kehadiran Undang Undang Ketenagakerjaan yang “memaksa” perusahaan-perusahaan untuk mengangkat buruh sebagai karyawan tetap. Jenis-jenis pekerjaan yang boleh untuk hubungan kerja tidak tetap sangat dibatasi.

Padahal, hubungan kerja tetap tidak dapat hanya didasarkan atas pertimbangan kemanusiaan saja. Bukan hanya itu, hubungan kerja tetap juga tidak dapat “dipaksakan” untuk memberikan kepastian hubungan kerja dan ketenangan buruh (hi guys,  siapa yang nyuruh anda “galau”?).

Untuk mengangkat seorang buruh sebagai karyawan tetap juga perlu memperhatikan pertimbangan produktivitas. Tidak ada jaminan bahwa setiap tahun produktivitas kerja buruh akan selalu meningkat. Justru dengan pertambahan umur, tingkat kesehatan yang semakin menurun, produktivitas seorang buruh secara alamiah akan menurun.

Mengapa usia pensiun untuk prajurit berbeda dengan perwira?. Tugas dan tanggung jawab mereka berbeda, demikian pula persyaratan kerja yang dibutuhkan untuk menduduki jabatan sebagai prajurit dan perwira. Prajurit lebih membutuhkan otot, perwira lebih menbutuhkan otak. Itulah sebabnya, usia pensiun prajurit relatif lebih muda (di kisaran usia 48 tahun). Sedangkan usia pensiun perwira adalah 55 tahun dan dapat diperpanjang.

Pertimbangan lain untuk mengangkat seorang buruh sebagai karyawan tetap adalah obsolensi. Bukan hanya teknologi yang usang, melainkan juga kompetensi buruh juga usang. Perubahan teknologi adalah salah satu penyebab mengapa kompetensi buruh menjadi usang.

Perusahaan bukan sebuah yayasan amal. Tentu saja perusahaan memiliki tanggung jawab secara hukum dan moral untuk meningkatkan kompetensi karyawan. Tetapi hukum sumber daya adalah terbatas, termasuk dana. Tidak mungkin bagi perusahaan “menghambur-hamburkan” dana untuk meningkatkan kompetensi karyawan. Dalam berbagai artikel tentang human capital readiness, Kaplan dan Norton (penulis buku Balanced Scorecard) mengestimasikan perusahaan-perusahaan fokus melatih mengembangkan kepada 5 % karyawan inti saja.

***

Ada 3 musuh besar seorang pesepakbola, yaitu umur, stamina, dan kinerja pesepakbola lain di posisi yang sama. Ketiga faktor tersebut menjadi pertimbangan utama setiap klub sepakbola untuk menetapkan hubungan kerja untuk waktu tidak tertentu.

“Umur teknis” seorang pesepakbola – terutama profesional – relatif pendek. Secara umum, pesepakbola memulai karir profesional pada usia 18 tahun sampai dengan 34 tahun, setelah itu pensiun (kecuali kiper yang memiliki “umur teknis” relatif lebih lama). Beberapa pesepakbola seperti Ryan Giggs dan David Beckham memang dapat bermain lebih lama daripada rata-rata pesepakbola.

Umur merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi kinerja dan kontribusi seorang pesepakbola. Umur berpengaruh besar terhadap daya tahan fisik dan kecepatan pesepakbola. Semakin bertambah umur, semakin berkurang produktifitas, dan semakin berkurang kesempatan untuk memberikan kontribusi terbaik. Setiap olahragawan, termasuk pesepakbola, selalu memiliki “umur emas”, saat-saat terbaik memberikan kontribusi dan berprestasi.

Stamina bagi olahragawan ditunjukkan oleh sehat, ketahanan fisik, dan cedera. Pesepakbola yang cenderung rentan cedera akan mengalami kesulitan untuk menunjukkan kontribusi dan prestasi terbaik. Pesepakbola yang baru pulih dari cedera juga membutuhkan masa penyesuaian untuk bisa kembali ke kondisi terbaik untuk memberikan kontribusi.

Meskipun didukung oleh stamina yang bagus dan dalam masa “golden age”, tidak serta merta pesepakbola dalam posisi aman dan diberikan kepercayaan pelatih untuk menjadi pemain utama. Jika kinerja pemain lain di posisi yang sama lebih “tajir”, pelatih akan lebih percaya dan memilih pemain yang memberikan kontribusi lebih kepada tim.

Bahkan, ketika seorang pesepakbola menunjukkan kontribusi yang lebih baik dibandingkan pemain lain di posisi yang sama, seorang pelatih masih juga belum merasa puas dengan kinerja dan kontribusi pemain yang bersangkutan. Dimitar Berbatov, mantan striker FC Manchester United (“MU”), adalah salah satu contoh “korban” Sir. Alex Ferguson.

Musim kompetisi 2010/2011 Berbatov mengoleksi 20 gol. Jumlah tersebut lebih baik dari striker yang dimiliki MU pada saat itu. Musim kompetisi 2011/2012 Fergie lebih memercayakan lini depan kepada pemain muda seperti Danny Wellbeck dan Javier “Chicharito” Hernandez.  Alih-alih percaya kepada Berbatov, musim kompetisi 2012/2013 Fergie justru memboyong Robin van Persie untuk berlabuh ke MU.

Meskipun La Furia Roja (julukan timnas sepakbola Spanyol) memiliki beberapa penyerang handal, toh Vincente Del Bosque justru lebih percaya kepada para pemain gelandangnya untuk mengisi lini depan. Utak-atik Del Bosque memang kemudian berhasil dan Spanyol merebut juara Eropa 2012.

Menjadi pemain bintang dengan rekor transfer mahal tidak secara otomotasi menjamin posisi di tim utama aman. Bahkan, klub tidak segan-segan memberlakukan prinsip “habis manis sepah dibuang”. MU membeli Berbatov dengan nilai 30,75 juta poundsterling (Berbatov adalah pemain dengan nilai transfer termahal di MU). MU tidak merasa rugi “membuang” Berbatov  dengan nilai transfer “hanya” 5 juta poundsterling.

Kedekatan dan menjadi pesepakbola kesayangan pemilik klub tidak bermakna apapun. Fernando Torres adalah pemain kesayangan Roman Abramovic, tetapi tidak mendapat tempat utama di tim utama maupun di hati pendukung Chelsea. Rooney adalah pemain kesayangan Ferguson, toh Ferguson tak segan-segan “memarkir” Rooney  untuk “menghangatkan” bangku cadangan. Kepercayaan dan penghargaan harus diperoleh dengan perjuangan dan pengorbanan. There is no free lunch.

***

Kontrak kerja antara buruh dengan perusahaan tidak selalu tepat diikat dengan hubungan kerja tetap. Memberikan kepastian hukum dan jaminan pekerjaan melalui kontrak kerja waktu tidak tertentu tidak selalu mendidik dan memotivasi buruh. Apalagi jika perlindungan “cuma-cuma” itu diperoleh tanpa diimbangi dengan peningkatan kompetensi, produktivitas, dan kontribusi buruh.

Tampak Siring, 1 Juni 2013

 
Leave a comment

Posted by on June 1, 2013 in Selasar

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: