RSS

“Kertas Putih”

10 Jun

Masih segar dalam ingatan saya, bagaimana raut muka sahabat saya saat tertawa terbahak-bahak dan terpingkal-pingkal menertawakan saya. Saya hanya bilang kepada teman saya begini : “buah apel jatuh tidak jauh dari pohonnya.”.

Lho, bukankah buah apel jatuh tidak jauh dari pohonnya. Almarhum dan almarhumah orang tua saya juga selalu mengatakan demikian. Tetapi justru mengapa sahabat saya bilang “buah apel jatuh jauh dari pohonnya”. Bagaimana bisa?

Tentu saja bisa. Pernyataan buah apel jatuh dari pohonnya hanya benar jika pohon itu tertanam di tanah yang datar. Tetapi jika pohon apel berada di tebing,  di tepi jurang atau di tepi sungai, ya sangat mungkin buah apel jatuh jauh dari pohonnya.

***

Apakah mungkin seorang anak memiliki karakter dan akhlak yang berbeda dengan kedua orang tuanya?. Jika kita menggunakan “dalil” buah apel jatuh tidak jauh dari pohonnya, maka hampir mustahil seorang anak memiliki karakter dan akhlak yang berbeda sama sekali dari kedua orang tuanya. Bahkan “dalil” itu cenderung menyimpulkan bahwa karakter dan akhlak anak adalah sama dengan karakter kedua orang tuanya.

Asumsi yang mendasari bahwa karakter dan akhlak anak adalah karakter kedua orang tuanya adalah karena orang tua lah yang bertanggung jawab untuk menggambar “kertas putih”. Cara orang tua menggambar “kertas putih” pada umumnya relatif sama. Orang tua mewariskan kebiasaan-kebiasaan kepada anak-anak mereka. Itulah sebabnya, dengan melihat karakter, akhlak, sikap, dan perilaku anak-anak, secara umum kita bisa “menebak” karakter, akhlak, sikap, dan perilaku orang tua mereka.

Pernah pada suatu masa di bumi pertiwi ini ada semacam keyakinan bahwa, kalau orang tuanya anggota dari partai terlarang, maka si anak juga memiliki ideologi yang sama dengan orang tuanya. Padahal, agama, keyakinan, dan ideologi orang tua dan anak sangat mungkin berbeda. Bukan hanya partai dan klub sepakbola kebanggaan yang berbeda, tetapi tidak jarang kita temukan dalam sebuah keluarga yang anggotanya memiliki agama dan keyakinan yang bhinneka. Meskipun demikian, bisa jadi karakter dan akhlak di antara anggota keluarga memiliki kesamaan.

Sebaliknya, jika kita menggunakan pendekatan bahwa buah apel jatuh bisa jauh dari pohonnya, maka bisa saja terjadi anak memiliki karakter dan akhlak yang berbeda dan bertolak belakang dengan kedua orang tuanya. Tetapi apakah mungkin terjadi perbedaan karakter dan akhlak yang signifikan antara orang tua dengan anak-anak mereka?

***

Pernahkah anda mendengar orang tua mengatakan bahwa mereka tidak pernah mengajarkan kebiasaan-kebiasaan yang buruk kepada anak-anak mereka? Tentu saja setiap orang tua tidak pernah secara sengaja dan sistematis mengajarkan kebiasaan-kebiasaan, akhlak, sikap, dan perilaku yang buruk kepada anak-anak mereka.

Jangankan orang-orang “beriman”, orang-orang yang seringkali disebut sebagai “sampah masyarakat” pun tidak pernah berharap anak-anak mereka akan mengikuti “karir” mereka di “dunia hitam”. Setiap orang yang memiliki kalbu pasti memiliki hasyrat agar anak-anak mereka menjadi anak-anak yang saleh, saleha, berbakti kepada orang tua, berguna bagi masyarakat dan bangsa.

Lalu, dari mana anak-anak belajar tentang karakter, akhlak, sikap, dan perilaku yang buruk? Dunia tidak selebar daun kelor juga berlaku bagi anak-anak. Mereka bisa belajar dari siapa saja dan media apa saja. “Invasi” teknologi sudah masuk ke rumah dan ikut berperan menggambar “kertas putih”.

Justru aneh jika orang tua tidak tahu apa arti dan dampak dari kedua orang tua bekerja dan mengejar karir. Justru aneh jika para orang tua tidak mengetahui bahwa anak-anak mereka tidak hanya disuapin makanan bergizi oleh para pengasuh mereka. Bagaimanapun, anak-anak melihat kebiasaan-kebiasaan, sikap dan perilaku para pengasuh mereka.

AustriaImage courtesy of Wisanggenia Photography

***

Saya termasuk orang yang beruntung. Sepengetahuan saya, generasi angkatan saya juga termasuk orang-orang yang beruntung. Mengapa? Sepengetahuan saya, di era kanak-kanak saya, sebagian besar wanita masih fokus menjadi ibu rumah tangga.

Waktu itu belum terpikirkan untuk menjadi wanita karir. Kesempatan dan kebutuhan perempuan untuk bekerja di industri belum begitu banyak. Lagi pula, meskipun penghasilan suami sebagai kepala keluarga relatif “kurang”, ketimbang “mengejar” uang,  pada saat itu para wanita lebih memilih menyelamatkan karakter dan akhlak anak-anak mereka.

Almarhumah ibu saya adalah ibu rumah tangga. Beliau lah yang berperan besar terhadap pendidikan karakter dan akhlak anak-anak. Peran pembantu lebih pada aspek pekerjaan fisik seperti mencuci dan menyetrika baju. Itulah sebabnya, keluarga besar ibu saya bisa bilang bahwa saya adalah “copy paste” dari ibu saya.

Tidak perlu saya jelaskan secara rinci apakah ada perbedaan antara anak-anak yang dididik oleh seorang ibu dan diasuh oleh pembantu rumah tangga. Semua pasti beda, mulai dari kasih sayang, nilai-nilai, karakter, akhlak, sikap, perilaku sampai pola asuh dari ibu sangat berbeda dengan para “pembokap” (baca : pembantu). Jika ibu tidak ada di rumah, maka pembantu dan pengasuh, sengaja atau tidak sengaja, dikehendaki atau tidak dikehendaki, pasti ikut menggambar “kertas putih”.

Sebegitu pentingkah peran seorang ibu dalam pembinaan karakter  dan akhlak anak-anak? Muhammad Quthb, “Seorang anak yang rusak masih bisa menjadi baik asal ia pernah mendapatkan pengasuhan seorang ibu yang baik. Sebaliknya, seorang ibu yang rusak akhlaknya, hanya akan melahirkan generasi yang rusak pula akhlaknya.”

Saat ini, kita sulit untuk mengatakan bahwa karakter, akhlak, sikap dan perilaku anak-anak adalah “copy paste” dari karakter, akhlak, sikap dan perilaku orang tua mereka. Kondisi ini adalah harga yang harus dibayar para orang tua yang memilih strategi “double incomes”.

Kebutuhan hidup yang semakin mahal seringkali menjadi penyebab para wanita “turun gunung” untuk membantu suami mereka mencari tambahan penghasilan. Ada pula yang merasa sayang kalau “hanya” menjadi ibu rumah tangga saja, padahal wanita sudah lulus pendidikan tinggi. Ada juga orang tua yang mengatasnamakan “kasih sayang” sebagai pembenar untuk meninggalkan anak-anak mereka diasuh oleh para pembantu.

Di sebuah acara stasiun televisi swasta saya pernah mendengar pendapat seorang ahli yang mengatakan bahwa masa-masa bawah tiga tahun (batita) adalah masa-masa yang sangat kritis dan penting bagi pembentukan karakter, akhlak, sikap dan perilaku anak-anak.

Tetapi pakar di bidang keluarga itu hanya sampai berandai-andai saja. Jika saja para orang tua mengetahui bahwa masa-masa batita adalah masa-masa yang sangat kritis dan penting bagi pembentukan karakter, akhlak, sikap, dan perilaku anak-anak, mungkin tidak ada orang tua yang akan meninggalkan rumah dan membiarkan para pembantu ikut menggambar “kertas putih”.

Kelak, di hari akhir, hasil menggambar “kertas putih” itu akan dipertanggungjawabkan kepada Tuhan Yang Mahakuasa. Kelak, anak-anak akan mendapatkan kesempatan untuk memberikan pendapat mereka tentang proses dan hasil menggambar para orang tua mereka.

 

Tampak Siring, 1 Juni 2013

 
Leave a comment

Posted by on June 10, 2013 in Selasar

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: