RSS

“Dinding Badinding”

14 Jun

Saat sedang membaca koran minggu, secara tidak sengaja mata saya tertuju pada rubrik kontak jodoh. Beberapa tahun yang lalu, sebelum ketemu jodoh, saya sering “iseng” menyempatkan diri membaca rubrik yang ternyata tidak hilang dengan kehadiran teknologi dan media sosial.

Kalau sekarang saya membaca lagi rubrik kontak jodoh, sama sekali tidak ada niat saya untuk “tebar pesona” mencari istri kedua. Jangankan nikah lagi, untuk perkenalan saja saya tidak punya uang. Maklum, sebagai purnawirawan karyawan swasta, saya tidak sanggup kalau harus membayar uang senilai Rp. 10 juta agar dapat berkenalan dengan seorang wanita. Bahkan, kalau Rp. 10 juta itu ada tambahan doorprize “bobok-bobok sore”, saya tetap tidak sanggup menggelontorkan uang sejumlah itu.

Lalu mengapa saya tertarik dengan rubrik kontak jodoh? Zaman sudah banyak berubah. Teknologi sudah sangat maju. Berbagai media jejaring sosial juga tumbuh menjamur. Semuanya memberikan kemudahan bagi manusia untuk mengadakan kontak sosial dengan banyak orang dari 8 penjuru mata angin.

Para ahli memang meramalkan bahwa teknologi akan mengubah kehidupan manusia. Bukan hanya sampai di situ, para ahli juga berpendapat teknologi bahkan akan mengubah cara manusia memandang kehidupan itu sendiri. Bagi sebagian orang yang “melek teknologi”, harkat dan martabat manusia pun ditentukan dari penguasaan teknologi.

Teknologi juga telah merubah cara manusia berkomunikasi. Teknologi mampu menyiasati jarak dan waktu sehingga jarak dan waktu bukan lagi perkara besar bagi manusia untuk menyampaikan data dan informasi dalam waktu “seketika”. Kehadiran internet telah memungkinkan manusia mengirimkan data dan informasi dalam waktu sekejap ke seluruh penjuru dunia.

Teknologi juga telah merubah cara manusia bersosialisasi. Teknologi juga telah merubah mindset untuk berpikir, bersikap, dan berperilaku praktis. Ucapan permintaan maaf, ucapan selamat ulang tahun, undangan pernikahan, atau bahkan ucapan turun berduka cita, dianggap telah cukup memadai dan santun meskipun hanya disampaikan melalui pesan singkat (sms), e-mail, maupun kicauan di media twitter.

Tetapi perubahan teknologi yang relatif cepat sama sekali tidak membuat urusan jodoh menjadi lebih mudah. Kemudahan-kemudahan yang ditawarkan teknologi tidak serta merta diimbangi dengan kemudahan dalam urusan menemukan jodoh. Buktinya, komunitas bernama Ijolumutan (ikatan jomblo lucu imut-imut pisan) masih tetap eksis.

***

Dalam film You’ve Got Mail yang dibintangi oleh aktor kawakan Tom Hanks dan aktris cantik Meg Ryan dikisahkan bahwa cinta bisa datang dari e-mail. Jalur dan proses cinta tidak lagi datang dari mata turun ke hati. Di zaman modern, dua anak cucu Adam dan Hawa tidak perlu bertemu muka untuk saling mencintai. Melalui e-mail pun cinta dapat bersemi. Anda tidak percaya?

Bild

Image courtesy of http://www.ownlocal.com

Dua keponakan saya ketemu jodoh melalui “mak comblang” bernama internet. Berkat “rajin” chatting dan saling kirim e-mail, cinta tidak hanya bersemi, tetapi berlanjut sampai ke hadapan penghulu. Padahal, kedua keponakan saya adalah orang yang pintar (keduanya doktor lulusan universitas di Eropa Barat), ganteng-ganteng,  supel, grapyak, dan jauh dari karakter clingus (pemalu). Last but not least,  mereka adalah anak-anak yang saleh.

Tetapi kesibukan dan waktu yang terbatas tidak memungkinkan mereka menjadi lebih mudah menemukan jodoh. Beruntung mereka hidup di zaman yang disebut oleh Bill Gates sebagai zaman Web Lifestyle dan Web Workstyle. Singkat kata, mereka mampu memanfaatkan secara optimal kehadiran teknologi untuk memburu pasangan hidup.

***

Saya membayangkan, dengan kemajuan teknologi yang semakin canggih dan perkembangan media jejaring sosial yang semakin pesat, manusia akan semakin mudah berkomunikasi dan menemukan pasangan hidup. Bahkan, kesempatan dan kemudahan untuk menemukan pasangan hidup tidak hanya difasilitasi melalui dunia maya saja.

Saat ini komunikasi sosial sudah sangat terbuka dan berbagai komunitas tumbuh menjamur, mulai dari komunitas yang berbasis hobby sampai dengan komunitas yang ditujukan untuk aktivitas sosial. Melalui keanggotaan partai politik pun orang bisa menemukan jodoh. Dibandingkan dengan kakek dan nenek kita “tempo doeloe”, anak-anak muda sekarang menjadi lebih mudah untuk menjalin persahabatan.

Ternyata, masih banyak anak cucu Adam dan Hawa yang mengalami kesulitan besar untuk menemukan pasangan hidup. Tidak hanya itu, jika ada yang berhasil naik ke pelaminan, dalam waktu yang relatif singkat sudah bercerai.

Teknologi memang mampu mengatasi kendala jarak dan waktu. Tetapi teknologi ternyata tidak serta merta mampu mengatasi jarak sosial dan jarak psikologis di antara sesama manusia. Meskipun manusia sudah mencapai tahap ketergantungan dan ketagihan terhadap teknologi, tetap saja teknologi tidak mampu menumbuhkan saling pengertian, saling menghormati, dan saling menyayangi di antara sesama manusia.

Jarak sosial dan psikologis itu masih tetap ada, meskipun dua sejoli telah sepakat berikrar sehidup semati sampai akhir hayat. Jarak sosial dan psikologis di antara manusia masih akan tetap ada ………. sebagaimana Merle Haggard mengingatkan dalam lagunya “Somewhere Between” :

Somewhere between your heart and mine

There’s a window that I can’t see through

There’s a wall so high it reaches the sky

Somewhere between me and you

Tampak Siring, 2 Juni 2013

 
 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: