RSS

Ich bin ein Berliner!

21 Jun

Saya termasuk orang yang sulit jatuh cinta kepada apapun dan siapapun.  Tetapi saya tidak butuh waktu lama untuk jatuh cinta kepada kota Berlin. Saya tinggal selama 2 minggu di Berlin. Waktu sesingkat itu sudah cukup bagi saya untuk bilang “Ich bin ein Berliner” (saya orang Berlin).

Mungkin saya memang “mabuk kepayang” terhadap Berlin. Selama 12 bulan tinggal di Jerman, saya bermukim di 5 kota yang berbeda, yaitu Saarbruecken, Mannheim, Magdeburg, Kassel, dan terakhir di Berlin. Tidak pernah saya mengatakan, misalnya, “Ich bin ein Mannheimer” (saya orang Mannheim) atau “Ich bin ein Magdeburger” (saya orang Magdeburg).

Jika ada penduduk Mannheim dan merupakan “orang asli” Mannheim bertanya kepada saya tentang impresi dan persepsi saya tentang Mannheim, paling banter saya bilang “Mannheim ist meine zweite Heimat” (Mannheim adalah kampung halaman saya kedua).

Sejatinya, bukan hanya saya yang kepincut terhadap kota Berlin. John Fitzgerald Kennedy pun merasakan betapa repot menahan cinta. Saat masih menjabat Presiden Amerika Serikat dan berkunjung ke kota Berlin, di hadapan rakyat Berlin, Kennedy pernah berkata lantang (persis seperti yang saya ucapkan) : Ich bin ein Berliner. Oops……ketahuan siapa yang “nyontek”.

BildImage courtesy of Wisanggenia Photography

“Insting” saya dapat “membaca” sikap dan perilaku orang-orang Jerman terhadap kota mereka. Orang-orang Jerman sangat bangga terhadap kota dan daerah mereka. Maksud saya, bukan hanya orang-orang Bayern yang sangat terkenal bangga dengan Bayern. Mirip orang Catalan di Barcelona “sesuka hati” mereka mengklaim Barcelona bukan Spanyol (maunya mereka, Spanyol itu ya Barcelona), orang Bayern juga yakin bahwa Bayern itu adalah identik dengan Jerman.  Tetapi orang-orang Jerman dari kota-kota kecil atau daerah kecil pun bangga dan percaya diri dengan daerah mereka.

Orang-orang Jerman terkenal berperasaan “dingin”, “kaku” dan bicara blak-blakan (terutama masyarakat eks Jerman Timur). Secara umum, masyarakat eks Jerman Barat relatif lebih “hangat” dan “supel”, meskipun tetap saja mempertahankan sikap ogah fleksibel. Tetapi orang-orang Jerman juga tahu kapan harus memuji dan berbasa-basi.

Setiap saya pindah ke kota lain, mentor dan guru bahasa Jerman saya selalu bilang bahwa kota yang akan saya tempati  adalah kota yang indah dan nyaman. Herr George Hallemayer, guru bahasa Jerman saat saya di Saarbruecken, juga bisa memuji kota Mannheim. Herr Hallemayer yang orang Bayern tulen itupun tidak pernah bilang kepada saya untuk mengunjugi Bayern, ia justru berpesan kepada saya untuk berkunjung ke kota Mainz (tempat kelahiran Johann Guttenberg, penemu mesin cetak).

***

Kecintaan orang-orang Jerman terhadap daerah mereka masing-masing dapat menjelaskan mengapa di Berlin tidak terjadi urbanisasi yang parah seperti di Jakarta. Setelah Jerman bersatu, Berlin menyandang sebagai ibukota Jerman.

Sebagai ibukota dari negara yang memiliki perekonomian 3 besar di dunia, Berlin tidak gemerlap dan genit sebagaimana kota-kota besar di negara lain. Bahkan, dibandingkan Jakarta, “kemegahan” Jakarta pun bisa menandingi Berlin (kecuali untuk gedung-gedung peninggalan sejarah dan gedung kesenian yang layak untuk pentas musik klasik kelas dunia).

Pesona Berlin tidak mampu menjadi “magnet” yang “menyedot” penduduk Jerman dari berbagai daerah untuk tinggal dan bekerja di Berlin. Berbeda dengan Jakarta yang menjadi pusat untuk semua hal, terutama pusat pemerintahan dan pusat ekonomi (dan karena itu mendorong orang untuk datang ke Jakarta), Berlin bukanlah pusat segala-galanya. Jakarta adalah kota “palugada” (lu mau apa gua ada)

Tidak ada pull factor (faktor yang menarik) dari Berlin yang memaksa orang-orang Jerman untuk berdatangan tinggal dan bekerja di Berlin. Juga tidak ada push factor (faktor yang mendorong) orang dari daerah-daerah untuk tinggal dan bekerja di Berlin.

Orang-orang Jerman merasa bahwa mereka tetap “menjadi orang”, meskipun tinggal di kota-kota kecil. Orang-orang Jerman juga merasa rezeki ada di setiap kota. Di Indonesia, sebagian besar orang dipaksa dan terpaksa pergi ke Jakarta untuk bekerja. Ketimpangan pembangunan antardaerah, dan terutama ketimpangan antara Jakarta dan daerah-daerah lain, memaksa orang untuk “menjadi orang” dengan cara tinggal dan bekerja di Jakarta.

Pengembangan kota secara merata dan “penunjukan” kota-kota tertentu di Jerman sebagai pusat dari kegiatan tertentu  membuat perkembangan kota-kota di Jerman merata. Hamburg dikenal sebagai kota pelabuhan. Stuttgart adalah “markas besar” produsen mobil Mercedes-Benz. Industri mobil VW dan Audi memilih kota kecil Wolfsburg sebagai lokasi pabrik (sekedar informasi, pesepakbola Edin Dzeko pernah merumput di klub sepakbola Wolfsburg yang disponsori oleh VW). 

Sistem transportasi dan distribusi barang yang tertata rapi membuat mobilitas barang menjadi lancar, cepat, dan aman. Padahal, pantai-pantai di Jerman terletak di sisi utara dan barat laut Jerman, sedangkan pelabuhan laut terbesar terletak di kota Hamburg. Tetapi tidak menjadi masalah bagi Mercedes-Benz dan BMW memilih lokasi pabrik mereka di Stutgart dan  di Bayern  yang notabene terletak di kawasan Jerman sebelah selatan. Karena sistem transportasi dan distribusi barang di Jerman sangat mengandalkan kereta api, termasuk para produsen mobil.

Bandingkan dengan kawasan industri yang sebagian besar berada di kawasan sekitar Jakarta. Sistem transportasi dan distribusi barang dan jasa yang jauh dari sempurna membuat pabrik-pabrik di bangun mendekati Jakarta, lokasi di mana pelabuhan terbesar di Indonesia berada. “Mobil naik mobil” menjadi lazim di Indonesia, mengingat sistem transportasi laut dan kereta api di Jawa belum dapat diandalkan.

***

Sebagian besar orang Indonesia, mungkin juga penduduk dunia, mengenal Berlin karena faktor tembok Berlin yang sangat bersejarah. Ada yang mengenal Berlin lebih spesifik, terutama Charlie Check-Point. Dibandingkan kota-kota lain di Jerman, Berlin memang kota yang sarat dengan sejarah dan haru biru perkembangan Jerman. Seperti apakah kota Berlin? Wikipedia menulis sebagai berikut :

“Berlin is a world city of culture, politics, media, and science. Its economy is primarily based on high-tech industries and the service sector, encompassing a diverse range of creative industries, research facilities, media corporations, and convention venues. Berlin also serves as a continental hub for air and rail transport and is a popular tourist destination. Significant industries include IT, pharmaceuticals, biomedical engineering, biotechnology, electronics, traffic engineering, and renewable energy.

Berlin is home to renowned universities, research institutes, orchestras, museums, and celebrities and is host to many sporting events. Its urban setting and historical legacy have made it a popular location for international film productions. The city is well known for its festivals, diverse architecture, nightlife, contemporary arts, public transportation networks, and a high quality of living.” (en.wikipedia.org, 20 Juni 2013)

Meskipun banyak bangunan tua, Berlin juga mempercantik dirinya dengan berbagai renovasi. Pada tahun 2006 Jerman ditunjuk sebagai tuan rumah Piala Dunia Sepakbola. Pertandingan babak penyisihan salah satunya juga diadakan di Berlin. Bahkan, partai final yang mempertemukan timnas Perancis melawan timnas Italia juga diselenggarakan di Berlin.

Beberapa bangunan yang sempat direnovasi sehubungan piala dunia terutama adalah Olympic Stadium dan stasiun kereta api. Stasiun KA Berlin adalah yang terbesar setelah stasiun KA di Leipzig yang meskipun juga bagus tetapi masih menyisakan kesan eks Jerman Timur.

Pendapat saya pribadi, Berlin adalah kota arsitektur dan kota sejarah. Beberapa bangunan tua yang “wajib” dikunjungi adalah Bradenburg Gate, gedung parlemen Reichstag Building (di dalamnya ada Reichstag Dome), dan Kathedral Berlin. Sedangkan bangunan yang “sunnah” anda kunjungi adalah Charlottenburg Palace, Bellevue Palace (Istana Presiden Jerman), Bundeskanzleramt (kantor Kanselir Jerman, sekaligus tempat tinggal), Memorial Church (bekas gereja yang di bom dan “dibiarkan” terbengkalai), dan masih banyak tempat wisata lainnya. Jika anda suka “dugem”, tidak ada salahnya anda menyempatkan diri mampir ke Potsdamer Platz, Alexander Platz dan Sony Center. Hampir semua obyek wisata di Berlin sudah saya kunjungi, kecuali Kebun Binatang Berlin.

Berlin juga kota sejarah. Salah satu indikatornya adalah museum yang “bertebaran” di mana-mana. Untuk menghormati dan memperingati tragedi pembunuhan massal bangsa Yahudi misalnya, Berlin memiliki beberapa museum khusus tentang Yahudi. Salah satu yang “wajib” anda kunjungi adalah “Memorial to the Murdered Jews of Europe”. Kebetulan lokasinya di samping kiri Bradenburg Gate. Dari situ, sekalian tinggal jalan kaki untuk menuju ke eks tembok Berlin yang dibiarkan tersisa “secuil”.

Mentor dan guru saya di Jerman memang pernah bilang, kalau sudah menyangkut Yahudi, bangsa Jerman seperti “kerbau dicocor hidungnya”. Mungkin karena beban perasaan bersalah di masa lalu, bangsa Jerman, terutama pemerintah Jerman, selalu “mengiyakan” apapun yang dimaui oleh Israel.

Tetapi bukan hal itu yang menarik bagi saya. Keseriusan bangsa Jerman terhadap sejarah patut diacungi jempol. Bung Karno pernah bilang bahwa “jangan sekali-kali meninggalkan sejarah”. Bangsa Jerman tidak pernah melupakan dan meninggalkan sejarah. Bahkan, untuk “kebenaran”  sejarah, bangsa Jerman ikhlas untuk menelanjangi diri mereka sendiri. Semua kekejaman orang Jerman di era Adolf Hitler diungkapkan kepada generasi penerus dan publik. Di Jerman, sejarah adalah history. Tidak ada dusta di antara sesama anak bangsa.

Bandingkan dengan sejarah tentang Gerakan 30 September 1965 yang tidak pernah selesai dengan segala kontroversinya. Siapa yang menjadi korban sudah jelas, para jenderal yang menjadi pahlawan revolusi dan seluruh rakyat Indonesia. Tetapi siapa yang menjadi “aktor intelektual” masih belum tuntas diperdebatkan. Di Indonesia, sejarah memang belum tentu history sebagaimana seharusnya kita memahaminya, tetapi bisa jadi his story.

***

Jangan bandingkan Berlin dengan Jakarta dalam hal pusat-pusat bisnis dan perdagangan. Secara fisik, bangunan perkantoran dan pusat perdagangan di Berlin “kalah kelas” dengan yang ada di Jakarta. Kantor kanselir Jerman Frau Angela Merkel pun tampak biasa-biasa saja. Bukan hanya gedungnya yang biasa, penjagaan keamanan pun tidak mencolok (Di bumi pertiwi, soal-soal ujian nasional pun dikawal oleh personil keamanan dan pertahanan. Mantabs bro!) Tetapi saya yakin, teknologi keamanan dan pengamanan kantor kanselir Jerman pasti super istimewa.

Tetapi jangan pernah anggap remeh teknologi dan fungsi dari bangunan-bangunan di Berlin. Orang-orang Jerman memang mengutamakan fungsi ketimbang gaya. Teknologi ramah lingkungan pun menjadi ciri utama bangunan perkantoran dan pusat perdagangan di Berlin.

Saat mengikuti seminar International Management Kompetenz di Berlin selama 3 hari, semua aktivitas dilakukan di lantai 1. Jarak antara bangunan dengan jalan raya relatif dekat. Tetapi saya tidak pernah mendengar suara bising kendaraan bermotor. Pencahayaan ruangan pun sangat efisien, karena memanfaatkan cahaya matahari yang masuk ke ruangan secara merata.

Jika mau, bandingkanlah Berlin dengan Jakarta dalam hal sistem transportasi. Sistem transportasi di Berlin telah selesai dibangun berpuluh-puluh tahun yang lalu, tertata rapi, dan sudah bertahun-tahun digunakan oleh publik secara nyaman. Sedangkan sistem transportasi di Jakarta masih dalam tahap wacana dan tidak memiliki strategi yang jelas. Wacana tentang sistem transportasi di Jakarta masih tidak beranjak jauh dari diskusi tentang nomor genap dan nomor ganjil. Alamak! Seperti menebak nomor lotere saja!

eBERLINO1

Image courtesy of Wisanggenia Photography

Last but not least, GDP per capita tahun 2007 Berlin adalah 24,473.00 Euro. Saya hampir tidak pernah melihat mobil mewah lalu lalang di jalan raya Berlin. Indikasi bahwa ketimpangan sosial bukan karakteristik kota Berlin.

Tampak Siring, 20 Juni 2013

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: