RSS

Villach

24 Jun

Apa perbedaan wisata di Indonesia dengan di Eropa Barat?. Di Indonesia, kita harus percaya dan patuh pada peribahasa warisan leluhur : “malu bertanya sesat di jalan”. Meskipun tidak ada jaminan bahwa setelah bertanya tidak akan tersesat, peribahasa itu kita terima “taken for granted”.

Saat wisata di Eropa, tidak ada keharusan bagi kita untuk bertanya. Kita bisa menggunakan peribahasa “baru”, yaitu “tidak perlu bertanya dan pasti tidak sesat di jalan”. Justru “malu-maluin” kalau banyak bertanya. Kelihatan banget berasal dari “emerging country”. Apakah tidak akan sesat di jalan?. Apakah ini bukan sikap dan perilaku sombong? Bukankah para leluhur sudah meningatkan kita agar “ojo dumeh” (jangan mentang-mentang)?.

Di Indonesia, ada kecenderungan petunjuk selalu dipahami sebagai informasi lisan. Nara sumber yang dapat dipercaya adalah manusia. Ada kecenderungan untuk “husnudzon” bahwa nara sumber yang dapat dipercaya adalah orang-orang setempat. Bagaimana jika orang-orang lokal tidak mampu berbahasa Inggris atau bahasa Indonesia? Bukankah informasi yang disampaikan oleh nara sumber bisa salah pada saat diterjemahkan dalam bahasa Inggris? Atau, nara sumber telah memberikan informasi yang benar, penerima informasi salah memahaminya?

Industri penerbangan mencatat sejarah, bahwa komunikasi yang tidak becus antara pilot dengan petugas ATC (Air Traffic Control) dapat berujung pesawat menabrak gunung. Kita semua mahfum, pilot dan petugas ATC adalah orang-orang yang cakap berbahasa Inggris. Tetapi “forty” dan “fourteen” bisa kedengaran di telinga sangat mirip. Boleh jadi petugas ATC memerintahkan pilot bertahan di ketinggian 40.000 kaki (“forty”), tetapi pilot mendengarnya “fourteen”.

Di Eropa Barat, petunjuk tersedia dalam jumlah melimpah, mudah diakses, dan mudah dipahami oleh siapapun. Informasi tentang kota dan tempat-tempat wisata selalu tersedia secara tertulis. Informasi juga tersedia di website dan dapat diunduh setiap saat oleh siapapun.

Sebagian besar kota-kota di Eropa selalu memiliki peta kota dan peta transportasi. Mobilitas manusia sangat penting, baik untuk tujuan bersenang-senang seperti wisata, maupun tujuan “serius” seperti perjalanan dinas. Karena itu, keberadaan peta kota dan peta transportasi sangat penting.

Setiap masuk kota yang saya kunjungi, saya selalu mengambil peta kota dan peta transportasi yang ada di setiap stasiun KA dan disediakan gratis. Meskipun sebelumnya saya telah browsing peta dan tempat-tempat wisata suatu kota, “edisi” hardcopy selalu menjadi pegangan saya.

Bagaimana dengan kota Jakarta?. Kota tua yang baru saja merayakan hari jadi ke 486 ini memang memiliki peta kota, tetapi tidak memiliki peta transportasi. Bayangkan, sebuah ibukota negara tidak memiliki sebuah peta transportasi. Walikota dan gubernur boleh silih ganti berdatangan, tidak satupun yang tergerak untuk menyediakan peta transportasi Jakarta.

Keramahtamahan sebuah kota tidak hanya diukur dengan karakter, sikap, perilaku sopan dan santun dari warganya. Keramahtamahan sebuah kota juga ditentukan oleh keberadaan peta kota dan terutama peta transportasi. Tanpa peta tranportasi, setiap pengunjung seperti disambut dengan salutasi “selamat datang di hutan belantara kota”.

Kota kecil seperti Villach memiliki peta kota dan peta transportasi yang dapat diperoleh, diakses, dan dipahami secara mudah dan cepat oleh para pendatang. Tidak perlu bertanya, semua informasi diterangkan sangat jelas.

Itulah sebabnya, saya tidak merasa sedikitpun khawatir untuk mengunjungi Villach seorang diri. Perjalanan wisata ke Villach adalah perjalanan pertama saya ke luar negeri seorang diri. Sebelumnya, saat melaksanakan ibadah haji, tidak ada kekhawatiran karena memang perjalanan ke luar negeri bersama-sama dengan banyak orang. Demikian juga saat ke Belanda, saya dipandu oleh keluarga Aryoso Nirmolo, sehingga tidak ada rasa cemas.

Meskipun tidak dijemput di bandara Klagenfurt, saya tidak khawatir untuk “menjajal” sistem transportasi di Austria. Secara umum tidak ada perbedaan yang signifikan dengan sistem transportasi di Jerman. Sistem transportasi di Austria juga menyediakan jaminan tepat waktu, aman, dan nyaman. Petunjuk yang diberikan oleh keponakan saya Yosi sangat jelas dan di lapangan memang seperti itu adanya.

***

Tidak ada orang yang tahu arti dan asal kata Villach. Seorang kakek dan penduduk Villach yang “ngobrol” dengan saya di bandara internasional Klagenfurt (“tetangga” Villach di Austria) bilang bahwa Villach berasal dari kata viel dan lach (lachen). Austria juga menggunakan bahasa Jerman, sebagian dengan dialek masyarakat Bavaria. Dalam bahasa Jerman, viel berarti banyak, dan lachen berarti tertawa. Jadi, Villach berarti banyak tertawa.

Bild

Image courtesy of http://www.region-villach.at

Benar atau tidak arti dan sejarah kata Villach tidak penting bagi saya. Yang pasti, saya memang merasakan ada perbedaan antara karakter, sikap, dan perilaku orang-orang Austria pada umumnya, dan orang-orang Villach pada khususnya. Tidak jarang saya disapa oleh orang-orang Austria yang kebetulan berpas-pasan dengan saya di jalan. Karakter, sikap, dan perilaku yang hampir pasti jarang ditemukan di Jerman, apalagi di kota Leipzig dan Dresden.

Villach adalah sebuah kota kecil yang terletak di sebelah selatan Austria dan termasuk dalam wilayah negara federal Carinthia (kalau di Indonesia semacam propinsi). Peringkat Villach adalah sebagai  kota nomor 7 terbesar di Austria, tetapi kota nomor 2 terbesar di Carinthia. Meskipun demikian, per 1 Januari 2012 penduduknya hanya 59.585  jiwa.

Meskipun kota kecil, perusahaan-perusahaan asing juga memiliki kantor di Villach. Dengan tingkat kepadatan penduduk yang hanya 440 jiwa / km2, saya berani menyimpulkan bahwa Villach adalah kota yang ideal untuk hidup dan bekerja. Saya tidak heran keponakan saya Yosi dan keluarga betah tinggal di sini. Sangat mungkin mereka menemukan kondisi yang dicari-cari semua orang Jakarta : work-life balance!.

Austria dan Swiss adalah tuan rumah Piala Eropa tahun 2008. Villach juga “kecipratan” rezeki, salah satu hotel di Villach ditunjuk sebagai tempat penginapan salah satu timnas sepakbola peserta kejuaraan tersebut.

Seperti kota-kota di Eropa pada umumnya, Villach juga “dibelah” oleh sungai Drava. Indikasi bahwa perkembangan kota, mobilitas manusia dan barang di masa yang lalu tergantung pada sistem transportasi air dan sungai. Tetapi saat ini, saya tidak melihat sungat Drava dimanfaatkan untuk wisata air.

Secara geografis, Villach relatif jauh dari kota Wina, ibukota negara Austria. Tetapi itu tidak menjadi masalah besar. Dengan sistem transportasi kereta api yang relatif maju, jarak antara Villach dengan Wina dapat ditempuh dalam waktu kurang lebih 3 jam. Untuk mengunjungi kota Salzburg (kota kelahiran Wolfgang Amadeus Mozart) pun hanya butuh waktu kurang lebih 2 jam.

Salah satu keunggulan kompetitif dari Villach adalah letaknya yang berdekatan dengan negara-negara lain, terutama Italia dan Slovenia di sebelah selatan, dan Swiss dan Liechtenstein di sebelah barat. Bahkan, untuk “nembus” ke Hungaria dan Slovakia yang berada di sisi timur perbatasan Austria pun tidak terlalu sulit. Dari Villach sampai ke perbatasan Itali hanya membutuhkan waktu 30 menit. Saat berkunjung ke Venesia pada tahun 2009 yang lalu, saya juga berangkat dari Villach. Demikian juga saat mengunjungi Slovenia, terutama kota Bled dan Ljubljana, keberangkatan juga dari kota Villach.

***

Saya tidak rugi berkunjung ke Villach 2 kali, yaitu musim panas Agustus 2009 dan kemudian saat musim dingin Desember 2009. Saya juga melewatkan malam tahun baru di Villach. Paling tidak ada 3 keuntungan yang saya peroleh. Pertama, saya dapat mengunjungi keponakan saya. Kedua, Yosi dan keluarga secara suka rela (atas biaya mereka sendiri) mengantar saya untuk wisata ke beberapa negara tetangga. Ketiga, saya menikmati wisata kuliner.

Semula, wisata ke berbagai negara adalah tujuan yang paling realistis. Tetapi karena Vitri Sidharta, istri dari Yosi sangat pintar memasak, maka saya seperti mendapat durian runtuh berupa wisata kuliner. Soal rasa masakan Vitri saya tidak mungkin berbohong : seenak malam pertama!.

Bild

Image courtesy of La Sagrada Familia Aryoso Nirmolo

Tidak banyak pesan yang dapat saya sampaikan kepada anda. Tetapi jika anda adalah wisatawan tulen,  punya hasyrat yang menggebu-gebu untuk mengunjungi beberapa negara di Eropa sekaligus, dan bernafsu mempercantik “portofolio” kota-kota yang pernah anda kunjungi, maka Villach adalah kota yang tepat untuk menjadi titik start. Coba-en Rek!

Tampak Siring, 24 Juni 2013

Catatan : data tentang Villach diunduh dari en.wikipedia.org pada tanggal 24 Juni 2013

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: