RSS

Monthly Archives: July 2013

Ramadhan di Jerman

Tahun 1430 H atau bertepatan dengan tahun 2009 M, saya berada di kota Mannheim, Jerman. Itulah untuk pertama kali dalam hidup saya menunaikan ibadah puasa Ramadhan di negara yang mayoritas berpenduduk non-muslim. Bagaimana sih rasa menjadi minoritas di negeri seberang?

Alhamdulillah, semua berjalan lancar. Tak ada kekhawatiran ancaman sweeping dari kelompok mayoritas. Meminjam istilah yang biasa digunakan dalam mata kuliah kewiraan di perguruan tinggi, tidak ada hambatan, tantangan, ancaman, dan gangguan (biasa disingkat “HTAG”) yang bersifat “ipoleksosbud” (baca : ideologi, politik, sosial, dan budaya) bagi umat Islam untuk berpuasa Ramadhan. Bagi masyarakat, bangsa, dan negara Jerman, umat Islam yang berpuasa Ramadhan bukanlah HTAG dari segi pertahanan dan keamanan.

Toleransi orang-orang Jerman kepada orang yang sedang menjalankan puasa sangat kondusif (he…..he…. istilah pejabat!). Tentu saja tidak pada tempatnya dan tidak mungkin mengharapkan restoran, café, bar dan tempat-tempat lain yang menjual makanan dan minuman untuk tutup di siang hari. Justru orang-orang Islam yang sedang berpuasa yang mesti tahu diri dan “membiarkan” orang-orang yang tidak berpuasa untuk menjalankan aktivitas makan dan minum sebagaimana biasa.

Sebagai warga minoritas saya juga tidak bisa mencegah para “srikandi” Jerman berpakaian seronok. Saya sendiri yang harus bisa pura-pura pakai kaca mata kuda sehingga pandangan saya tidak membentur “bukit barisan” yang seolah-olah bermaksud memperlihatkan keindahan dunia barat. Mungkin, paling tidak untuk saya, puasa Ramadhan terberat di Jerman adalah mengendalikan hawa nafsu ketimbang menahan lapar dan dahaga.

Salah satu toleransi yang ditunjukkan oleh orang-orang Jerman, terutama Herr Rheinhard Klose (Project Manager International Leadership Training) dan para staf rumah tangga asrama adalah menyesuaikan jadwal penyediaan makanan untuk orang-orang yang sedang berpuasa. “Jam operasional” kantin tetap buka dan tutup seperti biasa. Tetapi khusus bagi orang-orang yang sedang berpuasa dan memiliki jadwal berbuka puasa dan makan sahur yang berbeda dengan jadwal makan sebagian besar orang Jerman yang tidak berpuasa, diberlakukan jam khusus. Singkat kata, urusan ibadah dan perut difasilitasi sedemikian rupa sehingga orang-orang Islam tidak mengalami kesulitan untuk menjalankan ibadah sesuai dengan keyakinannya.

Padahal, saya sempat ketar-ketir dengan urusan makanan dan minuman selama bulan Ramadhan. Maklum, sebagai seorang yang tidak memiliki kompetensi memasak, urusan perut yang terbengkalai bisa mengganggu perasaan dan emosi. Alhamdulillah, orang-orang Jerman sudah terbiasa berhubungan dengan orang-orang yang memiliki latar belakang yang berbeda, baik dari segi budaya maupun agama.

Salah satu yang “memperkenalkan” masyarakat Jerman dengan agama Islam adalah para imigran asal Turki. Di Jerman, jumlah imigran asal Turki adalah yang terbanyak dibandingkan imigran asal negara lain. Data di laman http://www.tatsachen-ueber-deutschland.de/id/inhaltsseiten-home/angka-dan-fakta/penduduk.html menunjukkan bahwa, jumlah penduduk Jerman tahun 2013 adalah 82 juta jiwa, sekitar 52 juta orang menganut agama Kristiani dan 4 juta beragama Islam. Sekitar 8,2 % dari jumlah seluruh penduduk adalah warga asing, sedangkan imigran asal Turki mencapai 4-5 % dari total penduduk Jerman.

Pada prinsipnya, menunaikan puasa Ramadhan di Jerman dan negara lain sama saja. Yang berbeda adalah suasana khas Ramadhan yang hanya ada pada saat bulan Ramadhan. Di setiap negara pun suasana khas Ramadhan cenderung berbeda dan dipengaruhi oleh budaya setempat.  Tidak sulit untuk menemukan tempat sholat tarawih berjamaah, meskipun lokasinya tidak berdekatan dengan asrama tempat saya tinggal.

Bild

 

(Photo: Khadija Mosque in Berlin October 16, 2008/Fabrizio Bensch / http://www.blog.reuters.com)

Berpuasa Ramadhan di negeri orang juga harus bersiap diri sepi dari undangan buka puasa bersama. Meskipun di Mannheim ada “Deusch-Indonesische Gesellschaft” (semacam paguyuban orang-orang Jerman dan Indonesia), saya tidak pernah dapat undangan buka bersama seperti yang biasa dilakukan di Indonesia.

Juga tidak ada orang-orang yang teriak memekakkan telinga dan bermaksud baik membangunkan umat Islam agar tidak ketinggalan makan sahur. Meskipun tidak ada orang yang mengingatkan saya untuk bangun tengah malam, Alhamdulillah saya tidak pernah ketinggalan makan sahur. Alarm dari handphone sudah cukup untuk membangunkan saya dari tidur.

***

Secara fisik, hampir tidak ada hambatan berarti bagi orang-orang Islam untuk berpuasa Ramadhan di Jerman. Iklim dan cuaca bukan hambatan utama. Jarak antara imsak dan maghrib yang kadang-kadang lebih lama dibandingkan dengan negara-negara tropis, juga tidak dapat digunakan sebagai alasan untuk mengatakan bahwa puasa Ramadhan di Jerman lebih berat.

Apalagi saya saat itu hanya “duduk manis” mengikuti pelajaran bahasa Jerman. Pelajaran hanya berlangsung kurang lebih 6 jam. Praktis tidak ada aktivitas fisik, pikiran, dan psikis yang dapat menggerogoti kemampuan fisik dan psikis seseorang untuk berpuasa secara normal.

Bahkan, seorang pesepakbola profesional yang notabene dituntut memiliki fisik dan stamina yang prima pun masih dapat menjalankan ibadah puasa Ramadhan. Sebut saja 2 kakak beradik Kolo Toure  dan Yaya Toure di klub Manchester City, Frank Ribery di FC Bayern Muenchen, Mezut Oezil dan Karim Benzema di Real Madrid, semua tetap menjalankan rukun Islam ketiga. Secara fisik, tantangan mereka jauh lebih berat dibandingkan dengan tantangan yang saya hadapi.

Semula, saya sempat “termakan” dengan isu jadwal puasa yang lebih panjang di negara-negara Eropa (catatan : jadwal puasa Ramadhan di negara-negara Eropa dapat lebih panjang atau pendek tergantung dari musim dan letak geografis masing-masing negara). Isu itu telah berhasil “menteror” saya bahwa, secara fisik, puasa Ramadhan di Eropa lebih berat ketimbang di Indonesia.

Ternyata semua isu itu hanya isapan jempol. Saat puasa Ramadhan, saya justru terbang ke Austria dan nyambangi keponakan saya di Villach. Ditemani keluarga Aryoso Nirmolo dan Vanda Kugi (noni Manado dan fesbuker yang tinggal di Austria), saya berkunjung ke Venesia. Padahal, perjalanan melalui darat Villach – Venesia p.p. kurang lebih 6 jam. Saat berada di Venesia, sebagian besar kunjungan ke tempat-tempat wisata adalah berjalan kaki. Alhamdulillah, panas terik kota Venesia di musim panas tidak membuat kami dehidrasi dan membatalkan puasa.

Kecuali Venesia, saya juga mengunjungi Salzburg – kota kelahiran Wolfgang Amadeus Mozart – pada bulan Ramadhan. Lagi-lagi ke sana ke mari juga harus berjalan kaki. Capek pasti, tetapi tidak sampai haus dan lapar. Justru dengan jalan-jalan tidak terasa sedang puasa Ramadhan dan waktu berlalu begitu cepat. Saya juga pernah merasakan berbuka puasa dalam perjalanan dengan kereta api dari Salzburg – Muenchen  – Mannheim. Semua biasa-biasa saja, tidak ada yang sulit.

***

Pengalaman lain berpuasa Ramadhan di Jerman adalah makan sahur dan buka puasa bersama dengan teman-teman dari Aljazair. Ada beberapa peserta dari negara-negara berbahasa Arab (Mesir, Yordania, Yaman, dan Aljazair) yang juga tinggal di asrama, tetapi kamar saya kebetulan satu lantai dengan beberapa teman dari Aljazair. Teman-teman  dari Aljazair tersebut antara lain  Abdul Aziz, Rabah Aliane, dan Djamel Eddine Bensidi Ahmed

Saat makan sahur dan buka puasa bersama dengan orang-orang dari negara lain itulah saya merasakan bahwa ukhuwah Islamiah bukan hanya isapan jempol. Saya menjadi teringat kembali ayat dalam Al-Qur’an  yang seringkali diajarkan oleh guru agama saya di SMP sebagai berikut :

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS : Al-Hujurat, ayat 13).

Dalam kehidupan ternyata selalu ada “ndhilalah” (baca : kebetulan). Ndhilalah Aziz  sangat pintar memasak. Saya menghormatinya sebagai Master Chef dan keahliannya memasak tidak kalah dari ibu-ibu (yang pintar memasak) dan Master Chef yang sering tampil di TV swasta nasional di Indonesia. Bumbu dan rempah-rempah yang digunakan memang tidak familiar bagi lidah saya. Tetapi tentang rasa masakan Azis, saya menilai memenuhi standar “seenak malam pertama”.

Selama puasa Ramadhan, saya makan sahur dan buka bersama teman-teman dari Aljazair tanpa mengeluarkan biaya sepersenpun. Saya mau ikut iuran, tetapi mereka tidak mau. Mereka paham benar bahwa bulan Ramadhan adalah bulan yang penuh rahmat, berkah, dan maghfiroh. Mereka juga paham tentang pahala memberi makan orang yang sedang berpuasa.

Meskipun urusan pangan selama bulan Ramadhan beres, saya agak kesulitan juga mengimbangi kemampuan makan teman-teman Aljazair. Porsi makan mereka luar biasa tak sebanding dengan porsi makan saya yang relatif sedikit. Mereka selalu menambahkan makanan dalam piring saya dan “memaksa” saya harus menghabiskannya. Tetapi setelah mengetahui saya harus bekerja keras dan “kerja lembur” untuk menghabiskan makanan, mereka akhirnya pasrah juga.

Tampak Siring, 28 Juli 2013

Advertisements
 

Mainz

Dua orang guru bahasa Jerman saya, yaitu Frau Lila Kurnia dan Herr George Hallemayer, mbujuki saya untuk berkunjung ke kota Mainz. Menurut beliau berdua, Mainz adalah kota kecil yang indah dan penuh dengan cerita sejarah. Saya memang nyambangi Mainz, tetapi dengan alasan yang mungkin sangat berbeda dengan kedua guru bahasa saya tersebut.

Adalah Johannes Gensfleisch zur Laden zum Gutenberg atau lebih dikenal dengan nama Johannes Gutenberg yang menjadi alasan utama saya mengunjungi Mainz. Bagi generasi yang hidup di zaman digital, mereka mungkin lebih akrab dengan nama Steve Jobs ketimbang Gutenberg. Tetapi bagi saya yang hidup di zaman mesin cetak dan zaman digital, nama Gutenberg lebih fenomenal. Dampak perubahan sosial yang dihasilkan dari penemuan Gutenberg sangat luar biasa. Tidak hanya di Jerman, tetapi di seluruh dunia dan bagi seluruh umat manusia.

Pada saat belajar bahasa Jerman, dalam beberapa kali mengisi kuis tentang tokoh-tokoh yang mengubah dunia, saya selalu menempatkan nama Gutenberg dalam 10 besar. Jika kemudian daftar tersebut harus dikerucutkan menjadi 5 besar, saya tanpa ragu-ragu memasukkan nama Gutenberg dalam 5 besar tokoh yang mengubah dunia. Bahkan, jika harus memilih 1 nama saja, saya bulat tekad akan menyebut nama Gutenberg.

Siapa sih Gutenberg? Ia adalah penemu mesin cetak. Sebegitu pentingkah peranan mesin cetak dalam kehidupan manusia? Untuk memahami peranan mesin cetak, tentu harus diletakkan dalam konteks perkembangan masyarakat di abad ke 15.

Tentang Gutenberg dan peranan mesin cetak dalam kehidupan manusia dan perubahan sosial masyarakat, Wikipedia menulis sebagai berikut :

Gutenberg was the first European to use movable type printing, in around 1439. Among his many contributions to printing are: the invention of a process for mass-producing movable type; the use of oil-based ink; and the use of a wooden printing press similar to the agricultural screw presses of the period. His truly epochal invention was the combination of these elements into a practical system which allowed the mass production of printed books and was economically viable for printers and readers alike. Gutenberg’s method for making type is traditionally considered to have included a type metal alloy and a hand mould for casting type.

In Renaissance Europe, the arrival of mechanical movable type printing introduced the era of mass communication which permanently altered the structure of society. The relatively unrestricted circulation of information and (revolutionary) ideas transcended borders, captured the masses in the Reformation and threatened the power of political and religious authorities; the sharp increase in literacy broke the monopoly of the literate elite on education and learning and bolstered the emerging middle class. Across Europe, the increasing cultural self-awareness of its people led to the rise of proto-nationalism, accelerated by the flowering of the European vernacular languages to the detriment of Latin’s status as lingua franca. In the 19th century, the replacement of the hand-operated Gutenberg-style press by steam-powered rotary presses allowed printing on an industrial scale, while Western-style printing was adopted all over the world, becoming practically the sole medium for modern bulk printing.” (Sumber : http://www.en.wikipedia.org, 20 Juli 2013)

***

Mainz adalah sebuah kota kecil yang terletak di sebelah barat Jerman. Sebagaimana kota-kota di Jerman lainnya, Mainz juga “dibelah” oleh sungai, yaitu sungai Rhein. Seperti juga kota-kota lain di Jerman, di “zaman kuda gigit besi”, transportasi sungai memegang peranan penting untuk mendukung mobilitas manusia dan barang.

Sejarah kota Mainz dapat ditelusuri dari zaman Roman Mongontiacum (sekitar abad 12/13 sebelum masehi) sampai dengan abad ke 21. Terlalu panjang untuk diceritakan dan belum tentu menarik.

Mainz adalah kota kecil dan kota “tempo doeloe”. Hanya membutuhkan waktu sebentar untuk “khatam” mengunjungi beberapa destinasi wisata di Mainz, terutama Mainz Cathedral, pasar, dan balaikota yang lokasinya saling berdekatan. Ada juga rumah tradisional Jerman yang arsitekturnya mirip dengan rumah tradisional di Frankfurt am Main.

MAINZ KOLASE1Image courtesy of Wisanggenia Photography

Meskipun kota kecil, Mainz sangat diuntungkan dengan lokasinya yang relatif dekat dengan kota Frankfurt am Main yang hanya berjarak 10 mil. Mainz tidak hanya dekat dengan bandara internasional Frankfurt yang pada tahun 2009 tercatat sebagai bandara tersibuk nomor 3 di Eropa dan nomor 9 di dunia. Mainz juga hanya berjarak 50 mil dari bandara Frankfurt-Hahn, yaitu bandara yang memfasilitasi penerbangan komersial murah meriah ke seluruh negara-negara di Eropa. Wow!

Di era perang dunia kedua, nasib Mainz lebih mujur ketimbang kota Mannheim dan Heidelberg. Tidak ada satupun bom yang dijatuhkan di kota Mainz. Meskipun demikian, pasukan sekutu dari Perancis dan Amerika Serikat ditempatkan juga di Mainz. Lokasi Mainz yang relatif dekat dengan Frankfurt am Main dan bandara Frankfurt-Hahn menjadikan Mainz sebagai tempat yang strategis untuk mobilisasi pasukan.

Di bidang pendidikan, reputasi Universitas Mainz cukup dikenal di dunia. Didirikan pada tahun 1477, Uni. Mainz masuk dalam kategori 10 universitas terbesar di Jerman. Salah seorang putra Indonesia yang pernah menimba ilmu di Uni. Mainz adalah DR. Terry Mart, seorang ilmuwan fisika nuklir dan partikel yang saat ini mengajar di Universitas Indonesia.

Gutenberg adalah salah seorang putra daerah Mainz yang mencatatkan namanya di sejarah peradaban manusia. Teknologi digital dan internet mungkin secara perlahan tetapi pasti akan menggantikan peranan berbagai produk cetak (buku, surat kabar, majalah, dan lain sebagainya). Tetapi peran Gutenberg dan mesin cetak tetap tidak bisa dihapus dari sejarah peradaban manusia.

Trah atau keluarga besar Gutenberg tidak perlu kuatir jasa-jasa kakek moyang mereka tidak dihargai oleh bangsa dan negara Jerman. Bangsa Jerman adalah bangsa yang tidak lupa dengan sejarah. Orang-orang Jerman suka dengan museum. Di beberapa kota yang telah saya kunjungi, selalu ada museum. Bahkan, sebuah gereja di Berlin yang bernama Nikolaikirche (St. Nicholas’ Church, dalam bahasa Inggris) pun berubah menjadi museum. Salah seorang pengunjung yang bermaksud “memotret” dilarang oleh petugas. Fotografer itupun “protes” mengapa memotret di gereja dilarang. Petugas dengan welas asih menjawab bahwa, “ini bukan gereja, tetapi museum”. He…..he….”kena batunya”!.

Bagi saya pribadi, meskipun sudah sangat menikmati manfaat teknologi digital dan rajin “melanglang buana” ke dunia maya, tetap saja tidak bisa meninggalkan kebiasaan saya membaca buku dan surat kabar sambil bermalas-malasan di kursi maupun tempat tidur. Gagasan saya untuk menulis lebih banyak lahir dari “rahim” buku-buku dan surat kabar. Tetapi untuk melengkapi tulisan saya, saya selalu melakukan “riset” dari berbagi sumber dari dunia maya yang tersedia sangat melimpah dan memanjakan otak manusia.

Jika anda tertarik dengan sejarah kehidupan Gutenberg dan penciptaan mesin cetak, anda dapat berkunjung ke museum Gutenberg. Saat berkunjung di Mainz di musim semi 2010 yang lalu, saya tak lupa “mejeng” di depan museum Gutenberg.

MAINZ - 2010Image courtesy of Wisanggeni Photography

Di zaman modern, Mainz masih memberikan kontribusi yang sangat signifikan bagi kehidupan manusia. Salah satu sumbangsih Universitas Mainz adalah polarisasi helium. Untuk mengetahui manfaat polarisasi helium, anda tidak perlu sakit kanker terlebih dahulu. Dalam rubrik persona Kompas Minggu, 7 Juli 2013, DR. Terry Mart menjelaskan sebagai berikut :

Magnetic resonance imaging (MRI) dalam deteksi kanker paru, misalnya, berutang budi kepada riset fisika teori. Di Universitas Mainz, Jerman, terdapat grup ilmuwan yang bertahun-tahun kerjanya hanya memolarisasi helium dengan medan magnet. Mereka memiliki detector pengamat polarisasi helium. Helium yang terpolarisasi yang aman masuk ke paru itu ternyata bisa mendeteksi kondisi paru. Detektor awal itu lalu dikembangkan untuk mengamati paru dalam waktu riil. Yang bisa memproduksi helium polarisasi hanya grup tersebut. Terapannya lalu dipatenkan. Sepintas kerjaannya hanya polarisasi helium. Pemerintah tidak boleh merasa rugi investasi di ilmu dasar. Tidak semua penelitian menghasilkan, tetapi begitu ada satu yang booming bisa menutup biaya.”

Dari beberapa tulisan saya tentang kota-kota di Jerman, semakin jelas perbedaan antara kota-kota di Indonesia dengan kota-kota di Jerman. Di Indonesia, para kepala daerah sibuk membangun mall,  membiarkan kota penuh sesak dan macet dengan kendaraan (karena ada pendapatan dari pajak kendaraan), dan meningkatkan tarif parkir. Mungkin, di benak mereka, hanya itulah satu-satunya sumber dan cara untuk mengisi kas pendapatan asli daerah.

Tidak banyak kota industri di Jerman, tetapi mereka tetap dapat menghidupi dan mengembangkan kota tanpa jor-joran membangun mall. Salah satu cara adalah membangun kota sebagai pusat pendidikan untuk bidang tertentu dan menjadi kota tujuan wisata.

Tampak Siring, 21 Juli 2013

 

Biso Rumongso

Harga daging melenting tinggi hingga mendekati “level psikologis” Rp. 100 ribu per kg. Di beberapa daerah harga daging sudah mencapai Rp. 90 ribu per kg. Mengamati penyelesaian masalah daging yang lamban dan tak kunjung membuahkan hasil yang diharapkan, Presiden SBY pun tak sungkan lagi “mendamprat” dan “menyemprot” para pembantunya.

Ada tiga pejabat yang dianggap bertanggung jawab untuk mengamankan harga daging dan keseimbangan antara permintaan daging. Mereka adalah Menteri Pertanian Ir Suswono, Kepala Bulog Sutarto Alimuso, dan Menteri Perdagangan Gita Wiryawan. Mereka pun sekonyong-konyong menjadi aktor dalam serial  “Trio Ketar-Ketir”.

Untung mereka “hanya” menjadi pembantu presiden. Kalau mereka pelatih sepakbola, nasib mereka bisa lebih tragis : dipecat. Tetapi, meskipun “hanya” kena “damprat” dan “semprot”, secara psikologis dan sosial seyoganya sudah mampu membuat mereka sadar dan cepat tanggap.

Ngomong-ngomong, seperti apakah murka Presiden SBY?. Agar tidak salah dan melebih-lebihkan, saya kutipkan saja berita di Koran Sindo 14 Juli 2013 sebagai berikut : “Saudara lihat pasar tidak? Saudara dengarkan media sosial tidak? Saya ingatkan kembali Saudara-Saudara bahwa pemimpin kita ini harus punya tiga sense,” ujar Presiden dengan nada keras.

Tetapi SBY tidak hanya murka, “mendamprat”, dan “menyemprot” para pembantunya. Dengan santun dan welas asih SBY menunjukkan solusi dan kompetensi yang harus diperbaiki, terutama berkaitan dengan 3 sense tersebut.

Masih di harian yang sama, SBY menuturkan sebagai berikut : “Menteri Pertanian juga harus mempunyai sense of crisis, demikian pula Kabulog. Menteri Perdagangan (harus memiliki) sense of urgency, sense of responsibility.”

Kompetensi apa yang harus diperbaiki para pembantu presiden tersebut sebagai pemimpin sudah jelas. Tetapi kok bahasa Inggris ya? Saya harus buka kamus bahasa Inggris – Indonesia untuk memahaminya. Dalam bahasa Inggris, sense dapat berarti akal. Sebagai contoh, common sense berarti akal sehat atau masuk akal. Tetapi apakah para pembantu presiden tidak memiliki akal sehat. Tampaknya bukan itu deh yang dimaksud Presiden SBY.

Begini saja, daripada mbulet dan repot, saya carikan saja padanan istilah tersebut dengan bahasa Jawa, dan kemudian saya terjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Meskipun saya hanya rakyat biasa, sedapat mungkin saya berusaha untuk menggunakan bahasa Indonesa dan bahasa ibu yang kebetulan bahasa Jawa. Saya tidak bermaksud menyombongkan diri sebagai nasionalis tulen. Paling tidak, saya tidak masuk dalam kategori orang-orang yang menderita linguistic laziness (maaf…. maaf …. maaf, terpaksa bahasa Inggris. Arti harfiahnya adalah “kemalasan bahasa”).

Para leluhur orang-orang Jawa mengingatkan kepada kita semua agar biso rumongso. Artinya, setiap manusia (tidak hanya pemimpin), harus bisa merasa. Bagi orang-orang Jawa, tidak bisa merasa itu lebih parah ketimbang rumongso biso (merasa bisa). Secara filosofis, penghormatan diberikan kepada orang-orang yang biso rumongso. Tetapi dalam kehidupan nyata, orang-orang yang memiliki karakter, sikap, dan perilaku rumongso biso memang bisa lebih “bejo” (baca : beruntung).

Itulah sebabnya, bagi orang-orang Jawa, hukum biso rumongso itu antara “sunnah” dan “wajib”. Sedangkan hukum rumongso biso itu “makruh”. Anjurannya,  sikap dan perilaku adigang, adigung, adiguno dalam bentuk rumongso biso ditinggalkan saja. Sebab, tidak sesuai dengan ilmu padi, semakin berisi semakin merunduk. Jadi, ojo biso rumongso, ning biso’o rumongso.

Dalam literatur tentang kepemimpinan ada “segambreng” karakteristik pemimpin yang baik. Kalau semua karakteristik tersebut diterapkan dan menjadi persyaratan mutlak, boleh jadi kelompok, masyarakat, bangsa dan negara tidak pernah bisa memilih pemimpin mereka. Jika kejujuran menjadi “harga mati” bagi seorang pemimpin, orang-orang sekaliber mendiang John Fitzgerald Kennedy dan Bill Clinton tidak pernah akan menjadi seorang presiden Amerika Serikat.

BildImage courtesy of http://www.youtube.com

Dalam bahasa yang membumi dan mudah dipahami, Mahfud MD  – “MMD”, mantan ketua Mahkamah Konstitusi RI – menggagas “bejo” sebagai karakter yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin. Pemimpin bukan orang yang bejo (dalam bahasa Jawa berarti beruntung), melainkan berani, jujur, dan obyektif.

Semua orang boleh-boleh saja mengajukan persyaratan karakter yang ideal untuk seorang pemimpin. Saya lebih menyukai pemimpin yang biso rumongso. Contoh dari penerapan biso rumongso adalah dalam diri Buya Hamka.

Dalam buku “Ayah” yang ditulis oleh Irfan Hamka untuk mengenang, menghormati, dan berbagi tentang keteladanan Buya Hamka, diceritakan tentang Buya Hamka yang menolak tawaran menjadi duta besar Indonesia yang ditempatkan di Arab Saudi.  Buya Hamka tidak langsung menolak. Beliau merasa wajib berkonsultasi dengan keluarga, terutama isterinya yang bernama Siti Raham. Singkat cerita, Ummi Siti Raham menyarankan agar beliau menolak tawaran menjadi duta besar.

Alasan yang dikemukakan oleh isteri Buya Hamka pun terdengar sangat bersahaja. Kepada Buya Hamka, Ummi mengingatkan bahwa beliau bukanlah seorang yang pintar – dalam bahasa anak-anak muda saat ini – “gaul” dan “dugem”, berpesta, berdansa-dansi, dan berbasa-basi kepada para tamu undangan. Buya Hamka bakalan tidak mampu mengikuti kehidupan dan gaya hidup sosialita.

Karena biso rumongso bahwa dirinya tidak mampu memenuhi persyaratan untuk menjadi duta besar, akhirnya Buya Hamka memutuskan tidak menerima tawaran menjadi duta besar. Jadi, keputusan untuk menjadi seorang “pemimpin” itu datang dari dalam diri sendiri, bukan atas permintaan dari “begundal-begundal” (istilah yang biasa digunakan oleh Amien Rais yang berarti kurang lebih pendukung).

Seorang calon pemimpin itu harus berani biso rumongso tidak mampu memimpin. Seorang calon pemimpin itu harus jujur biso rumongso dan bilang ia tidak layak menjadi pemimpin. Seorang pemimpin itu juga harus obyektif biso rumongso, menilai apakah ia mampu atau tidak menjadi pemimpin. Hanya dari calon pemimpin yang biso rumongso, rakyat tidak akan ditipu dan tidak tertipu.

Orang-orang yang memiliki karakter, sikap dan perilaku rumongso biso, tidak akan pernah berani, jujur, dan obyektif bilang bahwa dirinya tidak mampu dan tidak layak menjadi seorang pemimpin. Karena saat ini kita hidup di zaman edan, maka terimalah kenyataan lebih banyak orang-orang yang memiliki karakter rumongso biso ketimbang biso rumongso.

Banyak orang yang kemudian “bejo” menjadi “pemimpin” mengaku siap menjalankan amanah. Pada saat terpilih menjadi seorang “pemimpin”, semakin jarang orang – untuk tidak mengatakan tidak ada – yang mengatakan inna Lillahi wa inna ilaihi  raji’un. Tampaknya, semakin sulit orang membedakan mana yang tujuan dan mana yang alat.

Tampak Siring, 20 Juli 2013

 
Leave a comment

Posted by on July 20, 2013 in Selasar

 

“Indonesia Dream Team”

Saat bertanding melawan timnas sepakbola Belanda di SUGBK  pada bulan Juni 2013 yang lalu, timnas Indonesia justru mengenakan kostum tandang putih hijau.  Anak-anak bangsa dan para nasionalis tak mampu menahan diri untuk menghujat “keteledoran” ini.

Berikut komentar dari seorang “bobotoh” (baca : pendukung) timnas sepakbola Indonesia yang saya kutip dari www.kompas.com 6 Juni 2013 :

Tidak nonton! Tiketnya saya laminating karena tiket tersebut pemberian pak La Nyalla Mattalitti (Ketua Badan Tim Nasional). Saya mengapresiasi perhatian pak Nyalla.Tapi mohon maaf saya tak akan menyaksikan karena ini menyangkut hal yang sangat prinsip,” jelas Lalu Mara kepada Kompas.com, Kamis (6/6/2013).

Lalu Mara mengaku sangat paham mengenai arti dan maka sebuah jersey. Kalau ini diteruskan, Lalu Mara mengaku khawatir, semangatnya sudah tidak sesuai dengan semangat sepak bola yakni fair play.

“Indonesia boleh peringkatnya jauh di bawah Belanda, tapi menyangkut jersey seharusnya ada penghormatan dari tim lawan dalam hal ini Belanda. Apalagi alasan timnas Belanda yang sudah terikat dengan sponsor dan tak membawa jersey kedua, sungguh itu tak masuk di akal,” tutur mantan manajer Pelita Jaya itu.”

Bagi sebagian orang dan kelompok, kostum olahraga memang dimuliakan dan disakralkan. Sebuah kostum tidak lagi sekedar penutup aurat. Tidak mengenakan kostum nasional di bumi pertiwi, meskipun dalam pertandingan persahabatan, sudah diartikan sebagai pemakzulan terhadap simbol bangsa dan negara.  Bahkan, di media olahraga kompasiana ada yang bilang bahwa pemakaian kostum tandang di kandang sendiri adalah bentuk “penjajahan model baru”. Alamak!

Bagi saya, meskipun “hanya” dalam sesi pemotretan, mengenakan kostum merah putih tetapi dengan latar belakang bahasa Inggris, adalah bentuk rendah diri yang sangat parah dan juga “penjajahan model lama dan model baru”.

Bild

Foto diunduh dari http://www.bola.kompas.com

Malam ini, ba’da sholat Isya’, timnas Indonesia kembali bertanding melawan kesebelasan Arsenal dengan menggunakan kostum kandang merah putih. Semua senang : para pemain, pelatih, pengurus, penonton, dan seluruh anak bangsa.

Ada keyakinan bahwa, mengenakan kostum merah putih adalah bentuk penghormatan dan pengabdian  kepada bangsa dan negara. Ada harapan bahwa, dengan mengenakan kostum merah putih, akan timbul semangat pantang menyerah di lubuk hati yang paling dalam dari setiap pemain sampai pertandingan berakhir.

Tetapi bagaimana dengan penggunaan “Indonesia Dream Team” sebagai julukan timnas Indonesia?. Apakah tidak ada istilah dalam bahasa Indonesia yang layak untuk memberi nama timnas Indonesia? Jika mau, beri saja timnas Indonesia yang bertanding melawan Arsenal sebutan “Tim Garuda Indonesia”, “Tim Merah Putih Indonesia”, atau nama lain yang lebih mengindonesia.

Atau, kalau hanya mau “gagah-gagahan” atau “jaim” (jaga image), boleh juga timnas sepakbola Indonesia diberi julukan “Tim Samber Nyowo”. Sebutan “samber nyowo” lebih realistis dan tidak bermimpi ketimbang “dream team”. Boleh jadi, ketika kesebelasan lawan diberitahu arti “samber nyowo”, mereka bisa membayangkan kehebatan, ketangguhan, kegigihan, “kengototan”, dan betapa menyeramkan timnas sepakbola Indonesia.

Betapa konyol dan jungkir balik logika berpikir anak-anak bangsa. Kostum olahraga merah putih disakralkan sedemikian rupa sehingga seolah-olah setara dengan bendera nasional merah putih. Kostum merah putih dikultuskan, sementara bahasa nasional dilecehkan di tanah air sendiri, dan tidak ada yang protes.

Tidak ada bangsa yang tidak memiliki tanah air. Tidak lengkap sebuah bangsa dan tanah air yang tidak memiliki bahasa nasional. Sejatinya, bahasa nasional lebih dari sekedar pilar kebangsaan. Bahasa Indonesia adalah fondasi bangsa dan tanah air Indonesia. Barangkali, anak-anak bangsa sudah lupa dengan sejarah.

Tetapi maaf……. seperti apakah “Tim Impian Indonesia” itu? Ayo……. kamu bisa (kah)?????

Tampak Siring, 14 Juli 2013

 
Leave a comment

Posted by on July 14, 2013 in Selasar

 

“Tuhan” Sembilan Senti

W

“Mengacu laporan BPS tahun 2005, selain dihabiskan untuk membayar utang, penerima BLT (Bantuan Langsung Tunai) tahun 2005 juga untuk rokok. Rokok menjadi salah satu pengeluaran terbesar rumah tangga miskin mengalahkan pengeluaran esensialnya.” – Aunur Rofiq, dalam Kontan 4 Juli 2013.

 
Leave a comment

Posted by on July 7, 2013 in Photography

 

I Lost My Heart In Heidelberg

Secara fisik, ciri utama kota Heidelberg adalah sisa-sisa bangunan Heidelberg Castle yang di bom di era perang dunia kedua. Lokasinya berada di perbukitan sehingga terlihat dari jembatan di atas sungai Neckar yang tepat berada di pusat kota.

Bild

Image courtesy of http://www.fotoforum-fotocommunity.de

Heidelberg bukan nama yang asing bagi sebagian orang Indonesia. Bagi mereka yang bekerja di industri percetakan, nama Heidelberg seharusnya bukan nama yang asing. Mesin cetak Heidelberg adalah produk teknologi yang dihasilkan oleh Heidelberg. Banyak yang tidak tahu bahwa mesin cetak (terutama offset printing presses) produksi perusahaan Heidelberg AG menguasai 47 % pangsa pasar di dunia.

Dari segi geografis, jika dibandingkan dengan kota-kota lain di Jerman, letak Heidelberg sebenarnya relatif tidak strategis. Tetapi dari segi pertahanan dan keamanan, Heidelberg adalah wilayah yang sangat strategis. Letak Heidelberg relatif “terisolir” sehingga tidak menjadi sasaran “empuk“ musuh untuk dihancurkan.

Heidelberg juga bukan kota industri sebagaimana kota tetangganya Mannheim dan Ludwigshafen. Dari segi “hankam”, nilai strategi Heidelberg bertambah kuat karena jaringan transportasi darat (jalan raya dan rel) yang menghubungkan Heidelberg dengan kota-kota lain, terutama Mannheim dan Frankfurt am Main.

Untuk anda ketahui, kota Mannheim adalah salah satu pusat (dan sampai saat ini masih) barak milier pasukan Amerika Serikat. Di dekat kota Mannheim ada pangkalan udara (Frankfurt Hahn) yang digunakan semasa PD II. Kini, eks pangkalan udara itu telah berubah fungsi dan dimanfaatkan untuk penerbangan udara komersial, terutama penerbangan “murah meriah” ke manca negara. Saat saya berkunjung ke Villach di Austria, saya lepas landas dari Frankfurt Hahn. Ongkos yang saya bayar untuk terbang bersama Ryan Air cuma 10 Euro!. Everyone can fly!

Saya sempat bertanya-tanya, mengapa istana Heidelberg itu di bom. Di masa lalu, Jerman adalah negara feodal dan karena itu istana bertebaran di hampir semua kota. Sebut saja Schloss Sans Souci di Potsdam, Charlottenburg Schloss di Berlin, Neuschwanstein Schloss di Bayern. Bahkan di kota industri seperti Mannheim pun ada Mannheim Schloss  (dalam bahasa Jerman, Schloss berarti istana). Kalau tentara sekutu mau bikin jengkel dan marah rakyat Jerman, tentu bukan Heidelberg Castle yang diincar.

Faktanya, Heidelberg Schloss yang dibom. Keputusan itu didasarkan atas pertimbangan “hankam”. Kecuali lokasinya yang strategis untuk “hankam”, Heidelberg adalah basis pendukung Hitler. Di Universitas Heidelberg, staf pengajar yang bukan keturunan Arya mendapat perlakuan diskriminasi. Jadi, dari segi pertimbangan politik dan militer, Heidelberg “layak” untuk di bom. Maksud saya, Heidelberg harus ditaklukkan dan “bobotoh” (baca : pendukung) Hitler diusir keluar kota.

Sampai awal abad ke 21, di Heidelberg masih ada barak militer pasukan Amerika Serikat. Di Heidelberg “bersemayam” Campbell barrack. Meskipun pernah diduduki oleh pasukan asing, kota Heidelberg relatif tetap asli dan tidak banyak perubahan. Sangat berbeda dengan kota Mannheim yang berubah menjadi seperti layaknya kota-kota di Amerika Serikat yang berbentuk bujur sangkar, terutama di kawasan kota baru. Heidelberg masih seperti layaknya kota-kota di Jerman pada umumnya dan mampu mempertahankan prediket sebagai kota romantis. Romantisme Heildelberg antara lain mendorong komponis Fred Raymond menggubah lagu I Lost My Heart in Heidelberg yang juga menjadi themesong kota Heidelberg.

***

Heidelberg terletak di sebelah barat daya Jerman. Dari segi iklim dan cuaca, Heidelberg adalah kota yang paling hangat dibandingkan seluruh wilayah Jerman. Berkunjung ke Heidelberg pada musim semi dan musim panas sangat nyaman. Saat saya berkunjung ke Heidelberg Juni 2009, saya berjalan di panas terik tanpa merasa kehausan. Bahkan teman-teman saya dari Aljazair yang berkunjung ke Heidelberg pada bulan Ramadhan (dan musim panas) pun tidak sampai membatalkan puasa mereka.

Meskipun bukan kota industri, dari segi kependudukan “rekor” yang dicatat Heidelberg relatif kurang baik. Kepadatan penduduk Heidelberg termasuk yang tertinggi di wilayah Jerman. Tahun 2011, jumlah penduduk mencapai angka 146.000 jiwa. Untung “program keluarga berencana” di kota Heidelberg sangat sukses. Tingkat fertilitas kaum perempuan di Heidelberg pada tahun 2008 adalah 1,1 atau salah satu yang terbaik di wilayah negara bagian Baden Wuerttemberg.

Heidelberg adalah kota pendidikan dan kebudayaan. Bagi mereka yang belajar sosiologi, pasti tidak aneh dengan kota Heidelberg. Ilmuwan sosial seperti George Wilhelm Friederich Hegel dan Juergen Habermas pernah berkarya di sini. Bagi orang-orang yang belajar sosiologi, Hegel dan Habermas bukan nama yang asing.

Siapa itu Hegel? “Georg Wilhelm Friedrich Hegel  (August 27, 1770 – November 14, 1831) was a German philosopher, and a major figure in German Idealism. His historicist and idealist account of reality revolutionized European philosophy and was an important precursor to Continental philosophy and Marxism.” (www.en.wikipedia.org, 26 Juni 2013). Di Indonesia, kebanyakan orang lebih “mengenal” Karl Marx ketimbang Hegel. Dalam bukunya yang berjudul “Pembagian Kerja SEcara Seksual”, sosiolog Arief Budiman juga mengutip pemikiran Hegel tentang perjuangan kelas.

Heidelberg pantas menyandang prediket kota pendidikan. Yang “berbau” serba tua ada di kota ini. Perpustakaan Heidelberg yang didirikan pada tahun 1421 adalah perpustakaan tertua di Jerman. Heidelberg University yang didirikan pada tahun 1386 adalah salah satu universitas tua di Eropa, bahkan universitas tertua di Jerman.

Sejarah mencatat peran Universitas Heidelberg antara lain sebagai berikut : “Heidelberg University played a leading part in the era of humanism and reformation and the conflict between Lutheranism and Calvinism in the 15th and 16th centuries. Heidelberg’s library, founded in 1421, is the oldest public library in Germany still intact. A few months after the proclamation of the 95 Theses, in April 1518, Martin Luther was received in Heidelberg, to defend them.” (en.wikipedia.org, 3 Juli 2013

***

Kota Heidelberg termasuk  destinasi bagi wisatawan domestik dan manca negara. Pada tahun 2004, jumlah wisatawan (domestik dan asing) yang berkunjung ke Heidelberg mencapai angka 3,5 juta (jumlah yang sangat signifikan bila dibandingkan dengan luas wilayah Heidelberg yang hanya 108,83 km2).   Bandingkan dengan luas wilayah Indonesia dan kekayaan obyek wisata, baik budaya maupun obyek wisata seperti gunung, pantai, kehidupan bawah laut, tetapi hanya dikunjungi oleh 7,04 juta wisatawan asing per tahun (data tahun 2012).

Bahwa Heidelberg bukan merupakan kota industri terbukti dari mata pencaharian penduduknya. Pada tahun 2004, 81,8% penduduk Heidelberg bekerja di sektor industri jasa, terutama industri pariwisata. Hanya 18 % lapangan pekerjaan yang tersedia di sektor industri. Ini berarti bahwa Heidelberg sudah berada di “zaman yang akan datang”.

Para futurolog seperti Alvin Toffler, Patricia Abuderne dan John Naisbitt memprediksi bahwa di masa yang akan datang akan lebih banyak pekerjaan di sektor jasa. Era pekerja pertanian dan industri sudah lewat, meskipun profesi petani dan buruh pabrik tentu saja masih ada. Tetapi peran terbesar akan diambil oleh para pekerja di sektor jasa. “Diam-diam”, Heidelberg sudah berada di “zaman yang akan datang”.

Cukup banyak destinasi wisata yang layak dikunjungi di kota ini. Tetapi yang sudah pasti wajib dikunjungi adalah Heidelberg Castle. Letaknya relatif tinggi di perbukitan. Bisa dicapai dengan berjalan kaki, tetapi setelah itu “ngos-ngos-an”. Agar tidak “ngos-ngos-an”, sudah disediakan alternatif bergbahn (dalam bahasa Jerman, berg berarti bukit, dan bahn berarti kereta api. Berg bahn secara harfiah berarti “kereta perbukitan”). Setelah sampai di Heidelberg Castle, pandangan mata anda bisa  “menyapu” seluruh sudut kota Heidelberg.

Lokasi Heidelberg Castle yang berada di perbukitan itu mengingatkan saya pada sebuah istana di kota Salzburg (kota kelahiran komponis Wolfgang Amadeus Mozart), yang kebetulan juga terletak di atas bukit. Untuk mencapai istana tersebut pengunjung juga boleh memilih jalan kaki sambil “ngos-ngos-an” atau naik bergbahn.

Setelah mengunjungi Heidelberg Castle, anda bisa kembali ke kota tua (alte Stadt) dan di tempat ini anda akan menemukan beberapa obyek wisata yang menarik. Ciri utama kota-kota tua di Eropa pada umumnya dan Jerman pada khususnya adalah letak gereja, balaikota, dan pasar yang selalu berdekatan. Mengapa?

Secara sosiologis, pusat dari kehidupan dan kegiatan manusia adalah agama, politik, dan ekonomi. Itulah sebabnya, di seluruh kota di Jerman, begitu anda mengunjungi kota tua, anda sudah “khatam” mengunjungi tempat-tempat wisata yang penting.

Ciri lain dari kota-kota di Eropa adalah “dibelah” oleh sungai. Kota baru dan kota lama seringkali dipisahkan oleh sungai. Karena itu, jembatan selalu memegang peranan yang sangat penting di kota-kota di Jerman. Kalau anda suka difoto, jangan lupa “mejeng” di atas jembatan. Jembatan di atas sungai Neckar yang tepat berada di pusat kota Heidelberg “sunnah” untuk dikunjungi.

Bild

 Image courtesy of Wisanggenia Photography

Last but not least, salah satu keunggulan kompetitif Heidelberg dibandingkan dengan kota lain di Jerman adalah wisata air. Sejatinya, atraksi yang disuguhkan di Heidelberg tidak terlalu canggih dibandingkan dengan fasilitas dan teknologi maritim di Hamburg. Tetapi untuk ukuran sungai dan kapal kecil, pengalaman wisata air di Heidelberg sudah cukup sensasional.

Ada dua tempat di sungai Neckar yang memiliki ketinggian air berbeda dan seperti “tangga”. Kapal wisata harus melalui dua tempat yang memiliki dua ketinggian air yang berbeda tersebut. Ada kalanya kapal harus naik ke tempat yang lebih tinggi, tetapi di saat lain harus turun ke tempat yang lebih rendah. Bagaimana caranya?

Tidak terlalu sulit bagi orang Jerman yang gemar mengandalkan otak mereka. Jangankan kapal kecil, kapal besar di Hamburg pun bisa dinaikkan dan diturunkan ke dua tempat yang memiliki ketinggian air yang berbeda. Tetapi kali ini bukan teknologi yang kita bicarakan. Bagi wisatawan, yang penting adalah pengalaman dan sensasi naik dan turun “tangga” air dengan menggunakan kapal wisata.

Bukan itu saja, kapal wisata yang mengarungi sungai Neckar menggunakan sumber energi dari matahari. Dasar benar-benar khas orang Jerman. Jadi, harga BBM naik  atau inflasi “terbang” tidak jadi masalah. Bukan saatnya untuk berwacana tentang penggunaan energi alternatif. Just do it!

***

Pertengahan tahun 2013 ini, keponakan saya  Yodi Mahendradata PhD, memutuskan untuk “hijrah” dan  memboyong keluarganya tinggal di kota Heidelberg. InsyaAllah bukan keputusan yang keliru. Beberapa nama besar di masa lalu seperti Joze Rizal (pahlawan nasional Philipina) dan Muhammad Iqbal (filsuf dan pujangga asal Pakistan) pernah merasakan betapa nyaman tinggal dan bekerja di Heidelberg.

Bahkan, untuk mendapatkan “pencerahan” (baca : menemukan gagasan), seorang pujangga besar Jerman Johann Wolfgang von Goethe pernah merasa perlu jalan-jalan di Heidelberg Castle. Orang pintar memang sudah sepatutnya tinggal di Heidelberg.

Menurut saya, kalau benar-benar pintar, belajar dan bekerja lah di universitas terbaik yang dan kaya dengan berbagai riset dan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Kesempatan seperti itu bisa ditemukan antara lain di Heidelberg :

In addition to the research centers and institutes of the university, there are numerous research institutions situated in the city of Heidelberg. Among them are the European Molecular Biology Laboratory (EMBL), European Molecular Biology Organization (EMBO), the German Cancer Research Center (DKFZ), Max Planck Institute for Medical Research, Max Planck Institute for Astronomy, Max Planck Institute for Nuclear Physics, Max Planck Institute for Comparative Public Law and International Law.” (www.en.wikipedia.org, 26 Juni 2013).

Jadi, jangan hanya minum tolak angin agar disebut “pintar” dan “bejo”!

Tampak siring, 26 Juni 2013