RSS

Biso Rumongso

20 Jul

Harga daging melenting tinggi hingga mendekati “level psikologis” Rp. 100 ribu per kg. Di beberapa daerah harga daging sudah mencapai Rp. 90 ribu per kg. Mengamati penyelesaian masalah daging yang lamban dan tak kunjung membuahkan hasil yang diharapkan, Presiden SBY pun tak sungkan lagi “mendamprat” dan “menyemprot” para pembantunya.

Ada tiga pejabat yang dianggap bertanggung jawab untuk mengamankan harga daging dan keseimbangan antara permintaan daging. Mereka adalah Menteri Pertanian Ir Suswono, Kepala Bulog Sutarto Alimuso, dan Menteri Perdagangan Gita Wiryawan. Mereka pun sekonyong-konyong menjadi aktor dalam serial  “Trio Ketar-Ketir”.

Untung mereka “hanya” menjadi pembantu presiden. Kalau mereka pelatih sepakbola, nasib mereka bisa lebih tragis : dipecat. Tetapi, meskipun “hanya” kena “damprat” dan “semprot”, secara psikologis dan sosial seyoganya sudah mampu membuat mereka sadar dan cepat tanggap.

Ngomong-ngomong, seperti apakah murka Presiden SBY?. Agar tidak salah dan melebih-lebihkan, saya kutipkan saja berita di Koran Sindo 14 Juli 2013 sebagai berikut : “Saudara lihat pasar tidak? Saudara dengarkan media sosial tidak? Saya ingatkan kembali Saudara-Saudara bahwa pemimpin kita ini harus punya tiga sense,” ujar Presiden dengan nada keras.

Tetapi SBY tidak hanya murka, “mendamprat”, dan “menyemprot” para pembantunya. Dengan santun dan welas asih SBY menunjukkan solusi dan kompetensi yang harus diperbaiki, terutama berkaitan dengan 3 sense tersebut.

Masih di harian yang sama, SBY menuturkan sebagai berikut : “Menteri Pertanian juga harus mempunyai sense of crisis, demikian pula Kabulog. Menteri Perdagangan (harus memiliki) sense of urgency, sense of responsibility.”

Kompetensi apa yang harus diperbaiki para pembantu presiden tersebut sebagai pemimpin sudah jelas. Tetapi kok bahasa Inggris ya? Saya harus buka kamus bahasa Inggris – Indonesia untuk memahaminya. Dalam bahasa Inggris, sense dapat berarti akal. Sebagai contoh, common sense berarti akal sehat atau masuk akal. Tetapi apakah para pembantu presiden tidak memiliki akal sehat. Tampaknya bukan itu deh yang dimaksud Presiden SBY.

Begini saja, daripada mbulet dan repot, saya carikan saja padanan istilah tersebut dengan bahasa Jawa, dan kemudian saya terjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Meskipun saya hanya rakyat biasa, sedapat mungkin saya berusaha untuk menggunakan bahasa Indonesa dan bahasa ibu yang kebetulan bahasa Jawa. Saya tidak bermaksud menyombongkan diri sebagai nasionalis tulen. Paling tidak, saya tidak masuk dalam kategori orang-orang yang menderita linguistic laziness (maaf…. maaf …. maaf, terpaksa bahasa Inggris. Arti harfiahnya adalah “kemalasan bahasa”).

Para leluhur orang-orang Jawa mengingatkan kepada kita semua agar biso rumongso. Artinya, setiap manusia (tidak hanya pemimpin), harus bisa merasa. Bagi orang-orang Jawa, tidak bisa merasa itu lebih parah ketimbang rumongso biso (merasa bisa). Secara filosofis, penghormatan diberikan kepada orang-orang yang biso rumongso. Tetapi dalam kehidupan nyata, orang-orang yang memiliki karakter, sikap, dan perilaku rumongso biso memang bisa lebih “bejo” (baca : beruntung).

Itulah sebabnya, bagi orang-orang Jawa, hukum biso rumongso itu antara “sunnah” dan “wajib”. Sedangkan hukum rumongso biso itu “makruh”. Anjurannya,  sikap dan perilaku adigang, adigung, adiguno dalam bentuk rumongso biso ditinggalkan saja. Sebab, tidak sesuai dengan ilmu padi, semakin berisi semakin merunduk. Jadi, ojo biso rumongso, ning biso’o rumongso.

Dalam literatur tentang kepemimpinan ada “segambreng” karakteristik pemimpin yang baik. Kalau semua karakteristik tersebut diterapkan dan menjadi persyaratan mutlak, boleh jadi kelompok, masyarakat, bangsa dan negara tidak pernah bisa memilih pemimpin mereka. Jika kejujuran menjadi “harga mati” bagi seorang pemimpin, orang-orang sekaliber mendiang John Fitzgerald Kennedy dan Bill Clinton tidak pernah akan menjadi seorang presiden Amerika Serikat.

BildImage courtesy of http://www.youtube.com

Dalam bahasa yang membumi dan mudah dipahami, Mahfud MD  – “MMD”, mantan ketua Mahkamah Konstitusi RI – menggagas “bejo” sebagai karakter yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin. Pemimpin bukan orang yang bejo (dalam bahasa Jawa berarti beruntung), melainkan berani, jujur, dan obyektif.

Semua orang boleh-boleh saja mengajukan persyaratan karakter yang ideal untuk seorang pemimpin. Saya lebih menyukai pemimpin yang biso rumongso. Contoh dari penerapan biso rumongso adalah dalam diri Buya Hamka.

Dalam buku “Ayah” yang ditulis oleh Irfan Hamka untuk mengenang, menghormati, dan berbagi tentang keteladanan Buya Hamka, diceritakan tentang Buya Hamka yang menolak tawaran menjadi duta besar Indonesia yang ditempatkan di Arab Saudi.  Buya Hamka tidak langsung menolak. Beliau merasa wajib berkonsultasi dengan keluarga, terutama isterinya yang bernama Siti Raham. Singkat cerita, Ummi Siti Raham menyarankan agar beliau menolak tawaran menjadi duta besar.

Alasan yang dikemukakan oleh isteri Buya Hamka pun terdengar sangat bersahaja. Kepada Buya Hamka, Ummi mengingatkan bahwa beliau bukanlah seorang yang pintar – dalam bahasa anak-anak muda saat ini – “gaul” dan “dugem”, berpesta, berdansa-dansi, dan berbasa-basi kepada para tamu undangan. Buya Hamka bakalan tidak mampu mengikuti kehidupan dan gaya hidup sosialita.

Karena biso rumongso bahwa dirinya tidak mampu memenuhi persyaratan untuk menjadi duta besar, akhirnya Buya Hamka memutuskan tidak menerima tawaran menjadi duta besar. Jadi, keputusan untuk menjadi seorang “pemimpin” itu datang dari dalam diri sendiri, bukan atas permintaan dari “begundal-begundal” (istilah yang biasa digunakan oleh Amien Rais yang berarti kurang lebih pendukung).

Seorang calon pemimpin itu harus berani biso rumongso tidak mampu memimpin. Seorang calon pemimpin itu harus jujur biso rumongso dan bilang ia tidak layak menjadi pemimpin. Seorang pemimpin itu juga harus obyektif biso rumongso, menilai apakah ia mampu atau tidak menjadi pemimpin. Hanya dari calon pemimpin yang biso rumongso, rakyat tidak akan ditipu dan tidak tertipu.

Orang-orang yang memiliki karakter, sikap dan perilaku rumongso biso, tidak akan pernah berani, jujur, dan obyektif bilang bahwa dirinya tidak mampu dan tidak layak menjadi seorang pemimpin. Karena saat ini kita hidup di zaman edan, maka terimalah kenyataan lebih banyak orang-orang yang memiliki karakter rumongso biso ketimbang biso rumongso.

Banyak orang yang kemudian “bejo” menjadi “pemimpin” mengaku siap menjalankan amanah. Pada saat terpilih menjadi seorang “pemimpin”, semakin jarang orang – untuk tidak mengatakan tidak ada – yang mengatakan inna Lillahi wa inna ilaihi  raji’un. Tampaknya, semakin sulit orang membedakan mana yang tujuan dan mana yang alat.

Tampak Siring, 20 Juli 2013

 
Leave a comment

Posted by on July 20, 2013 in Selasar

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: