RSS

Mainz

22 Jul

Dua orang guru bahasa Jerman saya, yaitu Frau Lila Kurnia dan Herr George Hallemayer, mbujuki saya untuk berkunjung ke kota Mainz. Menurut beliau berdua, Mainz adalah kota kecil yang indah dan penuh dengan cerita sejarah. Saya memang nyambangi Mainz, tetapi dengan alasan yang mungkin sangat berbeda dengan kedua guru bahasa saya tersebut.

Adalah Johannes Gensfleisch zur Laden zum Gutenberg atau lebih dikenal dengan nama Johannes Gutenberg yang menjadi alasan utama saya mengunjungi Mainz. Bagi generasi yang hidup di zaman digital, mereka mungkin lebih akrab dengan nama Steve Jobs ketimbang Gutenberg. Tetapi bagi saya yang hidup di zaman mesin cetak dan zaman digital, nama Gutenberg lebih fenomenal. Dampak perubahan sosial yang dihasilkan dari penemuan Gutenberg sangat luar biasa. Tidak hanya di Jerman, tetapi di seluruh dunia dan bagi seluruh umat manusia.

Pada saat belajar bahasa Jerman, dalam beberapa kali mengisi kuis tentang tokoh-tokoh yang mengubah dunia, saya selalu menempatkan nama Gutenberg dalam 10 besar. Jika kemudian daftar tersebut harus dikerucutkan menjadi 5 besar, saya tanpa ragu-ragu memasukkan nama Gutenberg dalam 5 besar tokoh yang mengubah dunia. Bahkan, jika harus memilih 1 nama saja, saya bulat tekad akan menyebut nama Gutenberg.

Siapa sih Gutenberg? Ia adalah penemu mesin cetak. Sebegitu pentingkah peranan mesin cetak dalam kehidupan manusia? Untuk memahami peranan mesin cetak, tentu harus diletakkan dalam konteks perkembangan masyarakat di abad ke 15.

Tentang Gutenberg dan peranan mesin cetak dalam kehidupan manusia dan perubahan sosial masyarakat, Wikipedia menulis sebagai berikut :

Gutenberg was the first European to use movable type printing, in around 1439. Among his many contributions to printing are: the invention of a process for mass-producing movable type; the use of oil-based ink; and the use of a wooden printing press similar to the agricultural screw presses of the period. His truly epochal invention was the combination of these elements into a practical system which allowed the mass production of printed books and was economically viable for printers and readers alike. Gutenberg’s method for making type is traditionally considered to have included a type metal alloy and a hand mould for casting type.

In Renaissance Europe, the arrival of mechanical movable type printing introduced the era of mass communication which permanently altered the structure of society. The relatively unrestricted circulation of information and (revolutionary) ideas transcended borders, captured the masses in the Reformation and threatened the power of political and religious authorities; the sharp increase in literacy broke the monopoly of the literate elite on education and learning and bolstered the emerging middle class. Across Europe, the increasing cultural self-awareness of its people led to the rise of proto-nationalism, accelerated by the flowering of the European vernacular languages to the detriment of Latin’s status as lingua franca. In the 19th century, the replacement of the hand-operated Gutenberg-style press by steam-powered rotary presses allowed printing on an industrial scale, while Western-style printing was adopted all over the world, becoming practically the sole medium for modern bulk printing.” (Sumber : http://www.en.wikipedia.org, 20 Juli 2013)

***

Mainz adalah sebuah kota kecil yang terletak di sebelah barat Jerman. Sebagaimana kota-kota di Jerman lainnya, Mainz juga “dibelah” oleh sungai, yaitu sungai Rhein. Seperti juga kota-kota lain di Jerman, di “zaman kuda gigit besi”, transportasi sungai memegang peranan penting untuk mendukung mobilitas manusia dan barang.

Sejarah kota Mainz dapat ditelusuri dari zaman Roman Mongontiacum (sekitar abad 12/13 sebelum masehi) sampai dengan abad ke 21. Terlalu panjang untuk diceritakan dan belum tentu menarik.

Mainz adalah kota kecil dan kota “tempo doeloe”. Hanya membutuhkan waktu sebentar untuk “khatam” mengunjungi beberapa destinasi wisata di Mainz, terutama Mainz Cathedral, pasar, dan balaikota yang lokasinya saling berdekatan. Ada juga rumah tradisional Jerman yang arsitekturnya mirip dengan rumah tradisional di Frankfurt am Main.

MAINZ KOLASE1Image courtesy of Wisanggenia Photography

Meskipun kota kecil, Mainz sangat diuntungkan dengan lokasinya yang relatif dekat dengan kota Frankfurt am Main yang hanya berjarak 10 mil. Mainz tidak hanya dekat dengan bandara internasional Frankfurt yang pada tahun 2009 tercatat sebagai bandara tersibuk nomor 3 di Eropa dan nomor 9 di dunia. Mainz juga hanya berjarak 50 mil dari bandara Frankfurt-Hahn, yaitu bandara yang memfasilitasi penerbangan komersial murah meriah ke seluruh negara-negara di Eropa. Wow!

Di era perang dunia kedua, nasib Mainz lebih mujur ketimbang kota Mannheim dan Heidelberg. Tidak ada satupun bom yang dijatuhkan di kota Mainz. Meskipun demikian, pasukan sekutu dari Perancis dan Amerika Serikat ditempatkan juga di Mainz. Lokasi Mainz yang relatif dekat dengan Frankfurt am Main dan bandara Frankfurt-Hahn menjadikan Mainz sebagai tempat yang strategis untuk mobilisasi pasukan.

Di bidang pendidikan, reputasi Universitas Mainz cukup dikenal di dunia. Didirikan pada tahun 1477, Uni. Mainz masuk dalam kategori 10 universitas terbesar di Jerman. Salah seorang putra Indonesia yang pernah menimba ilmu di Uni. Mainz adalah DR. Terry Mart, seorang ilmuwan fisika nuklir dan partikel yang saat ini mengajar di Universitas Indonesia.

Gutenberg adalah salah seorang putra daerah Mainz yang mencatatkan namanya di sejarah peradaban manusia. Teknologi digital dan internet mungkin secara perlahan tetapi pasti akan menggantikan peranan berbagai produk cetak (buku, surat kabar, majalah, dan lain sebagainya). Tetapi peran Gutenberg dan mesin cetak tetap tidak bisa dihapus dari sejarah peradaban manusia.

Trah atau keluarga besar Gutenberg tidak perlu kuatir jasa-jasa kakek moyang mereka tidak dihargai oleh bangsa dan negara Jerman. Bangsa Jerman adalah bangsa yang tidak lupa dengan sejarah. Orang-orang Jerman suka dengan museum. Di beberapa kota yang telah saya kunjungi, selalu ada museum. Bahkan, sebuah gereja di Berlin yang bernama Nikolaikirche (St. Nicholas’ Church, dalam bahasa Inggris) pun berubah menjadi museum. Salah seorang pengunjung yang bermaksud “memotret” dilarang oleh petugas. Fotografer itupun “protes” mengapa memotret di gereja dilarang. Petugas dengan welas asih menjawab bahwa, “ini bukan gereja, tetapi museum”. He…..he….”kena batunya”!.

Bagi saya pribadi, meskipun sudah sangat menikmati manfaat teknologi digital dan rajin “melanglang buana” ke dunia maya, tetap saja tidak bisa meninggalkan kebiasaan saya membaca buku dan surat kabar sambil bermalas-malasan di kursi maupun tempat tidur. Gagasan saya untuk menulis lebih banyak lahir dari “rahim” buku-buku dan surat kabar. Tetapi untuk melengkapi tulisan saya, saya selalu melakukan “riset” dari berbagi sumber dari dunia maya yang tersedia sangat melimpah dan memanjakan otak manusia.

Jika anda tertarik dengan sejarah kehidupan Gutenberg dan penciptaan mesin cetak, anda dapat berkunjung ke museum Gutenberg. Saat berkunjung di Mainz di musim semi 2010 yang lalu, saya tak lupa “mejeng” di depan museum Gutenberg.

MAINZ - 2010Image courtesy of Wisanggeni Photography

Di zaman modern, Mainz masih memberikan kontribusi yang sangat signifikan bagi kehidupan manusia. Salah satu sumbangsih Universitas Mainz adalah polarisasi helium. Untuk mengetahui manfaat polarisasi helium, anda tidak perlu sakit kanker terlebih dahulu. Dalam rubrik persona Kompas Minggu, 7 Juli 2013, DR. Terry Mart menjelaskan sebagai berikut :

Magnetic resonance imaging (MRI) dalam deteksi kanker paru, misalnya, berutang budi kepada riset fisika teori. Di Universitas Mainz, Jerman, terdapat grup ilmuwan yang bertahun-tahun kerjanya hanya memolarisasi helium dengan medan magnet. Mereka memiliki detector pengamat polarisasi helium. Helium yang terpolarisasi yang aman masuk ke paru itu ternyata bisa mendeteksi kondisi paru. Detektor awal itu lalu dikembangkan untuk mengamati paru dalam waktu riil. Yang bisa memproduksi helium polarisasi hanya grup tersebut. Terapannya lalu dipatenkan. Sepintas kerjaannya hanya polarisasi helium. Pemerintah tidak boleh merasa rugi investasi di ilmu dasar. Tidak semua penelitian menghasilkan, tetapi begitu ada satu yang booming bisa menutup biaya.”

Dari beberapa tulisan saya tentang kota-kota di Jerman, semakin jelas perbedaan antara kota-kota di Indonesia dengan kota-kota di Jerman. Di Indonesia, para kepala daerah sibuk membangun mall,  membiarkan kota penuh sesak dan macet dengan kendaraan (karena ada pendapatan dari pajak kendaraan), dan meningkatkan tarif parkir. Mungkin, di benak mereka, hanya itulah satu-satunya sumber dan cara untuk mengisi kas pendapatan asli daerah.

Tidak banyak kota industri di Jerman, tetapi mereka tetap dapat menghidupi dan mengembangkan kota tanpa jor-joran membangun mall. Salah satu cara adalah membangun kota sebagai pusat pendidikan untuk bidang tertentu dan menjadi kota tujuan wisata.

Tampak Siring, 21 Juli 2013

 

One response to “Mainz

  1. widhi

    July 23, 2013 at 8:03 am

    keren om.. teruskan

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: