RSS

Ramadhan di Jerman

28 Jul

Tahun 1430 H atau bertepatan dengan tahun 2009 M, saya berada di kota Mannheim, Jerman. Itulah untuk pertama kali dalam hidup saya menunaikan ibadah puasa Ramadhan di negara yang mayoritas berpenduduk non-muslim. Bagaimana sih rasa menjadi minoritas di negeri seberang?

Alhamdulillah, semua berjalan lancar. Tak ada kekhawatiran ancaman sweeping dari kelompok mayoritas. Meminjam istilah yang biasa digunakan dalam mata kuliah kewiraan di perguruan tinggi, tidak ada hambatan, tantangan, ancaman, dan gangguan (biasa disingkat “HTAG”) yang bersifat “ipoleksosbud” (baca : ideologi, politik, sosial, dan budaya) bagi umat Islam untuk berpuasa Ramadhan. Bagi masyarakat, bangsa, dan negara Jerman, umat Islam yang berpuasa Ramadhan bukanlah HTAG dari segi pertahanan dan keamanan.

Toleransi orang-orang Jerman kepada orang yang sedang menjalankan puasa sangat kondusif (he…..he…. istilah pejabat!). Tentu saja tidak pada tempatnya dan tidak mungkin mengharapkan restoran, café, bar dan tempat-tempat lain yang menjual makanan dan minuman untuk tutup di siang hari. Justru orang-orang Islam yang sedang berpuasa yang mesti tahu diri dan “membiarkan” orang-orang yang tidak berpuasa untuk menjalankan aktivitas makan dan minum sebagaimana biasa.

Sebagai warga minoritas saya juga tidak bisa mencegah para “srikandi” Jerman berpakaian seronok. Saya sendiri yang harus bisa pura-pura pakai kaca mata kuda sehingga pandangan saya tidak membentur “bukit barisan” yang seolah-olah bermaksud memperlihatkan keindahan dunia barat. Mungkin, paling tidak untuk saya, puasa Ramadhan terberat di Jerman adalah mengendalikan hawa nafsu ketimbang menahan lapar dan dahaga.

Salah satu toleransi yang ditunjukkan oleh orang-orang Jerman, terutama Herr Rheinhard Klose (Project Manager International Leadership Training) dan para staf rumah tangga asrama adalah menyesuaikan jadwal penyediaan makanan untuk orang-orang yang sedang berpuasa. “Jam operasional” kantin tetap buka dan tutup seperti biasa. Tetapi khusus bagi orang-orang yang sedang berpuasa dan memiliki jadwal berbuka puasa dan makan sahur yang berbeda dengan jadwal makan sebagian besar orang Jerman yang tidak berpuasa, diberlakukan jam khusus. Singkat kata, urusan ibadah dan perut difasilitasi sedemikian rupa sehingga orang-orang Islam tidak mengalami kesulitan untuk menjalankan ibadah sesuai dengan keyakinannya.

Padahal, saya sempat ketar-ketir dengan urusan makanan dan minuman selama bulan Ramadhan. Maklum, sebagai seorang yang tidak memiliki kompetensi memasak, urusan perut yang terbengkalai bisa mengganggu perasaan dan emosi. Alhamdulillah, orang-orang Jerman sudah terbiasa berhubungan dengan orang-orang yang memiliki latar belakang yang berbeda, baik dari segi budaya maupun agama.

Salah satu yang “memperkenalkan” masyarakat Jerman dengan agama Islam adalah para imigran asal Turki. Di Jerman, jumlah imigran asal Turki adalah yang terbanyak dibandingkan imigran asal negara lain. Data di laman http://www.tatsachen-ueber-deutschland.de/id/inhaltsseiten-home/angka-dan-fakta/penduduk.html menunjukkan bahwa, jumlah penduduk Jerman tahun 2013 adalah 82 juta jiwa, sekitar 52 juta orang menganut agama Kristiani dan 4 juta beragama Islam. Sekitar 8,2 % dari jumlah seluruh penduduk adalah warga asing, sedangkan imigran asal Turki mencapai 4-5 % dari total penduduk Jerman.

Pada prinsipnya, menunaikan puasa Ramadhan di Jerman dan negara lain sama saja. Yang berbeda adalah suasana khas Ramadhan yang hanya ada pada saat bulan Ramadhan. Di setiap negara pun suasana khas Ramadhan cenderung berbeda dan dipengaruhi oleh budaya setempat.  Tidak sulit untuk menemukan tempat sholat tarawih berjamaah, meskipun lokasinya tidak berdekatan dengan asrama tempat saya tinggal.

Bild

 

(Photo: Khadija Mosque in Berlin October 16, 2008/Fabrizio Bensch / http://www.blog.reuters.com)

Berpuasa Ramadhan di negeri orang juga harus bersiap diri sepi dari undangan buka puasa bersama. Meskipun di Mannheim ada “Deusch-Indonesische Gesellschaft” (semacam paguyuban orang-orang Jerman dan Indonesia), saya tidak pernah dapat undangan buka bersama seperti yang biasa dilakukan di Indonesia.

Juga tidak ada orang-orang yang teriak memekakkan telinga dan bermaksud baik membangunkan umat Islam agar tidak ketinggalan makan sahur. Meskipun tidak ada orang yang mengingatkan saya untuk bangun tengah malam, Alhamdulillah saya tidak pernah ketinggalan makan sahur. Alarm dari handphone sudah cukup untuk membangunkan saya dari tidur.

***

Secara fisik, hampir tidak ada hambatan berarti bagi orang-orang Islam untuk berpuasa Ramadhan di Jerman. Iklim dan cuaca bukan hambatan utama. Jarak antara imsak dan maghrib yang kadang-kadang lebih lama dibandingkan dengan negara-negara tropis, juga tidak dapat digunakan sebagai alasan untuk mengatakan bahwa puasa Ramadhan di Jerman lebih berat.

Apalagi saya saat itu hanya “duduk manis” mengikuti pelajaran bahasa Jerman. Pelajaran hanya berlangsung kurang lebih 6 jam. Praktis tidak ada aktivitas fisik, pikiran, dan psikis yang dapat menggerogoti kemampuan fisik dan psikis seseorang untuk berpuasa secara normal.

Bahkan, seorang pesepakbola profesional yang notabene dituntut memiliki fisik dan stamina yang prima pun masih dapat menjalankan ibadah puasa Ramadhan. Sebut saja 2 kakak beradik Kolo Toure  dan Yaya Toure di klub Manchester City, Frank Ribery di FC Bayern Muenchen, Mezut Oezil dan Karim Benzema di Real Madrid, semua tetap menjalankan rukun Islam ketiga. Secara fisik, tantangan mereka jauh lebih berat dibandingkan dengan tantangan yang saya hadapi.

Semula, saya sempat “termakan” dengan isu jadwal puasa yang lebih panjang di negara-negara Eropa (catatan : jadwal puasa Ramadhan di negara-negara Eropa dapat lebih panjang atau pendek tergantung dari musim dan letak geografis masing-masing negara). Isu itu telah berhasil “menteror” saya bahwa, secara fisik, puasa Ramadhan di Eropa lebih berat ketimbang di Indonesia.

Ternyata semua isu itu hanya isapan jempol. Saat puasa Ramadhan, saya justru terbang ke Austria dan nyambangi keponakan saya di Villach. Ditemani keluarga Aryoso Nirmolo dan Vanda Kugi (noni Manado dan fesbuker yang tinggal di Austria), saya berkunjung ke Venesia. Padahal, perjalanan melalui darat Villach – Venesia p.p. kurang lebih 6 jam. Saat berada di Venesia, sebagian besar kunjungan ke tempat-tempat wisata adalah berjalan kaki. Alhamdulillah, panas terik kota Venesia di musim panas tidak membuat kami dehidrasi dan membatalkan puasa.

Kecuali Venesia, saya juga mengunjungi Salzburg – kota kelahiran Wolfgang Amadeus Mozart – pada bulan Ramadhan. Lagi-lagi ke sana ke mari juga harus berjalan kaki. Capek pasti, tetapi tidak sampai haus dan lapar. Justru dengan jalan-jalan tidak terasa sedang puasa Ramadhan dan waktu berlalu begitu cepat. Saya juga pernah merasakan berbuka puasa dalam perjalanan dengan kereta api dari Salzburg – Muenchen  – Mannheim. Semua biasa-biasa saja, tidak ada yang sulit.

***

Pengalaman lain berpuasa Ramadhan di Jerman adalah makan sahur dan buka puasa bersama dengan teman-teman dari Aljazair. Ada beberapa peserta dari negara-negara berbahasa Arab (Mesir, Yordania, Yaman, dan Aljazair) yang juga tinggal di asrama, tetapi kamar saya kebetulan satu lantai dengan beberapa teman dari Aljazair. Teman-teman  dari Aljazair tersebut antara lain  Abdul Aziz, Rabah Aliane, dan Djamel Eddine Bensidi Ahmed

Saat makan sahur dan buka puasa bersama dengan orang-orang dari negara lain itulah saya merasakan bahwa ukhuwah Islamiah bukan hanya isapan jempol. Saya menjadi teringat kembali ayat dalam Al-Qur’an  yang seringkali diajarkan oleh guru agama saya di SMP sebagai berikut :

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS : Al-Hujurat, ayat 13).

Dalam kehidupan ternyata selalu ada “ndhilalah” (baca : kebetulan). Ndhilalah Aziz  sangat pintar memasak. Saya menghormatinya sebagai Master Chef dan keahliannya memasak tidak kalah dari ibu-ibu (yang pintar memasak) dan Master Chef yang sering tampil di TV swasta nasional di Indonesia. Bumbu dan rempah-rempah yang digunakan memang tidak familiar bagi lidah saya. Tetapi tentang rasa masakan Azis, saya menilai memenuhi standar “seenak malam pertama”.

Selama puasa Ramadhan, saya makan sahur dan buka bersama teman-teman dari Aljazair tanpa mengeluarkan biaya sepersenpun. Saya mau ikut iuran, tetapi mereka tidak mau. Mereka paham benar bahwa bulan Ramadhan adalah bulan yang penuh rahmat, berkah, dan maghfiroh. Mereka juga paham tentang pahala memberi makan orang yang sedang berpuasa.

Meskipun urusan pangan selama bulan Ramadhan beres, saya agak kesulitan juga mengimbangi kemampuan makan teman-teman Aljazair. Porsi makan mereka luar biasa tak sebanding dengan porsi makan saya yang relatif sedikit. Mereka selalu menambahkan makanan dalam piring saya dan “memaksa” saya harus menghabiskannya. Tetapi setelah mengetahui saya harus bekerja keras dan “kerja lembur” untuk menghabiskan makanan, mereka akhirnya pasrah juga.

Tampak Siring, 28 Juli 2013

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: