RSS

Monthly Archives: August 2013

Rempong Jadi Orang Kaya

Lebih dari satu setengah abad yang lalu, Eduard Douwes Dekker atau yang lebih dikenal dengan nama samaran Multatuli, pernah berkata kurang lebih begini : “sebab kita bersuka cita bukan karena memotong padi,  kita bersuka cita karena memotong padi yang kita tanami”.

Sama-sama “hepi” tetapi beda proses dan kenikmatan. “Hepi” yang satu tinggal “duduk manis”, tanpa risiko, dan tinggal terima hasil. Sedangkan “hepi” yang kedua juga sama-sama panen, tetapi setelah melalui kerja keras, bersimbah peluh dan berdarah-darah. Setiap orang memilih “hepi” sesuai dengan selera dan terutama karakter masing-masing.

Sebuah filosofi yang berguna untuk menjalani kehidupan, meskipun sudah pasti tidak diindahkan oleh para koruptor dan orang-orang yang tanpa kerja keras merasa senang mewarisi harta kekayaan orang tua mereka.

Beberapa hari yang lalu, saya kembali merasakan getaran energi dalam pesan Multatuli saat saya mendengarkan keluhan seorang ibu anggota pengajian yang merasa stress karena bersuami orang kaya. Tak tahan menjalani kehidupan bagaikan di negeri dongeng, ibu itu pun bertanya secara tertulis kepada seorang ustadz, bagaimana kalau ia bercerai.

Dalam “surat pembaca” yang disampaikannya kepada ustadz, ibu itu bercerita bahwa tidak ada kekurangan materi, lahir dan batin. Anak-anak pun sudah lahir dari buah cinta kasih mereka berdua. Sandang, pangan, papan, turangga (baca : kendaraan), dan berbagai simbol status lainnya tercukupi. Apapun yang diinginkan dan diminta, ibu itu tinggal bilang kepada suami, dan dalam sekejap ….. wes….ewes…..ewes barang yang diminta pun tersedia di hadapan ibu itu. Kadang-kadang, tidak ingin dan minta sesuatu, semua sudah tersedia. Sangking kaya keluarga suami ibu itu, kalau diwariskan, untuk tujuh keturunan pun harta kekayaan tidak akan habis.

BildFoto diunduh dari http://www.charterword.com

“Lalu, kenapa ibu mesti minta bercerai?. Seharusnya ibu bersyukur dapat suami yang kaya raya dan sayang kepada ibu. Ibadah pun suami tekun. Poligami tidak, bahkan “sekedar” selingkuh pun juga tidak. Apa masalah ibu?”, demikianlah Ustadz bertanya-tanya karena tidak mengerti. Ibu-ibu pengajian pun mulai tidak tahan untuk berbisik-bisik, salah seorang malah nyeletuk “gitu aja kok rempong!”

Ternyata, keluhan ibu itu sangat sederhana, “sepele”, “mengada-ada”, atau “lebay” menurut ukuran atau standar orang-orang “normal”. Ibu itu tidak bisa menerima keadaan suaminya yang enak-enak tidak bekerja dan tidak berjuang sama sekali untuk menghidupi keluarga. Memang semua kebutuhan hidup, lahir dan batin terpenuhi, semua pemberian orang tua. Tetapi, yang dimaui oleh ibu itu adalah suaminya harus bekerja keras dan memiliki prinsip seperti yang dikatakan oleh Multatuli. Begitulah prinsip hidup seorang ibu yang “idealis”.

Ternyata, jadi orang kaya rempong juga. Terutama bagi orang-orang yang menghargai proses dan kepuasan bersusah payah, bukan sekedar hasil. Di dunia saja sudah rempong, apalagi di akhirat. Konon, di akhirat kelak, fakir miskin dan dhuafa lebih duluan masuk surga ketimbang orang-orang kaya.

Dalam bahasa Erich From, ibu itu tidak bangga dan juga tidak bisa menikmati keadaan to have. Semua yang telah dimiliki tanpa perjuangan apapun sama sekali tidak memberikan kepuasan psikologis dan batiniah. Apa yang diinginkan oleh ibu itu adalah to be.

Saya jadi mengerti mengapa istri saya jatuh cinta kepada saya yang “nggak ada apa-apanya”, terutama jika dibandingkan dengan kompetitor saya yang naksir berat calon istri saya (saat itu). Respek istri saya adalah pada proses dan perjuangan saya untuk bersuka cita karena memotong padi yang saya tanam. Saat memulai membangun rumah tangga, memang tidak ada satupun warisan orang tua saya yang saya bawa. Demikian juga istri saya, tidak membawa satupun warisan dari orang tuanya.

Bagi kami berdua, jasa orang tua bukan pada warisan yang diturunkan kepada kami. Tentu saja, orang tua kami tetap berjasa menjadikan kami berdua menjadi selalu berprinsip untuk bersuka cita karena memotong padi yang kami tanam. Bagi kami, warisan dari orang tua bukan sesuatu yang diharapkan dan dibangga-banggakan.

Sebagai orang yang juga menghargai menanam padi dan memanen padi yang saya tanami sendiri,  saya dapat memahami perasaan sesak dan sumpek seorang wanita yang dipimpin oleh suami yang tidak pernah berdiri di atas kaki sendiri. Sungguh sulit menjalani kehidupan dengan orang yang tidak pernah mandiri secara qalbu, psikologis dan sosial. Sungguh tidak nyaman sehidup semati dengan orang yang secara otot sehat, otak cemerlang, tetapi qalbu lemah gemulai. Keinginan untuk bercerai itu pun tidak tiba-tiba, tetapi setelah melalui pergumulan qalbu yang sangat luar biasa.

***

Saya tidak heran atau kaget dengan musibah yang menimpa ibu itu. Orang-orang yang tidak “hepi” begitu saja menerima warisan orang tua juga banyak. Beberapa tahun yang lalu saya juga punya teman yang sangat menderita karena tidak pernah mengalami kondisi “sebab aku bersuka cita karena aku memotong padi yang aku tanam”.

Dua puluh tahun yang lalu teman-teman dan saya dalam kegembiraan yang membuncah. Hasil kerja keras dan “banting tulang” sudah mulai berwujud rumah. Bagi kami, rumah adalah simbol kemandirian, bukan sekedar simbol dari gaji melimpah. Membina keluarga dan kemudian menempati rumah dari hasi jerih payah sendiri adalah salah satu kebahagiaan yang tidak dapat dinilai dengan uang. Bahkan, kebahagiaan itu tidak dapat diganti dengan rumah pemberian orang tua.

Bild

http://www.perfecthomepictures.com

Lagi asyik-asyik membicarakan keberhasilan kami membeli rumah, saya melihat seorang sahabat yang berada di ruangan yang sama,  terlihat sedih dan diam seribu bahasa. Sebagai seorang anak big boss, sahabat saya itu memang tidak perlu memikirkan lagi dan tidak perlu berjuang untuk membeli rumah dan seisinya serta kendaraan. Atas nama kasih sayang, orang tuanya sudah menyediakan semua kebutuhan sahabat saya, mulai dari rumah dan seisinya sampai dengan mengisi rekening dalam mata uang asing maupun Rupiah.

Saat saya bertanya kepada sahabat saya mengapa kelihatan sedih pada saat kami gembira berdiskusi tentang rumah, sahabat saya tak menjawab apapun. Tetapi di lain kesempatan, sahabat saya mengucapkan selamat bahwa saya telah memiliki rumah. Tanpa bermaksud tidak menghargai semua pemberian orang tuanya, sahabat saya mengaku “sedih” karena tidak pernah merasakan jatuh bangun dan berdarah-darah untuk mendapatkan sesuatu.

***

Bersuka cita memotong padi yang ditanam sendiri itu pula yang ingin dikehendaki oleh Warren Buffett – seorang investor kelas kakap dan dinilai paling sukses di abad ke 20 –  kepada keturunannya. Sebagai salah satu dari orang paling kaya di dunia, tidak ada kendala apapun bagi Buffett untuk menggolontorkan semua harta kekayaan sebagai warisan kepada anak-anaknya.

Tetapi bukan Buffett kalau tidak berperilaku dan mengambil keputusan yang “aneh”. Alih-alih mewariskan harta kekayaan kepada anak-anaknya, Buffett  justru menyumbang sebagian besar harta kekayaannya untuk mendanai kegiatan amal. Tidak tanggung-tanggung,  sekitar Juni 2006 yang lalu Buffett mengumumkan rencananya untuk menyumbang 85% kekayaannya untuk amal. Bill & Melinda Gates Foundation akan menerima sebagian besar dari donasi tersebut dan selebihnya ke yayasan-yayasan sosial milik keluarga Buffett.

Mengapa Buffett melakukan itu semua? Simak alasan Buffett berikut ini : “Tak ada alasan kenapa generasi mendatang Buffett harus memimpin masyarakat hanya karena mereka lahir dari rahim yang tepat. Di mana letak keadilannya?” Sama tidak adilnya ketika bayi-bayi yang tidak bisa memilih siapa orang tua mereka, tetapi kemudian ada yang otomatis berdarah biru.

Dalam kesempatan lain, Buffett menegaskan bahwa “I am not an enthusiast of dynastic wealth, particularly when the alternative is six billion people having that much poorer hands in life than we have, having a chance to benefit from the money“. (www.bbc.co.uk, 26 June 2006).

Nilai-nilai yang diyakini Multatuli dan apa yang dilakukan Buffett mungkin saja baik. Rambut boleh sama hitam, tetapi pendapat boleh berbeda. Tidak semua orang tua memiliki paham yang sama tentang “sayang” kepada anak-anak dan cucu-cucu mereka.

Kebayoran Baru, 22 Agustus 2013

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on August 25, 2013 in Selasar

 

Rempong Menanggung Malu

Sebuah pertanyaan sudah cukup membuat lidah kelu tak mampu menjawab dan menggoreskan rasa malu di lubuk hati yang paling dalam. Itulah yang dialami oleh seorang ibu yang menjadi istri mantan orang paling penting di SKK Migas, yang dicokok oleh KPK di halaman rumahnya dan kemudian “digelandang” ke rumah tahanan KPK.

Seperti diberitakan dalam www.tempo.co.id (15 Agustus 2013), seorang wanita bernama Elin Herlina yang diyakini sebagai istri mantan Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas), Rudi Rubiandini (“RR”), mendatangi gedung Komisi Pemberantasan Korupsi, pada tanggal 14 Agustus 2013, sekitar pukul 22.00 BBWI. Tidak ada perilaku yang aneh dari istri mantan Kepala SKK Migas itu, kecuali hanya menundukkan muka, menutup hidung dan mulutnya dengan sapu tangan.

Para “kuli tinta” dan “mat kodak” pun tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk memburu berita dan mengabadikan momen tersebut. Tetapi Elin Herlina bergeming dan tetap diam seribu bahasa. “Skenario” mendadak sontak berubah 180 derajat ketika ada sebuah pertanyaan yang muncul dari kerumunan wartawan, yaitu “Apakah Ibu malu?”.

Bild

Foto : http://www.forum.kompas.com

Sebuah pertanyaan yang tidak pernah dijawab oleh orang yang ditanya.  Tetapi semua orang, terutama wartawan yang bertanya, tentu paham benar bahwa pertanyaan itu telah mendarat sempurna di lubuk hati yang paling dalam. Para wartawan pun mahfum, siapapun bisa menanggung malu untuk tindakan yang tidak pernah dilakukannya. Manusia ternyata juga mewariskan dan menyebarkan virus bernama “malu”.

Meminjam istilah yang dilontarkan oleh Anas Urbaningrum, kasus mantan Kepala SKK Migas masih dalam tahap “lembaran pertama” dari sebuah buku. Cerita masih panjang, banyak halaman yang belum dibuka. Kecuali itu, asas praduga tidak bersalah juga harus kita junjung tinggi. Lagi-lagi meminjam istilah Anas Urbaningrum, saat ini kita masih menunggu apakah masih ada “Sengkuni – Sengkuni” yang lain yang akan dicokok KPK.

Tetapi, sudah pasti dapat diduga, banyak pihak yang akan “cuci tangan” dan tidak ikhlas disangkut pautkan dengan kasus “RR”. Biasa, lempar batu sembunyi tangan. Mana ada maling yang tidak berteriak maling?. Lagi pula, kalau mengaku terlibat, bisa bikin malu. Minimal bikin malu keluarga, keluarga besar, dan almamater. Sungguh beruntung para koruptor dan calon-calon koruptor yang hidup di negara yang bersikukuh tidak akan menerapkan asas pembuktian terbalik.

***

Kejadian itu langsung mengingatkan saya kepada pesan almarhum dan almarhumah orang tua saya. Beliau selalu berpesan, jangan pernah membuat malu keluarga. Bukan hanya anak yang tidak boleh membuat malu keluarga, melainkan juga dan terutama orang tua yang tidak boleh membuat malu keluarga.

Menurut pendapat orang tua saya, setiap orang pada dasarnya akan mempertanggungjawabkan semua perbuatannya. Semua orang hanya akan bertanggung jawab atas apa yang telah dilakukannya. Tetapi tidak demikian dengan malu. Malu bisa “nyerempet”, “nyenggol” dan “nubruk” ke sana ke mari. Orang yang tidak bersalah pun akan menanggung rasa malu.

Berbekal nasehat orang tua, saya juga sering berpesan kepada sahabat-sahabat saya agar selalu ingat bahwa rasa malu tidak hanya ditanggung sendirian oleh pelaku, melainkan juga keluarga batih, keluarga besar, almamater, masyarakat, bangsa dan negara. Apakah saya lebay dan terkesan membesarkan-besarkan?

Saat tinggal di Jerman, saya pernah mengikuti sebuah seminar tentang korupsi, nepotisme, dan kolusi yang diselenggarakan sebuah lembaga nir-laba (sebut saja semacam “Deutschland Corruption Watch”). Muka saya sempat merah padam saat ditunjukkan data peringkat Indonesia sebagai negara yang “membiarkan” KKN merajalela. Saya baru bisa semringah saat nara sumber menunjukkan peringkat Philipina dan Kamboja lebih buruk dibandingkan Indonesia. Bagaimana, masih lebay?

Baik, saya tunjukkan sebuah kasus yang terjadi di bumi pertiwi beberapa tahun yang lalu. Seorang anggota partai politik terlibat selingkuh dan skandal seks dengan seorang penyanyi dangdut. Adegan “bernapas dalam lumpur” antara kedua sejoli yang tidak terikat perkawinan itu sempat diunduh di sebuah situs.

Singkat cerita, politikus itu harus mempertanggungjawabkan sendiri perbuatannya. Sanksi pencopotan jabatan dan pemecatan pun sudah dilakukan. Tetapi bagaimana dengan rasa malu yang harus ditanggung oleh istri dan anak-anak politikus itu? Apakah bisa politikus itu berpesan dan memaksa agar istri dan anak-anaknya tidak boleh malu di hadapan keluarga besar, tetangga, teman-teman arisan, teman-teman sekolah, dan lain sebagainya?

Jika malu itu hanya ditanggung oleh pelaku, tentu tidak relevan dan tidak ada manfaat bagi sebuah lembaga pendidikan untuk meminta maaf kepada publik. Tetapi, itulah yang dilakukan oleh ITB, almamater “RR”, yang secara terbuka dan simpatik telah menyampaikan permintaan maaf. Mewakili civitas akademika ITB, Rektor ITB menyampaikan permohonan maaf sebagai berikut :

“ITB menyampaikan permohonan maaf yang mendalam kepada masyarakat dan bangsa Indonesia atas kejadian yang memprihatinkan dan sangat tidak kita harapkan ini,” kata Akhmaloka di Ruang Rapat Pimpinan Gedung Rektorat ITB, Jumat, 16 Agustus 2013. (www.tempo.co.id, 16 Agustus 2013)

Meskipun sudah meminta maaf, pihak-pihak yang tidak bersalah masih belum bisa membuang rasa malu. Malu selalu bersifat inklusif, tidak pernah eksklusif. Simak pendapat Prof. Soedjana Sapiie berikut ini :

“Guru Besar Emeritus Anggota Majelis Guru Besar (MGB) ITB, Soedjana Sapiie, mengatakan kasus suap yang menimpa Ketua SKK Migas Rudi Rubiandinijelas mencoreng nama ITB. “Ini guru besar yang pertama kali terkena kasus sepanjang sejarah ITB,” ujarnya, Rabu, 14 Agustus 2013. Majelis pun akan membahas keanggotaan Rudi sebagai guru besar.” (www.tempo.co.id, 15 Agustus 2013)

Saya sangat mengapresiasi pernyataan permintaan maaf dari ITB, meskipun ITB tidak memiliki hubungan dan tanggung jawab terhadap kasus yang menjerat “RR”. Hal yang sering terjadi, jika terjadi tindak kejahatan yang dilakukan oleh anggota sebuah kelompok sosial dan lembaga apapun, selalu ada upaya untuk cuci tangan dan menyatakan bahwa tindak kejahatan itu hanya dilakukan oleh “oknum” tertentu.

Mengapa cuci tangan, jaim (jaga image) dan melakukan pencitraan?  Karena semua orang cenderung suka dengan stereotype dan “menggebyah uyah” (menggeneralisir). Hampir semua bangsa mempunyai mindsetlike father like son” dan “kacang ora ninggalke lanjaran” (baca : kacang tidak akan lupa pada kulitnya).  Perilaku seseorang seringkali dikaitkan dengan proses keberhasilan dan sekaligus juga kegagalan  keluarga, kelompok sosial, masyarakat, bangsa dan negara untuk mendidik individu.

Tampak Siring, 17 Agustus 2013.

 
Leave a comment

Posted by on August 24, 2013 in Selasar

 

Apakah “Kaoem Perempoean” Indonesia Sudah Merdeka?

Malam menjelang detik-detik peringatan proklamasi Indonesia, istri saya mengajukan sebuah pertanyaan yang sangat “provokatif” kepada saya, seperti tertera pada judul tulisan ini : “apakah perempuan Indonesia sudah merdeka?.

Sejatinya, isu gender, apalagi dikaitkan dengan embel-embel “merdeka” dan “diskriminasi”, terlalu sensitif dan riskan dibahas oleh pasangan suami istri. Karena itu, saya memilih diam tidak menjawab dan tidak meladeni “provokasi” istri saya untuk berdiskusi tentang tema yang saya sangat tidak paham.

Paling tidak, ada 3 alasan mengapa saya memilih diam. Pertama, saat itu saya sedang makan bebek goreng. Bagi saya, makan juga urusan pengejawantahan “kemerdekaan selera”, terutama kemerdekaan untuk merasakan rasa makanan yang “seenak malam pertama”. Saya tidak ingin nafsu makan dan pengalaman malam pertama saya terganggu oleh isu gender.

Kedua, pertanyaan itu memang tidak ditujukan kepada saya sebagai pribadi dan kepala keluarga. Pertanyaan itu ditujukan kepada semua laki-laki Indonesia, bahkan juga negara. Pertanyaan yang diajukan oleh istri saya sejatinya merupakan upaya mempertanyakan dan menggugat praktek-praktek ketidaksetaraan antara laki-laki dan perempuan di depan hukum dan power abuse (maaf, bahasa Inggris) yang biasa ditunjukkan oleh laki-laki.

Ketiga, tampaknya istri saya memang tidak menghendaki jawaban dari saya. Justru dia yang “nyerocos” bercerita tentang diskusi interaktif di sebuah radio swasta nasional di Jakarta. Intisari dan sebagian dari diskusi interaktif itu saya ceritakan kembali dalam tulisan ini. Tentu saja tidak sama persis, sudah saya tambahkan “bumbu-bumbu” dan interpretasi saya. Tetapi saya jamin, konten dan makna tidak berubah.

 

Perlakuan Terhadap Perempuan di tempat kerja.

Seorang ibu (sebut saja Larasati), yang kebetulan adalah single parent dengan dua anak, berkisah tentang bagaimana kebijakan sebuah perusahaan terhadap para karyawati. Ibu Laras adalah seorang arsitek yang kebetulan adalah seorang difabel.

Tuntutan pekerjaannya menghendaki Ibu Laras untuk kompeten di belakang meja sekaligus rajin turun ke lapangan. Ibu Laras sama sekali tidak kikuk untuk menjalankan kedua peran itu. Bahkan, karyawan laki-laki yang di bawah kepemimpinannya memberikan rasa hormat dan dukungan kepada Ibu Laras.

Hubungan kerja yang normal itu ternyata tidak dibarengi dengan kebijakan perusahaan yang memihak kepada perempuan. Dalam hal kebijakan kesehatan misalnya – baik rawat inap maupun rawat jalan – terjadi perbedaan antara fasilitas kesehatan yang diterima oleh karyawan laki-laki dan karyawan perempuan.

Tidak peduli golongan, pangkat dan jabatan, semua laki-laki mendapat fasilitas kesehatan yang berlaku untuk karyawan, istri dan anak-anaknya. Sedangkan untuk karyawati, fasilitas kesehatan hanya berlaku untuk karyawati yang bersangkutan. Alasan klasik untuk mengesahkan perlakuan yang tidak setara ini adalah laki-laki bertindak sebagai kepala keluarga. Istri, kalaupun bekerja, dianggap “hanya” bantu-bantu untuk tambahan pendapatan keluarga. Padahal, seperti telah saya sebutkan, Ibu Laras adalah single parent dengan 2 anak dan ia masih “dibebani” tanggung jawab memelihara ibu kandungnya.

Kalapun kemudian kedua anak ibu Laras dan ibu kandungnya berhak mendapat fasilitas kesehatan dari perusahaan, ada proses dan persyaratan yang harus dipenuhi oleh Ibu Laras. Bukan hanya itu, untuk mendapatkan fasilitas kesehatan seperti itu, kadang-kadang harus “babak belur” dan “ceriwis” menghadapi “kebawelan” orang-orang HRD.

Apakah ini bukan diskriminasi? Apakah ini adil? Maaf, saya sudah pensiun dari perusahaan dan tidak mengurusi lagi HRD. Saya tidak kompeten untuk menjawab apakah ini diskriminasi dan ketidakadilan. Tetapi jika anda bertanya apakah praktek seperti ini sering terjadi di perusahaan lain, saya akan mengangguk-angguk tanda mengiyakan.

Gaji

Di tempat kerja, teori dan praktek ibarat langit dan bumi. Undang-undang ketenagakerjaan di Indonesia dan Equal Employment Opportunity yang berlaku di negara-negara Barat mengamanatkan tidak boleh ada diskriminasi antara pekerja laki-laki dan perempuan, termasuk dalam penetapan gaji.

Teori yang diyakini oleh para pakar manajemen imbal jasa (compensation management) juga tidak menyinggung tentang diskriminasi. Sistem gaji yang ideal adalah atraktif, adil (internal dan eksternal), memotivasi, dan berfungsi memelihara. Dalam praktek, sistem gaji yang diterapkan perusahaan berpegang pada pedoman “sesuai dengan kemampuan keuangan perusahaan dan kemauan perusahaan”. Nah lo!

Atraktif berarti system gaji yang berlaku di perusahaan mampu menarik angkatan kerja yang kompeten yang berada di luar perusahaan untuk bergabung dengan perusahaan. Adil internal berarti setiap jabatan yang memiliki bobot jabatan yang sama di perusahaan harus dibayar sama. Sedangkan adil eksternal berarti jabatan-jabatan yang memilik bobot jabatan sama untuk perusahaan-perusahaan yang berada di industri yang sama diberi gaji yang sama.

Sistem gaji yang memotivasi berarti mampu memberi semangat kepada karyawan untuk memberikan kontribusi dan kinerja terbaik bagi perusahaan. Sistem gaji yang memelihara berarti mampu mempertahankan karyawan terbaik untuk tetap bertahan di perusahaan.

Praktek yang sering terjadi, pekerja perempuan yang menduduki jabatan yang sama dengan laki-laki, belum tentu mendapat gaji dan fasilitas yang sama pekerja laki-laki. Lho, iki piye…. ini kan tidak adil? Apakah ini bukan diskriminasi? Yes. Yoi. Ya begitulah!.

Pendapatan Tidak Kena Pajak (PTKP).

Undang-undang perpajakan memperlakukan perempuan yang bekerja berstatus lajang. Tidak peduli apakah perempuan itu telah menikah, telah punya momongan atau belum, setuju atau tidak setuju, selalu dan selamanya dianggap lajang. Lagi-lagi alasan klasik yang digunakan untuk “menjustifikasi” kebijakan ini adalah laki-laki dianggap sebagai kepala keluarga. Kalaupun kemudian dalam kehidupan yang nyata perempuan bertindak sebagai kepala keluarga, harus ada proses dan persyaratan lagi yang harus dipenuhi agar status PTKP perempuan tidak dianggap lajang.

Konsekuensi status lajang adalah untuk jumlah penghasilan yang sama, perempuan akan membawa pulang penghasilan bersih yang berbeda dan lebih sedikit jumlahnya dibandingkan dengan kaum laki-laki.

Bagi sebagian perempuan – atau mungkin semua perempuan – kebijakan PTKP ini dianggap tidak adil dan sangat diskriminatif. Bagaimana dengan pendapat saya? Saya tidak bisa memberikan pendapat tentang suatu hal yang saya tidak ahli. Karena ini berhubungan dengan pajak, kalau memang tidak adil, “apa kata dunia?”.

***

Kecuali menceritakan berbagai “diskriminasi” sebagaimana tersebut di atas, istri saya juga mempertanyakan berbagai bentuk “penjajahan” yang dialami oleh “kaoem perempoean” Indonesia. Istri saya bertanya, mengapa “kaoem perempoean” Indonesia dibiarkan ke luar negeri tanpa muhrim? Bukankah untuk ke luar rumah seorang muslimah harus izin atau didampingi oleh suami dan atau muhrimnya. Sekembali para TKW dari luar negeri, mereka sudah menjadi mangsa dan “bancaan”.

Lagi-lagi, meskipun bertanya, istri saya tidak membutuhkan jawaban saya. Ia mahfum bahwa para TKW adalah pahlawan devisa. Uang yang dikirim para TKW dapat membuat perekenomian desa menggeliat. Sandang pangan keluarga tercukupi, para suami tidak dipusingkan lagi kebutuhan dana untuk membeli rokok. Sementara para istri bekerja di luar negeri dan menghadapi berbagai risiko – mulai dari sexual harassment, kekerasan dalam rumah tangga, perkosaan, beberapa di antaranya meregang nyawa – di dalam negeri sebagian suami yang berbakat menjadi hidung belang berselingkuh dengan perempuan lain.

Dari sisi makro ekonomi, negara juga berkepentingan terhadap “pelanggengan” TKW. Minimal, 3 indikator ekonomi makro ikut membaik dengan keberadaan  TKW di luar negeri. Pertama, tingkat pengangguran akan menurun. Kedua, income per capita anak-anak bangsa akan terdongkrak naik. Ketiga, gross national product (GNP) juga akan terseret naik. Kondisi yang “dilematis” bagi para pemangku kepentingan untuk melarang TKW.

Setelah capek “nyerocos”, istri saya diam seribu bahasa. Kesempatan emas ini saya manfaatkan untuk balik bertanya kepada istri saya, “apakah kamu merasa belum merdeka?”. Tidak ada jawaban dari istri saya, hanya “cipika cipiki” (cium pipi kanan, cium pipi kiri).

Sembari mendekatkan mulutnya ke telinga saya, istri saya membisikkan kata-kata bersayap yang merupakan penggalan dari lirik lagu “Hawaiian Wedding Song” yang biasa dilantunkan oleh mendiang Elvis Presley “tell me that you will leave me never”. Dari lubuk hati saya yang paling dalam, saya berani menyimpulkan bahwa permintaan istri saya ini bukan sebagai wujud kekhawatiran terhadap saya akan berpoligami.

Dirgahayu Indonesia, dirgahayu kaum perempuan Indonesia!

Tampak Siring, 16 Agustus 2013

 
Leave a comment

Posted by on August 17, 2013 in Selasar

 

Udzur

Kata udzur seringkali dihubungkan dengan usia yang sudah tua dan kematian. Ada pemahaman bahwa, udzur “hanya” dialami oleh orang-orang yang sudah tua. Tidak ada patokan baku orang yang sudah tua seperti apa yang bisa disebut telah udzur. Tetapi ada keyakinan dan “kesepakatan diam-diam”, bahwa kematian akan lebih sering “menyapa” orang-orang yang sudah tergolong udzur.  Karena sudah udzur, orang-orang yang sudah udzur sudah “dihimbau” lebih “proaktif” mempersiapkan diri menghadap Tuhan Yang Maha Agung.

Mindset bahwa udzur adalah karakteristik yang melekat pada orang-orang yang sudah tua dan udzur “dekat” dengan kematian bisa sangat menyesatkan. Kematian adalah kepastian yang akan dihadapi oleh semua manusia. Tetapi tidak ada yang dapat memastikan kapan seseorang akan mati.

Seseorang yang menderita penyakit sangat berat, sulit disembuhkan, dan diprediksi akan meninggal dalam hitungan bulan bisa juga tidak mati-mati. Ada juga seseorang yang segar bugar, berperawakan atletis, rajin berolahraga, tidak menderita (atau tidak pernah mengeluh) penyakit apapun, tiba-tiba diberitakan telah meninggal.

Entah sudah berapa banyak pesepakbola yang meregang nyawa di lapangan hijau. Padahal, kita selalu beasumsi bahwa olahragawan adalah manusia yang sehat jasmani dan secara rutin mendapatkan pemeriksaan kesehatan untuk memastikan kesiapan mereka bertanding. Sepakbola juga tidak berisiko tinggi dibandingkan olahraga balap motor seperti Moto GP. Tetapi, jumlah pesepakbola yang menghembuskan nafas terakhir saat sedang bertanding tidak lebih sedikit dibandingkan pebalap motor yang tewas di sirkuit.

Banyak orang tua yang tidak merestui anak-anak mereka untuk menjadi tentara, pilot pesawat terbang, dan berbagai profesi yang dianggap berisiko tinggi dan dekat dengat kematian. Tetapi banyak tentara yang meskipun sudah berkali-kali perang dan “hampir mati”, ternyata bisa pensiun sebagai tentara dalam keadaan hidup. Meskipun kecelakaan pesawat terbang bukan hal yang langka, pilot yang tidak pernah mengalami kecelakaan pada saat mengemudikan pesawat juga banyak.

Mati adalah rahasia Allah SWT. Jangankan memastikan, menebak pun manusia tidak akan pernah tepat dan tidak akan pernah sanggup. Karena itu, beranggapan bahwa udzur dan kematian adalah dekat dengan orang-orang yang berusia tua, merupakan pernyataan dan keyakinan yang sangat keliru dan menjerumuskan.

Kematian bisa menyapa siapa saja, kapan saja, dan di mana saja. Kematian tidak pernah diskriminatif terhadap gender, orang tua vs orang muda, orang sehat vs orang sakit, orang kaya vs orang miskin, orang berpendidikan tinggi vs orang putus sekolah, orang kulit putih vs orang kulit hitam, dan lain sebagainya. Atas kehendak Allah SWT, maut dapat menjemput siapa saja, kapan saja, dan di mana saja.

Karena itu, sejatinya, semua manusia dalam keadaan udzur dan setiap saat dapat saja dipanggil menghadap Tuhan Yang Maha Pencipta. Konsekuensi logisnya adalah persiapan untuk menghadap Tuhan Yang Maha Agung bukan hanya berlaku untuk dan “monopoli” orang-orang yang sudah berusia tua.

***

Butet Kertarajasa bilang bahwa, hidup di dunia ini hanya mampir ngguyu (tertawa). Orang Jawa bahkan bilang bahwa hidup di dunia ini hanya sekedar mampir ngombe (minum). Minum adalah kegiatan yang sangat singkat dibandingkan dengan makan. Sedangkan dalam istilah perjalanan, hidup di dunia ini hanya sekedar transit. Dunia hanya tempat transit. Karena itu, dunia bukan merupakan tujuan akhir.

Dalam sebuah perjalanan, waktu yang dibutuhkan untuk transit relatif sangat singkat bila dibandingkan dengan perjalanan menuju ke tempat tujuan. Di tempat transit, para penumpang lazimnya hanya menunggu sambil “setor” ke toilet. Tidak ada aktivitas utama di tempat transit, paling banter mampir ngombe (mampir minum) di café dan mampir ngguyu (mampir tertawa).

Pada saat transit, semua penumpang sadar bahwa ia masih harus melanjutkan perjalanan ke tempat tujuan. Meskipun selama transit bersantai, semua penumpang tetap terjaga dan waspada menunggu pengumuman untuk melanjutkan perjalanan. Tidak satupun penumpang yang mengharapkan “pacar ketinggalan kereta” terjadi pada dirinya.

Kecuali berkeinginan kuat sampai dan selamat di tempat tujuan, para wisatawan juga sudah memiliki rencana aksi yang akan dilakukan di tempat tujuan. Tidak ada satupun wisatawan yang berotak waras yang pergi ke tempat tujuan dan tidak tahu apa yang harus dikakukan di tempat tujuan. Jadi, setiap wisatawan setidak-tidaknya selalu menyusun 2 rencana, yaitu rencana perjalanan ke tempat tujuan dan rencana aksi di tempat tujuan.

***

Pemahaman bahwa dunia hanya merupakan tempat transit seyogyanya dapat menyadarkan manusia bahwa dirinya masih belum sampai ke tempat tujuan. Kondisi yang ideal memang tidak selalu terjadi. Justru manusia seringkali menganggap dunia bukan tempat transit dan berkeyakinan bahwa dirinya telah sampai di tempat tujuan, dan tidak ada lagi perjalanan lagi.

Orang-orang Barat meyakini bahwa dunia bukan tempat transit dan tidak ada lagi kehidupan setelah kehidupan di dunia. Sebaliknya, sejak kecil orang-orang Timur diajarkan dan meyakini bahwa dunia adalah tempat transit dan masih ada perjalanan lagi untuk menuju ke tempat tujuan yang sesungguhnya. Tetapi meskipun meyakini dua filosofi kehidupan yang berbeda, dalam praktek orang-orang Barat dan Timur sama saja.

eIMG_1426Foto : Dok. Pribadi

Secara umum, tidak banyak orang yang mempersiapkan diri secara seksama untuk melanjutkan perjalanan menghadap Tuhan Yang Maha Pencipta. Anak-anak, remaja, anak-anak muda, dan orang-orang yang baru saja menikah dan membangun keluarga, hampir pasti tidak memikirkan bahwa perjalanan panjang untuk menghadap Tuhan Yang Maha Pencipta sudah harus dipersiapkan sejak dini.

Ironisnya, orang-orang tua yang sudah udzur pun tidak jarang yang tidak mempersiapkan dirinya menghadap Tuhan Yang Maha Agung. Bahkan, mempersiapkan diri untuk mempertanggungjawabkan semua sikap, perilaku, amal dan perbuatan selama di tempat transit pun tidak terpikirkan. Padahal, perjalanan jauh menghadap Tuhan Yang Maha Agung bukan perjalanan dengan pesawat ulang alik.

Tidak ada sekolah khusus yang mengajarkan bagaimana seyogyanya manusia mempersiapkan diri menghadap Tuhan Yang Maha Adil. Manusia lebih banyak belajar ilmu bagaimana untuk mampir ngombe dan mampir ngguyu di tempat transit. Paling banter, personal financial planner juga hanya membantu mengelola merencanakan keuangan pribadi pada masa tua sehingga mencapai derajat absolute financial freedom.

Padahal, “disertasi” (baca : pertanggungjawaban) manusia yang akan dipertahankan di hadapan Allah SWT yang Maha Adil akan diuji, dapat diterima atau ditolak. Tidak ada perbaikan ujian, “disertasi” tentang kehidupan di dunia hanya dilakukan satu kali.

Keadaan yang sangat ironis. Di satu sisi, manusia sangat sadar membuat perencanaan perjalanan dan rencana aktivitas  di tempat-tempat wisata yang dikunjungi. Di sisi lain, manusia tidak memiliki perencanaan mengadakan perjalanan jauh menghadap Tuhan Yang Maha Pencipta dan tidak pula membuat rencana pertanggungjawaban kepada Tuhan Yang Maha Kuasa.

Meskipun belum pernah ada survei yang membuktikan, saya menduga jumlah orang-orang yang secara sadar membuat perencanaan perjalanan dan pertanggungjawaban kepada Tuhan Yang Maha Adil lebih sedikit dibandingkan dengan orang-orang yang secara sadar membuat perencanaan perjalanan dan aktivitas di tempat-tempat wisata yang ia kunjungi.

Untuk merayakan Idul Fitri, entah berapa jumlah orang yang mudik ke kampung halamannya yang sudah mempersiapkan diri membuat rencana perjalanan dan pertanggungjawaban kepada Yang Maha Adil. Tentu orang akan kaget jika di tengah perjalanan mudik menuju ke kampung halaman, tiba-tiba berbelok ke kampung akhirat. Sampai dengan tulisan ini dibuat dan diplubikasikan, selama mudik Idul Fitri 2013 M, sudah 384 pemudik yang tewas di jalan raya. Inna Lillahi wa inna ilaihi raji’un.

Tampak Siring, 10 Agustus 2013

 
Leave a comment

Posted by on August 11, 2013 in Selasar

 

Tuhan di mana?

Bagi seorang sahabat saya – tidak perlu saya sebutkan namanya –  saat-saat menjelang hari raya Idul Fitri adalah saat yang paling menyebalkan. Bukan karena ia bingung bagaimana harus mudik (mulih disik), atau memikirkan pekerjaan rumah tangga yang ditinggal oleh pembantu yang mudik, melainkan bingung menghadapi orang-orang munafik.

Meskipun ada himbauan, aturan yang melarang, dan sanksi bagi orang-orang yang menerima bingkisan lebaran, semua himbauan dan aturan tersebut dianggap enteng dan tidak perlu diataati.

Menjelang, hari raya Idul Fitri, banyak organisasi berlomba-lomba menegaskan komitmen tentang kejujuran dan kebersihan organisasi dan seluruh anggota organisasi. Banyak “pimpinan” yang menghimbau agar para pejabat negara dan daerah tidak menerima parsel lebaran atau pemberian dalam bentuk apapun. Sri Sultan Hamengku Buwono X pun mengingatkan agar para pimpinan dan staf yang mendapat kendaraan dinas tidak menggunakan kendaraan dinas untuk mulih disik.

Apakah masih perlu semua himbauan dan memperbarui komitmen organisasi terhadap kejujuran? Mungkin masih perlu. Di negeri yang konon dihuni oleh anak-anak bangsa yang religius ini semangat untuk serakah dan menjarah tidak pernah hilang, meskipun berlapar-lapar puasa.

Adalah almarhum Adam Malik yang pernah menjadi Menteri Luar Negeri, Ketua MPR dan Wakil Presiden yang pernah bilang bahwa “semua bisa diatur”. Ternyata memang tidak ada yang mustahil dalam panggung sandiwara kehidupan. Di Indonesia, sesulit apapun semua bisa diatur. Kalau tidak bisa lewan pintu depan, masih ada 1001 jalan lewat pintu belakang.

Seorang sahabat terlihat letih dan lesu setelah mengantar sendiri parsel kepada salah satu relasinya. Ia membutuhkan waktu 7 jam perjalanan darat pergi dan pulang. Karena dia tidak mengenal baik kota yang dikunjungi, waktu yang dibutuhkan untuk menyerahkan parsel semakin bertambah. Situasi bertambah runyam karena ia harus mengantarkan parsel ke rumah relasi. Padahal, kalau di antar ke kantor urusan beres lebih cepat.

BildFoto diunduh dari http://www.teropongbisnis.com

Tetapi untuk menghormati relasinya, teman saya setuju untuk mengantarkan parsel ke rumah. Alasan relasi teman saya adalah tidak enak kalau diterima di kantor. Alasan yang lain adalah supaya tidak ada yang melihat. Tidak ada yang melihat?

***

Saya teringat kisah kejujuran seorang penggembala kambing di zaman Khalifah Umar bin Khatab. Dalam suatu kisah diceritakan bahwa Khalifah Umar pernah mengadakan semacam “fit and proper test” (baca : uji kepatutan dan kelayakan) untuk mengetahui kejujuran seorang penggembala kambing.

Kepada penggembala kambing, Khalifah Umar bertanya siapa pemilik kambing-kambing yang digembalakannya. Tentu saja penggembala kambing menjawab bahwa kambing-kambing itu adalah milik dari majikannya. Penggembala kambing merasa hanya sebagai pesuruh, atau semacam “managing director”.

Khalifah Umar pun mencoba menawarkan “win-win solution” kepada penggembala kambing. Khalifah Umar mengutarakan maksudnya kepada penggembala kambing untuk membeli seekor kambing. Khalifah Umar juga berpesan kepada penggembala kambing bahwa ia boleh mengambil uang hasil penjualan kambing dan tidak perlu lapor kepada majikannya. Singkat cerita, penggembala kambing menjawab sambil bertanya “Tuhan di mana”.

Dalam kisah lain diceritakan tentang seorang kyai yang sangat sayang kepada salah satu santrinya. Karena sikap dan perilaku yang “diskriminatif”, kyai mendapat protes dari para santrinya. Dengan tetap mengepankan welah asih dan santun, para santri bertanya mengapa dan apa alasan kyai menyayangi seorang santri lebih dari santri-santri yang lain.

Kyai menjawab pertanyaan para santrinya tidak dengan jawaban langsung. Kepada para santri yang bertanya dan santri kesayangannya, kyai memberikan sebuah pisau dan uang untuk membeli seekor ayam. Kepada semua santri, kyai memberikan tugas yang sama : “sembelihlah ayam di tempat yang tidak satupun yang melihat proses penyembelihan”.

Setelah proses penyembelihan selesai, semua santri menghadap kepada kyai. Tetapi ada satu santri – dan santri itu adalah kesayangan kyai – yang tidak menyembelih ayam dan membawa ayam yang masih hidup ke hadapan kyai. Tak pelak, santri kesayangan kyai itu pun mendapat olok-olok. Sebagian besar santri tertawa terpingkal-pingkal, terbahak-bahak, dan termehek-mehek melihat “ketololan” santri kesayangan kyai.

Kepada masing-masing santri, kyai bertanya bagaimana dan di mana mereka masing-masing menyembelih. Ada yang bilang menyembelih di kamar mandi, di atas pohon, di bawah kolong jembatan, bahkan di dalam hutan. Mereka semua menjamin dan memastikan tidak ada yang melihat penyembelihan ayam.

Setelah sebagian santri menjelaskan proses penyembelihan ayam, tibalah giliran “presentasi” santri kesayangan kyai. Sembari terbata-bata minta maaf kepada kyai, santri kesayangan kyai menjelaskan bahwa ia tidak menemukan satu pun tempat di mana tidak ada yang melihat dirinya menyembelih ayam. Tuhan Maha Melihat dan Maha Mengetahui. Karena itu, santri kesayangan kyai gagal dan menyerahkan ayam yang masih hidup kepada kyai.

Tidak banyak komentar dari kyai. Ia memuji akhlak dari santri kesayangannya dan “menginstruksikan” agar santri-santri lain dapat belajar dari akhlak santri kesayangannya.

***

Siapapun kita, sejatinya kita adalah penggembala kambing. Dalam kisah penggembala kambing tersebut, secara fisik ia menggembalakan hewan kambing. Sejatinya, tugas menggembalakan kambing adalah AMANAH.

Menurut pendapat subyektif saya, berbagai KKN (korupsi, kolusi, dan nepotisme) dapat terjadi karena sikap dan perilaku manusia yang kurang ajar kepada Tuhan. Manusia memperlakukan Tuhan buta dan tidak melihat. Kalaupun memperlakukan Tuhan dapat melihat, manusia masih tidak berhenti kurang ajar. Manusia menganggap ada saat-saat di mana Tuhan tertidur pulas dan tidak melihat sikap dan perilaku manusia.

Setiap organisasi lazim memiliki nilai-nilai yang menjadi pedoman sikap, perilaku, dan tata cara hubungan antarmanusia, baik internal maupun eksternal. Untuk memastikan kepatuhan sikap dan perilaku setiap anggota organisasi, maka diterbitkan “Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Nilai-Nilai Organisasi”. Ada organisasi yang menggunakan istilah code of conduct, sementara organisasi lain menyebutnya sebagai business ethic.

Tidak hanya sampai di situ. Di beberapa organisasi, terutama untuk jabatan yang relatif tinggi dan strategis, sebelum memangku jabatan, si pejabat dilantik dengan mengucapkan sumpah jabatan di bawah kitab suci. Sumpah jabatan pun dilakukan di hadapan banyak orang.

Untuk “mengunci” dan memastikan kepatuhan sikap dan perilaku agar sesuai dengan nilai-nilai organisasi, masih diadakan lagi satu dokumen yang dianggap “suci”, yaitu pakta integritas. Setiap anggota organisasi diwajibkan menandatangani pakta integritas. Semua cara dilakukan untuk menjamin bahwa setiap anggota organisasi adalah insan yang jujur dan bersih.

Nilai-nilai organisasi sudah ada. Pelatihan tentang kode etik dan buku-buku tentang kode etik sudah “ludes” dibagikan kepada seluruh anggota organisasi. Sumpah jabatan di bawah kitab suci juga sudah dilakukan. Pakta integritas juga sudah ditandatangani. Publikasi kepada pihak eksternal tentang komitmen organisasi yang menjunjung tinggi nilai-nilai kejujuran dan pencitraan organisasi yang bersih pun sudah dimuat di media cetak dan media elektronik. Bagaimana hasilnya? Wallahualam bissawab!

Jika saya boleh usul, seyoganya setiap orang yang akan menjadi pemimpin di bumi pertiwi ini diuji sebagai penggembala kambing / sapi / kerbau selama kurang lebih 1 tahun saja. Menggembalakan hewan ternak adalah pekerjaan yang tidak mudah dan tidak nyaman. Karakter, sikap dan perilaku manusia akan muncul pada saat dihadapkan pada ketidaknyamanan dalam waktu relatif lama.

Kemudian, kalau para calon pemimpin rakyat itu sudah ikhlas, sabar dan bersyukur mampu melayani hewan ternak, mereka baru boleh naik ke “kasta” yang lebih tinggi : melayani rakyat.

Manusia dapat merumuskan nilai-nilai yang sempurna. Manusia juga dapat membuat sistem yang super canggih. Tetapi nilai-nilai dan sistem apapun tidak akan mampu mengendalikan karakter, sikap dan perilaku manusia. Semua menjadi rusak karena sejatinya manusia hanya berpura-pura percaya kepada Tuhan. Semua menjadi berantakan karena manusia menganggap Tuhan tidak melihat.

Tampak Siring, 4 Agustus 2013

 
1 Comment

Posted by on August 5, 2013 in Selasar

 

“Berburu Ta’jil”

Kecuali untuk meraih  keberkahan dan mereguk kenikmatan dari hidangan takjil, “sasaran stratejik” dari buka puasa bersama adalah membangun kebersamaan dan persaudaraan. Jika sasaran stratejik buka puasa bersama adalah untuk membangun kebersamaan dan persaudaraan, maka tidak ada metode dan wadah yang lebih baik ketimbang berbuka puasa bersama di masjid.

Tidak ada kebersamaan tanpa kesetaraan. Juga tidak ada persaudaraan tanpa kesetaraan. Hanya di masjid ada kesetaraan di antara sesama manusia. Tentu saja selalu ada perbedaan status sosial ekonomi di antara manusia. Tetapi perbedaan itu tidak lebih sebagai perbedaan amanah yang diemban setiap manusia. Di masjid, perbedaan itu nisbi. Tetapi di luar masjid, perbedaan status sosial ekonomi di antara manusia dianggap sebagai yang hakiki dan tujuan utama keberadaan manusia di muka bumi.

Subyek dari semua ideologi bangsa dan negara adalah manusia. Jika disederhanakan, semua bangsa menginginkan Liberté (liberty), égalité (equality), fraternité   (fraternity). Setali tiga uang, bangsa dan negara Jerman juga menghendaki kebebasan, persamaan, dan persaudaraan (dalam bahasa Jerman Freiheit, Gleichheit, dan  Brüderlichkeit).

Hukum yang dibuat manusia memberikan jaminan equal before law (persamaan di muka hukum), meskipun seringkali sebatas „omdo“ (omong doang). Hanya Allah SWT yang sejatinya mampu menjamin kebebasan, persamaan, dan persaudaraan. Salah satu cara yang „top markotop“ untuk membangun kebersamaan dan persaudaraan adalah melalui buka bersama di masjid.

***

Bulan Ramadhan 1434 H kali ini saya mengkhususkan berbuka puasa bersama di sebuah masjid di bilangan  Kalibata. Buka bersama di masjid bukan hal yang baru bagi saya. Saya sempat “berburu” ta’jil di beberapa masjid, mulai dari Masjid “kolosal” Istiqlal, Masjid Agung Al-Azhar, masjid jami’, sampai masjid kecil yang terletak di perkampungan yang relatif padat di Jakarta.

Saya sengaja memilih “berburu” ta’jil di perkampungan penduduk dan bukan kompleks perumahan. Penasaran mengetahui ketangguhan ekonomi wong cilik untuk berbagi kepada sesama. Kalau untuk kebersamaan dan persaudaraan mereka jangan ditanya lagi.

Saya juga mengamati proses pengadaan ta’jil. Wong cilik ternyata cerdas menerapkan pembagian kerja secara seksual. Mereka juga cerdik melalukan value chain analysis yang digagas oleh Michael E. Porter dan tahu bagaimana menerapkannya. Para “Srikandi” membeli bahan pangan, memasak, dan tetap berada di sektor privat (baca : di dalam rumah). Sementara bapak-bapak dan para pemuda berada di sektor publik dan bertugas sebagai “dispatcher” serta menyiapkan hidangan di masjid. Nah, karena yang bertugas menyajikan makanan bapak-bapak, maka porsi makanan pun tidak standar. Ukuran potongan kue pun sangat beragam, ada yang berukuran “jumbo” dan ada yang “imut-imut”.

Tetapi, pada prinsipnya, berbuka puasa di masjid “kolosal” maupun masjid “mini” sama saja. Semua makanan adalah sumbangan dari kaum muslim dan muslimat yang memiliki kesadaran berbagi kepada sesama umat Islam. Keikhlasan para donatur lebih penting daripada yang lain.

Sumbangan yang diterima masjid beraneka ragam. Sebuah masjid di kawasan gedongan di Jakarta Selatan ada yang menerima infaq Ramadhan dari seorang pengusaha muda (off the record) yang lagi “naik daun” senilai Rp. 40 juta. Ada juga beberapa pengusaha dan mantan pejabat di masa orde baru yang menyumbang, rata-rata di kisaran Rp. 2,5 juta. Mesjid kecil biasanya menerima infaq dan sedekah yang lebih kecil, tetapi hal itu sama sekali tidak mengurangi keberkahan dari ta’jil yang disajikan.

Sebuah masjid kecil di Kalibata setiap hari mampu menyediakan takjil berbuka puasa untuk sekitar 200 orang (jumlah yang cukup   dibandingkan dengan Masjid Agung Al-Azhar yang menyediakan 700 ta’jil per hari selama Ramadhan 1434 H). Menu makanan bervariasi dan selalu berganti setiap hari. Untuk porsi jangan ditanya lagi, dijamin “nendang”. Justru para penikmat ta’jil yang harus biso rumongso, tidak serakah  dan tidak berebutan.

Dari pengamatan saya selama berbuka puasa di masjid, tidak ada yang serakah dan rebutan mengambil makanan. Padahal, takjil berbuka puasa di masjid juga bisa kita sebut sebagai “BLSM”, yaitu bantuan langsung semringah. Beda dengan BLSM yang dibagi-bagikan kepada rakyat miskin yang seringkali ribut sehingga lebih tepat disebut “bantuan langsung semrawut” dan “bantuan langsung semaput”. Semua orang yang berbuka puasa di masjid “duduk manis” menunggu saat-saat beduk dipukul pertanda adzan dikumandangkan.

Rasulullah Muhammad SAW memang telah memberikan keteladanan berbuka puasa yang sehat untuk tubuh, yaitu minum air putih dan makan kurma 3 biji. Memang, saat berbuka puasa bersama di masjid, hampir tidak ada satupun orang yang mengikuti keteladanan tersebut. Tetapi mereka masih ingat “formula” makan dari Rasulullah Muhammad SAW, yaitu mengisi perut dengan 1/3 makanan, 1/3 air, dan “membiarkan” 1/3 kosong untuk “jatah” udara.

Kebersamaan dan persaudaraan yang terjalin di masjid “kolosal” maupun masjid “mini” sama saja. Perbedaan lebih pada metode penyajian. Di Masjid Istiqlal dan Masjid Agung Al-Azhar misalnya, ta’jil disajikan dan dibagikan dalam bentuk “meal box”. Sementara di masjid kecil biasanya disajikan dalam nampan bundar yang diisi hidangan utama untuk 4 orang. Perbedaan itu semata-mata hanya untuk kepraktisan dan kecepatan pelayanan saja. Di Istiqlal, umat Islam yang hadir untuk berbuka puasa bersama lebih banyak dan datang dari 8 penjuru mata angin. Tentu saja agak repot kalau harus disajikan secara prasmanan seperti yang biasa ditemukan di mesjid-mesjid kecil.

BUKBER EDITFoto: Dok. Pribadi

Jangan dikira orang-orang yang berbuka puasa di masjid hanya orang-orang miskin. Di masjid kecil pun yang hadir sangat beragam, mulai dari penjual roti, sopir bajaj, sopir taksi, “espass” (eksekutif pas-pasan), pensiunan (seperti saya), dan CEO yang mengendarai kendaraan mewah produksi Jerman. Terbanyak hadir dari commuter dan terutama penduduk di sekitar masjid.  Bahkan, selebriti pun ikutan hadir. Oops…… yang saya maksud selebriti adalah penyanyi dangdut keliling kampung dengan modal loudspeaker, microphone, dan suara sumbang.

Semua ta’jil dihidangkan di atas karpet mesjid dan dibagi perkelompok yang menyerupai “qubic table”. Setiap kelompok diperuntukkkan untuk 4 orang. Menu buka sangat variatif dan setiap hari selalu berganti menu. Untuk minuman saja ada 3 jenis, yaitu air mineral, air teh manis hangat, dan susu!. “Snack” juga ada 3, yang sudah pasti adalah goreng-gorengan dan kue basah. Tetapi yang paling spektakuler, paling tidak menurut pendapat saya, adalah hidangan utama yang disajikan dalam nampan bundar.

Bagaimana makannya? Setiap orang tidak disediakan piring, bahkan sendok juga sering kali tidak ada. Jadi, setiap orang harus menggunakan tangannya untuk mengambil makanan. Kampungan? Jangan ngawur bro! Semasa hidupnya, Haji Agus Salim yang pernah menjabat Menteri Luar Negeri RI juga makan dengan tangan. Bahkan dalam kesempatan jamuan resmi kenegaraan.

Yang menarik adalah siapapun yang hadir tidak bisa pilih-pilih tempat. Jika anda memiliki “darah biru” dan merasa bangga dengan kebangsawanan anda yang diperoleh tanpa perjuangan apapun, saya sarankan anda tidak usah berbuka puasa bersama di masjid. Masjid bukan tempat untuk membangun “sekat-sekat sosial” dan “tembok sosial”. Di masjid setiap orang adalah bukan siapa-siapa.

Di masjid tidak ada tempat khusus untuk VIP. Karena itu, seseorang yang kaya raya yang mengenakan baju yang dibuat oleh perancang busana papan atas di Jakarta bisa duduk berdampingan dengan seorang sopir bajaj, atau duduk berhadapan dengan  “selebriti” dan pensiunan.

Orang-orang yang berasal dari status sosial ekonomi yang berbeda-beda tersebut mau tidak mau membaur untuk menikmati ta’jil. Saya belum pernah menemukan orang yang belagu, misalnya minta disediakan piring dan sendok makan. Justru yang terjadi adalah mereka seolah-olah “lupa” dengan status sosial ekonomi masing-masing.

Saya juga belum pernah menemukan orang yang mengeluh dengan penyakitnya dan minta ta’jil yang dihidangkan diganti dengan makanan lain yang tidak berbahaya untuk kesehatannya. Justru yang terjadi adalah seolah-olah penyakit setiap orang sudah “sembuh” dan mereka “enjoy” menikmati makanan apapun, termasuk gorengan yang berwarna gelap atau kehitam-hitaman (mungkin dimasak dengan minyak goreng yang sudah hitam. Nah lo!).

***

Bagi saya, masjid adalah tempat yang paling ideal untuk membentuk kesadaran manusia tentang arti kesetaraan dan kebersamaan di antara umat manusia. Tidak ada tempat yang bisa membentuk kesadaran manusia tentang arti kesetaraan dan kebersamaan, kecuali masjid. Di masjid, seseorang selalu diingatkan bahwa di hadapan Allah SWT tidak ada perbedaan apapun di antara sesama manusia, kecuali dalam hal ketakwaan.

Masjid melatih seseorang untuk selalu ingat dan “mencopot” semua status sosial ekonomi dan simbol status yang selama ini dipamerkan di panggung sandiwara kehidupan  sehari-hari. Setiap orang yang merasa dirinya tidak lebih bertakwa dibandingkan saudara-saudaranya, akan lebih mudah untuk menghayati dan mengamalkan kesetaraan dan kebersamaan.

Bandingkan dengan, misalnya, buka bersama yang diadakan oleh perusahaan atau organisasi apapun, terutama yang diadakan bukan di masjid. Sampai tahap niat, buka bersama yang diadakan di luar masjid adalah mulia. Tetapi begitu sampai tahap implementasi, agak sulit bagi kita untuk menemukan kesetaraan dan kebersamaan. Mengapa?

Lazimnya, dalam buka puasa bersama yang diadakan oleh perusahaan atau organsiasi  ada “round table” khusus untuk para tamu undangan VIP.  Buka puasa yang diselenggarakan oleh perusahaan atau organisasi biasanya juga dihadiri oleh para relasi, bukan hanya untuk karyawan atau anggota organisasi saja. Untuk “menghormati” tamu undangan, maka disediakan “round table” VIP. Yang duduk di meja terhormat tersebut biasanya para “sosialita” dan hampir tidak pernah “dicampur” dengan wong cilik. Tetapi untuk buka bersama yang bersifat formal dan kenegaraan, pengaturan tempat duduk yang memperhatikan kedudukan sosial setiap tamu undangan memang masih relevan dan diperlukan.

BUKBER 002 (www.merdeka.com)Foto diunduh dari http://www.merdeka.com

Singkat kata, dalam buka puasa yang diselenggarakan oleh perusahaan dan organisasi, jarak sosial (dan mungkin juga kesenjangan sosial) masih sangat kentara. Masih ada “sekat-sekat” sosial yang dipertahankan. Masih ada “tembok sosial” yang berdiri kokoh dan angkuh. Orang-orang yang hadir menginginkan merasakan keberkahan, kebersamaan, dan kenikmatan, tetapi pada saat yang sama setiap orang masih bertahan pada status sosial ekonomi masing-masing.

Buka bersama seperti itu telah turun “kasta”. Mungkin masih ada keberkahan dan kenikmatan dari ta’jil yang dihidangkan. Tetapi kesetaraan dan kebersamaan yang menjadi “ruh” buka bersama tidak dirasakan oleh semua orang, terutama wong cilik yang dibiarkan duduk semeja dengan wong cilik juga. Jarak psikologis dan jarak sosial antarmanusia masih tetap dibiarkan.

Boleh-boleh saja menyebut acara seperti itu sebagai buka bersama. Sejatinya, yang terjadi adalah makan bersama-sama pada saat jam berbuka. Tentu saja ini bukan tentang “benar” atau “salah”, dan “baik” atau “buruk”. Ini hanya soal perasaan saja, dan pengamatan saya tentu saja sangat subyektif dan tidak dapat diberlakukan untuk semua orang dan konteks yang berbeda.

Tetapi bagi saya pribadi, dalam konteks kebersamaan dan persaudaraan, buka bersama di masjid relatif lebih “afdhol” ketimbang buka bersama yang diselenggarakan di luar masjid. Kalaupun ada yang “mengalahkan”  kebersamaan dan persaudaraan berbuka bersama di masjid, maka sudah pasti adalah berbuka bersama di rumah bersama keluarga. Tetapi, konteks sosial berbuka puasa di rumah bersama keluarga dan buka bersama di masjid bersama saudara-saudara seiman di masjid sangat berbeda.

Ferdinand Toennies, sosiolog berkebangsaan Jerman, bilang bahwa manusia dipersatukan  oleh tiga hal, yaitu darah (gemeinschaft of blood), daerah (gemeinschaft of locality), dan pikiran (gemeinschaft of mind). Berbuka puasa di rumah bersama keluarga lebih mencerminkan kebersamaan dalam skala yang lebih sempit dan berdasarkan darah (baca : keturunan). Sedangkan berbuka puasa bersama di masjid lebih menggambarkan kebersamaan dalam skala yang lebih luas dan berdasarkan persamaan dalam hal keyakinan dan agama. Jadi, kalau mau dibandingkan, perbandingan yang terjadi memang bukan apel to apel.

Yang lebih enak di hati saya tentu belum tentu enak di hati anda. Karena itu, untuk urusan berbuka bersama, kita kembalikan saja kepada “rule of thumb” : bagiku berbuka-ku dan bagimu berbuka-mu.

Tidak ada “standard operating procedures” harus berbuka di mana. Bagi para commuters, seringkali tidak ada pilihan lain kecuali berbuka di perjalanan, bisa di dalam bus (kendaraan umum) maupun kendaraan pribadi. Tetapi meskipun sama-sama berbuka bersama di dalam bus atau angkutan publik, tidak ada kebersamaan dan persaudaraan. 

Para commuters yang menggunakan kereta api listrik  (“KRL”) mungkin lebih beruntung. Pada umumnya commuters yang disebut “roker” (rombongan kereta) telah saling mengenal. Mereka selalu menggunakan kereta yang sama, naik di gerbong yang sama, dan pada waktu yang sama. Jika “roker” ini berbuka puasa bersama di KRL, mereka masih sangat mungkin merasakan kebersamaan dan persaudaraan.

Kalibata, 1 Agustus 2013

 
Leave a comment

Posted by on August 3, 2013 in Selasar