RSS

“Berburu Ta’jil”

03 Aug

Kecuali untuk meraih  keberkahan dan mereguk kenikmatan dari hidangan takjil, “sasaran stratejik” dari buka puasa bersama adalah membangun kebersamaan dan persaudaraan. Jika sasaran stratejik buka puasa bersama adalah untuk membangun kebersamaan dan persaudaraan, maka tidak ada metode dan wadah yang lebih baik ketimbang berbuka puasa bersama di masjid.

Tidak ada kebersamaan tanpa kesetaraan. Juga tidak ada persaudaraan tanpa kesetaraan. Hanya di masjid ada kesetaraan di antara sesama manusia. Tentu saja selalu ada perbedaan status sosial ekonomi di antara manusia. Tetapi perbedaan itu tidak lebih sebagai perbedaan amanah yang diemban setiap manusia. Di masjid, perbedaan itu nisbi. Tetapi di luar masjid, perbedaan status sosial ekonomi di antara manusia dianggap sebagai yang hakiki dan tujuan utama keberadaan manusia di muka bumi.

Subyek dari semua ideologi bangsa dan negara adalah manusia. Jika disederhanakan, semua bangsa menginginkan Liberté (liberty), égalité (equality), fraternité   (fraternity). Setali tiga uang, bangsa dan negara Jerman juga menghendaki kebebasan, persamaan, dan persaudaraan (dalam bahasa Jerman Freiheit, Gleichheit, dan  Brüderlichkeit).

Hukum yang dibuat manusia memberikan jaminan equal before law (persamaan di muka hukum), meskipun seringkali sebatas „omdo“ (omong doang). Hanya Allah SWT yang sejatinya mampu menjamin kebebasan, persamaan, dan persaudaraan. Salah satu cara yang „top markotop“ untuk membangun kebersamaan dan persaudaraan adalah melalui buka bersama di masjid.

***

Bulan Ramadhan 1434 H kali ini saya mengkhususkan berbuka puasa bersama di sebuah masjid di bilangan  Kalibata. Buka bersama di masjid bukan hal yang baru bagi saya. Saya sempat “berburu” ta’jil di beberapa masjid, mulai dari Masjid “kolosal” Istiqlal, Masjid Agung Al-Azhar, masjid jami’, sampai masjid kecil yang terletak di perkampungan yang relatif padat di Jakarta.

Saya sengaja memilih “berburu” ta’jil di perkampungan penduduk dan bukan kompleks perumahan. Penasaran mengetahui ketangguhan ekonomi wong cilik untuk berbagi kepada sesama. Kalau untuk kebersamaan dan persaudaraan mereka jangan ditanya lagi.

Saya juga mengamati proses pengadaan ta’jil. Wong cilik ternyata cerdas menerapkan pembagian kerja secara seksual. Mereka juga cerdik melalukan value chain analysis yang digagas oleh Michael E. Porter dan tahu bagaimana menerapkannya. Para “Srikandi” membeli bahan pangan, memasak, dan tetap berada di sektor privat (baca : di dalam rumah). Sementara bapak-bapak dan para pemuda berada di sektor publik dan bertugas sebagai “dispatcher” serta menyiapkan hidangan di masjid. Nah, karena yang bertugas menyajikan makanan bapak-bapak, maka porsi makanan pun tidak standar. Ukuran potongan kue pun sangat beragam, ada yang berukuran “jumbo” dan ada yang “imut-imut”.

Tetapi, pada prinsipnya, berbuka puasa di masjid “kolosal” maupun masjid “mini” sama saja. Semua makanan adalah sumbangan dari kaum muslim dan muslimat yang memiliki kesadaran berbagi kepada sesama umat Islam. Keikhlasan para donatur lebih penting daripada yang lain.

Sumbangan yang diterima masjid beraneka ragam. Sebuah masjid di kawasan gedongan di Jakarta Selatan ada yang menerima infaq Ramadhan dari seorang pengusaha muda (off the record) yang lagi “naik daun” senilai Rp. 40 juta. Ada juga beberapa pengusaha dan mantan pejabat di masa orde baru yang menyumbang, rata-rata di kisaran Rp. 2,5 juta. Mesjid kecil biasanya menerima infaq dan sedekah yang lebih kecil, tetapi hal itu sama sekali tidak mengurangi keberkahan dari ta’jil yang disajikan.

Sebuah masjid kecil di Kalibata setiap hari mampu menyediakan takjil berbuka puasa untuk sekitar 200 orang (jumlah yang cukup   dibandingkan dengan Masjid Agung Al-Azhar yang menyediakan 700 ta’jil per hari selama Ramadhan 1434 H). Menu makanan bervariasi dan selalu berganti setiap hari. Untuk porsi jangan ditanya lagi, dijamin “nendang”. Justru para penikmat ta’jil yang harus biso rumongso, tidak serakah  dan tidak berebutan.

Dari pengamatan saya selama berbuka puasa di masjid, tidak ada yang serakah dan rebutan mengambil makanan. Padahal, takjil berbuka puasa di masjid juga bisa kita sebut sebagai “BLSM”, yaitu bantuan langsung semringah. Beda dengan BLSM yang dibagi-bagikan kepada rakyat miskin yang seringkali ribut sehingga lebih tepat disebut “bantuan langsung semrawut” dan “bantuan langsung semaput”. Semua orang yang berbuka puasa di masjid “duduk manis” menunggu saat-saat beduk dipukul pertanda adzan dikumandangkan.

Rasulullah Muhammad SAW memang telah memberikan keteladanan berbuka puasa yang sehat untuk tubuh, yaitu minum air putih dan makan kurma 3 biji. Memang, saat berbuka puasa bersama di masjid, hampir tidak ada satupun orang yang mengikuti keteladanan tersebut. Tetapi mereka masih ingat “formula” makan dari Rasulullah Muhammad SAW, yaitu mengisi perut dengan 1/3 makanan, 1/3 air, dan “membiarkan” 1/3 kosong untuk “jatah” udara.

Kebersamaan dan persaudaraan yang terjalin di masjid “kolosal” maupun masjid “mini” sama saja. Perbedaan lebih pada metode penyajian. Di Masjid Istiqlal dan Masjid Agung Al-Azhar misalnya, ta’jil disajikan dan dibagikan dalam bentuk “meal box”. Sementara di masjid kecil biasanya disajikan dalam nampan bundar yang diisi hidangan utama untuk 4 orang. Perbedaan itu semata-mata hanya untuk kepraktisan dan kecepatan pelayanan saja. Di Istiqlal, umat Islam yang hadir untuk berbuka puasa bersama lebih banyak dan datang dari 8 penjuru mata angin. Tentu saja agak repot kalau harus disajikan secara prasmanan seperti yang biasa ditemukan di mesjid-mesjid kecil.

BUKBER EDITFoto: Dok. Pribadi

Jangan dikira orang-orang yang berbuka puasa di masjid hanya orang-orang miskin. Di masjid kecil pun yang hadir sangat beragam, mulai dari penjual roti, sopir bajaj, sopir taksi, “espass” (eksekutif pas-pasan), pensiunan (seperti saya), dan CEO yang mengendarai kendaraan mewah produksi Jerman. Terbanyak hadir dari commuter dan terutama penduduk di sekitar masjid.  Bahkan, selebriti pun ikutan hadir. Oops…… yang saya maksud selebriti adalah penyanyi dangdut keliling kampung dengan modal loudspeaker, microphone, dan suara sumbang.

Semua ta’jil dihidangkan di atas karpet mesjid dan dibagi perkelompok yang menyerupai “qubic table”. Setiap kelompok diperuntukkkan untuk 4 orang. Menu buka sangat variatif dan setiap hari selalu berganti menu. Untuk minuman saja ada 3 jenis, yaitu air mineral, air teh manis hangat, dan susu!. “Snack” juga ada 3, yang sudah pasti adalah goreng-gorengan dan kue basah. Tetapi yang paling spektakuler, paling tidak menurut pendapat saya, adalah hidangan utama yang disajikan dalam nampan bundar.

Bagaimana makannya? Setiap orang tidak disediakan piring, bahkan sendok juga sering kali tidak ada. Jadi, setiap orang harus menggunakan tangannya untuk mengambil makanan. Kampungan? Jangan ngawur bro! Semasa hidupnya, Haji Agus Salim yang pernah menjabat Menteri Luar Negeri RI juga makan dengan tangan. Bahkan dalam kesempatan jamuan resmi kenegaraan.

Yang menarik adalah siapapun yang hadir tidak bisa pilih-pilih tempat. Jika anda memiliki “darah biru” dan merasa bangga dengan kebangsawanan anda yang diperoleh tanpa perjuangan apapun, saya sarankan anda tidak usah berbuka puasa bersama di masjid. Masjid bukan tempat untuk membangun “sekat-sekat sosial” dan “tembok sosial”. Di masjid setiap orang adalah bukan siapa-siapa.

Di masjid tidak ada tempat khusus untuk VIP. Karena itu, seseorang yang kaya raya yang mengenakan baju yang dibuat oleh perancang busana papan atas di Jakarta bisa duduk berdampingan dengan seorang sopir bajaj, atau duduk berhadapan dengan  “selebriti” dan pensiunan.

Orang-orang yang berasal dari status sosial ekonomi yang berbeda-beda tersebut mau tidak mau membaur untuk menikmati ta’jil. Saya belum pernah menemukan orang yang belagu, misalnya minta disediakan piring dan sendok makan. Justru yang terjadi adalah mereka seolah-olah “lupa” dengan status sosial ekonomi masing-masing.

Saya juga belum pernah menemukan orang yang mengeluh dengan penyakitnya dan minta ta’jil yang dihidangkan diganti dengan makanan lain yang tidak berbahaya untuk kesehatannya. Justru yang terjadi adalah seolah-olah penyakit setiap orang sudah “sembuh” dan mereka “enjoy” menikmati makanan apapun, termasuk gorengan yang berwarna gelap atau kehitam-hitaman (mungkin dimasak dengan minyak goreng yang sudah hitam. Nah lo!).

***

Bagi saya, masjid adalah tempat yang paling ideal untuk membentuk kesadaran manusia tentang arti kesetaraan dan kebersamaan di antara umat manusia. Tidak ada tempat yang bisa membentuk kesadaran manusia tentang arti kesetaraan dan kebersamaan, kecuali masjid. Di masjid, seseorang selalu diingatkan bahwa di hadapan Allah SWT tidak ada perbedaan apapun di antara sesama manusia, kecuali dalam hal ketakwaan.

Masjid melatih seseorang untuk selalu ingat dan “mencopot” semua status sosial ekonomi dan simbol status yang selama ini dipamerkan di panggung sandiwara kehidupan  sehari-hari. Setiap orang yang merasa dirinya tidak lebih bertakwa dibandingkan saudara-saudaranya, akan lebih mudah untuk menghayati dan mengamalkan kesetaraan dan kebersamaan.

Bandingkan dengan, misalnya, buka bersama yang diadakan oleh perusahaan atau organisasi apapun, terutama yang diadakan bukan di masjid. Sampai tahap niat, buka bersama yang diadakan di luar masjid adalah mulia. Tetapi begitu sampai tahap implementasi, agak sulit bagi kita untuk menemukan kesetaraan dan kebersamaan. Mengapa?

Lazimnya, dalam buka puasa bersama yang diadakan oleh perusahaan atau organsiasi  ada “round table” khusus untuk para tamu undangan VIP.  Buka puasa yang diselenggarakan oleh perusahaan atau organisasi biasanya juga dihadiri oleh para relasi, bukan hanya untuk karyawan atau anggota organisasi saja. Untuk “menghormati” tamu undangan, maka disediakan “round table” VIP. Yang duduk di meja terhormat tersebut biasanya para “sosialita” dan hampir tidak pernah “dicampur” dengan wong cilik. Tetapi untuk buka bersama yang bersifat formal dan kenegaraan, pengaturan tempat duduk yang memperhatikan kedudukan sosial setiap tamu undangan memang masih relevan dan diperlukan.

BUKBER 002 (www.merdeka.com)Foto diunduh dari http://www.merdeka.com

Singkat kata, dalam buka puasa yang diselenggarakan oleh perusahaan dan organisasi, jarak sosial (dan mungkin juga kesenjangan sosial) masih sangat kentara. Masih ada “sekat-sekat” sosial yang dipertahankan. Masih ada “tembok sosial” yang berdiri kokoh dan angkuh. Orang-orang yang hadir menginginkan merasakan keberkahan, kebersamaan, dan kenikmatan, tetapi pada saat yang sama setiap orang masih bertahan pada status sosial ekonomi masing-masing.

Buka bersama seperti itu telah turun “kasta”. Mungkin masih ada keberkahan dan kenikmatan dari ta’jil yang dihidangkan. Tetapi kesetaraan dan kebersamaan yang menjadi “ruh” buka bersama tidak dirasakan oleh semua orang, terutama wong cilik yang dibiarkan duduk semeja dengan wong cilik juga. Jarak psikologis dan jarak sosial antarmanusia masih tetap dibiarkan.

Boleh-boleh saja menyebut acara seperti itu sebagai buka bersama. Sejatinya, yang terjadi adalah makan bersama-sama pada saat jam berbuka. Tentu saja ini bukan tentang “benar” atau “salah”, dan “baik” atau “buruk”. Ini hanya soal perasaan saja, dan pengamatan saya tentu saja sangat subyektif dan tidak dapat diberlakukan untuk semua orang dan konteks yang berbeda.

Tetapi bagi saya pribadi, dalam konteks kebersamaan dan persaudaraan, buka bersama di masjid relatif lebih “afdhol” ketimbang buka bersama yang diselenggarakan di luar masjid. Kalaupun ada yang “mengalahkan”  kebersamaan dan persaudaraan berbuka bersama di masjid, maka sudah pasti adalah berbuka bersama di rumah bersama keluarga. Tetapi, konteks sosial berbuka puasa di rumah bersama keluarga dan buka bersama di masjid bersama saudara-saudara seiman di masjid sangat berbeda.

Ferdinand Toennies, sosiolog berkebangsaan Jerman, bilang bahwa manusia dipersatukan  oleh tiga hal, yaitu darah (gemeinschaft of blood), daerah (gemeinschaft of locality), dan pikiran (gemeinschaft of mind). Berbuka puasa di rumah bersama keluarga lebih mencerminkan kebersamaan dalam skala yang lebih sempit dan berdasarkan darah (baca : keturunan). Sedangkan berbuka puasa bersama di masjid lebih menggambarkan kebersamaan dalam skala yang lebih luas dan berdasarkan persamaan dalam hal keyakinan dan agama. Jadi, kalau mau dibandingkan, perbandingan yang terjadi memang bukan apel to apel.

Yang lebih enak di hati saya tentu belum tentu enak di hati anda. Karena itu, untuk urusan berbuka bersama, kita kembalikan saja kepada “rule of thumb” : bagiku berbuka-ku dan bagimu berbuka-mu.

Tidak ada “standard operating procedures” harus berbuka di mana. Bagi para commuters, seringkali tidak ada pilihan lain kecuali berbuka di perjalanan, bisa di dalam bus (kendaraan umum) maupun kendaraan pribadi. Tetapi meskipun sama-sama berbuka bersama di dalam bus atau angkutan publik, tidak ada kebersamaan dan persaudaraan. 

Para commuters yang menggunakan kereta api listrik  (“KRL”) mungkin lebih beruntung. Pada umumnya commuters yang disebut “roker” (rombongan kereta) telah saling mengenal. Mereka selalu menggunakan kereta yang sama, naik di gerbong yang sama, dan pada waktu yang sama. Jika “roker” ini berbuka puasa bersama di KRL, mereka masih sangat mungkin merasakan kebersamaan dan persaudaraan.

Kalibata, 1 Agustus 2013

 
Leave a comment

Posted by on August 3, 2013 in Selasar

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: