RSS

Tuhan di mana?

05 Aug

Bagi seorang sahabat saya – tidak perlu saya sebutkan namanya –  saat-saat menjelang hari raya Idul Fitri adalah saat yang paling menyebalkan. Bukan karena ia bingung bagaimana harus mudik (mulih disik), atau memikirkan pekerjaan rumah tangga yang ditinggal oleh pembantu yang mudik, melainkan bingung menghadapi orang-orang munafik.

Meskipun ada himbauan, aturan yang melarang, dan sanksi bagi orang-orang yang menerima bingkisan lebaran, semua himbauan dan aturan tersebut dianggap enteng dan tidak perlu diataati.

Menjelang, hari raya Idul Fitri, banyak organisasi berlomba-lomba menegaskan komitmen tentang kejujuran dan kebersihan organisasi dan seluruh anggota organisasi. Banyak “pimpinan” yang menghimbau agar para pejabat negara dan daerah tidak menerima parsel lebaran atau pemberian dalam bentuk apapun. Sri Sultan Hamengku Buwono X pun mengingatkan agar para pimpinan dan staf yang mendapat kendaraan dinas tidak menggunakan kendaraan dinas untuk mulih disik.

Apakah masih perlu semua himbauan dan memperbarui komitmen organisasi terhadap kejujuran? Mungkin masih perlu. Di negeri yang konon dihuni oleh anak-anak bangsa yang religius ini semangat untuk serakah dan menjarah tidak pernah hilang, meskipun berlapar-lapar puasa.

Adalah almarhum Adam Malik yang pernah menjadi Menteri Luar Negeri, Ketua MPR dan Wakil Presiden yang pernah bilang bahwa “semua bisa diatur”. Ternyata memang tidak ada yang mustahil dalam panggung sandiwara kehidupan. Di Indonesia, sesulit apapun semua bisa diatur. Kalau tidak bisa lewan pintu depan, masih ada 1001 jalan lewat pintu belakang.

Seorang sahabat terlihat letih dan lesu setelah mengantar sendiri parsel kepada salah satu relasinya. Ia membutuhkan waktu 7 jam perjalanan darat pergi dan pulang. Karena dia tidak mengenal baik kota yang dikunjungi, waktu yang dibutuhkan untuk menyerahkan parsel semakin bertambah. Situasi bertambah runyam karena ia harus mengantarkan parsel ke rumah relasi. Padahal, kalau di antar ke kantor urusan beres lebih cepat.

BildFoto diunduh dari http://www.teropongbisnis.com

Tetapi untuk menghormati relasinya, teman saya setuju untuk mengantarkan parsel ke rumah. Alasan relasi teman saya adalah tidak enak kalau diterima di kantor. Alasan yang lain adalah supaya tidak ada yang melihat. Tidak ada yang melihat?

***

Saya teringat kisah kejujuran seorang penggembala kambing di zaman Khalifah Umar bin Khatab. Dalam suatu kisah diceritakan bahwa Khalifah Umar pernah mengadakan semacam “fit and proper test” (baca : uji kepatutan dan kelayakan) untuk mengetahui kejujuran seorang penggembala kambing.

Kepada penggembala kambing, Khalifah Umar bertanya siapa pemilik kambing-kambing yang digembalakannya. Tentu saja penggembala kambing menjawab bahwa kambing-kambing itu adalah milik dari majikannya. Penggembala kambing merasa hanya sebagai pesuruh, atau semacam “managing director”.

Khalifah Umar pun mencoba menawarkan “win-win solution” kepada penggembala kambing. Khalifah Umar mengutarakan maksudnya kepada penggembala kambing untuk membeli seekor kambing. Khalifah Umar juga berpesan kepada penggembala kambing bahwa ia boleh mengambil uang hasil penjualan kambing dan tidak perlu lapor kepada majikannya. Singkat cerita, penggembala kambing menjawab sambil bertanya “Tuhan di mana”.

Dalam kisah lain diceritakan tentang seorang kyai yang sangat sayang kepada salah satu santrinya. Karena sikap dan perilaku yang “diskriminatif”, kyai mendapat protes dari para santrinya. Dengan tetap mengepankan welah asih dan santun, para santri bertanya mengapa dan apa alasan kyai menyayangi seorang santri lebih dari santri-santri yang lain.

Kyai menjawab pertanyaan para santrinya tidak dengan jawaban langsung. Kepada para santri yang bertanya dan santri kesayangannya, kyai memberikan sebuah pisau dan uang untuk membeli seekor ayam. Kepada semua santri, kyai memberikan tugas yang sama : “sembelihlah ayam di tempat yang tidak satupun yang melihat proses penyembelihan”.

Setelah proses penyembelihan selesai, semua santri menghadap kepada kyai. Tetapi ada satu santri – dan santri itu adalah kesayangan kyai – yang tidak menyembelih ayam dan membawa ayam yang masih hidup ke hadapan kyai. Tak pelak, santri kesayangan kyai itu pun mendapat olok-olok. Sebagian besar santri tertawa terpingkal-pingkal, terbahak-bahak, dan termehek-mehek melihat “ketololan” santri kesayangan kyai.

Kepada masing-masing santri, kyai bertanya bagaimana dan di mana mereka masing-masing menyembelih. Ada yang bilang menyembelih di kamar mandi, di atas pohon, di bawah kolong jembatan, bahkan di dalam hutan. Mereka semua menjamin dan memastikan tidak ada yang melihat penyembelihan ayam.

Setelah sebagian santri menjelaskan proses penyembelihan ayam, tibalah giliran “presentasi” santri kesayangan kyai. Sembari terbata-bata minta maaf kepada kyai, santri kesayangan kyai menjelaskan bahwa ia tidak menemukan satu pun tempat di mana tidak ada yang melihat dirinya menyembelih ayam. Tuhan Maha Melihat dan Maha Mengetahui. Karena itu, santri kesayangan kyai gagal dan menyerahkan ayam yang masih hidup kepada kyai.

Tidak banyak komentar dari kyai. Ia memuji akhlak dari santri kesayangannya dan “menginstruksikan” agar santri-santri lain dapat belajar dari akhlak santri kesayangannya.

***

Siapapun kita, sejatinya kita adalah penggembala kambing. Dalam kisah penggembala kambing tersebut, secara fisik ia menggembalakan hewan kambing. Sejatinya, tugas menggembalakan kambing adalah AMANAH.

Menurut pendapat subyektif saya, berbagai KKN (korupsi, kolusi, dan nepotisme) dapat terjadi karena sikap dan perilaku manusia yang kurang ajar kepada Tuhan. Manusia memperlakukan Tuhan buta dan tidak melihat. Kalaupun memperlakukan Tuhan dapat melihat, manusia masih tidak berhenti kurang ajar. Manusia menganggap ada saat-saat di mana Tuhan tertidur pulas dan tidak melihat sikap dan perilaku manusia.

Setiap organisasi lazim memiliki nilai-nilai yang menjadi pedoman sikap, perilaku, dan tata cara hubungan antarmanusia, baik internal maupun eksternal. Untuk memastikan kepatuhan sikap dan perilaku setiap anggota organisasi, maka diterbitkan “Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Nilai-Nilai Organisasi”. Ada organisasi yang menggunakan istilah code of conduct, sementara organisasi lain menyebutnya sebagai business ethic.

Tidak hanya sampai di situ. Di beberapa organisasi, terutama untuk jabatan yang relatif tinggi dan strategis, sebelum memangku jabatan, si pejabat dilantik dengan mengucapkan sumpah jabatan di bawah kitab suci. Sumpah jabatan pun dilakukan di hadapan banyak orang.

Untuk “mengunci” dan memastikan kepatuhan sikap dan perilaku agar sesuai dengan nilai-nilai organisasi, masih diadakan lagi satu dokumen yang dianggap “suci”, yaitu pakta integritas. Setiap anggota organisasi diwajibkan menandatangani pakta integritas. Semua cara dilakukan untuk menjamin bahwa setiap anggota organisasi adalah insan yang jujur dan bersih.

Nilai-nilai organisasi sudah ada. Pelatihan tentang kode etik dan buku-buku tentang kode etik sudah “ludes” dibagikan kepada seluruh anggota organisasi. Sumpah jabatan di bawah kitab suci juga sudah dilakukan. Pakta integritas juga sudah ditandatangani. Publikasi kepada pihak eksternal tentang komitmen organisasi yang menjunjung tinggi nilai-nilai kejujuran dan pencitraan organisasi yang bersih pun sudah dimuat di media cetak dan media elektronik. Bagaimana hasilnya? Wallahualam bissawab!

Jika saya boleh usul, seyoganya setiap orang yang akan menjadi pemimpin di bumi pertiwi ini diuji sebagai penggembala kambing / sapi / kerbau selama kurang lebih 1 tahun saja. Menggembalakan hewan ternak adalah pekerjaan yang tidak mudah dan tidak nyaman. Karakter, sikap dan perilaku manusia akan muncul pada saat dihadapkan pada ketidaknyamanan dalam waktu relatif lama.

Kemudian, kalau para calon pemimpin rakyat itu sudah ikhlas, sabar dan bersyukur mampu melayani hewan ternak, mereka baru boleh naik ke “kasta” yang lebih tinggi : melayani rakyat.

Manusia dapat merumuskan nilai-nilai yang sempurna. Manusia juga dapat membuat sistem yang super canggih. Tetapi nilai-nilai dan sistem apapun tidak akan mampu mengendalikan karakter, sikap dan perilaku manusia. Semua menjadi rusak karena sejatinya manusia hanya berpura-pura percaya kepada Tuhan. Semua menjadi berantakan karena manusia menganggap Tuhan tidak melihat.

Tampak Siring, 4 Agustus 2013

 
1 Comment

Posted by on August 5, 2013 in Selasar

 

One response to “Tuhan di mana?

  1. anto

    September 17, 2013 at 4:34 pm

    Excellent, suatu teladan yang sangat mulya

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: