RSS

Udzur

11 Aug

Kata udzur seringkali dihubungkan dengan usia yang sudah tua dan kematian. Ada pemahaman bahwa, udzur “hanya” dialami oleh orang-orang yang sudah tua. Tidak ada patokan baku orang yang sudah tua seperti apa yang bisa disebut telah udzur. Tetapi ada keyakinan dan “kesepakatan diam-diam”, bahwa kematian akan lebih sering “menyapa” orang-orang yang sudah tergolong udzur.  Karena sudah udzur, orang-orang yang sudah udzur sudah “dihimbau” lebih “proaktif” mempersiapkan diri menghadap Tuhan Yang Maha Agung.

Mindset bahwa udzur adalah karakteristik yang melekat pada orang-orang yang sudah tua dan udzur “dekat” dengan kematian bisa sangat menyesatkan. Kematian adalah kepastian yang akan dihadapi oleh semua manusia. Tetapi tidak ada yang dapat memastikan kapan seseorang akan mati.

Seseorang yang menderita penyakit sangat berat, sulit disembuhkan, dan diprediksi akan meninggal dalam hitungan bulan bisa juga tidak mati-mati. Ada juga seseorang yang segar bugar, berperawakan atletis, rajin berolahraga, tidak menderita (atau tidak pernah mengeluh) penyakit apapun, tiba-tiba diberitakan telah meninggal.

Entah sudah berapa banyak pesepakbola yang meregang nyawa di lapangan hijau. Padahal, kita selalu beasumsi bahwa olahragawan adalah manusia yang sehat jasmani dan secara rutin mendapatkan pemeriksaan kesehatan untuk memastikan kesiapan mereka bertanding. Sepakbola juga tidak berisiko tinggi dibandingkan olahraga balap motor seperti Moto GP. Tetapi, jumlah pesepakbola yang menghembuskan nafas terakhir saat sedang bertanding tidak lebih sedikit dibandingkan pebalap motor yang tewas di sirkuit.

Banyak orang tua yang tidak merestui anak-anak mereka untuk menjadi tentara, pilot pesawat terbang, dan berbagai profesi yang dianggap berisiko tinggi dan dekat dengat kematian. Tetapi banyak tentara yang meskipun sudah berkali-kali perang dan “hampir mati”, ternyata bisa pensiun sebagai tentara dalam keadaan hidup. Meskipun kecelakaan pesawat terbang bukan hal yang langka, pilot yang tidak pernah mengalami kecelakaan pada saat mengemudikan pesawat juga banyak.

Mati adalah rahasia Allah SWT. Jangankan memastikan, menebak pun manusia tidak akan pernah tepat dan tidak akan pernah sanggup. Karena itu, beranggapan bahwa udzur dan kematian adalah dekat dengan orang-orang yang berusia tua, merupakan pernyataan dan keyakinan yang sangat keliru dan menjerumuskan.

Kematian bisa menyapa siapa saja, kapan saja, dan di mana saja. Kematian tidak pernah diskriminatif terhadap gender, orang tua vs orang muda, orang sehat vs orang sakit, orang kaya vs orang miskin, orang berpendidikan tinggi vs orang putus sekolah, orang kulit putih vs orang kulit hitam, dan lain sebagainya. Atas kehendak Allah SWT, maut dapat menjemput siapa saja, kapan saja, dan di mana saja.

Karena itu, sejatinya, semua manusia dalam keadaan udzur dan setiap saat dapat saja dipanggil menghadap Tuhan Yang Maha Pencipta. Konsekuensi logisnya adalah persiapan untuk menghadap Tuhan Yang Maha Agung bukan hanya berlaku untuk dan “monopoli” orang-orang yang sudah berusia tua.

***

Butet Kertarajasa bilang bahwa, hidup di dunia ini hanya mampir ngguyu (tertawa). Orang Jawa bahkan bilang bahwa hidup di dunia ini hanya sekedar mampir ngombe (minum). Minum adalah kegiatan yang sangat singkat dibandingkan dengan makan. Sedangkan dalam istilah perjalanan, hidup di dunia ini hanya sekedar transit. Dunia hanya tempat transit. Karena itu, dunia bukan merupakan tujuan akhir.

Dalam sebuah perjalanan, waktu yang dibutuhkan untuk transit relatif sangat singkat bila dibandingkan dengan perjalanan menuju ke tempat tujuan. Di tempat transit, para penumpang lazimnya hanya menunggu sambil “setor” ke toilet. Tidak ada aktivitas utama di tempat transit, paling banter mampir ngombe (mampir minum) di café dan mampir ngguyu (mampir tertawa).

Pada saat transit, semua penumpang sadar bahwa ia masih harus melanjutkan perjalanan ke tempat tujuan. Meskipun selama transit bersantai, semua penumpang tetap terjaga dan waspada menunggu pengumuman untuk melanjutkan perjalanan. Tidak satupun penumpang yang mengharapkan “pacar ketinggalan kereta” terjadi pada dirinya.

Kecuali berkeinginan kuat sampai dan selamat di tempat tujuan, para wisatawan juga sudah memiliki rencana aksi yang akan dilakukan di tempat tujuan. Tidak ada satupun wisatawan yang berotak waras yang pergi ke tempat tujuan dan tidak tahu apa yang harus dikakukan di tempat tujuan. Jadi, setiap wisatawan setidak-tidaknya selalu menyusun 2 rencana, yaitu rencana perjalanan ke tempat tujuan dan rencana aksi di tempat tujuan.

***

Pemahaman bahwa dunia hanya merupakan tempat transit seyogyanya dapat menyadarkan manusia bahwa dirinya masih belum sampai ke tempat tujuan. Kondisi yang ideal memang tidak selalu terjadi. Justru manusia seringkali menganggap dunia bukan tempat transit dan berkeyakinan bahwa dirinya telah sampai di tempat tujuan, dan tidak ada lagi perjalanan lagi.

Orang-orang Barat meyakini bahwa dunia bukan tempat transit dan tidak ada lagi kehidupan setelah kehidupan di dunia. Sebaliknya, sejak kecil orang-orang Timur diajarkan dan meyakini bahwa dunia adalah tempat transit dan masih ada perjalanan lagi untuk menuju ke tempat tujuan yang sesungguhnya. Tetapi meskipun meyakini dua filosofi kehidupan yang berbeda, dalam praktek orang-orang Barat dan Timur sama saja.

eIMG_1426Foto : Dok. Pribadi

Secara umum, tidak banyak orang yang mempersiapkan diri secara seksama untuk melanjutkan perjalanan menghadap Tuhan Yang Maha Pencipta. Anak-anak, remaja, anak-anak muda, dan orang-orang yang baru saja menikah dan membangun keluarga, hampir pasti tidak memikirkan bahwa perjalanan panjang untuk menghadap Tuhan Yang Maha Pencipta sudah harus dipersiapkan sejak dini.

Ironisnya, orang-orang tua yang sudah udzur pun tidak jarang yang tidak mempersiapkan dirinya menghadap Tuhan Yang Maha Agung. Bahkan, mempersiapkan diri untuk mempertanggungjawabkan semua sikap, perilaku, amal dan perbuatan selama di tempat transit pun tidak terpikirkan. Padahal, perjalanan jauh menghadap Tuhan Yang Maha Agung bukan perjalanan dengan pesawat ulang alik.

Tidak ada sekolah khusus yang mengajarkan bagaimana seyogyanya manusia mempersiapkan diri menghadap Tuhan Yang Maha Adil. Manusia lebih banyak belajar ilmu bagaimana untuk mampir ngombe dan mampir ngguyu di tempat transit. Paling banter, personal financial planner juga hanya membantu mengelola merencanakan keuangan pribadi pada masa tua sehingga mencapai derajat absolute financial freedom.

Padahal, “disertasi” (baca : pertanggungjawaban) manusia yang akan dipertahankan di hadapan Allah SWT yang Maha Adil akan diuji, dapat diterima atau ditolak. Tidak ada perbaikan ujian, “disertasi” tentang kehidupan di dunia hanya dilakukan satu kali.

Keadaan yang sangat ironis. Di satu sisi, manusia sangat sadar membuat perencanaan perjalanan dan rencana aktivitas  di tempat-tempat wisata yang dikunjungi. Di sisi lain, manusia tidak memiliki perencanaan mengadakan perjalanan jauh menghadap Tuhan Yang Maha Pencipta dan tidak pula membuat rencana pertanggungjawaban kepada Tuhan Yang Maha Kuasa.

Meskipun belum pernah ada survei yang membuktikan, saya menduga jumlah orang-orang yang secara sadar membuat perencanaan perjalanan dan pertanggungjawaban kepada Tuhan Yang Maha Adil lebih sedikit dibandingkan dengan orang-orang yang secara sadar membuat perencanaan perjalanan dan aktivitas di tempat-tempat wisata yang ia kunjungi.

Untuk merayakan Idul Fitri, entah berapa jumlah orang yang mudik ke kampung halamannya yang sudah mempersiapkan diri membuat rencana perjalanan dan pertanggungjawaban kepada Yang Maha Adil. Tentu orang akan kaget jika di tengah perjalanan mudik menuju ke kampung halaman, tiba-tiba berbelok ke kampung akhirat. Sampai dengan tulisan ini dibuat dan diplubikasikan, selama mudik Idul Fitri 2013 M, sudah 384 pemudik yang tewas di jalan raya. Inna Lillahi wa inna ilaihi raji’un.

Tampak Siring, 10 Agustus 2013

 
Leave a comment

Posted by on August 11, 2013 in Selasar

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: