RSS

Rempong Menanggung Malu

24 Aug

Sebuah pertanyaan sudah cukup membuat lidah kelu tak mampu menjawab dan menggoreskan rasa malu di lubuk hati yang paling dalam. Itulah yang dialami oleh seorang ibu yang menjadi istri mantan orang paling penting di SKK Migas, yang dicokok oleh KPK di halaman rumahnya dan kemudian “digelandang” ke rumah tahanan KPK.

Seperti diberitakan dalam www.tempo.co.id (15 Agustus 2013), seorang wanita bernama Elin Herlina yang diyakini sebagai istri mantan Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas), Rudi Rubiandini (“RR”), mendatangi gedung Komisi Pemberantasan Korupsi, pada tanggal 14 Agustus 2013, sekitar pukul 22.00 BBWI. Tidak ada perilaku yang aneh dari istri mantan Kepala SKK Migas itu, kecuali hanya menundukkan muka, menutup hidung dan mulutnya dengan sapu tangan.

Para “kuli tinta” dan “mat kodak” pun tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk memburu berita dan mengabadikan momen tersebut. Tetapi Elin Herlina bergeming dan tetap diam seribu bahasa. “Skenario” mendadak sontak berubah 180 derajat ketika ada sebuah pertanyaan yang muncul dari kerumunan wartawan, yaitu “Apakah Ibu malu?”.

Bild

Foto : http://www.forum.kompas.com

Sebuah pertanyaan yang tidak pernah dijawab oleh orang yang ditanya.  Tetapi semua orang, terutama wartawan yang bertanya, tentu paham benar bahwa pertanyaan itu telah mendarat sempurna di lubuk hati yang paling dalam. Para wartawan pun mahfum, siapapun bisa menanggung malu untuk tindakan yang tidak pernah dilakukannya. Manusia ternyata juga mewariskan dan menyebarkan virus bernama “malu”.

Meminjam istilah yang dilontarkan oleh Anas Urbaningrum, kasus mantan Kepala SKK Migas masih dalam tahap “lembaran pertama” dari sebuah buku. Cerita masih panjang, banyak halaman yang belum dibuka. Kecuali itu, asas praduga tidak bersalah juga harus kita junjung tinggi. Lagi-lagi meminjam istilah Anas Urbaningrum, saat ini kita masih menunggu apakah masih ada “Sengkuni – Sengkuni” yang lain yang akan dicokok KPK.

Tetapi, sudah pasti dapat diduga, banyak pihak yang akan “cuci tangan” dan tidak ikhlas disangkut pautkan dengan kasus “RR”. Biasa, lempar batu sembunyi tangan. Mana ada maling yang tidak berteriak maling?. Lagi pula, kalau mengaku terlibat, bisa bikin malu. Minimal bikin malu keluarga, keluarga besar, dan almamater. Sungguh beruntung para koruptor dan calon-calon koruptor yang hidup di negara yang bersikukuh tidak akan menerapkan asas pembuktian terbalik.

***

Kejadian itu langsung mengingatkan saya kepada pesan almarhum dan almarhumah orang tua saya. Beliau selalu berpesan, jangan pernah membuat malu keluarga. Bukan hanya anak yang tidak boleh membuat malu keluarga, melainkan juga dan terutama orang tua yang tidak boleh membuat malu keluarga.

Menurut pendapat orang tua saya, setiap orang pada dasarnya akan mempertanggungjawabkan semua perbuatannya. Semua orang hanya akan bertanggung jawab atas apa yang telah dilakukannya. Tetapi tidak demikian dengan malu. Malu bisa “nyerempet”, “nyenggol” dan “nubruk” ke sana ke mari. Orang yang tidak bersalah pun akan menanggung rasa malu.

Berbekal nasehat orang tua, saya juga sering berpesan kepada sahabat-sahabat saya agar selalu ingat bahwa rasa malu tidak hanya ditanggung sendirian oleh pelaku, melainkan juga keluarga batih, keluarga besar, almamater, masyarakat, bangsa dan negara. Apakah saya lebay dan terkesan membesarkan-besarkan?

Saat tinggal di Jerman, saya pernah mengikuti sebuah seminar tentang korupsi, nepotisme, dan kolusi yang diselenggarakan sebuah lembaga nir-laba (sebut saja semacam “Deutschland Corruption Watch”). Muka saya sempat merah padam saat ditunjukkan data peringkat Indonesia sebagai negara yang “membiarkan” KKN merajalela. Saya baru bisa semringah saat nara sumber menunjukkan peringkat Philipina dan Kamboja lebih buruk dibandingkan Indonesia. Bagaimana, masih lebay?

Baik, saya tunjukkan sebuah kasus yang terjadi di bumi pertiwi beberapa tahun yang lalu. Seorang anggota partai politik terlibat selingkuh dan skandal seks dengan seorang penyanyi dangdut. Adegan “bernapas dalam lumpur” antara kedua sejoli yang tidak terikat perkawinan itu sempat diunduh di sebuah situs.

Singkat cerita, politikus itu harus mempertanggungjawabkan sendiri perbuatannya. Sanksi pencopotan jabatan dan pemecatan pun sudah dilakukan. Tetapi bagaimana dengan rasa malu yang harus ditanggung oleh istri dan anak-anak politikus itu? Apakah bisa politikus itu berpesan dan memaksa agar istri dan anak-anaknya tidak boleh malu di hadapan keluarga besar, tetangga, teman-teman arisan, teman-teman sekolah, dan lain sebagainya?

Jika malu itu hanya ditanggung oleh pelaku, tentu tidak relevan dan tidak ada manfaat bagi sebuah lembaga pendidikan untuk meminta maaf kepada publik. Tetapi, itulah yang dilakukan oleh ITB, almamater “RR”, yang secara terbuka dan simpatik telah menyampaikan permintaan maaf. Mewakili civitas akademika ITB, Rektor ITB menyampaikan permohonan maaf sebagai berikut :

“ITB menyampaikan permohonan maaf yang mendalam kepada masyarakat dan bangsa Indonesia atas kejadian yang memprihatinkan dan sangat tidak kita harapkan ini,” kata Akhmaloka di Ruang Rapat Pimpinan Gedung Rektorat ITB, Jumat, 16 Agustus 2013. (www.tempo.co.id, 16 Agustus 2013)

Meskipun sudah meminta maaf, pihak-pihak yang tidak bersalah masih belum bisa membuang rasa malu. Malu selalu bersifat inklusif, tidak pernah eksklusif. Simak pendapat Prof. Soedjana Sapiie berikut ini :

“Guru Besar Emeritus Anggota Majelis Guru Besar (MGB) ITB, Soedjana Sapiie, mengatakan kasus suap yang menimpa Ketua SKK Migas Rudi Rubiandinijelas mencoreng nama ITB. “Ini guru besar yang pertama kali terkena kasus sepanjang sejarah ITB,” ujarnya, Rabu, 14 Agustus 2013. Majelis pun akan membahas keanggotaan Rudi sebagai guru besar.” (www.tempo.co.id, 15 Agustus 2013)

Saya sangat mengapresiasi pernyataan permintaan maaf dari ITB, meskipun ITB tidak memiliki hubungan dan tanggung jawab terhadap kasus yang menjerat “RR”. Hal yang sering terjadi, jika terjadi tindak kejahatan yang dilakukan oleh anggota sebuah kelompok sosial dan lembaga apapun, selalu ada upaya untuk cuci tangan dan menyatakan bahwa tindak kejahatan itu hanya dilakukan oleh “oknum” tertentu.

Mengapa cuci tangan, jaim (jaga image) dan melakukan pencitraan?  Karena semua orang cenderung suka dengan stereotype dan “menggebyah uyah” (menggeneralisir). Hampir semua bangsa mempunyai mindsetlike father like son” dan “kacang ora ninggalke lanjaran” (baca : kacang tidak akan lupa pada kulitnya).  Perilaku seseorang seringkali dikaitkan dengan proses keberhasilan dan sekaligus juga kegagalan  keluarga, kelompok sosial, masyarakat, bangsa dan negara untuk mendidik individu.

Tampak Siring, 17 Agustus 2013.

 
Leave a comment

Posted by on August 24, 2013 in Selasar

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: