RSS

Rempong Jadi Orang Kaya

25 Aug

Lebih dari satu setengah abad yang lalu, Eduard Douwes Dekker atau yang lebih dikenal dengan nama samaran Multatuli, pernah berkata kurang lebih begini : “sebab kita bersuka cita bukan karena memotong padi,  kita bersuka cita karena memotong padi yang kita tanami”.

Sama-sama “hepi” tetapi beda proses dan kenikmatan. “Hepi” yang satu tinggal “duduk manis”, tanpa risiko, dan tinggal terima hasil. Sedangkan “hepi” yang kedua juga sama-sama panen, tetapi setelah melalui kerja keras, bersimbah peluh dan berdarah-darah. Setiap orang memilih “hepi” sesuai dengan selera dan terutama karakter masing-masing.

Sebuah filosofi yang berguna untuk menjalani kehidupan, meskipun sudah pasti tidak diindahkan oleh para koruptor dan orang-orang yang tanpa kerja keras merasa senang mewarisi harta kekayaan orang tua mereka.

Beberapa hari yang lalu, saya kembali merasakan getaran energi dalam pesan Multatuli saat saya mendengarkan keluhan seorang ibu anggota pengajian yang merasa stress karena bersuami orang kaya. Tak tahan menjalani kehidupan bagaikan di negeri dongeng, ibu itu pun bertanya secara tertulis kepada seorang ustadz, bagaimana kalau ia bercerai.

Dalam “surat pembaca” yang disampaikannya kepada ustadz, ibu itu bercerita bahwa tidak ada kekurangan materi, lahir dan batin. Anak-anak pun sudah lahir dari buah cinta kasih mereka berdua. Sandang, pangan, papan, turangga (baca : kendaraan), dan berbagai simbol status lainnya tercukupi. Apapun yang diinginkan dan diminta, ibu itu tinggal bilang kepada suami, dan dalam sekejap ….. wes….ewes…..ewes barang yang diminta pun tersedia di hadapan ibu itu. Kadang-kadang, tidak ingin dan minta sesuatu, semua sudah tersedia. Sangking kaya keluarga suami ibu itu, kalau diwariskan, untuk tujuh keturunan pun harta kekayaan tidak akan habis.

BildFoto diunduh dari http://www.charterword.com

“Lalu, kenapa ibu mesti minta bercerai?. Seharusnya ibu bersyukur dapat suami yang kaya raya dan sayang kepada ibu. Ibadah pun suami tekun. Poligami tidak, bahkan “sekedar” selingkuh pun juga tidak. Apa masalah ibu?”, demikianlah Ustadz bertanya-tanya karena tidak mengerti. Ibu-ibu pengajian pun mulai tidak tahan untuk berbisik-bisik, salah seorang malah nyeletuk “gitu aja kok rempong!”

Ternyata, keluhan ibu itu sangat sederhana, “sepele”, “mengada-ada”, atau “lebay” menurut ukuran atau standar orang-orang “normal”. Ibu itu tidak bisa menerima keadaan suaminya yang enak-enak tidak bekerja dan tidak berjuang sama sekali untuk menghidupi keluarga. Memang semua kebutuhan hidup, lahir dan batin terpenuhi, semua pemberian orang tua. Tetapi, yang dimaui oleh ibu itu adalah suaminya harus bekerja keras dan memiliki prinsip seperti yang dikatakan oleh Multatuli. Begitulah prinsip hidup seorang ibu yang “idealis”.

Ternyata, jadi orang kaya rempong juga. Terutama bagi orang-orang yang menghargai proses dan kepuasan bersusah payah, bukan sekedar hasil. Di dunia saja sudah rempong, apalagi di akhirat. Konon, di akhirat kelak, fakir miskin dan dhuafa lebih duluan masuk surga ketimbang orang-orang kaya.

Dalam bahasa Erich From, ibu itu tidak bangga dan juga tidak bisa menikmati keadaan to have. Semua yang telah dimiliki tanpa perjuangan apapun sama sekali tidak memberikan kepuasan psikologis dan batiniah. Apa yang diinginkan oleh ibu itu adalah to be.

Saya jadi mengerti mengapa istri saya jatuh cinta kepada saya yang “nggak ada apa-apanya”, terutama jika dibandingkan dengan kompetitor saya yang naksir berat calon istri saya (saat itu). Respek istri saya adalah pada proses dan perjuangan saya untuk bersuka cita karena memotong padi yang saya tanam. Saat memulai membangun rumah tangga, memang tidak ada satupun warisan orang tua saya yang saya bawa. Demikian juga istri saya, tidak membawa satupun warisan dari orang tuanya.

Bagi kami berdua, jasa orang tua bukan pada warisan yang diturunkan kepada kami. Tentu saja, orang tua kami tetap berjasa menjadikan kami berdua menjadi selalu berprinsip untuk bersuka cita karena memotong padi yang kami tanam. Bagi kami, warisan dari orang tua bukan sesuatu yang diharapkan dan dibangga-banggakan.

Sebagai orang yang juga menghargai menanam padi dan memanen padi yang saya tanami sendiri,  saya dapat memahami perasaan sesak dan sumpek seorang wanita yang dipimpin oleh suami yang tidak pernah berdiri di atas kaki sendiri. Sungguh sulit menjalani kehidupan dengan orang yang tidak pernah mandiri secara qalbu, psikologis dan sosial. Sungguh tidak nyaman sehidup semati dengan orang yang secara otot sehat, otak cemerlang, tetapi qalbu lemah gemulai. Keinginan untuk bercerai itu pun tidak tiba-tiba, tetapi setelah melalui pergumulan qalbu yang sangat luar biasa.

***

Saya tidak heran atau kaget dengan musibah yang menimpa ibu itu. Orang-orang yang tidak “hepi” begitu saja menerima warisan orang tua juga banyak. Beberapa tahun yang lalu saya juga punya teman yang sangat menderita karena tidak pernah mengalami kondisi “sebab aku bersuka cita karena aku memotong padi yang aku tanam”.

Dua puluh tahun yang lalu teman-teman dan saya dalam kegembiraan yang membuncah. Hasil kerja keras dan “banting tulang” sudah mulai berwujud rumah. Bagi kami, rumah adalah simbol kemandirian, bukan sekedar simbol dari gaji melimpah. Membina keluarga dan kemudian menempati rumah dari hasi jerih payah sendiri adalah salah satu kebahagiaan yang tidak dapat dinilai dengan uang. Bahkan, kebahagiaan itu tidak dapat diganti dengan rumah pemberian orang tua.

Bild

http://www.perfecthomepictures.com

Lagi asyik-asyik membicarakan keberhasilan kami membeli rumah, saya melihat seorang sahabat yang berada di ruangan yang sama,  terlihat sedih dan diam seribu bahasa. Sebagai seorang anak big boss, sahabat saya itu memang tidak perlu memikirkan lagi dan tidak perlu berjuang untuk membeli rumah dan seisinya serta kendaraan. Atas nama kasih sayang, orang tuanya sudah menyediakan semua kebutuhan sahabat saya, mulai dari rumah dan seisinya sampai dengan mengisi rekening dalam mata uang asing maupun Rupiah.

Saat saya bertanya kepada sahabat saya mengapa kelihatan sedih pada saat kami gembira berdiskusi tentang rumah, sahabat saya tak menjawab apapun. Tetapi di lain kesempatan, sahabat saya mengucapkan selamat bahwa saya telah memiliki rumah. Tanpa bermaksud tidak menghargai semua pemberian orang tuanya, sahabat saya mengaku “sedih” karena tidak pernah merasakan jatuh bangun dan berdarah-darah untuk mendapatkan sesuatu.

***

Bersuka cita memotong padi yang ditanam sendiri itu pula yang ingin dikehendaki oleh Warren Buffett – seorang investor kelas kakap dan dinilai paling sukses di abad ke 20 –  kepada keturunannya. Sebagai salah satu dari orang paling kaya di dunia, tidak ada kendala apapun bagi Buffett untuk menggolontorkan semua harta kekayaan sebagai warisan kepada anak-anaknya.

Tetapi bukan Buffett kalau tidak berperilaku dan mengambil keputusan yang “aneh”. Alih-alih mewariskan harta kekayaan kepada anak-anaknya, Buffett  justru menyumbang sebagian besar harta kekayaannya untuk mendanai kegiatan amal. Tidak tanggung-tanggung,  sekitar Juni 2006 yang lalu Buffett mengumumkan rencananya untuk menyumbang 85% kekayaannya untuk amal. Bill & Melinda Gates Foundation akan menerima sebagian besar dari donasi tersebut dan selebihnya ke yayasan-yayasan sosial milik keluarga Buffett.

Mengapa Buffett melakukan itu semua? Simak alasan Buffett berikut ini : “Tak ada alasan kenapa generasi mendatang Buffett harus memimpin masyarakat hanya karena mereka lahir dari rahim yang tepat. Di mana letak keadilannya?” Sama tidak adilnya ketika bayi-bayi yang tidak bisa memilih siapa orang tua mereka, tetapi kemudian ada yang otomatis berdarah biru.

Dalam kesempatan lain, Buffett menegaskan bahwa “I am not an enthusiast of dynastic wealth, particularly when the alternative is six billion people having that much poorer hands in life than we have, having a chance to benefit from the money“. (www.bbc.co.uk, 26 June 2006).

Nilai-nilai yang diyakini Multatuli dan apa yang dilakukan Buffett mungkin saja baik. Rambut boleh sama hitam, tetapi pendapat boleh berbeda. Tidak semua orang tua memiliki paham yang sama tentang “sayang” kepada anak-anak dan cucu-cucu mereka.

Kebayoran Baru, 22 Agustus 2013

 
Leave a comment

Posted by on August 25, 2013 in Selasar

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: