RSS

Monthly Archives: September 2013

Perubahan Sosial Dimulai Di Kamar Tidur

Apakah ada hubungan antara kemacetan dengan pola perilaku seksual pasangan suami istri (pasutri)? Bagaimana sesungguhnya pengaruh kemacetan terhadap pola perilaku seksual pasangan suami istri?

Tanpa mengadakan penelitian sosial dan pengkajian secara ilmiah, saya merasa haqqul yaqin, bahwa kemacetan memiliki hubungan dan pengaruh terhadap pola perilaku seksual pasutri. Tanpa berpikir panjang pun saya merasa benar bahwa dalam hubungan dan pengaruh tersebut, kemacetan bertindak sebagai independent variable, sedangkan pola perilaku seksual menjadi dependent variable. Kalau anda masih tidak percaya, silakan mengadakan penelitian sosial untuk membuktikannya.

Salah satu tema “klasik” dan favorit dalam diskusi interaktif antar sesama warga di kompleks perumahan saya adalah kemacetan. Banyak pertanyaan, berbagi pengalaman dan strategi untuk mengatasi kemacetan, mulai berangkat dari rumah menuju ke tempat kerja, sampai dengan pulang dari tempat kerja menuju ke rumah. Maklum, bertempat tinggal di pinggiran Jakarta dan bekerja di Jakarta maupun kawasan industri yang tersebar di pinggiran Jakarta, berangkat dan pulang kerja adalah “jihad” yang melelahkan.

Salah satu pertanyaan yang sering diajukan kepada sesama warga adalah “jam berapa berangkat kerja?”. Tidak ada satupun yang malu-malu untuk menjawab pertanyaan tersebut. Justru, ada keinginan untuk “mengalahkan” orang lain. Semakin pagi berangkat ke tempat kerja, semakin mendapat pujian dan standing ovation dari peserta diskusi interaktif.

Berangkat ke tempat kerja pukul 6.30 sudah dianggap “terlalu siang”. Berangkat ke kantor pukul 6.00 dianggap biasa-biasa saja. Berangkat kerja lebih awal lagi pukul 5.30 masih belum terlalu istimewa di mata warga perumahan. Berangkat kerja pukul 5.00 sudah mendapat tepuk tangan. Tetapi “juara pertama” diraih oleh warga yang berangkat kerja persis setelah sholat subuh yang biasanya untuk wilayah DKI Jakarta berkisar pukul 4.15 sampai dengan 4.30.

Untuk ukuran bapak-bapak di kompleks perumahan, apalagi pasutri yang berada di usia subur, berangkat dini hari setelah sholat subuh dianggap prestasi yang langka. Berangkat sepagi itu berarti “dokter-dokteran” atau “serangan fajar” menjadi terganggu. Kalaupun masih ada yang melakukan “ritual” itu, frekuensi dan intensitasnya tentu sudah mulai berkurang. Karena terburu-buru, mungkin juga kenikmatannya juga berkurang. Nah lo!.

Kemacetan memiliki hubungan dan pengaruh yang signifikan terhadap pola perilaku seksual pasutri. Gara-gara menghindari kemacetan, para pekerja, terutama mereka yang mengandalkan double income, terpaksa berangkat pagi dan meninggalkan “ritual” yang dianggap sangat penting dan wajib. Kemacetan tidak hanya membuat orang harus berangkat dini hari, melainkan juga pulang dari kerja “berdarah-darah” menghadapi kemacetan. Sebagian pekerja memilih pulang larut malam untuk menghindari kemacetan. Pulang on time maupun larut malam sama-sama menyebabkan pekerja kelelahan. Akibatnya sudah bisa ditebak, hasyrat dan selera untuk melaksanakan “ritual” pasutri pun menjadi terganggu.

***

Sejatinya, kemacetan tidak hanya menjadi variabel sangat penting terhadap perubahan pola perilaku seksual pasutri. Dampak yang diakibatkan oleh kemacetan lebih besar dari yang kita rasakan dan pikirkan. Kemacetan antara lain juga memiliki hubungan dan pengaruh terhadap pola asuh anak.

Jangan pernah anggap remeh urusan pengasuhan terhadap anak-anak. Pasutri yang mempunyai orang tua dan atau mertua tinggal di kota yang sama – misalnya Jakarta – masih dapat berharap banyak kepada orang tua dan atau mertua. Sementara pasutri yang memiliki saudara kandung tinggal di kota yang sama, di kompleks perumahan yang sama, atau bahkan di rumah yang sama, masih dapat mengharapkan bantuan dari saudara ipar. Sedangkan pasutri yang “sebatang kara” tinggal di kota besar, terpaksa memilih untuk menyerahkan atau mendelegasikan tugas-tugas pengasuhan anak kepada para pembokap.

Beres? Maybe yes maybe no. Tidak semua urusan pendelegasian pengasuhan anak kepada pembantu berjalan mulus. Ada yang justru ibarat menyelesakan masalah dengan menghadirkan segudang masalah, bahkan berakhir tragis seperti kasus pembunuhan anak. Kalaupun dapat pembantu “baik-baik”, bukan berarti urusan telah beres.

Setiap anak dilahirkan dalam keadaan suci. Rasulullah Muhammad SAW mengibaratkan qalbu anak yang suci seperti kertas putih. Orang tua bertugas untuk “menggambar” dan memelihara agar “kertas putih” itu tetap suci sebagaimana Allah SWT menitipkan kepada para orang tua.

Menyerahkan kepada pembantu untuk mewakili para orang tua dalam proses pengasuhan anak jelas sangat berisiko. Kualitas akhlak, pendidikan agama, pendidikan moral antara orang tua dengan pembantu jelas-jelas sangat berbeda. Dengan kualitas IQ (kecerdasan intelektual), EQ (kecerdasan emosional) dan ESQ (kecerdasan emotional dan spiritual) yang berbeda antara orang tua dan para pembantu, tentu saja kesucian dan kualitas “kertas putih” itu tidak akan sebaik jika para orang tua turun tangan sendiri mengasuh anak.

Dalam situasi seperti itu, sejatinya anak berpotensi menjadi korban dari keputusan orang tua menyerahkan pengasuhan anak kepada pembantu, meskipun “hanya” untuk beberapa jam. Memang selalu ada orang tua yang berdalih bahwa yang paling penting bukan kuantitas waktu, melainkan kualitas waktu. Meskipun waktu orang tua dan anak untuk relatif terbatas, tetapi jika kualitas hubungan sangat baik, maka kuantitas waktu itu tidak menjadi masalah besar, atau malah dapat diabaikan.

Weleh-weleh, kok masih berdebat dan ngeyel. Anak-anak batita (bawah tiga tahun) belajar tidak seperti remaja dan orang dewasa. Anak-anak batita belajar dengan cara melihat, mendengar, merasakan dan meniru melakukan apa yang dilakukan orang-orang yang mengasuhnya. Singkat kata, anak-anak belajar melalui kebiasaan-kebiasaan dan mereka belum mampu melakukan penyaringan mana yang baik dan mana yang buruk.

Kebiasaan-kebiasaan itulah yang kemudian diulang-ulang secara otomatis dan dibawa sampai dewasa, bahkan sampai mati. Hal yang paling sulit dilakukan manusia adalah mengubah kebiasaan yang sudah diajarkan oleh para orang tua (dan para pembantu) sejak usia batita. Tidak percaya?

Jika anda memiliki kebiasaan menulis dengan tangan kanan, coba anda ubah kebiasaan itu dengan menulis menggunakan tangan kiri. Jika saya motivasi anda dan puji bahwa tulisan tangan kiri anda akan sebaik tulisan tangan kanan, saya yakin anda akan tertawa terbahak-bahak, terpingkal-pingkal, terkekeh-kekeh dan termehek-mehek. Jangankan melatih diri menulis dengan tangan kiri, untuk mencobanya pun mungkin  anda akan berkata judes dan ketus : “ngapain!”. Mungkin, kalau mengubah kebiasaan menulis dengan tangan kanan menjadi dengan tangan kiri itu ada penghargaan bantuan langsung tunai Rp. 1 milyar, anda tidak akan berpikir panjang dan ngeyel lagi.

Akhlak, karakter, sikap, dan perilaku anak-anak yang saat ini kita lihat di sekitar kita adalah hasil dari proses pengasuhan anak-anak yang telah dilakukan para orang tua. Saya tidak terkejut, karena perubahan sosial yang terjadi di masyarakat, terjadi akibat dari perubahan-perubahan dalam rumah tangga. Kemacetan di jalan raya di kota-kota besar seperti di Jakarta adalah salah satu kontributor utama untuk perubahan-perubahan sosial yang terjadi di masyarakat, bangsa dan negara.

***

Dalam konteks perubahan sosial dalam masyarakat, saya tidak mengerti mengapa “keluh kesah” Jokowi, Gubernur DKI Jakarta, terhadap proyek low cost green car (LCGC) ditanggapi secara lebay oleh kalangan tertentu.

Bild

Foto diunduh dari http://www.pertamax7.com

Sudah menjadi pengetahuan umum, bahwa kebijakan pengelolaan energi  di Indonesia tidak pernah menyentuh sisi demand (permintaan). Saat Indonesia sudah “murtad” dari negara pengekspor minyak menjadi negara pengimpor minyak tidak menumbuhkan kesadaran untuk mengatur sisi permintaan energi, terutama BBM untuk kendaraan bermotor. Setelah impor BBM secara pasti dan meyakinkan menjadi kontributor utama defisit neraca perdagangan, masih juga mengabaikan pembangunan sistem transportasi massal. Subsidi negara untuk BBM yang telah mencapai ratusan triliun (sebagian bahkan didanai dari sumber hutang) masih dianggap bukan masalah yang perlu dirisaukan.

Berapa nilai kerugian yang ditanggung Jakarta per tahun? Sampai dengan tahun 2013, Jakarta “hanya” menanggung kerugian akibat kemacetan senilai Rp. 12,8 triliun per tahun. Jika kemacetan di Jakarta tidak juga dapat diatasi, maka pada tahun 2020 Jakarta “hanya“ akan menderita kerugian Rp. 65 triliun per tahun (www.sindonews.com, 28 Mei 2013). Jumlah itu tentu saja belum dihitung dengan penghamburan devisa negara untuk menambal subsidi BBM.

Tak seimbang jika saya hanya memaparkan sisi kerugian saja. Apa manfaat dan keuntungan yang diperoleh dari industri otomotif yang terus berkembang? Yohannes Nangoi, Ketua II Gaikindo (Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia), memaparkan sebagai berikut :

“….. dari sisi pemerintah disukai karena menyumbang pajak kira-kira Rp. 75 triliun dan menyerap tenaga kerja. Saya ambil contoh, 20 perusahaaan otomotif yang punyai assembling (perakitan) di Indonesia mempekerjakan 55.000 karyawan. Lalu, di Indonesia ada kira-kira 500 supplier dengan jumlah tenaga kerja 100.000 orang, dan masih banyak lagi.” (Kontan 16-22 September 2013).

Biaya dan kerugian ekonomis dari kemacetan secara matematis mudah dihitung. Tetapi biaya sosial dan kerugian sosial akibat dari kemacetan jauh lebih sulit untuk dikalkukasi. Jika hutang ekonomis baru dirasakan dan ditanggung oleh generasi yang akan datang, maka biaya sosial dan kerugian sosial akibat dari kemacetan itu sudah dirasakan dan akibatnya ditanggung oleh generasi saat ini. Kecuali perubahan pola perilaku seksual dan pola pengasuhan anak, tentu saja masih banyak dampak sosial dari kemacetan.

Sikap dan perilaku warga Jakarta dan sekitarnya terhadap kemacetan cenderung “benci tapi rindu”. Karena tidak ada kesamaan pandangan tentang dampak dan kerugian yang harus ditanggung bersama yang diakibatkan oleh kemacetan, tampaknya kita perlu berpaling mencari kambing hitam lain. Mungkin, kalau ada yang patut dan layak disalahkan dan menjadi penyebab kemacetan adalah : Sapa suru datang ke Jakarta?

Tampak Siring, 29 September 2013

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on September 30, 2013 in Gemeinschaft | Gesellschaft

 

Reaksi Individual Terhadap Perubahan

Juan Mata, playmaker FC Chelsea sedang gundah gulana.  Pesepakbola yang dua musim kompetisi berturut-turut merebut gelar player of the season sedang menghadapi “madesu” (baca: masa depan suram).  Kontribusi dan prestasi mengantarkan Chelsea merebut juara piala Champion dan Piala Liga Eropa seakan tak bermakna. Jose Mourinho yang memilih “mudik” kembali melatih Chelsea telah membuat Juan seakan-akan dalam status “from hero to zero”.

Bukan gaji yang membuat Juan galau. Meskipun tidak bermain, Juan menerima gaji 67 ribu poundsterling per pekan tetap mengalir ke rekening pribadinya. Bagi pesepakbola, duduk manis menghangatkan bench adalah “penghinaan”. Piala Dunia 2014 yang tinggal menghitung bulan semakin membuat situasi Juan bertambah pelik. Jarang dimainkan sebagai pemain reguler yang mengisi starting eleven semakin mempersempit kesempatan Juan memperkuat La Furia Roja, julukan timnas sepakbola Spanyol.

Apa yang bisa dilakukan Juan? Hampir tidak ada. Jendela transfer dan musim kompetisi liga di semua negara-negara di Eropa yang telah bergulir tidak memungkinkan Juan hengkang dari Chelsea, bahkan juga tidak untuk dipinjamkan ke klub lain. Sampai artikel ini selesai ditulis, hanya legowo dan nrimo ing pandum yang bisa dilakukan Juan. Tentu saja sembari berlatih dan menunggu “kesempatan emas” untuk mendapatkan kepercayaan pelatih.

Perubahan pelatih dan perubahan strategi adalah salah satu “momok” yang harus dihadapi setiap pesepakbola. Kadangkala perubahan itu justru lebih menakutkan ketimbang cidera yang lumrah menimpa pesepakbola. Ibaratnya, perubahan pelatih dan strategi seperti pukulan upper cut yang dapat membuat seorang petinju roboh dan kalah knock out.

Bagaimana reaksi para pesepakbola menghadapi perubahan? Pesepakbola kan juga manusia, mereka menunjuk reaksi yang sangat beragam : ada yang “naik pitam” seperti yang ditunjukkan oleh Wayne Rooney di FC Manchester United, ada yang mangkel dan kemudian memutuskan hengkang seperti yang dilakukan oleh Mezut Oezil yang “hijrah” dari FC Real Madrid ke FC Arsenal. Tetapi ada juga yang “santai” dan “adem ayem” seperti yang diperagakan oleh Juan Mata sembari menunggu “nasib baik” berbelok arah ke dirinya.

Tidak semua orang siap menghadapi perubahan, baik sebagai orang yang terlibat dalam perencanaan perubahan maupun terutama sebagai pihak yang tidak dilibatkan dan tidak diberitahu akan terjadi perubahan. Jarang sekali incumbent gembar gembor tentang perubahan. Tetapi hampir semua calon-calon yang maju ke pilkadal (baca : pemilihan kepala daerah langsung)  dan pilpres (baca : pemilihan presiden), selalu basa basi mengusung tema perubahan.

Perubahan akan selalu “mengganggu” kepentingan setiap orang. Perubahan seringkali juga menghilangkan berbagai “kenyamanan” dan privilege yang telah dinikmati. Karena itu, reaksi umum terhadap perubahan, pertama-tama adalah menentang perubahan. Kemudian berangsur-angsur dapat berpikir positif terhadap perubahan, dan akhirnya , secara sukarela maupun terpaksa, legowo dan nrimo ing pandum terhadap perubahan.

Salah satu pendekatan “klasik” yang membahas sikap dan perilaku manusia terhadap perubahan adalah Kuebler-Ross Model atau lebih dikenal sebagai “five stage of grief”, sebagaimana gambar berikut ini :

Kubler-Ross MODELSumber : http://www.en.wikipedia.org

Intisari dari gagasan Kuebler-Ross Model yang digagas oleh Elizabeth Kuebler-Ross mengatakan bahwa, “when a person is faced with the reality of impending death or other extreme, awful fate, he or she will experience a series of emotional stages: denial, anger, bargaining,depression and acceptance.” (en.wikipedia.org, 27 Sept. 2013).

Tahap pertama, reaksi orang terhadap perubahan adalah menyangkal. Pada tahap ini orang masih merasa semua baik-baik saja, tidak ada yang salah, dan tidak ada yang perlu dan mendesak untuk diubah. Orang masih berkata lantang : I feel fine“; “This can’t be happening, not to me” Itulah yang dialami oleh Wayne Rooney, “anak emas” Alex Ferguson, pelatih yang membesarkan nama Rooney, tetapi sekaligus juga “mengobok-obok” perasaan  Rooney menjadi pemain cadangan.

Tahap kedua, reaksi orang terhadap perubahan adalah anger (marah). Saat perubahan bukan sekedar gosip melainkan telah menjadi fakta dan dirinya menjadi “korban” dari perubahan, maka reaksi “wajar” adalah marah. Pada saat marah terhadap perubahan, orang berkata “Why me? It’s not fair!”; “How can this happen to me?”; ‘”Who is to blame?”. Sementara bagi orang lain yang memiliki stress tolerance sangat minim, boleh jadi akan keluar kata-kata dari mulutnya tak ubahnya seperti suasana di kebun binatang.muaaratnya, perubahan pelatih dan strategi seperti pukukan upper cut yang dapat membuat seorang petinju roboh dan kalah knock ou

Tahap ketiga reaksi terhadap perubahan adalah depresi. Sikap marah dan ngambek yang diperagakan oleh Rooney sama sekali tidak membuat David Moyes bergeming. Ultimatum Rooney akan hengkang dan atau minta dijual pun tidak ditanggapi serius. Marah seringkali tidak membuat situasi berubah menjadi lebih baik. Semakin strategis bargaining position dan semakin kuat bargaining power penggagas perubahan, maka semakin tidak  berguna marah-marah. Jendela transfer musim panas telah ditutup dan musim kompetisi liga utama Inggris telah dimulai, tak ada lagi yang bisa dilakukan Rooney kecuali tunduk pada kemauan klub dan pelatih.

Tahap keempat menghadapi perubahan adalah bargaining atau tawar menawar. Ketika para petinggi klub Manchester United bergeming mendukung strategi pelatih David Moyes dan  bersikukuh tidak akan menjual Rooney, maka tidak ada jalan keluar lain bagi Rooney selain menjalani sisa kontrak. Satu-satunya solusi yang dapat dilakukan Rooney adalah mengadakan negosiasi dengan klub dan pelatih untuk mengadakan kesepakatan-kesepakatan baru. Dengan cara bargaining, Rooney justru berkesempatan untuk memperbaiki bargaining position dan bargaining power yang sempat melemah.

Reaksi terakhir terhadap perubahan adalah acceptance atau menerima perubahan. Rooney sadar dan ikhlas posisi striker utama direbut oleh Robin van Persie yang dalam 2 musim kompetisi terakhir telah membuktikan diri sebagai penyerang tersubur di liga utama Inggris. Rooney mulai mau dan mampu menerima perubahan posisi dan peran. Jika semula Rooney adalah target man, maka posisi dan peran barunya menuntut sebagai orang yang memasok bola kepada target man.

Menerima perubahan tidak selalu berarti kalah perang dan kehilangan muka. Dalam kasus Rooney, perubahan posisi dan peran justru memberikan kesempatan kepada Rooney bahwa ia kemampuan yang baik dalam hal learning agilty. Dengan menerima perubahan, justru Rooney tampil lebih memukau dan subur mendulang gol.

Dengan menerima perubahan, memang ada yang hilang. Kini Rooney bukan lagi “anak emas”. Tetapi di sebuah klub yang menganut filosofi bahwa tidak ada pemain yang boleh lebih besar dari sebuah klub, apa arti “anak emas”?. Pertambahan umur dan regenerasi akan membuat prediket “anak emas” itu memudar ditelan masa. Tidak ada yang abadi, kecuali perubahan itu sendiri.

 

Menteng Raya, 27 September 2013

 

Volendam

Sahabat saya, Ignatius Henry Ismadi, sangat suka dengan peribahasa “bahasa adalah jendela dunia”. Saya juga suka dengan peribahasa itu, karena itu saya “memaksakan diri” belajar asing. Tetapi belajar bahasa tanpa mengadakan perjalanan wisata?

Saint Augustine pernah mengingatkan bahwa, “the world is a book, and those who do not travel read only a page”. Kalau hanya belajar bahasa, tetapi tidak mengadakan wisata, maka seseorang hanya membaca 1 halaman saja dari sebuah buku.

Jika saya boleh membandingkan, belajar bahasa tanpa mengadakan wisata adalah ibarat tiki-taka tanpa gol. Tiki-taka adalah “filosofi” permainan sepakbola yang diperagakan oleh anak-anak Catalan yang memperkuat FC Barcelona. Tiki-taka dapat dideskripsikan dengan beberapa kata : indah, cepat, dan menyerang. Tetapi tiki-taka tanpa gol? Seperti apakah rasa tiki-taka tanpa gol?.

Perkenankan saya mengutip pendapat Bixente Lizarazu, bek kiri yang pernah memperkuat timnas sepakbola Perancis dan pernah merumput di Bayern Muenchen. Menurut Lizarazu, tiki-taka tanpa gol adalah ibarat cinta tanpa seks. Alamak!

Saya tidak bermaksud membandingkan belajar bahasa dengan cinta dan wisata sama dengan seks. Yang saya maksud adalah belajar bahasa tanpa mengadakan perjalanan wisata kurang lengkap. Tentang kedua hal tersebut, saya merangkum sebagai berikut : “bahasa adalah jendela dunia, sedangkan wisata adalah pintu dunia’.

Sebuah rumah, betapapun sederhananya, harus punya jendela dan pintu. Untuk melihat dunia, anda cukup mengandalkan jendela (baca : bahasa). Tetapi untuk bisa jalan-jalan keliling dunia, anda harus melewati pintu (baca : wisata).

***

A journey of a thousand miles  begins with one step”, demikian petuah Sun Tzu. Langkah pertama saya untuk melewati pintu dunia ditemani oleh keluarga Aryoso Nirmolo. Saya harus berterima kasih kepada Yosi, Vitri dan Rafi yang telah membuka hati, mata, dan pikiran saya untuk melihat kehidupan masyarakat dan bangsa-bangsa di Eropa. Yosi cs lah yang menemani saya keliling Eropa, antara lain Austria, Belanda, Hungaria, Italia, dan Slovenia.

Setelah Jerman, perjalanan pertama saya ke luar negeri adalah negara Belanda. Ada 2 kota besar yang saya kunjungi, yaitu Rotterdam dan Amsterdam. Satu lagi adalah Volendam, sebuah kota kecil yang sangat ramai dikunjungi wisatawan, meskipun Volendam tidak lebih gede dari kota-kota kabupaten atau kotamadya di Indonesia pada umumnya.

Volendam adalah sebuah kota di sebelah utara Belanda. Pada tahun 2007, jumlah penduduknya hanya 22 ribu orang. Volendam terletak di tepi pantai. Tidak sulit untuk menemukan orang-orang Indonesia “berkeliaran” di Volendam. Dari pegawai negeri sampai dengan orang-orang penting di Indonesia, merasa wajib berkunjung ke Volendam. K.H. Abdurrahman Wahid atau yang akrab disapa Gus Dur pun pernah menjejakkan kakinya di Volendam. Untuk apa? Mejeng!

eVLD 27Image courtesy of Aryoso Nirmolo

Tidak ada hal menarik yang dapat diamati di Volendam. Kehidupan dan suasana pantai di mana mana relatif sama, meskipun beda negara dan beda budaya. Di mana-mana orang pantai selalu egaliter dan terbuka terhadap siapa saja.  Di Volendam juga ada kincir air, tetapi kincir air jamak ditemukan di tempat-tempat lain Belanda. Barangkali, satu-satunya keunikan dan menjadi keunggulan kompetitif adalah kostum nelayan. Tetapi pakaian tradisional nelayan Volendam sudah cukup menjadi “magnet” yang menyedot pundi-pundi wisatawan. Wikipedia menulis sebagai berikut :

Volendam is a popular tourist attraction in the Netherlands, well known for its old fishing boats and the traditional clothing still worn by some residents. The women’s costume of Volendam, with its high, pointed bonnet, is one of the most recognizable of the Dutch traditional costumes, and is often featured on tourist postcards and posters (although there are believed to be fewer than 50 women now wearing the costume as part of their daily lives, most of them elderly). There is a regular ferry connection to Marken, a peninsula close by. Volendam also features a small museum about its history and clothing style, and visitors can have their pictures taken in traditional Dutch costumes.” (www.wikipedia.org, 17 Juni 2013)

***

Indonesia perlu banyak belajar dari Volendam. Bayangkan, “hanya” melalui ritual mejeng (baca : foto mengenakan kostum tradisional rakyat Volendam), devisa pun mengucur deras ke Volendam. Jangan pernah memandang remeh makna dari sebuah foto. Foto adalah sebuah bukti otentik bagi seseorang bahwa ia pernah berkunjung ke suatu tempat wisata. Jika tempat wisata itu di luar negeri, maka  akan menambah “bobot” dari sebuah foto dan “mendongkrak” status sosial orang yang difoto.

Sebuah foto akan membuat seseorang bahagia tiada tara. Bahkan, ketika hasil foto lebih indah dari aslinya, orang yang difoto juga tidak akan tersinggung. Pengalaman saya memotret manusia menyimpulkan bahwa setiap orang pada dasarnya senang dengan foto dirinya. Asalkan dalam foto manusia tiga kriteria terpenuhi, yaitu “ada gue”, “gue banget”, dan “ngagetin” (foto-foto yang diambil secara candid).

Itulah sebabnya, dengan segala daya dan upaya, orang-orang Indonesia selalu menyempatkan diri berkunjung ke Volendam dan “hanya” untuk melakukan ritual foto mengenakan kostum tradisional rakyat Volendam. Terasa belum lengkap jika berkunjung ke Belanda tanpa menyambangi Volendam. Hanya untuk sebuah foto seharga 13 Euro (tahun 2009) orang Indonesia rela “menghamburkan” devisa untuk negara lain.

Tentu saja candi Borobodur, Gunung Bromo, wisata laut di Bunaken dan Rajat Ampat, tempat-tempat wisata lain, dan termasuk pakaian tradisional berbagai suku di Indonesia, tidak kalah menarik dibandingkan dengan obyek wisata di Volendam, terutama kostum tradisional nelayan.

Tetapi sejarah mencatat bahwa dengan “segambreng” keunggulan kompetitif di bidang pariwisata, Indonesia hanya mampu mendatangkan 8,04 juta wisatawan asing pada tahun 2012 (www.antaranews.com). Target tahun 2013 Indonesia kedatangan 9 juta wisatawan asing. Bandingkan dengan negara serumpun Malaysia yang mampu mendatangkan sekitar 23 juta wisatawan asing  pada tahun 2012 (Oops…… 2,5 juta di antaranya adalah wisatawan asal Indonesia!).

Tidak ada yang salah dengan obyek pariwisata di Indonesia.  Dibandingkan sesama negara ASEAN, obyek wisata Indonesia tak ada bandingannya. Dari segi fotografi landscape (pemandangan), Indonesia masuk 5 besar dunia.

Jika kita sepakat analogi bahwa dunia adalah sebuah buku, maka “buku” tentang Indonesia hanya dibaca oleh 8,04 juta orang. Sedangkan “buku-buku” tentang Malaysia, Singapura, dan Thailand dibaca oleh lebih banyak pengunjung. Jika Volendam yang sangat “mungil” itu kita ibaratkan sebagai “buku saku”, maka “buku besar” bernama Indonesia boleh jadi lebih sedikit dibaca oleh orang dibandingkan “buku saku”.

Secara umum, manusia Indonesia termasuk malas dan kurang suka membaca buku. Bagi sebagian orang Indonesia, lebih baik beli DVD film seri atau “telenovela” Korea ketimbang beli buku. Barangkali, jumlah wisatawan asing yang relatif sedikit berkunjung ke Indonesia merupakan “harga” yang pantas dibayar oleh bangsa yang malas membaca buku.

 

Tampak Siring, 17 Juni 2013

 
Comments Off on Volendam

Posted by on September 26, 2013 in Deutschland Wunderbar | Tour d'Europe

 
Aside

Saya menyebut sahabat saya yang satu ini sebagai “pesohor dari langit”. Sebegitu hebatkah sahabat saya ini sehingga layak menyandang prediket “selebriti langit”?. Justru itu, jika menggunakan simbol status dan simbol prestasi yang biasa digunakan untuk mengkategorikan seseorang sebagai “pesohor” dan/atau “selebriti”, sahabat saya ini “nggak ada apa-apanya”.

Dari segi fisik, wajah dan body sahabat saya sama sekali tidak menjual. Tak akan ada yang tertarik untuk menggunakan jasanya sebagai bintang iklan. Bahkan, andaikan ditawari gratis pun perusahaan periklanan tidak yakin sahabat saya akan mampu jadi bintang iklan.

Pekerjaan dan apa yang dilakukan oleh sahabat saya pun tergolong biasa-biasa saja. Pendidikan sahabat saya S1 dari perguruan tinggi negeri di Indonesia. Setelah bekerja bertahun-tahun di perusahaan, sahabat saya ini pun masih “betah” di posisi supervisor. Take home pay sahabat saya juga sekedar cukup. Sahabat saya juga tidak biasa mencari “sabetan” selain gaji. Tetapi dari penghasilan halal yang diterimanya,  sahabat saya mampu membeli rumah sederhana, kendaraan roda dua, dan kendaraan roda empat bekas alias “seken”.

Mungkin yang tergolong istimewa dari sahabat saya adalah keinginannya yang sangat kuat untuk merawat ibunya yang sudah udzur. Sejatinya, keinginan untuk berbakti kepada orang tua adalah keinginan yang mulia dan sangat dianjurkan dalam agama Islam. Masalahnya, keinginan yang mulia itu lebih mudah diucapkan, tetapi “dilematis” untuk diwujudkan.

Ibu sahabat saya tinggal di pinggiran kota Jakarta, sementara sahabat saya tinggal dan bekerja di sebuah perusahaan swasta nasional di Kalimantan. Bagi sahabat saya, perhatian dari jarak jauh kepada ibunya yang sudah udzur dianggapnya tidak cukup. Memang, melalui berbagai teknologi komunikasi dan informasi, ibu dan anak dapat berkomunikasi, bahkan seolah-olah tatap muka.

Menurut sahabat saya, dharma bakti yang pantas untuk ibunya yang sudah udzur adalah mendampingi secara “live” (baca : langsung) agar ibunya dapat mempersiapkan diri menghadap Allah SWT secara khusnul khotimah. Sahabat saya tidak ingin ibunya dari segi otot masih sehat dan dari segi otak masih waras, tetapi dari segi qalbu “hang” atau tidak connect dengan Allah SWT.

Itu berarti sahabat saya harus pindah pekerjaan dan tinggal di kota yang sama dengan ibunya. Sungguh keinginan yang luhur, meskipun sahabat saya ini ternyata tidak mudah pindah kota dan mencari pekerjaan yang baru. Permohonan untuk mutasi kerja pun ditolak mentah-mentah berkali-kali.

Sampai tenggat yang ditentukan, pekerjaan yang diidam-idamkan tidak juga ditemukan. Sahabat saya pun harus mengambil keputusan tegas, tetap bekerja dan tinggal di kota yang berbeda dengan ibunya, atau berhenti kerja dan tinggal satu kota dengan ibunya. Setelah mempersiapkan diri secara seksama, sahabat saya memutuskan pindah satu kota dengan ibunya sembari mencari pekerjaan yang baru.

Apakah keputusan sahabat saya ini konyol? Wallahu a’lam bishawab. Menurut pendapat subyektif saya, yang konyol adalah jika seseorang memiliki kesempatan yang besar untuk tinggal satu kota dengan orang tuanya, dan berkesempatan pula untuk mendampingi orang tuanya yang sudah udzur untuk mempersiapkan diri menghadap Tuhan Yang Maha Agung secara khusnul khotimah, justru membuang kesempatan emas itu.

Tidak banyak anak yang memiliki kesempatan emas tinggal satu kota dengan orang tua, memiliki pekerjaan dan karir yang cemerlang, serta memiliki kesempatan untuk mendampingi orang tua yang sudah udzur mempersiapkan diri secara seksama menghadap Allah SWT secara khusnul khotimah.

Untuk kasus di Indonesia, pembangunan yang tidak merata antara Jawa dan luar Jawa, pembangunan yang timpang antara Jakarta dan sekitarnya dengan kota-kota lain, menyebabkan orang berbondong-bondong “menyerbu” Jakarta. Meskipun harus “berdarah-darah”, pekerjaan relatif lebih mudah dicari di Jakarta ketimbang kota-kota lain. Lagi pula, ada anggapan bahwa Jakarta adalah kota untuk meraih sukses dan “menjadi orang”.

Urbanisasi telah menjadi “kambing hitam” dan menghilangkan kesempatan anak-anak bangsa untuk memperoleh pekerjaan dan tinggal di daerah-daerah bersama orang tua mereka. Saya termasuk “korban” dari urbanisasi dan “menyalahkan” urbanisasi sebagai “kambing hitam” atas kegagalan saya mendampingi kedua orang tua saya mempersiapkan perjalanan abadi menghadapi Allah SWT. Salah satu penyesalan dalam kehidupan saya adalah tidak berada di samping kedua orang tua saya saat keduanya dipanggil Allah SWT.

Memboyong orang tua untuk tinggal satu kota dengan saya bukan alternatif pilihan yang dapat dieksekusi. Secara teknis dan fisik, sangat mudah memindahkan orang tua saya yang tinggal di Yogya ke Jakarta. Secara psikologis dan sosial, tindakan memindahkan orang tua dari kota yang sudah sangat dicintainya dan ingin meninggal di Yogya, sama saja dengan memindahkan ikan dari habitatnya.

Di sisi lain, ada orang-orang yang berkesempatan bekerja dan tinggal di satu kota dengan orang tuanya yang sudah udzur, justru “melarikan diri” dengan alasan apapun yang pasti benar untuk orang yang bersangkutan. Orang-orang seperti itu memang boleh jadi sukses secara dalam hal tahta (baca : jabatan, karir) dan harta. Tetapi sangat naïf jika harga dari sukses itu setara dengan kehilangan kesempatan mendampingi orang tua yang sudah udzur untuk mempersiapkan diri menghadap Allah SWT secara khusnul khotimah.

Jika dunia ini hanya tempat mampir ngombe (minum), melu ngguyu (ikut tertawa), dan tempat transit untuk menuju kampung akhirat, maka di balik “penderitaan” dan “ketabahan” memelihara orang tua yang sudah udzur sudah menanti surga. Sementara, meskipun bekerja juga dikategorikan sebagai jihad fisabilillah, tidak ada “wild card” untuk pasti masuk surga.

***

Pengalaman hidup sahabat saya mengingatkan saya pada sebuah kisah yang sangat melenggenda di zaman Rasulullah Muhammad SAW masih hidup. Rasulullah SAW menyebut seseorang yang kelak akan menjadi penghuni langit. Orang itu bernama Uwais Al-Qarni, seorang anak laki-laki yang sangat sayang dan taat kepada ibunya yang sudah udzur.

Tidak ada hal yang istimewa dari Uwais Al-Qarni kecuali keikhlasan, kesabaran, dan rasa syukur untuk merawat ibunya. Seolah-olah terinspirasi lirik lagu anak-anak “Kasih Ibu”, Uwais merawat ibunya yang sudah udzur dengan rasa kasih sayang tak terhingga dan tak harap kembali. Tidak hanya itu, Uwais pun merupakan anak yang sangat taat kepada perintah ibunya.

Profesi Uwais hanya seorang penggembala kambing dan unta milik orang lain. Penghasilan yang diterimanya “ala kadar”nya tetapi cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup ibunya dan dirinya. Meskipun “kekurangan”, Uwais tetap sabar dan bersyukur untuk setiap rezeki yang diterimanya. Bahkan, jika ada kelebihan, Uwais tidak segan-segan berbagi dengan orang-orang lain yang membutuhkan.

Kecuali merawat ibunya yang sudah udzur, Uwais tidak mempunyai keinginan yang muluk-muluk. Uwais yang saat itu tinggal di Yaman berkeinginan suatu saat dapat berjumpa dengan Rasulullah Muhammad SAW yang tinggal di Madinah. Tetapi meskipun sangat ingin berjumpa, memandang wajah dan mendengarkan suara Rasulullah SAW secara “live” (baca : langsung), Uwais tidak tega meninggalkan ibunya yang sudah udzur tinggal sendirian, walaupun untuk sementara waktu.

Keinginan yang membuncah itupun “terdeteksi” oleh ibunya. Singkat cerita, ibunya mengizinkan dan merestui Uwais untuk bertolak ke Madinah dan menjumpai Rasulullah SAW. Setelah mengadakan persiapan secara seksama untuk ibunya yang ditinggalkannya untuk sementara waktu dan persiapan bekal selama perjalanan, Uwais pun berangkat ke Madinah.

Sayang sekali, setibanya di Madinah, Uwais tidak dapat langsung bertemu dengan Rasulullah SAW. Saat itu Rasulullah sedang berperang di medan perang dan tidak diketahui kapan akan kembali ke rumah. Kepada Siti Aisyah yang menemuinya, Uwais meninggalkan pesan untuk disampaikan kepada Rasulullah SAW. Uwais tidak dapat menunggu lama sampai Rasulullah SAW kembali ke Madinah  karena harus segera pulang untuk merawat ibunya.

Sekembalinya Rasulullah dari medan perang, Siti Aisyah menyampaikan perihal Uwais kepada Rasulullah SAW. Meskipun tidak pernah bertemu, Rasulullah SAW mengetahui siapa Uwais dan apa kelebihannya. Kepada Siti Aisyah dan para sahabat, Rasulullah SAW mengatakan bahwa “Uwais anak yang taat kepada ibunya, dia adalah penghuni langit “. Kecuali itu, Rasulullah SAW juga menambahkan “suatu ketika, apabila kalian bertemu dengan dia, mohonlah doa dan istighfarnya, dia adalah penghuni langit, bukan orang bumi.” (www.kisahislamiah.blogspot.com, 11 Agustus 2013).

***

Apakah sahabat saya juga merupakan “penghuni langit” atau dalam istilah gaul “selebriti langit”. Wallahu a’lam bishawab. Yang pasti, berbakti kepada orang tua adalah jihad. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, Rasulullah SAW bersabda sebagai berikut :

Abdullah bin Amru bin Ash meriwayatkan bahwa ada seorang lelaki meminta ijin berjihad kepada Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam. Beliau bertanya, “Apakah kedua orang tuamu masih hidup?” Lelaki itu menjawab, “Masih.” Beliau bersabda, “Kalau begitu, berjihadlah dengan berbuat baik terhadap keduanya.” (Riwayat Al-Bukhari dan Muslim).

 

Bekerja untuk mencari nafkah termasuk perbuatan jihad. Berbakti kepada orang tua juga termasuk perbuatan jihad. Jika menggunakan hitungan “matematika pahala”, kondisi yang ideal adalah “sekali dayung dua tiga pulau terlampaui”.

 

Tampak Siring, 11 Agustus 2013

Pesohor Dari Langit

 
Leave a comment

Posted by on September 25, 2013 in Selasar

 

Mannheim

Ada 2 ciri utama Mannheim yang membedakannya dengan sebagian besar kota-kota di Jerman. Pertama, Mannheim “dibelah” atau “diapit” oleh 2 sungai, yaitu sungai Rhein dan sungai Neckar. Sungai Rhein menjadi pembatas antara Mannheim dengan kota Ludwigshafen (kota kelahiran mantan Kanselir Jerman (Barat) dan Jerman bersatu Helmut Kohl). Kedua, tata kota Mannheim sebagian besar berbentuk bujur sangkar sehingga Mannheim mendapat julukan “die Quadratestadt” (“city of the squares“). Selain Mannheim, tak ada satupun kota di Jerman yang memiliki tata kota berbentuk bujur sangkar.

 

Kedua ciri utama tersebut dapat menjadi “pintu masuk” untuk mengenali lebih jauh tentang Mannheim. Apa fungsi dari sungai di Mannheim? Mengapa kota Mannheim berbentu bujur sangkar?.  Untuk menjawab kedua pertanyaan tersebut, maka kita mesti kembali ke masa lalu dan menengok sejenak sejarah kota Mannheim.

 

Mannheim adalah kota industri. Seperti Ludwigshafen yang juga kota industri, Mannheim memanfaatkan sungai Rhein sebagai jalur distribusi logistik, termasuk hasil-hasil industri. Di era Nazi berkuasa, kedudukan Mannheim sebagai kota pusat industri  semakin bertambah penting. Tetapi kedudukan penting yang disandang Mannheim di bidang industri justru membawa penderitaan bagi kota dan penduduk Mannheim.

 

Di era perang dunia kedua, Mannheim  harus  rela dibom oleh pasukan sekutu sampai luluh lantak. Kota Mannheim yang saat ini eksis adalah “imitasi”. Mannheim dibangun kembali, sebagian bangunan penting di masa lalu yang hancur dibangun kembali, dan sebagian lagi sama sekali baru. Itulah sebabnya, mengapa tata kota Mannheim  berbentuk bujur sangkar.

 

Sejak perang dunia kedua tentara Amerika Serikat mendirikan barak militer di Mannheim dan keberadaanya masih berlangsung sampai dengan tahun 2011. Keberadaan orang-orang Amerika Serikat di Mannheim memberikan pengaruh kepada pembangunan kembali kota Mannheim. “BRR” atau Badan “Rehabilitasi dan Rekonstruksi” membangun kembali Mannheim dengan “cita rasa” Amerika Serikat.

 

Di bidang pendidikan, Universitas Mannheim tidak terlalu terkenal. Tetapi jangan terlalu menganggap remeh universitas di Jerman. Meskipun nama-nama universitas-universitas tidak begitu familiar terdengar di telinga orang-orang Indonesia (terutama bila dibandingkan dengan universitas-universitas di Amerika Serikat), mutu lulusan dijamin OK. Mantan orang nomor 1 di SKK Migas yang baru-baru ini dicokok KPK juga lulus dari Technische Universitaet, Clausthal Jerman.

 

Bagaimana dengan reputasi Universitas Mannheim. Coba kita bandingkan dengan dengan universitas di Indonesia untuk 1 bidang pendidikan saja. Di Uni. Mannheim, mata pelajaran financial behavior sudah diajarkan di tingkat strata 1. Sedangkan di Indonesia, financial behavior adalah menu utama mahasiswa pasca sarjana. Masih nggak percaya? Baca deh promosi Mannheim Business School di laman http://www.mannheim-business-school.com/home.html : “Mannheim Business School (MBS) is Germany’s leading business school and consistently holds top ranking positions.”


Meskipun sebagai kota industri, Mannheim masih tetap Umwelt freundlich (ramah lingkungan) dan “BERAMAL” : BERsih, Aman, nyaMAn, dan Lancar. Hampir semua kota-kota di Jerman memenuhi kriteria “beramal”. Bukan hanya Mannheim, melainkan juga kota industri seperti Wolfsburg yang menjadi “markas besar” produsen mobil Volks Wagen layak disebut “beramal”. Bahkan, kota pelabuhan seperti Hamburg dan “mantan” kota pelabuhan tempo doeloe Bremerhaven juga layak menyandang sebutan “beramal”.

 

Dari segi transportasi darat, mobilitas manusia dan barang relatif sangat lancar di Mannheim. Sistem transportasi darat semua tersedia di Mannheim, mulai dari bis kota, trem, kereta api, dan kendaraan pribadi. Tidak ada kemacetan di Mannheim. Sistem transportasi yang sangat baik di Mannheim menjadikan mobilitas manusia dan barang menjadi sangat lancar.

 

Saat mengunjungi Paris, saya start dari Mannheim dan  hanya butuh waktu 5 jam untuk mencapai Paris. Demikian juga saat berkunjung ke Belanda (Amsterdam, Rotterdam, dan Volendam), saya juga start dari Mannheim dan hanya dalam waktu kurang lebih 3 jam sudah “menembus” perbatasan Jerman – Belanda.

 

Jika anda senang berpelesiran dan bermaksud mengunjungi wilayah Jerman sebelah barat daya, Mannheim adalah (salah satu) kota yang layak menjadi titik start. Jika menggunakan kendaraan bermotor (sewa mobil maupun naik bis), dari Mannheim tidak terlalu jauh untuk menjangkau negara-negara perbatasan Jerman di sebelah barat, seperti Luxemburg, Perancis, Belgia, dan Belanda.

 

Bahkan, untuk berkunjung ke negara-negara Eropa lain, Mannheim masih bisa diandalkan. Dari Mannheim menuju ke bandara Frankfurt-Hahn hanya membutuhkan waktu 1 jam 30 menit. Dari Frankfurt-Hahn anda bisa terbang dengan maskapai penerbangan murah meriah ke seluruh negara di Eropa Barat dan Eropa Timur, terutama yang telah menjadi anggota Europe Union.

 Bild

Foto diunduh dari http://www.wikimedia.org

Kecuali sungai dan tata kota yang berbentuk bujur sangkar sebagai ciri utama kota, Mannheim juga dikenal sebagai “tuan rumah” dari beberapa penemuan besar, tidak hanya untuk bangsa dan negara Jerman, melainkan juga seluruh umat manusia. Laman www.en.wikipedia.org  merangkum beberapa penemuan spektakuler yang pernah terjadi di Mannheim sebagai berikut :

  • Karl Drais built the first two-wheeled draisine in 1817.
  • Karl Benz drove the first automobile on the streets of Mannheim in 1886. At his workshop in Mannheim he produced a lightweight three-wheeled vehicle powered by a single cylinder petrol/gasoline-fueled engine, first shown in public during 1886. This powered tricycle subsequently came to be widely regarded as the first automobile/motor car powered by an internal-combustion engine. Karl’s wife Bertha Benz undertook the world’s first road trip by automobile from Mannheim to Pforzheim in August 1888.
  • The Lanz Bulldog, a popular tractor with a rugged, simple Diesel engine was introduced in 1921.
  • Karl Benz developed the world’s first compact diesel-powered car at the Benz & Cie. motor works in Mannheim during 1923
  • Julius Hatry built the world’s first rocket plane in 1929.

Kecuali menjadi kota kelahiran beberapa penemuan, “putra daerah” terbaik Mannheim juga mengharumkan bangsa dan negara Jerman. Salah satu putra daerah Mannheim adalah Steffi Graf, petenis pertama putri yang meraih gelar golden slam (menjadi juara di 4 turnamen grandslam : Australia Open, French Open, Wimbledon, dan US Open pada satu tahun kalender kejuaraan tenis). Graf adalah petenis putri yang meraih juara grandslam terbanyak (22 gelar), terbanyak di era tenis terbuka.   “Putri daerah” lain adalah Constanze yang memenuhi pinangan sebagai istri dari Wolfgang Amadeus Mozart.

 Bild

Foto diunduh dari http://www.sporteology.com

Dari segi wisata, Mannheim relatif kurang dibandingkan dengan kota-kota wisata lain di Jerman. Mannheim memang lebih menonjol sebagai kota bisnis dan kota industri ketimbang kota wisata. Beberapa perusahaan besar seperti Daimler AG, Hoffmann – La Roche, Fuchs Petrolub AG dan beberapa perusahaan lain memiliki pabrik dan atau kantor di Mannheim. Kecuali itu, bagi wisatawan yang suka berjalan-jalan dengan di taman terbuka dapat mengunjungi Luisenpark.

 

Tidak banyak tempat-tempat wisata yang ada di Mannheim. Mannheim Schloss (Istana Mannheim) –  saat ini menjadi ruang kuliah universitas Mannheim dan memiliki ruang terbuka yang sering digunakan menjadi tempat pentas musik dan kegiatan publik lainnya – memiliki desain arsitektur yang relatif sederhana.

 

Tetapi pengunjung wajib mengunjungi landmark kota Mannheim, yaitu wasserturm (water tower). Demikian juga kota tua di Mannheim yang ditata sebagaimana kota-kota tua di Jerman, pengunjung dapat mengunjungi eks gedung balaikota, Sebastian Church, dan pasar tradisional.

 

Meskipun dari tidak banyak memiliki obyek wisata yang menarik, saya cukup senang tinggal di Mannheim. Bahkan, dari segi waktu, saat di Jerman saya paling lama tinggal di Mannheim (kurang lebih 4,5 bulan) untuk belajar bahasa Jerman. Itulah sebabnya, jika ditanya oleh orang-orang Jerman yang tinggal di Mannheim, saya sering “membual” : “Mannheim ist meine zweite Heimat”.

 

Tampak Siring, 21 Agustus 2013

 

Tumbal Perubahan

Tumbal perubahan dari strategi pelatih dan atau perubahan pelatih di kubu Manchester United bernama Wayne Rooney. Strategi 4-2-3-1 yang hanya mengandalkan seorang penyerang telah menempatkan Rooney sebagai “pecundang” dan harus lela “duduk manis” menghangatkan bangku cadangan. Sedangkan van Persie yang 3 tahun belakangan ini subur mencetak gol menjadi pilihan utama posisi penyerang yang dulu menjadi “hak paten” Rooney.

Padahal, selama bertahun-tahun, klub-klub sepakbola profesional di Inggris mengusung strategi 4-4-2 dan bermain dengan mengandalkan dua penyerang kembar. Tetapi sejak Piala Dunia 2010 usai, sebagian besar pelatih latah mengganti strategi lama dengan strategi baru 4-2-3-1. Formasi baru diisi oleh 4 bek, 2 gelandang bertahan, 3 gelandang menyerang (salah satu bertindak sebagai “second striker” atau bahasa keren “false nine”), dan 1 penyerang.

Padahal, Rooney adalah salah satu penyerang terbaik yang pernah dimiliki MU dan bahkan timnas Inggris. Kontribusi dan kinerja Rooney di masa lalu mengantarkannya menjadi “anak emas” Sir Alex Ferguson. Ndhilalah van Persie langsung “nyetel” dan di musim pertamanya dengan MU menjadi salah satu pemain kunci untuk merebut gelar juara liga Inggris yang ke 20. Demi strategi 4-2-3-1, Ferguson (saat itu) dan Moyes (pelatih MU saat ini) tega menerapkan “habis manis sepah dibuang”. Padahal, jika Moyes menerapkan kembali strategi 4-4-2 juga tidak haram.

Salah satu klub yang sukses dengan strategi 4-2-3-1 adalah FC Bayern Muenchen. Berkat strategi ini, di musim kompetisi 2012/2013, FC Bayern Muenchen untuk pertama kalinya (dan menjadi klub Jerman yang pertama kali) merebut treble winners, yaitu juara Bundesliga, Juara Liga Champion, dan Juara DFB Pokal (Piala Liga Jerman). Di tingkat timnas, strategi 4-2-3-1 sukses diadopsi dan dipraktekkan timnas Brasil di Piala Konfederasi 2013.

Tetapi strategi yang diterapkan pelatih Jupp Heynckes saat itu lebih sesuai disebut 4-2-3-1 “plus-plus”. Sebab, Heynckess juga memainkan “inverted winger”. Frank Ribery yang memiliki kaki kanan lebih kuat justru ditempatkan di posisi penyerang sayap sebelah kiri. Sedangkan Arjen Robben yang memiliki kaki kiri lebih kuat justru menempati posisi penyerang sayap kanan. Tetapi modifikasi inverted winger itulah yang menjadikan serangan Bayern membuat bek-bek lawan menjadi kalang kabut. (Saya akan menulis tentang inverted winger ini dalam tulisan tersendiri untuk menjelaskan job enrichment).

Tidak semua klub maupun timnas sukses menerapkan perubahan strategi. FC Barcelona dan timnas Spanyol masih setia dengan strategi 4-3-3. Tetapi ada juga strategi 4-2-3-1 yang sudah terbukti sukses, justru diubah dengan strategi 4-1-4-1 seperti yang diterapkan oleh pelatih baru FC Bayern Muenchen, Pep Guardiola. Strategi baru Guardiola ini secara teoritis dan konsep memang lebih menyerang, terutama menempatkan 4 gelandang yang fokus bertugas membantu seorang penyerang. Tetapi konsekuensi dari strategi 4-1-4-1 adalah hanya ada 1 gelandang yang bertugas (dan tambah berat) membantu pertahanan.

Bild

Foto diunduh dari http://www.aidtheboss.com

Tumbal dari perubahan strategi yang diterapkan oleh Pep Guardiola adalah Javier Martinez, seorang gelandang bertahan yang berduet dengan Bastian Schweinsteiger. Dalams sejarah transfer pemain di Bundesliga, nilai transfer Martinez adalah paling mahal. Bayern Muenchen harus merogoh 40 juta Euro untuk memboyong Martinez dari klub Athletico Bilbao.

Harga yang pantas untuk kontribusi dan kinerja yang ditunjukkan Martinez di musim perdananya bergabung dengan Bayern. Martinez langsung “nyetel” dan menjadi pilihan utama starting eleven. Berduet dengan Schweinsteiger, Martinez langsung menunjukkan peran, kontribusi, dan kinerja luar biasa bagi Bayern untuk merebut treble winners.

Kini, jika masih ingin bertahan di Bayern Muenchen, nasib Martinez di tangan Guardiola. Dalam strategi baru yang diterapkan oleh Guardiola, tidak ada posisi yang sesuai dengan kompetensi Martinez saat ini. Jika masih mau menjadi bagian dari tim utama Bayern Muenchen, Martinez harus rela “dimutasikan” menjadi bek tengah. Suka tidak suka, Martinez harus menyesuaikan diri dengan strategi Guardiola.

Sepakbola memang hanya urusan menggiring, mengoper, menendang, menyundul dan khusus kiper juga menangkap bola. Meskipun hanya “memindahkan” bola, kompetensi yang dibutuhkan untuk setiap posisi dalam sebuah kesebelasan adalah unik dan khusus.

Meskipun bisa menangkap bola, dengan tubuhnya yang relatif mungil, Messi sudah pasti tidak bisa diandalkan sebagai kiper. Di FC Barcelona, Javier Mascherano yang bermain di posisi gelandang ternyata tidak terlalu sukses ketika dipaksa menjadi bek tengah. Postur tubuh Mascherano kurang menunjang untuk menghadapi bola-bola atas dan ia juga tidak terlatih menghadapi bola-bola silang.

Salah satu perubahan posisi yang berhasil dilakukan adalah gagasan Jose Mourinho menempatkan Sergio Ramos menjadi bek tengah. Selama bertahun-tahun Ramos menempati posisi bek kanan dan tidak tergantikan oleh siapapun, baik di Real Madrid maupun di timnas Spanyol.

Perubahan posisi Ramos bukan tidak mengandung risiko. Sebagai bek sayap, kompetensi Ramos adalah bertahan dan sekaligus memiliki naluri yang kuat untuk menyerang. Bek sayap (wing back) cenderung bermain dengan bola-bola bawah (karena itu tinggi badan bek sayap biasanya lebih pendek dibandingkan dengan bek tengah). Sedangkan bek tengah harus bermain dengan bola-bola atas dan bawah. Arah bola datang dari berbagai arah. Naluri bertahan bek tengah harus lebih dominan ketimbang naluri menyerang. 

***

Fleksibilitas dan kesiapan menghadapi perubahan tidak lagi menjadi konsumsi bangsa, masyarakat, organisasi, dan kelompok sosial, melainkan sudah menjadi tantangan yang juga dihadapi oleh setiap individu.

Di beberapa organisasi, sejak rekrutmen dan seleksi calon karyawan, kompetensi menghadapi perubahan (fleksibilitas, kesediaan, kemampuan, dan kesiapan) sudah ditekankan menjadi salah satu persyaratan penting. Tidak bermanfaat banyak jika suatu organisasi memiliki fleksibilitas dan kesiapan yang relatif baik menghadapi perubahan, tetapi tidak didukung oleh fleksibilitas dan kesiapan karyawan menghadapi perubahan.

Fokus dari sebuah perubahan adalah manusia. Secara filosofis, teori, dan konsep, semua sepakat bahwa seyogyanya manusia menjadi subyek perubahan dan dilibatkan dengan perubahan. Idealnya, melibatkan manusia dalam proses perubahan sudah dimulai sejak identifikasi gagasan perubahan. Tidak hanya untuk menumbuhkan sense of belonging terhadap perubahan, tetapi juga untuk menyadarkan terhadap konsekuensi dari suatu perubahan.

Mulut Jose Mourinho mungkin ketus dan judes, sikap dan perilakunya pun cenderung arogan. Tetapi Mourinho adalah orang yang siap menjelaskan perubahan dan strategi yang diterapkannya kepada setiap pemain. Untuk Fernando Torres yang sudah terbukti tidak produktif pun Mourinho masih bersikap manusiawi dan bersedia merubah gaya bermain Chelsea. Tujuannya adalah membantu Torres nyaman bermain sehingga dapat lebih berperan, memberikan kontribusi, dan menunjukkan kinerja untuk tim. Nasib Torres ditentukan oleh dirinya sendiri. Jika setelah difasilitasi dan dibantu tidak juga memberikan kontribusi yang sangat signifikan bagi tim, sejatinya Torres sendiri yang telah bertindak dzalim.

Tidak ada jaminan bahwa perubahan akan berhasil. Meskipun rencana, sasaran, strategi implementasi, dan pengendalian implementasi sudah disusun secara matang, tetap tidak ada jaminan bahwa perubahan akan berhasil. Demikian juga penempatan manusia sebagai subyek perubahan dan melibatkan manusia dalam perubahan sejak tahap brainstorming, tidak berarti perubahan akan berhasil.

Sebuah perusahaan multinasional dari Jepang yang bergerak di bidang elektronik berusaha mengubah sistem dan proses produksi yang diterapkan di pabriknya di kawasan industri Cibitung. Menurut hasil penelitian, hasil produksi dengan cara karyawan berdiri ternyata lebih efisien, efektif, dan produktif ketimbang dengan cara karyawan duduk.

Gagasan perubahan proses produksi dari duduk menjadi berdiri ternyata layu sebelum berkembang. Paling banter gagasan perubahan hanya mencapai rencana perubahan, belum tahap implementasi. Karyawan kompak menentang rencana perubahan. Berbagai diskusi, dialog, perundingan, mediasi dan sebagainya selalu berujung jalan buntu. Pameo bahwa “kalau sudah duduk lupa berdiri” diyakini sebagai kebenaran mutlak. Singkat kata, perusahaan multinasional asing itu hengkang dari Indonesia.

Sayonara!

Tampak Siring, 13 Agustus 2013

 
Leave a comment

Posted by on September 4, 2013 in Selasar