RSS
Aside
25 Sep

Saya menyebut sahabat saya yang satu ini sebagai “pesohor dari langit”. Sebegitu hebatkah sahabat saya ini sehingga layak menyandang prediket “selebriti langit”?. Justru itu, jika menggunakan simbol status dan simbol prestasi yang biasa digunakan untuk mengkategorikan seseorang sebagai “pesohor” dan/atau “selebriti”, sahabat saya ini “nggak ada apa-apanya”.

Dari segi fisik, wajah dan body sahabat saya sama sekali tidak menjual. Tak akan ada yang tertarik untuk menggunakan jasanya sebagai bintang iklan. Bahkan, andaikan ditawari gratis pun perusahaan periklanan tidak yakin sahabat saya akan mampu jadi bintang iklan.

Pekerjaan dan apa yang dilakukan oleh sahabat saya pun tergolong biasa-biasa saja. Pendidikan sahabat saya S1 dari perguruan tinggi negeri di Indonesia. Setelah bekerja bertahun-tahun di perusahaan, sahabat saya ini pun masih “betah” di posisi supervisor. Take home pay sahabat saya juga sekedar cukup. Sahabat saya juga tidak biasa mencari “sabetan” selain gaji. Tetapi dari penghasilan halal yang diterimanya,  sahabat saya mampu membeli rumah sederhana, kendaraan roda dua, dan kendaraan roda empat bekas alias “seken”.

Mungkin yang tergolong istimewa dari sahabat saya adalah keinginannya yang sangat kuat untuk merawat ibunya yang sudah udzur. Sejatinya, keinginan untuk berbakti kepada orang tua adalah keinginan yang mulia dan sangat dianjurkan dalam agama Islam. Masalahnya, keinginan yang mulia itu lebih mudah diucapkan, tetapi “dilematis” untuk diwujudkan.

Ibu sahabat saya tinggal di pinggiran kota Jakarta, sementara sahabat saya tinggal dan bekerja di sebuah perusahaan swasta nasional di Kalimantan. Bagi sahabat saya, perhatian dari jarak jauh kepada ibunya yang sudah udzur dianggapnya tidak cukup. Memang, melalui berbagai teknologi komunikasi dan informasi, ibu dan anak dapat berkomunikasi, bahkan seolah-olah tatap muka.

Menurut sahabat saya, dharma bakti yang pantas untuk ibunya yang sudah udzur adalah mendampingi secara “live” (baca : langsung) agar ibunya dapat mempersiapkan diri menghadap Allah SWT secara khusnul khotimah. Sahabat saya tidak ingin ibunya dari segi otot masih sehat dan dari segi otak masih waras, tetapi dari segi qalbu “hang” atau tidak connect dengan Allah SWT.

Itu berarti sahabat saya harus pindah pekerjaan dan tinggal di kota yang sama dengan ibunya. Sungguh keinginan yang luhur, meskipun sahabat saya ini ternyata tidak mudah pindah kota dan mencari pekerjaan yang baru. Permohonan untuk mutasi kerja pun ditolak mentah-mentah berkali-kali.

Sampai tenggat yang ditentukan, pekerjaan yang diidam-idamkan tidak juga ditemukan. Sahabat saya pun harus mengambil keputusan tegas, tetap bekerja dan tinggal di kota yang berbeda dengan ibunya, atau berhenti kerja dan tinggal satu kota dengan ibunya. Setelah mempersiapkan diri secara seksama, sahabat saya memutuskan pindah satu kota dengan ibunya sembari mencari pekerjaan yang baru.

Apakah keputusan sahabat saya ini konyol? Wallahu a’lam bishawab. Menurut pendapat subyektif saya, yang konyol adalah jika seseorang memiliki kesempatan yang besar untuk tinggal satu kota dengan orang tuanya, dan berkesempatan pula untuk mendampingi orang tuanya yang sudah udzur untuk mempersiapkan diri menghadap Tuhan Yang Maha Agung secara khusnul khotimah, justru membuang kesempatan emas itu.

Tidak banyak anak yang memiliki kesempatan emas tinggal satu kota dengan orang tua, memiliki pekerjaan dan karir yang cemerlang, serta memiliki kesempatan untuk mendampingi orang tua yang sudah udzur mempersiapkan diri secara seksama menghadap Allah SWT secara khusnul khotimah.

Untuk kasus di Indonesia, pembangunan yang tidak merata antara Jawa dan luar Jawa, pembangunan yang timpang antara Jakarta dan sekitarnya dengan kota-kota lain, menyebabkan orang berbondong-bondong “menyerbu” Jakarta. Meskipun harus “berdarah-darah”, pekerjaan relatif lebih mudah dicari di Jakarta ketimbang kota-kota lain. Lagi pula, ada anggapan bahwa Jakarta adalah kota untuk meraih sukses dan “menjadi orang”.

Urbanisasi telah menjadi “kambing hitam” dan menghilangkan kesempatan anak-anak bangsa untuk memperoleh pekerjaan dan tinggal di daerah-daerah bersama orang tua mereka. Saya termasuk “korban” dari urbanisasi dan “menyalahkan” urbanisasi sebagai “kambing hitam” atas kegagalan saya mendampingi kedua orang tua saya mempersiapkan perjalanan abadi menghadapi Allah SWT. Salah satu penyesalan dalam kehidupan saya adalah tidak berada di samping kedua orang tua saya saat keduanya dipanggil Allah SWT.

Memboyong orang tua untuk tinggal satu kota dengan saya bukan alternatif pilihan yang dapat dieksekusi. Secara teknis dan fisik, sangat mudah memindahkan orang tua saya yang tinggal di Yogya ke Jakarta. Secara psikologis dan sosial, tindakan memindahkan orang tua dari kota yang sudah sangat dicintainya dan ingin meninggal di Yogya, sama saja dengan memindahkan ikan dari habitatnya.

Di sisi lain, ada orang-orang yang berkesempatan bekerja dan tinggal di satu kota dengan orang tuanya yang sudah udzur, justru “melarikan diri” dengan alasan apapun yang pasti benar untuk orang yang bersangkutan. Orang-orang seperti itu memang boleh jadi sukses secara dalam hal tahta (baca : jabatan, karir) dan harta. Tetapi sangat naïf jika harga dari sukses itu setara dengan kehilangan kesempatan mendampingi orang tua yang sudah udzur untuk mempersiapkan diri menghadap Allah SWT secara khusnul khotimah.

Jika dunia ini hanya tempat mampir ngombe (minum), melu ngguyu (ikut tertawa), dan tempat transit untuk menuju kampung akhirat, maka di balik “penderitaan” dan “ketabahan” memelihara orang tua yang sudah udzur sudah menanti surga. Sementara, meskipun bekerja juga dikategorikan sebagai jihad fisabilillah, tidak ada “wild card” untuk pasti masuk surga.

***

Pengalaman hidup sahabat saya mengingatkan saya pada sebuah kisah yang sangat melenggenda di zaman Rasulullah Muhammad SAW masih hidup. Rasulullah SAW menyebut seseorang yang kelak akan menjadi penghuni langit. Orang itu bernama Uwais Al-Qarni, seorang anak laki-laki yang sangat sayang dan taat kepada ibunya yang sudah udzur.

Tidak ada hal yang istimewa dari Uwais Al-Qarni kecuali keikhlasan, kesabaran, dan rasa syukur untuk merawat ibunya. Seolah-olah terinspirasi lirik lagu anak-anak “Kasih Ibu”, Uwais merawat ibunya yang sudah udzur dengan rasa kasih sayang tak terhingga dan tak harap kembali. Tidak hanya itu, Uwais pun merupakan anak yang sangat taat kepada perintah ibunya.

Profesi Uwais hanya seorang penggembala kambing dan unta milik orang lain. Penghasilan yang diterimanya “ala kadar”nya tetapi cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup ibunya dan dirinya. Meskipun “kekurangan”, Uwais tetap sabar dan bersyukur untuk setiap rezeki yang diterimanya. Bahkan, jika ada kelebihan, Uwais tidak segan-segan berbagi dengan orang-orang lain yang membutuhkan.

Kecuali merawat ibunya yang sudah udzur, Uwais tidak mempunyai keinginan yang muluk-muluk. Uwais yang saat itu tinggal di Yaman berkeinginan suatu saat dapat berjumpa dengan Rasulullah Muhammad SAW yang tinggal di Madinah. Tetapi meskipun sangat ingin berjumpa, memandang wajah dan mendengarkan suara Rasulullah SAW secara “live” (baca : langsung), Uwais tidak tega meninggalkan ibunya yang sudah udzur tinggal sendirian, walaupun untuk sementara waktu.

Keinginan yang membuncah itupun “terdeteksi” oleh ibunya. Singkat cerita, ibunya mengizinkan dan merestui Uwais untuk bertolak ke Madinah dan menjumpai Rasulullah SAW. Setelah mengadakan persiapan secara seksama untuk ibunya yang ditinggalkannya untuk sementara waktu dan persiapan bekal selama perjalanan, Uwais pun berangkat ke Madinah.

Sayang sekali, setibanya di Madinah, Uwais tidak dapat langsung bertemu dengan Rasulullah SAW. Saat itu Rasulullah sedang berperang di medan perang dan tidak diketahui kapan akan kembali ke rumah. Kepada Siti Aisyah yang menemuinya, Uwais meninggalkan pesan untuk disampaikan kepada Rasulullah SAW. Uwais tidak dapat menunggu lama sampai Rasulullah SAW kembali ke Madinah  karena harus segera pulang untuk merawat ibunya.

Sekembalinya Rasulullah dari medan perang, Siti Aisyah menyampaikan perihal Uwais kepada Rasulullah SAW. Meskipun tidak pernah bertemu, Rasulullah SAW mengetahui siapa Uwais dan apa kelebihannya. Kepada Siti Aisyah dan para sahabat, Rasulullah SAW mengatakan bahwa “Uwais anak yang taat kepada ibunya, dia adalah penghuni langit “. Kecuali itu, Rasulullah SAW juga menambahkan “suatu ketika, apabila kalian bertemu dengan dia, mohonlah doa dan istighfarnya, dia adalah penghuni langit, bukan orang bumi.” (www.kisahislamiah.blogspot.com, 11 Agustus 2013).

***

Apakah sahabat saya juga merupakan “penghuni langit” atau dalam istilah gaul “selebriti langit”. Wallahu a’lam bishawab. Yang pasti, berbakti kepada orang tua adalah jihad. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, Rasulullah SAW bersabda sebagai berikut :

Abdullah bin Amru bin Ash meriwayatkan bahwa ada seorang lelaki meminta ijin berjihad kepada Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam. Beliau bertanya, “Apakah kedua orang tuamu masih hidup?” Lelaki itu menjawab, “Masih.” Beliau bersabda, “Kalau begitu, berjihadlah dengan berbuat baik terhadap keduanya.” (Riwayat Al-Bukhari dan Muslim).

 

Bekerja untuk mencari nafkah termasuk perbuatan jihad. Berbakti kepada orang tua juga termasuk perbuatan jihad. Jika menggunakan hitungan “matematika pahala”, kondisi yang ideal adalah “sekali dayung dua tiga pulau terlampaui”.

 

Tampak Siring, 11 Agustus 2013

Pesohor Dari Langit

 
Leave a comment

Posted by on September 25, 2013 in Selasar

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: