RSS

Volendam

26 Sep

Sahabat saya, Ignatius Henry Ismadi, sangat suka dengan peribahasa “bahasa adalah jendela dunia”. Saya juga suka dengan peribahasa itu, karena itu saya “memaksakan diri” belajar asing. Tetapi belajar bahasa tanpa mengadakan perjalanan wisata?

Saint Augustine pernah mengingatkan bahwa, “the world is a book, and those who do not travel read only a page”. Kalau hanya belajar bahasa, tetapi tidak mengadakan wisata, maka seseorang hanya membaca 1 halaman saja dari sebuah buku.

Jika saya boleh membandingkan, belajar bahasa tanpa mengadakan wisata adalah ibarat tiki-taka tanpa gol. Tiki-taka adalah “filosofi” permainan sepakbola yang diperagakan oleh anak-anak Catalan yang memperkuat FC Barcelona. Tiki-taka dapat dideskripsikan dengan beberapa kata : indah, cepat, dan menyerang. Tetapi tiki-taka tanpa gol? Seperti apakah rasa tiki-taka tanpa gol?.

Perkenankan saya mengutip pendapat Bixente Lizarazu, bek kiri yang pernah memperkuat timnas sepakbola Perancis dan pernah merumput di Bayern Muenchen. Menurut Lizarazu, tiki-taka tanpa gol adalah ibarat cinta tanpa seks. Alamak!

Saya tidak bermaksud membandingkan belajar bahasa dengan cinta dan wisata sama dengan seks. Yang saya maksud adalah belajar bahasa tanpa mengadakan perjalanan wisata kurang lengkap. Tentang kedua hal tersebut, saya merangkum sebagai berikut : “bahasa adalah jendela dunia, sedangkan wisata adalah pintu dunia’.

Sebuah rumah, betapapun sederhananya, harus punya jendela dan pintu. Untuk melihat dunia, anda cukup mengandalkan jendela (baca : bahasa). Tetapi untuk bisa jalan-jalan keliling dunia, anda harus melewati pintu (baca : wisata).

***

A journey of a thousand miles  begins with one step”, demikian petuah Sun Tzu. Langkah pertama saya untuk melewati pintu dunia ditemani oleh keluarga Aryoso Nirmolo. Saya harus berterima kasih kepada Yosi, Vitri dan Rafi yang telah membuka hati, mata, dan pikiran saya untuk melihat kehidupan masyarakat dan bangsa-bangsa di Eropa. Yosi cs lah yang menemani saya keliling Eropa, antara lain Austria, Belanda, Hungaria, Italia, dan Slovenia.

Setelah Jerman, perjalanan pertama saya ke luar negeri adalah negara Belanda. Ada 2 kota besar yang saya kunjungi, yaitu Rotterdam dan Amsterdam. Satu lagi adalah Volendam, sebuah kota kecil yang sangat ramai dikunjungi wisatawan, meskipun Volendam tidak lebih gede dari kota-kota kabupaten atau kotamadya di Indonesia pada umumnya.

Volendam adalah sebuah kota di sebelah utara Belanda. Pada tahun 2007, jumlah penduduknya hanya 22 ribu orang. Volendam terletak di tepi pantai. Tidak sulit untuk menemukan orang-orang Indonesia “berkeliaran” di Volendam. Dari pegawai negeri sampai dengan orang-orang penting di Indonesia, merasa wajib berkunjung ke Volendam. K.H. Abdurrahman Wahid atau yang akrab disapa Gus Dur pun pernah menjejakkan kakinya di Volendam. Untuk apa? Mejeng!

eVLD 27Image courtesy of Aryoso Nirmolo

Tidak ada hal menarik yang dapat diamati di Volendam. Kehidupan dan suasana pantai di mana mana relatif sama, meskipun beda negara dan beda budaya. Di mana-mana orang pantai selalu egaliter dan terbuka terhadap siapa saja.  Di Volendam juga ada kincir air, tetapi kincir air jamak ditemukan di tempat-tempat lain Belanda. Barangkali, satu-satunya keunikan dan menjadi keunggulan kompetitif adalah kostum nelayan. Tetapi pakaian tradisional nelayan Volendam sudah cukup menjadi “magnet” yang menyedot pundi-pundi wisatawan. Wikipedia menulis sebagai berikut :

Volendam is a popular tourist attraction in the Netherlands, well known for its old fishing boats and the traditional clothing still worn by some residents. The women’s costume of Volendam, with its high, pointed bonnet, is one of the most recognizable of the Dutch traditional costumes, and is often featured on tourist postcards and posters (although there are believed to be fewer than 50 women now wearing the costume as part of their daily lives, most of them elderly). There is a regular ferry connection to Marken, a peninsula close by. Volendam also features a small museum about its history and clothing style, and visitors can have their pictures taken in traditional Dutch costumes.” (www.wikipedia.org, 17 Juni 2013)

***

Indonesia perlu banyak belajar dari Volendam. Bayangkan, “hanya” melalui ritual mejeng (baca : foto mengenakan kostum tradisional rakyat Volendam), devisa pun mengucur deras ke Volendam. Jangan pernah memandang remeh makna dari sebuah foto. Foto adalah sebuah bukti otentik bagi seseorang bahwa ia pernah berkunjung ke suatu tempat wisata. Jika tempat wisata itu di luar negeri, maka  akan menambah “bobot” dari sebuah foto dan “mendongkrak” status sosial orang yang difoto.

Sebuah foto akan membuat seseorang bahagia tiada tara. Bahkan, ketika hasil foto lebih indah dari aslinya, orang yang difoto juga tidak akan tersinggung. Pengalaman saya memotret manusia menyimpulkan bahwa setiap orang pada dasarnya senang dengan foto dirinya. Asalkan dalam foto manusia tiga kriteria terpenuhi, yaitu “ada gue”, “gue banget”, dan “ngagetin” (foto-foto yang diambil secara candid).

Itulah sebabnya, dengan segala daya dan upaya, orang-orang Indonesia selalu menyempatkan diri berkunjung ke Volendam dan “hanya” untuk melakukan ritual foto mengenakan kostum tradisional rakyat Volendam. Terasa belum lengkap jika berkunjung ke Belanda tanpa menyambangi Volendam. Hanya untuk sebuah foto seharga 13 Euro (tahun 2009) orang Indonesia rela “menghamburkan” devisa untuk negara lain.

Tentu saja candi Borobodur, Gunung Bromo, wisata laut di Bunaken dan Rajat Ampat, tempat-tempat wisata lain, dan termasuk pakaian tradisional berbagai suku di Indonesia, tidak kalah menarik dibandingkan dengan obyek wisata di Volendam, terutama kostum tradisional nelayan.

Tetapi sejarah mencatat bahwa dengan “segambreng” keunggulan kompetitif di bidang pariwisata, Indonesia hanya mampu mendatangkan 8,04 juta wisatawan asing pada tahun 2012 (www.antaranews.com). Target tahun 2013 Indonesia kedatangan 9 juta wisatawan asing. Bandingkan dengan negara serumpun Malaysia yang mampu mendatangkan sekitar 23 juta wisatawan asing  pada tahun 2012 (Oops…… 2,5 juta di antaranya adalah wisatawan asal Indonesia!).

Tidak ada yang salah dengan obyek pariwisata di Indonesia.  Dibandingkan sesama negara ASEAN, obyek wisata Indonesia tak ada bandingannya. Dari segi fotografi landscape (pemandangan), Indonesia masuk 5 besar dunia.

Jika kita sepakat analogi bahwa dunia adalah sebuah buku, maka “buku” tentang Indonesia hanya dibaca oleh 8,04 juta orang. Sedangkan “buku-buku” tentang Malaysia, Singapura, dan Thailand dibaca oleh lebih banyak pengunjung. Jika Volendam yang sangat “mungil” itu kita ibaratkan sebagai “buku saku”, maka “buku besar” bernama Indonesia boleh jadi lebih sedikit dibaca oleh orang dibandingkan “buku saku”.

Secara umum, manusia Indonesia termasuk malas dan kurang suka membaca buku. Bagi sebagian orang Indonesia, lebih baik beli DVD film seri atau “telenovela” Korea ketimbang beli buku. Barangkali, jumlah wisatawan asing yang relatif sedikit berkunjung ke Indonesia merupakan “harga” yang pantas dibayar oleh bangsa yang malas membaca buku.

 

Tampak Siring, 17 Juni 2013

 
Comments Off on Volendam

Posted by on September 26, 2013 in Deutschland Wunderbar | Tour d'Europe

 

Comments are closed.

 
%d bloggers like this: