RSS

Reaksi Individual Terhadap Perubahan

29 Sep

Juan Mata, playmaker FC Chelsea sedang gundah gulana.  Pesepakbola yang dua musim kompetisi berturut-turut merebut gelar player of the season sedang menghadapi “madesu” (baca: masa depan suram).  Kontribusi dan prestasi mengantarkan Chelsea merebut juara piala Champion dan Piala Liga Eropa seakan tak bermakna. Jose Mourinho yang memilih “mudik” kembali melatih Chelsea telah membuat Juan seakan-akan dalam status “from hero to zero”.

Bukan gaji yang membuat Juan galau. Meskipun tidak bermain, Juan menerima gaji 67 ribu poundsterling per pekan tetap mengalir ke rekening pribadinya. Bagi pesepakbola, duduk manis menghangatkan bench adalah “penghinaan”. Piala Dunia 2014 yang tinggal menghitung bulan semakin membuat situasi Juan bertambah pelik. Jarang dimainkan sebagai pemain reguler yang mengisi starting eleven semakin mempersempit kesempatan Juan memperkuat La Furia Roja, julukan timnas sepakbola Spanyol.

Apa yang bisa dilakukan Juan? Hampir tidak ada. Jendela transfer dan musim kompetisi liga di semua negara-negara di Eropa yang telah bergulir tidak memungkinkan Juan hengkang dari Chelsea, bahkan juga tidak untuk dipinjamkan ke klub lain. Sampai artikel ini selesai ditulis, hanya legowo dan nrimo ing pandum yang bisa dilakukan Juan. Tentu saja sembari berlatih dan menunggu “kesempatan emas” untuk mendapatkan kepercayaan pelatih.

Perubahan pelatih dan perubahan strategi adalah salah satu “momok” yang harus dihadapi setiap pesepakbola. Kadangkala perubahan itu justru lebih menakutkan ketimbang cidera yang lumrah menimpa pesepakbola. Ibaratnya, perubahan pelatih dan strategi seperti pukulan upper cut yang dapat membuat seorang petinju roboh dan kalah knock out.

Bagaimana reaksi para pesepakbola menghadapi perubahan? Pesepakbola kan juga manusia, mereka menunjuk reaksi yang sangat beragam : ada yang “naik pitam” seperti yang ditunjukkan oleh Wayne Rooney di FC Manchester United, ada yang mangkel dan kemudian memutuskan hengkang seperti yang dilakukan oleh Mezut Oezil yang “hijrah” dari FC Real Madrid ke FC Arsenal. Tetapi ada juga yang “santai” dan “adem ayem” seperti yang diperagakan oleh Juan Mata sembari menunggu “nasib baik” berbelok arah ke dirinya.

Tidak semua orang siap menghadapi perubahan, baik sebagai orang yang terlibat dalam perencanaan perubahan maupun terutama sebagai pihak yang tidak dilibatkan dan tidak diberitahu akan terjadi perubahan. Jarang sekali incumbent gembar gembor tentang perubahan. Tetapi hampir semua calon-calon yang maju ke pilkadal (baca : pemilihan kepala daerah langsung)  dan pilpres (baca : pemilihan presiden), selalu basa basi mengusung tema perubahan.

Perubahan akan selalu “mengganggu” kepentingan setiap orang. Perubahan seringkali juga menghilangkan berbagai “kenyamanan” dan privilege yang telah dinikmati. Karena itu, reaksi umum terhadap perubahan, pertama-tama adalah menentang perubahan. Kemudian berangsur-angsur dapat berpikir positif terhadap perubahan, dan akhirnya , secara sukarela maupun terpaksa, legowo dan nrimo ing pandum terhadap perubahan.

Salah satu pendekatan “klasik” yang membahas sikap dan perilaku manusia terhadap perubahan adalah Kuebler-Ross Model atau lebih dikenal sebagai “five stage of grief”, sebagaimana gambar berikut ini :

Kubler-Ross MODELSumber : http://www.en.wikipedia.org

Intisari dari gagasan Kuebler-Ross Model yang digagas oleh Elizabeth Kuebler-Ross mengatakan bahwa, “when a person is faced with the reality of impending death or other extreme, awful fate, he or she will experience a series of emotional stages: denial, anger, bargaining,depression and acceptance.” (en.wikipedia.org, 27 Sept. 2013).

Tahap pertama, reaksi orang terhadap perubahan adalah menyangkal. Pada tahap ini orang masih merasa semua baik-baik saja, tidak ada yang salah, dan tidak ada yang perlu dan mendesak untuk diubah. Orang masih berkata lantang : I feel fine“; “This can’t be happening, not to me” Itulah yang dialami oleh Wayne Rooney, “anak emas” Alex Ferguson, pelatih yang membesarkan nama Rooney, tetapi sekaligus juga “mengobok-obok” perasaan  Rooney menjadi pemain cadangan.

Tahap kedua, reaksi orang terhadap perubahan adalah anger (marah). Saat perubahan bukan sekedar gosip melainkan telah menjadi fakta dan dirinya menjadi “korban” dari perubahan, maka reaksi “wajar” adalah marah. Pada saat marah terhadap perubahan, orang berkata “Why me? It’s not fair!”; “How can this happen to me?”; ‘”Who is to blame?”. Sementara bagi orang lain yang memiliki stress tolerance sangat minim, boleh jadi akan keluar kata-kata dari mulutnya tak ubahnya seperti suasana di kebun binatang.muaaratnya, perubahan pelatih dan strategi seperti pukukan upper cut yang dapat membuat seorang petinju roboh dan kalah knock ou

Tahap ketiga reaksi terhadap perubahan adalah depresi. Sikap marah dan ngambek yang diperagakan oleh Rooney sama sekali tidak membuat David Moyes bergeming. Ultimatum Rooney akan hengkang dan atau minta dijual pun tidak ditanggapi serius. Marah seringkali tidak membuat situasi berubah menjadi lebih baik. Semakin strategis bargaining position dan semakin kuat bargaining power penggagas perubahan, maka semakin tidak  berguna marah-marah. Jendela transfer musim panas telah ditutup dan musim kompetisi liga utama Inggris telah dimulai, tak ada lagi yang bisa dilakukan Rooney kecuali tunduk pada kemauan klub dan pelatih.

Tahap keempat menghadapi perubahan adalah bargaining atau tawar menawar. Ketika para petinggi klub Manchester United bergeming mendukung strategi pelatih David Moyes dan  bersikukuh tidak akan menjual Rooney, maka tidak ada jalan keluar lain bagi Rooney selain menjalani sisa kontrak. Satu-satunya solusi yang dapat dilakukan Rooney adalah mengadakan negosiasi dengan klub dan pelatih untuk mengadakan kesepakatan-kesepakatan baru. Dengan cara bargaining, Rooney justru berkesempatan untuk memperbaiki bargaining position dan bargaining power yang sempat melemah.

Reaksi terakhir terhadap perubahan adalah acceptance atau menerima perubahan. Rooney sadar dan ikhlas posisi striker utama direbut oleh Robin van Persie yang dalam 2 musim kompetisi terakhir telah membuktikan diri sebagai penyerang tersubur di liga utama Inggris. Rooney mulai mau dan mampu menerima perubahan posisi dan peran. Jika semula Rooney adalah target man, maka posisi dan peran barunya menuntut sebagai orang yang memasok bola kepada target man.

Menerima perubahan tidak selalu berarti kalah perang dan kehilangan muka. Dalam kasus Rooney, perubahan posisi dan peran justru memberikan kesempatan kepada Rooney bahwa ia kemampuan yang baik dalam hal learning agilty. Dengan menerima perubahan, justru Rooney tampil lebih memukau dan subur mendulang gol.

Dengan menerima perubahan, memang ada yang hilang. Kini Rooney bukan lagi “anak emas”. Tetapi di sebuah klub yang menganut filosofi bahwa tidak ada pemain yang boleh lebih besar dari sebuah klub, apa arti “anak emas”?. Pertambahan umur dan regenerasi akan membuat prediket “anak emas” itu memudar ditelan masa. Tidak ada yang abadi, kecuali perubahan itu sendiri.

 

Menteng Raya, 27 September 2013

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: