RSS

Perubahan Sosial Dimulai Di Kamar Tidur

30 Sep

Apakah ada hubungan antara kemacetan dengan pola perilaku seksual pasangan suami istri (pasutri)? Bagaimana sesungguhnya pengaruh kemacetan terhadap pola perilaku seksual pasangan suami istri?

Tanpa mengadakan penelitian sosial dan pengkajian secara ilmiah, saya merasa haqqul yaqin, bahwa kemacetan memiliki hubungan dan pengaruh terhadap pola perilaku seksual pasutri. Tanpa berpikir panjang pun saya merasa benar bahwa dalam hubungan dan pengaruh tersebut, kemacetan bertindak sebagai independent variable, sedangkan pola perilaku seksual menjadi dependent variable. Kalau anda masih tidak percaya, silakan mengadakan penelitian sosial untuk membuktikannya.

Salah satu tema “klasik” dan favorit dalam diskusi interaktif antar sesama warga di kompleks perumahan saya adalah kemacetan. Banyak pertanyaan, berbagi pengalaman dan strategi untuk mengatasi kemacetan, mulai berangkat dari rumah menuju ke tempat kerja, sampai dengan pulang dari tempat kerja menuju ke rumah. Maklum, bertempat tinggal di pinggiran Jakarta dan bekerja di Jakarta maupun kawasan industri yang tersebar di pinggiran Jakarta, berangkat dan pulang kerja adalah “jihad” yang melelahkan.

Salah satu pertanyaan yang sering diajukan kepada sesama warga adalah “jam berapa berangkat kerja?”. Tidak ada satupun yang malu-malu untuk menjawab pertanyaan tersebut. Justru, ada keinginan untuk “mengalahkan” orang lain. Semakin pagi berangkat ke tempat kerja, semakin mendapat pujian dan standing ovation dari peserta diskusi interaktif.

Berangkat ke tempat kerja pukul 6.30 sudah dianggap “terlalu siang”. Berangkat ke kantor pukul 6.00 dianggap biasa-biasa saja. Berangkat kerja lebih awal lagi pukul 5.30 masih belum terlalu istimewa di mata warga perumahan. Berangkat kerja pukul 5.00 sudah mendapat tepuk tangan. Tetapi “juara pertama” diraih oleh warga yang berangkat kerja persis setelah sholat subuh yang biasanya untuk wilayah DKI Jakarta berkisar pukul 4.15 sampai dengan 4.30.

Untuk ukuran bapak-bapak di kompleks perumahan, apalagi pasutri yang berada di usia subur, berangkat dini hari setelah sholat subuh dianggap prestasi yang langka. Berangkat sepagi itu berarti “dokter-dokteran” atau “serangan fajar” menjadi terganggu. Kalaupun masih ada yang melakukan “ritual” itu, frekuensi dan intensitasnya tentu sudah mulai berkurang. Karena terburu-buru, mungkin juga kenikmatannya juga berkurang. Nah lo!.

Kemacetan memiliki hubungan dan pengaruh yang signifikan terhadap pola perilaku seksual pasutri. Gara-gara menghindari kemacetan, para pekerja, terutama mereka yang mengandalkan double income, terpaksa berangkat pagi dan meninggalkan “ritual” yang dianggap sangat penting dan wajib. Kemacetan tidak hanya membuat orang harus berangkat dini hari, melainkan juga pulang dari kerja “berdarah-darah” menghadapi kemacetan. Sebagian pekerja memilih pulang larut malam untuk menghindari kemacetan. Pulang on time maupun larut malam sama-sama menyebabkan pekerja kelelahan. Akibatnya sudah bisa ditebak, hasyrat dan selera untuk melaksanakan “ritual” pasutri pun menjadi terganggu.

***

Sejatinya, kemacetan tidak hanya menjadi variabel sangat penting terhadap perubahan pola perilaku seksual pasutri. Dampak yang diakibatkan oleh kemacetan lebih besar dari yang kita rasakan dan pikirkan. Kemacetan antara lain juga memiliki hubungan dan pengaruh terhadap pola asuh anak.

Jangan pernah anggap remeh urusan pengasuhan terhadap anak-anak. Pasutri yang mempunyai orang tua dan atau mertua tinggal di kota yang sama – misalnya Jakarta – masih dapat berharap banyak kepada orang tua dan atau mertua. Sementara pasutri yang memiliki saudara kandung tinggal di kota yang sama, di kompleks perumahan yang sama, atau bahkan di rumah yang sama, masih dapat mengharapkan bantuan dari saudara ipar. Sedangkan pasutri yang “sebatang kara” tinggal di kota besar, terpaksa memilih untuk menyerahkan atau mendelegasikan tugas-tugas pengasuhan anak kepada para pembokap.

Beres? Maybe yes maybe no. Tidak semua urusan pendelegasian pengasuhan anak kepada pembantu berjalan mulus. Ada yang justru ibarat menyelesakan masalah dengan menghadirkan segudang masalah, bahkan berakhir tragis seperti kasus pembunuhan anak. Kalaupun dapat pembantu “baik-baik”, bukan berarti urusan telah beres.

Setiap anak dilahirkan dalam keadaan suci. Rasulullah Muhammad SAW mengibaratkan qalbu anak yang suci seperti kertas putih. Orang tua bertugas untuk “menggambar” dan memelihara agar “kertas putih” itu tetap suci sebagaimana Allah SWT menitipkan kepada para orang tua.

Menyerahkan kepada pembantu untuk mewakili para orang tua dalam proses pengasuhan anak jelas sangat berisiko. Kualitas akhlak, pendidikan agama, pendidikan moral antara orang tua dengan pembantu jelas-jelas sangat berbeda. Dengan kualitas IQ (kecerdasan intelektual), EQ (kecerdasan emosional) dan ESQ (kecerdasan emotional dan spiritual) yang berbeda antara orang tua dan para pembantu, tentu saja kesucian dan kualitas “kertas putih” itu tidak akan sebaik jika para orang tua turun tangan sendiri mengasuh anak.

Dalam situasi seperti itu, sejatinya anak berpotensi menjadi korban dari keputusan orang tua menyerahkan pengasuhan anak kepada pembantu, meskipun “hanya” untuk beberapa jam. Memang selalu ada orang tua yang berdalih bahwa yang paling penting bukan kuantitas waktu, melainkan kualitas waktu. Meskipun waktu orang tua dan anak untuk relatif terbatas, tetapi jika kualitas hubungan sangat baik, maka kuantitas waktu itu tidak menjadi masalah besar, atau malah dapat diabaikan.

Weleh-weleh, kok masih berdebat dan ngeyel. Anak-anak batita (bawah tiga tahun) belajar tidak seperti remaja dan orang dewasa. Anak-anak batita belajar dengan cara melihat, mendengar, merasakan dan meniru melakukan apa yang dilakukan orang-orang yang mengasuhnya. Singkat kata, anak-anak belajar melalui kebiasaan-kebiasaan dan mereka belum mampu melakukan penyaringan mana yang baik dan mana yang buruk.

Kebiasaan-kebiasaan itulah yang kemudian diulang-ulang secara otomatis dan dibawa sampai dewasa, bahkan sampai mati. Hal yang paling sulit dilakukan manusia adalah mengubah kebiasaan yang sudah diajarkan oleh para orang tua (dan para pembantu) sejak usia batita. Tidak percaya?

Jika anda memiliki kebiasaan menulis dengan tangan kanan, coba anda ubah kebiasaan itu dengan menulis menggunakan tangan kiri. Jika saya motivasi anda dan puji bahwa tulisan tangan kiri anda akan sebaik tulisan tangan kanan, saya yakin anda akan tertawa terbahak-bahak, terpingkal-pingkal, terkekeh-kekeh dan termehek-mehek. Jangankan melatih diri menulis dengan tangan kiri, untuk mencobanya pun mungkin  anda akan berkata judes dan ketus : “ngapain!”. Mungkin, kalau mengubah kebiasaan menulis dengan tangan kanan menjadi dengan tangan kiri itu ada penghargaan bantuan langsung tunai Rp. 1 milyar, anda tidak akan berpikir panjang dan ngeyel lagi.

Akhlak, karakter, sikap, dan perilaku anak-anak yang saat ini kita lihat di sekitar kita adalah hasil dari proses pengasuhan anak-anak yang telah dilakukan para orang tua. Saya tidak terkejut, karena perubahan sosial yang terjadi di masyarakat, terjadi akibat dari perubahan-perubahan dalam rumah tangga. Kemacetan di jalan raya di kota-kota besar seperti di Jakarta adalah salah satu kontributor utama untuk perubahan-perubahan sosial yang terjadi di masyarakat, bangsa dan negara.

***

Dalam konteks perubahan sosial dalam masyarakat, saya tidak mengerti mengapa “keluh kesah” Jokowi, Gubernur DKI Jakarta, terhadap proyek low cost green car (LCGC) ditanggapi secara lebay oleh kalangan tertentu.

Bild

Foto diunduh dari http://www.pertamax7.com

Sudah menjadi pengetahuan umum, bahwa kebijakan pengelolaan energi  di Indonesia tidak pernah menyentuh sisi demand (permintaan). Saat Indonesia sudah “murtad” dari negara pengekspor minyak menjadi negara pengimpor minyak tidak menumbuhkan kesadaran untuk mengatur sisi permintaan energi, terutama BBM untuk kendaraan bermotor. Setelah impor BBM secara pasti dan meyakinkan menjadi kontributor utama defisit neraca perdagangan, masih juga mengabaikan pembangunan sistem transportasi massal. Subsidi negara untuk BBM yang telah mencapai ratusan triliun (sebagian bahkan didanai dari sumber hutang) masih dianggap bukan masalah yang perlu dirisaukan.

Berapa nilai kerugian yang ditanggung Jakarta per tahun? Sampai dengan tahun 2013, Jakarta “hanya” menanggung kerugian akibat kemacetan senilai Rp. 12,8 triliun per tahun. Jika kemacetan di Jakarta tidak juga dapat diatasi, maka pada tahun 2020 Jakarta “hanya“ akan menderita kerugian Rp. 65 triliun per tahun (www.sindonews.com, 28 Mei 2013). Jumlah itu tentu saja belum dihitung dengan penghamburan devisa negara untuk menambal subsidi BBM.

Tak seimbang jika saya hanya memaparkan sisi kerugian saja. Apa manfaat dan keuntungan yang diperoleh dari industri otomotif yang terus berkembang? Yohannes Nangoi, Ketua II Gaikindo (Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia), memaparkan sebagai berikut :

“….. dari sisi pemerintah disukai karena menyumbang pajak kira-kira Rp. 75 triliun dan menyerap tenaga kerja. Saya ambil contoh, 20 perusahaaan otomotif yang punyai assembling (perakitan) di Indonesia mempekerjakan 55.000 karyawan. Lalu, di Indonesia ada kira-kira 500 supplier dengan jumlah tenaga kerja 100.000 orang, dan masih banyak lagi.” (Kontan 16-22 September 2013).

Biaya dan kerugian ekonomis dari kemacetan secara matematis mudah dihitung. Tetapi biaya sosial dan kerugian sosial akibat dari kemacetan jauh lebih sulit untuk dikalkukasi. Jika hutang ekonomis baru dirasakan dan ditanggung oleh generasi yang akan datang, maka biaya sosial dan kerugian sosial akibat dari kemacetan itu sudah dirasakan dan akibatnya ditanggung oleh generasi saat ini. Kecuali perubahan pola perilaku seksual dan pola pengasuhan anak, tentu saja masih banyak dampak sosial dari kemacetan.

Sikap dan perilaku warga Jakarta dan sekitarnya terhadap kemacetan cenderung “benci tapi rindu”. Karena tidak ada kesamaan pandangan tentang dampak dan kerugian yang harus ditanggung bersama yang diakibatkan oleh kemacetan, tampaknya kita perlu berpaling mencari kambing hitam lain. Mungkin, kalau ada yang patut dan layak disalahkan dan menjadi penyebab kemacetan adalah : Sapa suru datang ke Jakarta?

Tampak Siring, 29 September 2013

 
Leave a comment

Posted by on September 30, 2013 in Gemeinschaft | Gesellschaft

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: