RSS

Everyone Speaks Until He Is Wise

07 Oct

Mengapa Tuhan tidak memberi manusia 2 mulut dan 1 telinga? Mengapa Tuhan “hanya” memberi manusia 1 mulut dan 2 telinga? Bukankah manusia lebih membutuhkan hak suara ketimbang hak mendengar? Bukankan manusia lebih senang berbicara (termasuk membicarakan tentang orang lain, bahkan fitnah) ketimbang mendengarkan hal-hal yang baik-baik?

Konon, hikmah pemberian 1 mulut dan 2 telinga adalah himbauan agar manusia lebih banyak mendengarkan ketimbang berbicara. Konon, dalam masyarakat dan budaya manapun, relatif lebih banyak peribahasa yang berhubungan dengan mulut ketimbang telinga. Hal ini semacam peringatan kepada manusia agar berhati-hati dengan mulut, terutama mulut sendiri. Demikianlah peribahasa mengingatkan “mulutmu harimaumu”. Tetapi siapa peduli dengan peribahasa tentang mulut?

Melalui mulut memang manusia dapat berbicara dan bercerita tentang apa saja serta tentang siapa saja. Melalui mulut juga manusia dapat menghujat, mencerca dan “menelanjangi” orang lain. Tetapi manusia juga lupa bahwa, mulutnya sendiri juga dapat bercerita apa saja tentang dirinya sendiri. Pada dasarnya, saat berbicara, manusia juga menghujat, mencerca dan “menelanjangi” dirinya sendiri.

Koran Sindo 5 Oktober 2013 menampilkan kutipan pernyataan dari mantan orang nomor 1 di Mahkamah Konstitusi yang baru-baru ini dicokok KPK. Berikut kutipan tersebut :

  • “Saya atau dia (Refly Harun) yang masuk penjara. Ini konsep pidana. Kondisi yang demikian ini yang kita hindari untuk semakin melebar, tidak fokus pada persoalan semula, bahwa kita ingin bongka isu mafia hukum, mafia  kasus, yang ada di dalam MK ini, untuk bersihkan institusi ini.” (Disampaikan menanggapi tulisan Refly Harun, 10 Desember 2010).
  • “Ini ide saya, dibanding dihukum mati, lebih baik dikombinasi pemiskinan dan memotong salah satu jari tangan koruptor sudah cukup.”  (Disampaikan kepada wartawan, 9 Maret 2012).
  • “Kalau saya orang yang bisa disetir atau diintervensi oleh kekuatan-kekuatan lain, tidak mungkin tujuh orang (hakim) itu pilih saya (sebagai Ketua MK). Memangnya mereka bodoh.” (Disampaikan saat kabar miring perihal dirinya pada 5 April 2013).
  • “Saya tidak bisa diintervensi walaupun kemungkinan itu ada. Tapi selama saya menjabat hakim MK, hal itu tidak pernah terjadi.” Disampaikan saat wawancara dengan Koran Sindo, 18 April 2013).
  •  “Kalau saya berbuat sesuatu yang bertentangan dengan hukum dan kewajiban, saya akan potong leher saya sendiri” (Disampaikan menanggapi dugaan terlibat kasus Pilkada Banyuasin, Sumsel 13 September 2013).

  •  “Jika ada hakim MK terima suap, akan digantung di tiang Gedung MK”. (Disampaikan saat menjadi Ketua Panel sengketa Pilkada Kota Kediri).

bribery-shadows-370x229Foto diunduh dari http://www.accountancyage.com

Semua pernyataan tersebut di atas mengingatkan saya pada sebuah peribahasa rakyat Irlandia, yaitu “everyone is wise until he speaks”. Sejatinya, setiap orang punya potensi untuk menjadi orang yang bijaksana. Ironisnya, saat berbicara, saat itu juga  manusia berisiko kehilangan karakter bijaksana.

Di era Orde Baru, banyak orang takut berbicara. Kalau terpaksa berbicara, orang akan hati-hati agar tidak mengalami nasib naas “disukabumikan”. Tetapi setelah reformasi, setiap orang seolah-olah mendapatkan kembali hak bersuara yang seolah-olah hilang di era Orba. Tetapi, setelah kebebasan berbicara dalam genggaman, orang bicara terus menerus dan tidak mau berhenti berbicara, menghujat, dan “menelanjangi” orang lain.

Setelah reformasi 1998, tidak semua orang bijaksana. Bahkan juga tidak ada keinginan untuk menjadi orang yang bijaksana. Padahal, hanya orang bijaksana yang akhirnya bisa berhenti berbicara. Demikianlah, euphoria reformasi menjadikan “everyone speaks until he is wise”.

Tampak Siring, 6 Oktober 2013

 
Leave a comment

Posted by on October 7, 2013 in Selasar

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: