RSS

Bibit, Bebet, Bobot

19 Oct

Saya sama sekali tidak terperangah saat mengetahui Rudi Rubiandini (saat itu Kepala SKK Migas), Akil Mochtar (saat itu Ketua Mahkamah Konstitusi), Andi Alifian Malarangeng (mantan Menteri Pemuda dan Olahraga) dicokok oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (“KPK”) dan kemudian digelandang ke rumah tahanan KPK di kawasan Kuningan, Jakarta.

Saya juga tidak tertarik dengan “bisik-bisik” yang menyebutkan bahwa ketiga orang yang ditangkap oleh KPK adalah “orang baik-baik”, sebab setiap orang cuma tahu kedalaman laut tetapi tidak tahu qalbu orang lain. Saya lebih tertarik mengetahui usia masing-masing tersangka korupsi tersebut. Mengapa?

Dengan mengetahui usia ketiga orang tersebut, maka kita “mengantongi” kunci untuk membuka “pintu masuk” pola asuh di zaman mereka masih kanak-kanak, sekaligus dapat “mereka-reka” bibit, bebet, bobot para pengasuh yang hidup di zaman mereka.

Berikut data singkat tentang ketiga tahanan KPK tersebut yang saya kutip dari id.wikipedia.org (19 Oktober 2013) :

·       Prof. Dr.-Ing. Ir. Rudi Rubiandini R.S. lahir di Tasikmalaya, Jawa Barat, pada tanggal 9 Februari 1951.

·       Dr. H.M. Akil Mochtar, S.H., M.H. lahir di Putussibau, Kalimantan Barat pada tanggal 18 Oktober 1960.

·       Dr. Andi Alifian Mallarangeng, lahir di Makassar, Sulawesi Selatan, pada tanggal 14 Maret 1963.

Ketiga tersangka kasus korupsi tersebut berusia di kisaran 50 s.d 53 tahun. Usia yang tidak jauh beda dengan tersangka kasus korupsi yang lain Luthfi Hasan Ishaaq yang berusia 52 tahun. Hanya Ahmad Fathanah yang berusia lebih muda (47 tahun), tetapi masih dapat dikelompokkan dalam generasi yang sama, hidup pada zaman yang sama, dan pola asuh oleh generasi yang sama juga. Mari bersama-sama kita lihat bibit, bebet dan bobot generasi yang mendidik dan membesarkan mereka.

***

Saat Akil Mochtar  tertangkap tangan oleh KPK, isteri saya bertanya kepada saya : “akan seperti apakah Indonesia 20 tahun sampai dengan 40 tahun yang akan datang?”. Meskipun sudah “mengantongi” jawaban yang benar (tentu saja benar menurut saya), saya tidak menjawab dan diam seribu bahasa.  Saat Andi Alifian Mallarangeng dicokok oleh KPK, isteri saya kembali bertanya : ”akan seperti apakah Indonesia 20 tahun sampai dengan 40 tahun yang akan datang?”.

Jawaban saya cukup mengejutkan isteri saya : “keadaan Indonesia  20 s.d. 40 tahun yang akan datang akan tetap sama seperti saat ini. Minimal keadaannya sama, bisa lebih buruk, tetapi jelas tidak akan lebih baik kondisinya daripada kondisi saat ini.” Pesimis? No way bro! Saya bukan manusia kecengan yang gampang pesimis dan putus asa.

Saya memang bukan futurolog seperti Alvin Toffler yang mampu “melihat jauh” masyarakat yang akan datang dan secara tepat memetakan perubahan sosial dari masyarakat pertanian, masyarakat industri, dan kemudian masyarakat informasi. Kemampuan saya juga jelas kalah jauh dibandingkan dengan Peter Ferdinand Drucker, pakar manajemen yang mampu membaca dan “meramal” perubahan-perubahan dalam manajemen dan dampak yang ditimbulkannya.

Tetapi, sejatinya, untuk memahami masyarakat tidak selalu harus menjadi futurolog. Saya masih ingat cerita guru besar sosiologi UGM Prof. Soedjito Sosrodiharjo (almarhum). Saat itu beliau seringkali ditanya oleh para “kuli tinta” tentang apa yang akan terjadi setelah militer mengadakan kudeta terhadap Perdana Menteri Thailand. Prof. Soedjito selalu bilang bahwa konflik politik di Thailand tidak akan destruktif karena siapapun  yang akan menjadi Perdana Menteri selalu melakukan ritual yang sama : “sowan” dan membutuhkan “ridho” dari raja Thailand.

Benar, setelah pemimpin kudeta “sowan” kepada raja Thailand dan kemudian raja memberikan restu, semua pihak mengakui pemimpin kudeta sebagai Perdana Menteri yang baru. Tidak ada penolakan, “penggembosan”, dan sabotase. Semua tunduk kepada titah Baginda Raja.

Mengapa Prof. Soedjito mampu “meramal” penyelesaian konflik politik di Thailand. Setiap kejadian dalam masyarakat selalu berulang. Orang Perancis bilang “l’histoire se repete”. Kejadian-kejadian dalam masyarakat yang selalu berulang membentuk pola dan keajegan. Melalui keajegan itulah kemudian, siapapun orangnya, dapat membaca situasi dan “meramalkan” apa yang akan terjadi di masa yang akan datang. Kecuali terjadi revolusi dan “tsunami” politik, semua akan berulang dan berlangsung secara ajeg.

***

Kembali kepada pertanyaan istri saya, bagaimana saya bisa “memastikan” bahwa keadaan Indonesia 20 tahun sampai dengan 40 tahun yang akan datang akan sama saja?

Secara sederhana, manusia terdiri dari otot, otak, dan qalbu. Dari segi otot, Indonesia yang akan datang sangat mungkin lebih baik dibandingkan kondisi saat ini. Akan sangat mungkin, prestasi olahragawan/wati di masa yang akan datang akan meningkat, baik di tingkat Asia maupun dunia.

Dari segi otak, kompetensi orang-orang Indonesia sudah diakui oleh dunia. Banyak putra-putri terbaik Indonesia yang bekerja di perusahaan-perusahaan multinasional di luar negeri. B.J. Habibie adalah salah satu putra Indonesia yang memiliki otak yang diakui oleh industri penerbangan. Demikan juga Prof. DR. Sri Mulyani yang mampu menduduki jabatan strategis di Bank Dunia. Jadi, dari segi otak, kemampuan orang Indonesia saat ini maupun yang masa-masa yang akan datang akan selalu kompetitif dibandingkan dengan bangsa-bangsa lain.

Bagaimana dengan qalbu? Masalah terbesar manusia, baik sebagai individu, kelompok, masyarakat, dan bangsa adalah di bidang qalbu (baca : mentalitas). Sejak zaman kemerdekaan sampai dengan saat ini, hampir tidak banyak yang berubah dalam hal mentalitas manusia Indonesia. Memang telah banyak terjadi perubahan di Indonesia, tetapi tidak dalam hal perubahan mentalitas.

blognuestrasfallas.blogspot

Sumber : http://www.blognuestrasfallas.blogspot.com

Dalam hal perubahan mentalitas yang sangat lambat, bangsa Indonesia tidak sendirian. Perlu lebih dari 200 tahun bagi bangsa Amerika Serikat untuk menerima seorang kulit hitam menjadi presiden. Meskipun ideologi dan konstitusi Amerika Serikat meyakini persamaan hak semua manusia, dalam praktek tidak seindah yang tertulis.

Prediksi saya, bangsa Indonesia membutuhkan waktu paling kurang 100 tahun lagi (dari sejak tulisan ini dibuat) untuk menjadi bangsa yang lebih baik dalam hal mentalitas. 40 tahun ke depan, bahkan 80 tahun ke depan, mentalitas bangsa Indonesia tidak akan lebih baik dari mentalitas bangsa Indonesia saat ini. Bagaimana logikanya?

***

Berbagai bangsa memiliki peribahasa yang dapat menjelaskan mentalitas manusia dari generasi ke generasi. “Like father like son”, “like mother like daughter”, “buah apel jatuh tidak jauh dari pohonnya”, “kacang ora ninggalke lanjaran”, “bapak polah anak kepradah”, dan lain sebagainya. Mentalitas anak-anak tidak akan berbeda jauh dengan mentalitas orang tua dan kakek-nenek moyang mereka.

Para koruptor yang saat ini masih menjadi tersangka, menjalani sidang, maupun yang telah mendapat vonis hukuman berkekuatan tetap, berada di kisaran usia 35 sampai dengan 55 tahun. Para orang tua mereka telah berhasil membuat mereka “jadi orang” dan “pemimpin”. Dari segi otot dan otak, mereka boleh jadi lebih baik dibandingkan dengan orang tua mereka. Tetapi dari segi qalbu, sama sekali tidak lebih baik dari para orang tua mereka. Apa yang mereka lalukan dan mentalitas mereka tidak berbeda jauh dengan para orang tua yang mendidik mereka.

Seperti apakah Indonesia pada dekade 60an dan 70an?. Prof. Koentjaraningrat, seorang antropolog, mengamati kehidupan (terutama mentalitas) masyarakat Indonesia yang terangkum dalam buku Kebudayaan Mentalitas dan Pembangunan (1982). Buku itu ditulis (cetakan pertama) tahun 1974, tetapi pengamatan Prof. Koentjaraningrat sudah dilakukan sejak pasca kemerdekaan.

Prof. Koentjaraningrat (1974 : 45) menyebut ada lima kelemahan mentalitas yang timbul setelah revolusi, yaitu “(1) sifat mentalitas yang meremehkan mutu; (2) sifat mentalitas yang suka menerabas; (3) sifat tak percaya kepada diri sendiri; (4) sifat tak berdisiplin murni; dan (5) sifat mentalitas yang suka mengabaikan tanggung jawab yang kokoh.”

Meskipun sudah setengah abad berlalu, mentalitas manusia Indonesia masih tetap sama dengan mentalitas dekade 60-an dan 70-an. Tidak aneh jika saat ini mentalitas menerabas masih menjadi mentalitas “favorit” manusia Indonesia.  Para “pemimpin” yang saat ini berusia 40 sampai dengan 55 tahun yang merupakan generasi hasil karya generasi dekade 60-an dan 70-an. Para orang tua yang saat ini berusia setengah baya inilah yang kemudian “menggambar kertas putih”, yaitu generasi yang saat ini berusia 20 – 30 tahun. Mereka “menggambar kertas putih” dengan bekal 5 kelemahan mentalitas yang diwariskan generasi terdahulu.

Generasi penerus yang saat ini berusia 20 – 40 sudah banyak yang berkeluarga. Mereka pun bertindak sebagai orang tua yang “menggambar kertas putih”. Hasil “menggambar kertas putih” pun saat ini sudah ada yang mulai kelihatan, antara lain “membiarkan” anak di bawah umur untuk mengemudikan kendaraan bermotor (roda dua dan/atau empat), tawuran antarpelajar dan antarmahasiswa, terlibat narkoba, dan lain sebagainya.

Sejatinya, bukan salah bunda mengandung. Anak-anak juga dilahirkan dengan qalbu dalam keadaan suci. Pola asuh, bebet, dan bobot para “pengasuh” yang akan menentukan generasi macam apa yang akan meneruskan tongkat estafet.

Tampak Siring, 19 Oktober 2013

 
Leave a comment

Posted by on October 19, 2013 in Selasar

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: