RSS

Monthly Archives: November 2013

Resistensi Terhadap Perubahan

Teknologi, terutama teknologi komunikasi dan informasi, berkembang sangat pesat. Sebagian orang tertentu galau melihat perkembangan teknologi yang sangat cepat. Mereka khawatir teknologi akan merubah kehidupan manusia. Bahkan, dikhawatirkan teknologi tidak sekedar merubah mindset manusia, tetapi lebih jauh pandangan hidup manusia tentang kehidupan itu sendiri.

Tetapi kegalauan terhadap perkembangan teknologi tidak akan ditemukan di dunia sepakbola. Boleh dibilang, teknologi bertekuk lutut dan tidak berkutik di dunia sepakbola. Para “ayatollah” sepakbola sangat tegas dan konsisten membatasi peranan teknologi dalam urusan sepakbola, terutama selama proses pertandingan sepakbola.

Boleh-boleh saja teknologi membantu semua hal yang berhubungan dengan tetek bengek sepakbola. Misalkan, teknologi boleh saja membantu dalam hal penjualan tiket melalui sistem e-ticket. Teknologi boleh juga hadir di lapangan hijau untuk memudahkan para pengadil berkomunikasi. Sudah beberapa tahun terakhir ini kita melihat di kepala wasit terpasang teknologi komunikasi yang memungkinkan wasit “berkicau” (baca : berkomunikasi) sesama mereka.

Meskipun demikian, teknologi tidak boleh mencampuri urusan sepakbola terlalu jauh. Usulan untuk menggunakan teknologi kamera yang merekam semua kejadian di depan gawang ditolak mentah-mentah oleh para “ayatollah”  sepakbola. Alasan penolakan pun sangat sederhana : teknologi kamera akan menghilangkan “sisi manusiawi” dari sepakbola. Alamak!

Entah sudah berapa timnas sepakbola yang dirugikan dengan keputusan wasit yang membatalkan atau tidak mengesahkan bola yang telah melewati garis gawang. Contoh klasik adalah timnas Inggris melawan timnas Jerman (saat itu masih Jerman Barat) di Piala Dunia 1966. Saat itu timnas Inggris yang “diuntungkan”. Bola belum melewati garis gawang, tetapi wasit memutuskan bahwa bola telah melewati garis gawang timnas Jerman. Itulah “kadeudeuh” terindah bagi negara yang disebut-sebut sebagai tempat sepakbola dilahirkan. Berkat keputusan wasit Inggris berhasil memboyong Piala Dunia 1966.

Bild

Foto : http://www.sundul.com

Saat PD 2020, dendam timnas Jerman seakan terbayar lunas saat wasit tidak mengesahkan tendangan Frank Lampard yang telah melewati garis gawang timnas Jerman sebagai gol. Melalui rekaman yang diputar berulang-ulang sangat jelas bola telah melewati garis gawang timnas Jerman yang dikawal Neuer.

Derai air mata para pendukung timnas Inggris tidak berlangsung lama. Di Piala Eropa 2012 yang diselenggarakan di Polandia dan Ukrania, kembali timnas Inggris “diuntungkan” oleh keputusan wasit yang tidak mengesahkan bola yang telah melewati garis gawang timnas Inggris sebagai gol. Keputusan wasit akan dikenang oleh timnas Ukrania dan para pendukungnya sebagai pengkhianatan terhadap fair play.

Meskipun sudah banyak contoh-contoh keputusan wasit yang salah dan derai air mata di dunia sepakbola, FIFA bergeming untuk menolak penggunaan teknologi kamera. Mungkin dalam logika analisa FIFA, wasit kan juga manusia. Jadi, kalau wasit salah dalam mengambil keputusan, itu sangat manusiawi. Mungkin ada yang tersakiti, tetapi itu juga sangat manusiawi.

***

Penolakan penggunaan teknologi kamera di dunia sepakbola merupakan salah satu contoh penolakan terhadap perubahan. Penolakan itu sangat menarik, karena hanya berurusan dengan tendang-menendang bola. Resistensi terhadap perubahan akan lebih kuat dan sistematis untuk bidang-bidang yang berkaitan dengan sendi-sendi kehidupan individu, kelompok, masyarakat, bangsa dan negara.

Secara teoritis dan praktis, manfaat potensial dari kehadiran teknologi dalam kehidupan manusia dapat dan mudah untuk dibuktikan. Tetapi fokus resistensi terhadap kehadiran teknologi tidak terletak pada manfaat teknologi itu sendiri. Kegalauan terhadap teknologi seringkali berkaitan dengan kepentingan, keamanan, dan kenyamanan yang terusik.

Secara umum, resistensi terhadap perubahan seringkali seperti mengada-ada. Alasan “teknologi kamera akan menghilangkan sisi manusiawi sepakbola” kan juga seperti mengada-ada. Tetapi alasan yang sederhana seperti sudah cukup membuat semua jalan menuju perubahan seolah-olah buntu.

Karena itu, salah satu kunci untuk mengintroduksi keberhasilan adalah dengan memahami resistensi terhadap perubahan. Semua pihak yang bermaksud mengadakan perubahan tidak bisa tergesa-gesa memaksakan perubahan tanpa memahami “ipoleksosbudhankam” (ideology, politik, ekonomi,  dan sosial budaya) dari individu, kelompok, masyarakat, bangsa, dan negara yang akan diubah.

Ada beberapa sebab atau alasan yang melatarbelakangi resistensi terhadap perubahan. Dalam buku “Armstong’s Handbook of Human Resource Management Practice, Michael Armstrong menyebutkan sebab-sebab resistensi terhadap perubahan sebagai berikut :

  • The shock of the new – people are suspicious of anything that they perceive will upset their established routines, methods of working or conditions of employment. They do not want to lose the security of what is familiar to them.
  • Economic fears – loss of money, threats to job security.
  • Inconvenience – the change will make life more diffi cult.
  • Uncertainty – change can be worrying because of uncertainty about its likely impact.
  • Symbolic fears – a small change that may affect some treasured symbol, such as a separate office or a reserved parking space, may symbolize big ones, especially when employees are uncertain about how extensive the programme of change will be.
  • Threat to interpersonal relationships – anything that disrupts the customary social relationships and standards of the group will be resisted.
  • Threat to status or skill – the change is perceived as reducing the status of individuals or as de-skilling them.
  • Competence fears – concern about the ability to cope with new demands or to acquire new skills.

 

***

Setelah memahami faktor-faktor yang mendasari resistensi terhadap perubahan, maka strategi perubahan yang akan disusun fokus mengatasi faktor-faktor tersebut. Banyak strategi dan pendekatan yang dapat digunakan, antara lain pendekatan “klasik” dari Kurt Lewin (1951) dengan model “Unfreezing-Change- Freezing” maupun pendekatan “modern” dari John Kotter (1995) dengan “8 Langkah Perubahan”.

Apapun pendekatan dan strategi yang dipilih untuk mengusung perubahan, perlu diingat bahwa perubahan pada dasarnya juga berarti perubahan terhadap kebiasaan manusia. Mengubah kebiasaan manusia tidak mudah. Ironisnya, seperti dikatakan oleh Mark Twain : “Nothing so needs reforming as other people’s habits.” Salah satu ketakutan terbesar manusia adalah mengubah kebiasaannya.

Kebayoran Baru, 13 Juni 2013

 

Advertisements
 
Image

“Il Maestro”

 
Leave a comment

Posted by on November 19, 2013 in Photography

 

Silbermond

Selama di Indonesia, saya belum pernah nonton pagelaran musik baik yang diselenggarakan di dalam gedung, apalagi di lapangan terbuka. Ada beberapa alasan yang sangat pribadi. Pertama, saya “parno” berada di tengah kerumunan yang bisa mendadak sontak menjadi gerombolan liar dan biadab. Kedua, saya takut diinjak-injak, terinjak-injak, dan menginjak-injak orang lain. Ketiga, saya takut diminta naik panggung untuk menyanyi (he……he….).

Saat tinggal di Mannheim, saya justru menyempatkan diri untuk nonton konser Silbermond, salah satu kelompok musin papan atas di Jerman. Sejatinya, saya ingin nonton konser musik The Scorpions dan melihat dengan mata kepala saya sendiri Klaus Meine menyanyikan lagu Wind of Change. Sayang, selama 1 tahun di Jerman, The Scorpions lagi bersemedi (baca : tidak manggung).

Tetapi kekecewaan saya cukup terobati dengan berkunjung ke kota Hannover yang merupakan “markas besar” dari The Scorpions. Penampilan yang gemilang dari Silbermond juga sudah cukup membuat saya puas melihat grup musik Jerman manggung.

Dalam bahasa Jerman, Silber berarti silver dalam bahasa Inggris atau perak dalam bahasa Indonesia. Sedangkan mond dalam bahasa Jerman berarti bulan dalam bahasa Indonesia. Jadi, secara harfiah Silbermond berarti “bulan perak”.

Berbeda dengan senior mereka The Scorpions yang meliris lagu-lagu berbahasa Inggris, Silbermond hanya mengusung lagu-lagu dengan lirik bahasa Jerman. Hal ini membuat “orbit” Silbermond beredar terbatas di negara-negara berbahasa Jerman seperti Swiss, Austria, dan tentu saja Jerman.

Promosi industri musik Jerman memang tidak besar-besaran dan tidak gegap gempita seperti industri musik pop dari negeri Paman Sam. Untuk menjadi kiblat musik dunia, tampaknya para pelaku di industri musik pop Jerman juga tidak terlalu berambisi.

***

Konser musik Silbermond diadakan pada bulan Agustus 2009, pukul 14.00. Saat itu sedang musim panas. Bagi orang Jerman yang hidup dalam 4 musim, berpanas-panas di lapangan terbuka seperti mendapatkan durian runtuh.  Panas terik musim panas di Jerman juga tidak membuat badan saya menjadi basah kuyup mandi keringat. Kelembaban udara di Jerman yang relatif rendah membuat udara cukup bersahabat bagi pendatang dari negara tropis sekalipun.

Bagaimana kerumunan di Jerman, tepatnya di kota Mannheim? Kerumunan ya tetap kerumunan. Teriak dan jingkrak-jingkrak sudah lumrah. Dalam hiruk pikuk sama saja dengan kerumunan di Jakarta. Perbedaannya, kerumunan di Jerman cenderung tidak rusuh dan situasi tetap aman terkendali.

Padahal, minuman keras bukan barang yang haram di bawa sambil nonton konser. Mulut manusia, udara dan bahkan toilet pun bau minuman keras. Tetapi memang ada perbedaan antara mabuk orang Jerman dengan mabuk orang Indonesia. Paling banter mereka teriak-teriak. Semabuk-mabuknya orang Jerman, mereka masih bisa mengontrol diri mereka. Mengapa? Kalau mereka sampai berulah, urusan hukum sudah menanti.

Satu hal yang juga membedakan kerumunan di Indonesia dengan kerumunan di Jerman adalah saat-saat anak cucu Adam dan Hawa sedang mabuk cinta. Di Indonesia, hampir pasti tidak ada muda-muda yang sedang “mabuk kepayang” akan ciuman di tengah-tengah kerumunan dan ditonton banyak orang. Di Jerman, melihat orang-orang berciuman di tengah kerumunan di siang hari bolong adalah hal yang jamak.

***

Pengetahuan saya tentang musik di Jerman, terutama musik pop, sangat minim. Satu-satunya kelompok musik yang saya ketahui adalah The Scorpions dengan tembang hit Always Somewhere dan terutama Wind of Change. Tidak banyak penyanyi yang saya ketahui. Satu-satunya penyanyi yang saya ketahui adalah Klaus Meine yang menyanyikan lagu Wind of Change di Lapangan Merah, Russia.

Meskipun tergolong awam di bidang musik klasik, saya lebih “fasih” menyebutkan beberapa komponis musik klasik asal Jerman. Dari yang paling terkenal seperti Ludwig von Beethoven, Johann Sebastian Bach, George Frederich Haendel, Johannes Brahms, Johann Pachelbel, Franz Schubert sampai dengan Felix Bartholdy Mendelssohn dan Robert Schumann yang tidak begitu dikenal di Indonesia.

Demikian juga dengan karya-karya musik mereka, saya cukup familiar. Sebut saja “Fuer Elise” karya Bach, Hallelujah dari Haendel, Serenade dari Schubert dan Canon in D Major karya Pachelbel yang sering menjadi wedding song standar di negara-negara barat.

Selama ini kita memang lebih mengenal bangsa Jerman sebagai bangsa yang “serius”, berhubungan dengan pemikiran dan filosofi yang “berat”,  teknologi yang serba canggih, dan disiplin yang sekuat baja panser. Hampir tidak pernah kita mendengar tentang Jerman berkaitan dengan cinta dan musik “ngak-ngik-ngok” (istilah yang digunakan Bung Karno untuk musik Barat dan lagu cinta yang cengeng).

Bild

Foto : http://www.unitedcharity.de

Karena itu, kesempatan nonton konser Silbermond benar-benar saya manfaatkan untuk menimba pengetahuan tentang industri musik pop Jerman. Paling tidak, saya punya pengalaman dan bisa merasakan bagaimana orang-orang Jerman yang pendiam dan dingin bisa berjingkrak-jingkrak mengikuti lagu-lagu yang dibawakan Silbermond.

Kecuali tembang lawas Du yang sudah sangat populer di Indonesia, sungguh tidak mudah memahami lirik lagu-lagu berbahasa Jerman. Tetapi bukan berarti melodi dan lirik lagu-lagu berbahasa Jerman “mati gaya”. Lagu The Beatles “I Want To Hold Your Hand” pun tetap hidup saat dinyanyikan dalam bahasa Jerman “Kommt gib mir deine Hand”.

Meskipun berasal dari negara-negara berbeda dan budaya yang juga berbeda, saya menemukan “benang merah” yang sama di antara para pemusik. Tema cinta, terutama “pemujaan” terhadap kekasih memang tidak pernah “lekang karena panas, dan lapuk karena hujan”. Orang-orang Jerman juga manusia biasa, mereka juga mengenal cinta dan “ngak-ngik-ngok”. Perhatikan penggalan bait dari lagu das Beste (the Best) karya Silbermond berikut :

Versi bahasa Jerman :

Du bist das Beste was mir je passiert ist
es tut so gut wie du mich liebst
Vergesse den Rest der Welt
Wenn du bei mir bist
Du bist das Beste was mir je passiert ist
es tut so gut wie du mich liebst
Ich sag’s dir viel zu selten
es ist schön, dass es dich gibt

Dein Lachen macht süchtig
fast so als wäre es nicht von dieser Erde
Auch wenn deine Nähe Gift wär
ich würd bei dir sein solange bis ich sterbe
Dein Verlassen würde Welten zerstören
doch daran will ich nicht denken
Viel zu schön ist es mit dir
wenn wir uns gegenseitig Liebe schenken

Versi bahasa Inggris :

You are the best I have ever met
it feels good that you love me
I forget the whole world
when you are with me.
You are the best I have ever met
it feels good that you love me.
I should tell you more often:
it´s lovely that you are here

I am addicted to your laughter
almost like it is not from this earth
And if your nearness would be poison
I would stay by your side until I die.
Leaving me would destroy earths
but I won´t think of that.


Tampak Siring, 23 Juni 2013

 

Respect to Diversity

Baru-baru ini, Roy Hodgson, pelatih timnas sepakbola Inggris mendapat kecaman karena dianggap tidak bijak dan tidak pantas mengeluarkan kata-kata untuk memanggil para punggawanya. Hodgson mengaku bahwa ia bukanlah seorang rasialis meskipun ia sering menggunakan kata “kera” untuk memanggil para pemainnya. Hodgson pun berkilah bahwa ia menggunakan kata “kera” sudah bertahun-tahun dan selama ini tidak ada masalah.

Hodgson mungkin jujur dalam pembelaannya, tetapi jelas tidak memiliki emotional quotiens yang memadai dalam hubungan antarmanusia. Sungguh tidak ada relevansi dan urgensi menggunakan kata “kera” untuk memanggil orang lain. Toh semua orang memiliki nama yang jelas dan patut dipanggil sesuai dengan nama orang masing-masing. Ini bukan persoalan bahwa kebetulan Hodgson memanggil Andros Townsend yang berkulit gelap dengan sebutan kera, melainkan memang tidak etis memanggil orang dengan sebutan yang jelas-jelas secara konotatif – terutama di dunia sepakbola – dikaitkan dan isu rasialisme.

Sudah banyak pesepakbola berkulit gelap yang menjadi korban rasialisme, sebut saja nama-nama tenar seperti Roberto Carlos, Samuel Eto’o, dan Kevin Prince Boateng. Para penonton yang tidak suka dengan mereka melempar pisang dan kacang – makanan favorit kera – sembari memperagakan gerak tubuh kera. Hampir di seluruh dunia, kera digunakan menjadi medium untuk merendahkan status sosial seseorang dan rasialisme.

Sungguh tidak dapat dimengerti jika orang sekaliber Roy Hodgson tidak paham dengan tata krama hubungan antarmanusia. Bukan hanya organisasi sepakbola seluruh dunia FIFA yang menyatakan perang terhadap rasialisme dan karena itu menuntut setiap orang berhubungan dengan sepakbola – meskipun hanya sebagai penonton – mampu memberikan respek terhadap siapapun.

PBB bahkan menetapkan respect for diversity sebagai salah satu core values. Setiap orang yang bekerja dan/atau bekerja sama dengan PBB dituntut memiliki dan menunjukkan kompetensi respect for diversity, yaitu “an ability to work effectively, respectfully and inclusively with people from different backgrounds and with different perspectives is critical for all staff members.”

Kebiasaan Hodgson menggunakan kata “kera” untuk memanggil orang lain mengingatkan saya kepada kejadian beberapa tahun yang lalu. Saya pernah menemukan seorang yang mengikuti Management Trainee memanggil temannya dengan sebutan wedhus. Bagi orang Jawa, wedhus adalah hewan yang serba malas dan lamban, terutama malas mandi dan tidak mampu menjaga kebersihan.

Sungguh saya tidak mengerti mengapa orang itu menggunakan kata wedhus. Meskipun ada “segambreng” alasan, saya tidak melihat ada relevansi dan urgensi untuk menggunakan wedhus. Saya membayangkan jika orang yang dipanggil wedhus balik “menyerang” orang yang memanggilnya wedhus itu dengan sebutan – maaf – anjing atau asu. Kasar dan keterlaluan? Apa kriteria kasar dan keterlaluan?

Tidak ada yang mutlak dalam sistem nilai budaya. Sesuatu yang dianggap benar atau salah, baik atau jelek, indah atau tidak indah, sepenuhnya berlaku mutlak berlaku dan hanya sesuai untuk masyarakat tertentu. Apa yang dianggap kasar bagi oleh masyarakat tertentu belum tentu dianggap kasar oleh masyarakat lain.

Sejatinya, ada kecenderungan manusia untuk kurang paham terhadap apa yang dianggap benar atau salah, baik atau buruk, indah atau tidak indah, dan pantas atau tidak pantas dilakukan oleh manusia yang dibesarkan oleh sistem nilai budaya yang berbeda. Bahkan, sebutan yang kita anggap sebagai baik dan selama ini sebutan itu selalu kita gunakan (dan tidak ada masalah), sejatinya dapat melukai perasaan orang dari bangsa lain. Tidak percaya?

Selama ini, siapapun yang suka sepakbola, suka menyebut timnas sepakbola Jerman dengan julukan “der Panzer”. Kekaguman terhadap kehebatan timnas sepakbola Jerman yang selalu menduduki tempat terhormat di turnamen sepakbola akbar dunia (piala dunia dan piala eropa) mengundang kita untuk memuji dan memuja “Deutschland ueber Alles”. Pernahkah kita bertanya, apakah masyarakat dan bangsa Jerman suka dengan sebutan “der Panzer” dan slogan “Deutschland ueber Alles”?.

Timo Scheunemann, orang Jerman yang berprofesi sebagai pelatih sepakbola di Indonesia, rajin sebagai komentator di layar kaca, dan terampil menulis tentang “match analysis” di beberapa media cetak tentang  pertandingan sepakbola, menulis sebagai berikut : “Bila anda menyebutkan kedua julukan tadi (“der Panzer” dan “Deutschland uber Alles”) kepada orang Jerman mereka akan bingung bahkan tersinggung karena konotasi kedua istilah tersebut terkait erat dengan perang (masa kelam Jerman) yang tidak dibanggakan oleh masyarakat Jerman” (www.detik.com, 21 Agustus 2013)

***

Ada 1001 jalan untuk mempraktekkan respect to diversity. Tidak harus 1001 jalan tersebut dipraktekkan, cukup 1 saja tetapi sudah menjawab kebutuhan untuk saling menghormati dan toleransi terhadap perbedaan. Paling tidak, itulah yang pernah dilakukan oleh 2 ulama besar di masa lalu, yaitu K.H. Dr. Idham Chalid (tokoh NU) dan Prof. Dr. HAMKA atau lebih sering disebut Buya Hamka (tokoh Muhammadiyah).

Saat bermaksud menunaikan ibadah haji, kedua tokoh tersebut pernah secara tidak sengaja berada di dalam 1 kapal. Silaturahim antar kedua tokoh sangat akrab dan sholat wajib selalu berjama’ah. Semua berjalan sebagaimana mestinya, sampai kemudian saat melaksanakan sholat shubuh.

Pada kesempatan pertama, K.H. Idham Chalid dipersilakan menjadi Imam. Hal yang tidak biasa terjadi pada saat rakaat kedua, yaitu saat K.H. Idham Chalid tidak membaca do’a qunut. Padahal, membaca do’a qunut pada saat sholat subuh adalah amalan yang biasa dilakukan oleh kaum nahdliyin.

Meskipun tidak ada yang protes, Buya Hamka cukup terkejut dan mengajukan pertanyaan kepada K.H. Idham Chalid, mengapa beliau tidak membaca do’a qunut. Jawaban diplomatis K.H. Idham Chalid kurang lebih begini  : “Saya tidak membaca doa Qunut karena yang menjadi makmum adalah Pak Hamka. Saya tak mau memaksa orang yang tak berqunut agar ikut berqunut.”

Di lain hari, gentian Buya Hamka yang menjadi imam sholat subuh. Hal yang tidak biasa terjadi pada rakaat kedua, yaitu saat Buya Hamka mengangkat kedua tangannya dan kemudian membaca do’a qunut. Bagi kalangan Muhammadiyah, membaca do’a qunut pada shalat subuh hampir tidak pernah diamalkan.

Setelah sholat subuh selesai, gantian K.H. Idham Chalid bertanya kepada Buya Hamka, mengapa Buya membaca do’a qunut. Jawaban diplomatis dan menyejukkan pun disampaikan oleh Buya Hamka kurang lebih sebagai berikut : “Karena saya mengimami Pak Kyai Idham Chalid, tokoh NU yang biasa berqunut saat shalat Shubuh. Saya tak mau memaksa orang yang berqunut untuk tidak berqunut,” jawab Buya Hamka merendah. (Sumber : www.muslimmedianews.com, 28 September 2013)

Jadi, harus gimana dong? Tumbuhkan empati dalam hati. Mari belajar melihat dan memahami sesuatu dari berbagai sudut pandang. Bukankah jika anda pada suatu saat berada di kutub utara, pada saat yang bersamaan tidak dapat melihat dan mengetahui apa yang terjadi di kutub selatan? Bukankah dalam ruangan yang gelap, pada saat sorot lampu senter diarahkan pada satu sisi bola tenis meja, anda tidak dapat melihat sisi yang gelap?

 

Kebayoran Baru, 28 Oktober 2013

 

 
Leave a comment

Posted by on November 13, 2013 in Selasar