RSS

Respect to Diversity

13 Nov

Baru-baru ini, Roy Hodgson, pelatih timnas sepakbola Inggris mendapat kecaman karena dianggap tidak bijak dan tidak pantas mengeluarkan kata-kata untuk memanggil para punggawanya. Hodgson mengaku bahwa ia bukanlah seorang rasialis meskipun ia sering menggunakan kata “kera” untuk memanggil para pemainnya. Hodgson pun berkilah bahwa ia menggunakan kata “kera” sudah bertahun-tahun dan selama ini tidak ada masalah.

Hodgson mungkin jujur dalam pembelaannya, tetapi jelas tidak memiliki emotional quotiens yang memadai dalam hubungan antarmanusia. Sungguh tidak ada relevansi dan urgensi menggunakan kata “kera” untuk memanggil orang lain. Toh semua orang memiliki nama yang jelas dan patut dipanggil sesuai dengan nama orang masing-masing. Ini bukan persoalan bahwa kebetulan Hodgson memanggil Andros Townsend yang berkulit gelap dengan sebutan kera, melainkan memang tidak etis memanggil orang dengan sebutan yang jelas-jelas secara konotatif – terutama di dunia sepakbola – dikaitkan dan isu rasialisme.

Sudah banyak pesepakbola berkulit gelap yang menjadi korban rasialisme, sebut saja nama-nama tenar seperti Roberto Carlos, Samuel Eto’o, dan Kevin Prince Boateng. Para penonton yang tidak suka dengan mereka melempar pisang dan kacang – makanan favorit kera – sembari memperagakan gerak tubuh kera. Hampir di seluruh dunia, kera digunakan menjadi medium untuk merendahkan status sosial seseorang dan rasialisme.

Sungguh tidak dapat dimengerti jika orang sekaliber Roy Hodgson tidak paham dengan tata krama hubungan antarmanusia. Bukan hanya organisasi sepakbola seluruh dunia FIFA yang menyatakan perang terhadap rasialisme dan karena itu menuntut setiap orang berhubungan dengan sepakbola – meskipun hanya sebagai penonton – mampu memberikan respek terhadap siapapun.

PBB bahkan menetapkan respect for diversity sebagai salah satu core values. Setiap orang yang bekerja dan/atau bekerja sama dengan PBB dituntut memiliki dan menunjukkan kompetensi respect for diversity, yaitu “an ability to work effectively, respectfully and inclusively with people from different backgrounds and with different perspectives is critical for all staff members.”

Kebiasaan Hodgson menggunakan kata “kera” untuk memanggil orang lain mengingatkan saya kepada kejadian beberapa tahun yang lalu. Saya pernah menemukan seorang yang mengikuti Management Trainee memanggil temannya dengan sebutan wedhus. Bagi orang Jawa, wedhus adalah hewan yang serba malas dan lamban, terutama malas mandi dan tidak mampu menjaga kebersihan.

Sungguh saya tidak mengerti mengapa orang itu menggunakan kata wedhus. Meskipun ada “segambreng” alasan, saya tidak melihat ada relevansi dan urgensi untuk menggunakan wedhus. Saya membayangkan jika orang yang dipanggil wedhus balik “menyerang” orang yang memanggilnya wedhus itu dengan sebutan – maaf – anjing atau asu. Kasar dan keterlaluan? Apa kriteria kasar dan keterlaluan?

Tidak ada yang mutlak dalam sistem nilai budaya. Sesuatu yang dianggap benar atau salah, baik atau jelek, indah atau tidak indah, sepenuhnya berlaku mutlak berlaku dan hanya sesuai untuk masyarakat tertentu. Apa yang dianggap kasar bagi oleh masyarakat tertentu belum tentu dianggap kasar oleh masyarakat lain.

Sejatinya, ada kecenderungan manusia untuk kurang paham terhadap apa yang dianggap benar atau salah, baik atau buruk, indah atau tidak indah, dan pantas atau tidak pantas dilakukan oleh manusia yang dibesarkan oleh sistem nilai budaya yang berbeda. Bahkan, sebutan yang kita anggap sebagai baik dan selama ini sebutan itu selalu kita gunakan (dan tidak ada masalah), sejatinya dapat melukai perasaan orang dari bangsa lain. Tidak percaya?

Selama ini, siapapun yang suka sepakbola, suka menyebut timnas sepakbola Jerman dengan julukan “der Panzer”. Kekaguman terhadap kehebatan timnas sepakbola Jerman yang selalu menduduki tempat terhormat di turnamen sepakbola akbar dunia (piala dunia dan piala eropa) mengundang kita untuk memuji dan memuja “Deutschland ueber Alles”. Pernahkah kita bertanya, apakah masyarakat dan bangsa Jerman suka dengan sebutan “der Panzer” dan slogan “Deutschland ueber Alles”?.

Timo Scheunemann, orang Jerman yang berprofesi sebagai pelatih sepakbola di Indonesia, rajin sebagai komentator di layar kaca, dan terampil menulis tentang “match analysis” di beberapa media cetak tentang  pertandingan sepakbola, menulis sebagai berikut : “Bila anda menyebutkan kedua julukan tadi (“der Panzer” dan “Deutschland uber Alles”) kepada orang Jerman mereka akan bingung bahkan tersinggung karena konotasi kedua istilah tersebut terkait erat dengan perang (masa kelam Jerman) yang tidak dibanggakan oleh masyarakat Jerman” (www.detik.com, 21 Agustus 2013)

***

Ada 1001 jalan untuk mempraktekkan respect to diversity. Tidak harus 1001 jalan tersebut dipraktekkan, cukup 1 saja tetapi sudah menjawab kebutuhan untuk saling menghormati dan toleransi terhadap perbedaan. Paling tidak, itulah yang pernah dilakukan oleh 2 ulama besar di masa lalu, yaitu K.H. Dr. Idham Chalid (tokoh NU) dan Prof. Dr. HAMKA atau lebih sering disebut Buya Hamka (tokoh Muhammadiyah).

Saat bermaksud menunaikan ibadah haji, kedua tokoh tersebut pernah secara tidak sengaja berada di dalam 1 kapal. Silaturahim antar kedua tokoh sangat akrab dan sholat wajib selalu berjama’ah. Semua berjalan sebagaimana mestinya, sampai kemudian saat melaksanakan sholat shubuh.

Pada kesempatan pertama, K.H. Idham Chalid dipersilakan menjadi Imam. Hal yang tidak biasa terjadi pada saat rakaat kedua, yaitu saat K.H. Idham Chalid tidak membaca do’a qunut. Padahal, membaca do’a qunut pada saat sholat subuh adalah amalan yang biasa dilakukan oleh kaum nahdliyin.

Meskipun tidak ada yang protes, Buya Hamka cukup terkejut dan mengajukan pertanyaan kepada K.H. Idham Chalid, mengapa beliau tidak membaca do’a qunut. Jawaban diplomatis K.H. Idham Chalid kurang lebih begini  : “Saya tidak membaca doa Qunut karena yang menjadi makmum adalah Pak Hamka. Saya tak mau memaksa orang yang tak berqunut agar ikut berqunut.”

Di lain hari, gentian Buya Hamka yang menjadi imam sholat subuh. Hal yang tidak biasa terjadi pada rakaat kedua, yaitu saat Buya Hamka mengangkat kedua tangannya dan kemudian membaca do’a qunut. Bagi kalangan Muhammadiyah, membaca do’a qunut pada shalat subuh hampir tidak pernah diamalkan.

Setelah sholat subuh selesai, gantian K.H. Idham Chalid bertanya kepada Buya Hamka, mengapa Buya membaca do’a qunut. Jawaban diplomatis dan menyejukkan pun disampaikan oleh Buya Hamka kurang lebih sebagai berikut : “Karena saya mengimami Pak Kyai Idham Chalid, tokoh NU yang biasa berqunut saat shalat Shubuh. Saya tak mau memaksa orang yang berqunut untuk tidak berqunut,” jawab Buya Hamka merendah. (Sumber : www.muslimmedianews.com, 28 September 2013)

Jadi, harus gimana dong? Tumbuhkan empati dalam hati. Mari belajar melihat dan memahami sesuatu dari berbagai sudut pandang. Bukankah jika anda pada suatu saat berada di kutub utara, pada saat yang bersamaan tidak dapat melihat dan mengetahui apa yang terjadi di kutub selatan? Bukankah dalam ruangan yang gelap, pada saat sorot lampu senter diarahkan pada satu sisi bola tenis meja, anda tidak dapat melihat sisi yang gelap?

 

Kebayoran Baru, 28 Oktober 2013

 

 
Leave a comment

Posted by on November 13, 2013 in Selasar

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: