RSS

Silbermond

18 Nov

Selama di Indonesia, saya belum pernah nonton pagelaran musik baik yang diselenggarakan di dalam gedung, apalagi di lapangan terbuka. Ada beberapa alasan yang sangat pribadi. Pertama, saya “parno” berada di tengah kerumunan yang bisa mendadak sontak menjadi gerombolan liar dan biadab. Kedua, saya takut diinjak-injak, terinjak-injak, dan menginjak-injak orang lain. Ketiga, saya takut diminta naik panggung untuk menyanyi (he……he….).

Saat tinggal di Mannheim, saya justru menyempatkan diri untuk nonton konser Silbermond, salah satu kelompok musin papan atas di Jerman. Sejatinya, saya ingin nonton konser musik The Scorpions dan melihat dengan mata kepala saya sendiri Klaus Meine menyanyikan lagu Wind of Change. Sayang, selama 1 tahun di Jerman, The Scorpions lagi bersemedi (baca : tidak manggung).

Tetapi kekecewaan saya cukup terobati dengan berkunjung ke kota Hannover yang merupakan “markas besar” dari The Scorpions. Penampilan yang gemilang dari Silbermond juga sudah cukup membuat saya puas melihat grup musik Jerman manggung.

Dalam bahasa Jerman, Silber berarti silver dalam bahasa Inggris atau perak dalam bahasa Indonesia. Sedangkan mond dalam bahasa Jerman berarti bulan dalam bahasa Indonesia. Jadi, secara harfiah Silbermond berarti “bulan perak”.

Berbeda dengan senior mereka The Scorpions yang meliris lagu-lagu berbahasa Inggris, Silbermond hanya mengusung lagu-lagu dengan lirik bahasa Jerman. Hal ini membuat “orbit” Silbermond beredar terbatas di negara-negara berbahasa Jerman seperti Swiss, Austria, dan tentu saja Jerman.

Promosi industri musik Jerman memang tidak besar-besaran dan tidak gegap gempita seperti industri musik pop dari negeri Paman Sam. Untuk menjadi kiblat musik dunia, tampaknya para pelaku di industri musik pop Jerman juga tidak terlalu berambisi.

***

Konser musik Silbermond diadakan pada bulan Agustus 2009, pukul 14.00. Saat itu sedang musim panas. Bagi orang Jerman yang hidup dalam 4 musim, berpanas-panas di lapangan terbuka seperti mendapatkan durian runtuh.  Panas terik musim panas di Jerman juga tidak membuat badan saya menjadi basah kuyup mandi keringat. Kelembaban udara di Jerman yang relatif rendah membuat udara cukup bersahabat bagi pendatang dari negara tropis sekalipun.

Bagaimana kerumunan di Jerman, tepatnya di kota Mannheim? Kerumunan ya tetap kerumunan. Teriak dan jingkrak-jingkrak sudah lumrah. Dalam hiruk pikuk sama saja dengan kerumunan di Jakarta. Perbedaannya, kerumunan di Jerman cenderung tidak rusuh dan situasi tetap aman terkendali.

Padahal, minuman keras bukan barang yang haram di bawa sambil nonton konser. Mulut manusia, udara dan bahkan toilet pun bau minuman keras. Tetapi memang ada perbedaan antara mabuk orang Jerman dengan mabuk orang Indonesia. Paling banter mereka teriak-teriak. Semabuk-mabuknya orang Jerman, mereka masih bisa mengontrol diri mereka. Mengapa? Kalau mereka sampai berulah, urusan hukum sudah menanti.

Satu hal yang juga membedakan kerumunan di Indonesia dengan kerumunan di Jerman adalah saat-saat anak cucu Adam dan Hawa sedang mabuk cinta. Di Indonesia, hampir pasti tidak ada muda-muda yang sedang “mabuk kepayang” akan ciuman di tengah-tengah kerumunan dan ditonton banyak orang. Di Jerman, melihat orang-orang berciuman di tengah kerumunan di siang hari bolong adalah hal yang jamak.

***

Pengetahuan saya tentang musik di Jerman, terutama musik pop, sangat minim. Satu-satunya kelompok musik yang saya ketahui adalah The Scorpions dengan tembang hit Always Somewhere dan terutama Wind of Change. Tidak banyak penyanyi yang saya ketahui. Satu-satunya penyanyi yang saya ketahui adalah Klaus Meine yang menyanyikan lagu Wind of Change di Lapangan Merah, Russia.

Meskipun tergolong awam di bidang musik klasik, saya lebih “fasih” menyebutkan beberapa komponis musik klasik asal Jerman. Dari yang paling terkenal seperti Ludwig von Beethoven, Johann Sebastian Bach, George Frederich Haendel, Johannes Brahms, Johann Pachelbel, Franz Schubert sampai dengan Felix Bartholdy Mendelssohn dan Robert Schumann yang tidak begitu dikenal di Indonesia.

Demikian juga dengan karya-karya musik mereka, saya cukup familiar. Sebut saja “Fuer Elise” karya Bach, Hallelujah dari Haendel, Serenade dari Schubert dan Canon in D Major karya Pachelbel yang sering menjadi wedding song standar di negara-negara barat.

Selama ini kita memang lebih mengenal bangsa Jerman sebagai bangsa yang “serius”, berhubungan dengan pemikiran dan filosofi yang “berat”,  teknologi yang serba canggih, dan disiplin yang sekuat baja panser. Hampir tidak pernah kita mendengar tentang Jerman berkaitan dengan cinta dan musik “ngak-ngik-ngok” (istilah yang digunakan Bung Karno untuk musik Barat dan lagu cinta yang cengeng).

Bild

Foto : http://www.unitedcharity.de

Karena itu, kesempatan nonton konser Silbermond benar-benar saya manfaatkan untuk menimba pengetahuan tentang industri musik pop Jerman. Paling tidak, saya punya pengalaman dan bisa merasakan bagaimana orang-orang Jerman yang pendiam dan dingin bisa berjingkrak-jingkrak mengikuti lagu-lagu yang dibawakan Silbermond.

Kecuali tembang lawas Du yang sudah sangat populer di Indonesia, sungguh tidak mudah memahami lirik lagu-lagu berbahasa Jerman. Tetapi bukan berarti melodi dan lirik lagu-lagu berbahasa Jerman “mati gaya”. Lagu The Beatles “I Want To Hold Your Hand” pun tetap hidup saat dinyanyikan dalam bahasa Jerman “Kommt gib mir deine Hand”.

Meskipun berasal dari negara-negara berbeda dan budaya yang juga berbeda, saya menemukan “benang merah” yang sama di antara para pemusik. Tema cinta, terutama “pemujaan” terhadap kekasih memang tidak pernah “lekang karena panas, dan lapuk karena hujan”. Orang-orang Jerman juga manusia biasa, mereka juga mengenal cinta dan “ngak-ngik-ngok”. Perhatikan penggalan bait dari lagu das Beste (the Best) karya Silbermond berikut :

Versi bahasa Jerman :

Du bist das Beste was mir je passiert ist
es tut so gut wie du mich liebst
Vergesse den Rest der Welt
Wenn du bei mir bist
Du bist das Beste was mir je passiert ist
es tut so gut wie du mich liebst
Ich sag’s dir viel zu selten
es ist schön, dass es dich gibt

Dein Lachen macht süchtig
fast so als wäre es nicht von dieser Erde
Auch wenn deine Nähe Gift wär
ich würd bei dir sein solange bis ich sterbe
Dein Verlassen würde Welten zerstören
doch daran will ich nicht denken
Viel zu schön ist es mit dir
wenn wir uns gegenseitig Liebe schenken

Versi bahasa Inggris :

You are the best I have ever met
it feels good that you love me
I forget the whole world
when you are with me.
You are the best I have ever met
it feels good that you love me.
I should tell you more often:
it´s lovely that you are here

I am addicted to your laughter
almost like it is not from this earth
And if your nearness would be poison
I would stay by your side until I die.
Leaving me would destroy earths
but I won´t think of that.


Tampak Siring, 23 Juni 2013

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: