RSS

Resistensi Terhadap Perubahan

20 Nov

Teknologi, terutama teknologi komunikasi dan informasi, berkembang sangat pesat. Sebagian orang tertentu galau melihat perkembangan teknologi yang sangat cepat. Mereka khawatir teknologi akan merubah kehidupan manusia. Bahkan, dikhawatirkan teknologi tidak sekedar merubah mindset manusia, tetapi lebih jauh pandangan hidup manusia tentang kehidupan itu sendiri.

Tetapi kegalauan terhadap perkembangan teknologi tidak akan ditemukan di dunia sepakbola. Boleh dibilang, teknologi bertekuk lutut dan tidak berkutik di dunia sepakbola. Para “ayatollah” sepakbola sangat tegas dan konsisten membatasi peranan teknologi dalam urusan sepakbola, terutama selama proses pertandingan sepakbola.

Boleh-boleh saja teknologi membantu semua hal yang berhubungan dengan tetek bengek sepakbola. Misalkan, teknologi boleh saja membantu dalam hal penjualan tiket melalui sistem e-ticket. Teknologi boleh juga hadir di lapangan hijau untuk memudahkan para pengadil berkomunikasi. Sudah beberapa tahun terakhir ini kita melihat di kepala wasit terpasang teknologi komunikasi yang memungkinkan wasit “berkicau” (baca : berkomunikasi) sesama mereka.

Meskipun demikian, teknologi tidak boleh mencampuri urusan sepakbola terlalu jauh. Usulan untuk menggunakan teknologi kamera yang merekam semua kejadian di depan gawang ditolak mentah-mentah oleh para “ayatollah”  sepakbola. Alasan penolakan pun sangat sederhana : teknologi kamera akan menghilangkan “sisi manusiawi” dari sepakbola. Alamak!

Entah sudah berapa timnas sepakbola yang dirugikan dengan keputusan wasit yang membatalkan atau tidak mengesahkan bola yang telah melewati garis gawang. Contoh klasik adalah timnas Inggris melawan timnas Jerman (saat itu masih Jerman Barat) di Piala Dunia 1966. Saat itu timnas Inggris yang “diuntungkan”. Bola belum melewati garis gawang, tetapi wasit memutuskan bahwa bola telah melewati garis gawang timnas Jerman. Itulah “kadeudeuh” terindah bagi negara yang disebut-sebut sebagai tempat sepakbola dilahirkan. Berkat keputusan wasit Inggris berhasil memboyong Piala Dunia 1966.

Bild

Foto : http://www.sundul.com

Saat PD 2020, dendam timnas Jerman seakan terbayar lunas saat wasit tidak mengesahkan tendangan Frank Lampard yang telah melewati garis gawang timnas Jerman sebagai gol. Melalui rekaman yang diputar berulang-ulang sangat jelas bola telah melewati garis gawang timnas Jerman yang dikawal Neuer.

Derai air mata para pendukung timnas Inggris tidak berlangsung lama. Di Piala Eropa 2012 yang diselenggarakan di Polandia dan Ukrania, kembali timnas Inggris “diuntungkan” oleh keputusan wasit yang tidak mengesahkan bola yang telah melewati garis gawang timnas Inggris sebagai gol. Keputusan wasit akan dikenang oleh timnas Ukrania dan para pendukungnya sebagai pengkhianatan terhadap fair play.

Meskipun sudah banyak contoh-contoh keputusan wasit yang salah dan derai air mata di dunia sepakbola, FIFA bergeming untuk menolak penggunaan teknologi kamera. Mungkin dalam logika analisa FIFA, wasit kan juga manusia. Jadi, kalau wasit salah dalam mengambil keputusan, itu sangat manusiawi. Mungkin ada yang tersakiti, tetapi itu juga sangat manusiawi.

***

Penolakan penggunaan teknologi kamera di dunia sepakbola merupakan salah satu contoh penolakan terhadap perubahan. Penolakan itu sangat menarik, karena hanya berurusan dengan tendang-menendang bola. Resistensi terhadap perubahan akan lebih kuat dan sistematis untuk bidang-bidang yang berkaitan dengan sendi-sendi kehidupan individu, kelompok, masyarakat, bangsa dan negara.

Secara teoritis dan praktis, manfaat potensial dari kehadiran teknologi dalam kehidupan manusia dapat dan mudah untuk dibuktikan. Tetapi fokus resistensi terhadap kehadiran teknologi tidak terletak pada manfaat teknologi itu sendiri. Kegalauan terhadap teknologi seringkali berkaitan dengan kepentingan, keamanan, dan kenyamanan yang terusik.

Secara umum, resistensi terhadap perubahan seringkali seperti mengada-ada. Alasan “teknologi kamera akan menghilangkan sisi manusiawi sepakbola” kan juga seperti mengada-ada. Tetapi alasan yang sederhana seperti sudah cukup membuat semua jalan menuju perubahan seolah-olah buntu.

Karena itu, salah satu kunci untuk mengintroduksi keberhasilan adalah dengan memahami resistensi terhadap perubahan. Semua pihak yang bermaksud mengadakan perubahan tidak bisa tergesa-gesa memaksakan perubahan tanpa memahami “ipoleksosbudhankam” (ideology, politik, ekonomi,  dan sosial budaya) dari individu, kelompok, masyarakat, bangsa, dan negara yang akan diubah.

Ada beberapa sebab atau alasan yang melatarbelakangi resistensi terhadap perubahan. Dalam buku “Armstong’s Handbook of Human Resource Management Practice, Michael Armstrong menyebutkan sebab-sebab resistensi terhadap perubahan sebagai berikut :

  • The shock of the new – people are suspicious of anything that they perceive will upset their established routines, methods of working or conditions of employment. They do not want to lose the security of what is familiar to them.
  • Economic fears – loss of money, threats to job security.
  • Inconvenience – the change will make life more diffi cult.
  • Uncertainty – change can be worrying because of uncertainty about its likely impact.
  • Symbolic fears – a small change that may affect some treasured symbol, such as a separate office or a reserved parking space, may symbolize big ones, especially when employees are uncertain about how extensive the programme of change will be.
  • Threat to interpersonal relationships – anything that disrupts the customary social relationships and standards of the group will be resisted.
  • Threat to status or skill – the change is perceived as reducing the status of individuals or as de-skilling them.
  • Competence fears – concern about the ability to cope with new demands or to acquire new skills.

 

***

Setelah memahami faktor-faktor yang mendasari resistensi terhadap perubahan, maka strategi perubahan yang akan disusun fokus mengatasi faktor-faktor tersebut. Banyak strategi dan pendekatan yang dapat digunakan, antara lain pendekatan “klasik” dari Kurt Lewin (1951) dengan model “Unfreezing-Change- Freezing” maupun pendekatan “modern” dari John Kotter (1995) dengan “8 Langkah Perubahan”.

Apapun pendekatan dan strategi yang dipilih untuk mengusung perubahan, perlu diingat bahwa perubahan pada dasarnya juga berarti perubahan terhadap kebiasaan manusia. Mengubah kebiasaan manusia tidak mudah. Ironisnya, seperti dikatakan oleh Mark Twain : “Nothing so needs reforming as other people’s habits.” Salah satu ketakutan terbesar manusia adalah mengubah kebiasaannya.

Kebayoran Baru, 13 Juni 2013

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: