RSS

Monthly Archives: December 2013

Paradoks Ibu

Dalam kesempatan “ngobar” (baca : ngobrol bareng) bersama psikolog anak Kak Seto Mulyadi, psikolog sosial Sarlito Wirawan Sarwono mendapat “bocoran” informasi tentang KDRT (Kekerasan Dalam Rumah Tangga), wa bil khusus tentang korban dan pelaku KDRT.

Ternyata, sebagian besar korban KDRT adalah anak-anak. Di luar dugaan saya, mungkin juga di luar dugaan anda, pelaku utama KDRT terhadap anak-anak adalah ibu kandung. Sebagai Ketua Umum Komisi Nasional Perlindungan Anak, Kak Seto tentu tidak sembarangan bicara, apalagi “nakut-nakutin”.

Cerita bahwa ibu tiri kejam adalah propaganda dalam film dan sinetron. Tetapi seorang ibu kandung yang bisa kejam dan jahat terhadap anak-anak yang dikandung dan diasuhnya, ternyata bukan isapan jempol. Boleh jadi ibu tiri yang  kejam dan jahat hanya merupakan isapan jempol. Dalam kehidupan nyata, ibu kandung bisa lebih kejam dan jahat ketimbang ibu tiri.

Informasi tentang korban dan pelaku KDRT terhadap anak-anak itu yang saya baca dalam artikel Prof. Sarlito yang ditulis di sebuah harian ibukota, tepat pada hari ibu. Jujur, mengetahui informasi tentang ibu sebagai pelaku utama KDRT terhadap anak-anak serasa “disambar geledek”.

Tak ada ruang sebesar biji zarah pun dalam benak dan lubuk hati saya suudzon terhadap seorang ibu. Saya tidak pernah memberikan kesempatan dan waktu kepada otak dan qalbu saya untuk berandai-andai tentang seorang ibu kandung yang jahat dan kejam.

Pemahaman, pengalaman, dan memori saya tentang seorang ibu adalah persis seperti yang dideskripsikan dalam lagu anak-anak yang sangat populer sejak dahulu kala sampai kini, yaitu : Kasih Ibu. Hanya seorang ibu yang mampu dan mau menebar kasih sayang kepada anak-anak, hanya memberi dan memberi sepanjang hayat di kandung badan, dan tidak mengharapkan balasan apapun.

Setelah para nabi dan rasulullah, tidak ada manusia yang memiliki kemuliaan melebihi kemuliaan seorang ibu. Tidak ada manusia di dunia ini yang mampu meneladani sifat-sifat Allah SWT, kecuali para utusan Allah SWT. Tetapi jika saya menyatakan bahwa jika ada manusia lain yang mampu meneladani sifat-sifat Allah SWT, maka orang tersebut adalah ibu.

Hanya ibu yang mampu meneladani sifat-sifat ar-rahman dan ar-rahim. Tidak semua perempuan memiliki sifat-sifat ar-rahman dan ar-rahim, paling banter baru sekedar potensi. Tetapi begitu menjadi seorang ibu, wes ewes ewes, semua ibu secara naluriah dan alamiah mampu meneladani sifat-sifat ar-rahman dan ar-rahim.

Semua manusia dari kelompok umur apapun secara naluriah dan alamiah memiliki kebutuhan terhadap rasa nyaman, aman, dimengerti, dihargai, dan dianggap penting. Adalah ibu yang dengan sifat-sifat ar-rahman dan ar-rahim, mampu dan mau memberikan rasa nyaman, aman, dimengerti, dihargai, dan dianggap penting kepada anak-anaknya.

Sosiolog Leopold von Wiese dan Howard Becker membedakan hubungan antarmanusia menjadi tiga kategori, yaitu hubungan primer, hubungan sekunder, dan hubungan tersier. Klasifikasi hubungan antarmanusia tersebut berdasarkan kekuatan, kedalaman, dan “sustainability” interaksi sosial di antara anggota kelompok sosial tersebut.

Hubungan primer adalah hubungan antarmanusia yang memiliki kekuatan, kedalaman, dan “sustainability” paling paripurna. Hubungan ibu dan anak yang dilandasi oleh kasih sayang yang tulus adalah satu-satunya bentuk hubungan primer yang tak ada bandingannya. Sulit untuk menemukan hubungan antarmanusia lain yang dapat dikategorikan sebagai hubungan primer.

***

Mendapat informasi yang beraroma seperti “disambar geledek”, saya mencoba menenangkan diri dengan cara bertanya kepada istri saya, apakah memang benar pelaku KDRT terhadap anak-anak adalah para ibu, terutama ibu kandung? (dengan asumsi jumlah ibu kandung pasti lebih banyak daripada ibu tiri). Jawaban istri saya ternyata semakin membuat pikiran dan perasaan saya semakin acakadul dan amburadul.

Istri saya membenarkan 100 % informasi KDRT seperti yang disampaikan oleh Kak Seto. Bahkan istri saya mengingatkan bahwa, tidak perlu ada perdebatan tentang data dan angka. Bagaimanapun, fakta dan kenyataan bahwa ibu kandung dapat melakukan KDRT terhadap anak-anak, jauh lebih penting ketimbang data statistik. Fokus dan tindakan terbaik adalah pada solusi, bukan sekedar mengadakan penelitian ilmiah.

Meskipun demikian, istri saya mengingatkan jangan menyalahkan ibu kandung sebagai “kambing hitam” dan bertanggung jawab 1000 % terhadap KDRT terhadap anak-anak. Sebagai seorang pemerhati “KWRT” (Ketidakberdayaan Wanita Dalam Rumah Tangga)  dan KDRT, istri saya memahami dan meyakini bahwa, dalam kasus-kasus KWRT dan KDRT terhadap anak-anak, ibu sejatinya “merangkap” status sebagai pelaku sekaligus korban. Lho, iki piye iki piye?

Bild

Foto diunduh dari http://www.smallbusiness.chron.com

Otak saya masih dapat mencerna jika istri berstatus sebagai korban dalam konteks KWRT. Tetapi bagaimana menjelaskan bahwa sejatinya ibu juga menjadi korban dalam berbagai kasus KDRT terhadap anak-anak? Jawaban diplomatis terhadap pertanyaan ini adalah tidak ada penyebab tunggal dalam kasus-kasus KDRT terhadap anak-anak.

Secara naluriah dan alamiah, seorang ibu pasti memiliki sifat-sifat ar-rahman dan ar-rahim. Dalam kehidupan nyata dan sehari-hari, boleh jadi sifat-sifat ar-rahman dan ar-rahim itu tidak teraktualisasi. Ada banyak “kambing hitam” mengapa ibu tidak mampu (baca : bukan tidak mau) mengaktualisasikan diri sifat-sifat ar-rahman dan ar-rahim yang seyogyanya sudah menjadi “darah daging”, “denyut nadi”, dan “detak jantung” seorang ibu.

Stress yang dialami oleh ibu merupakan salah satu penyebab mengapa seorang ibu gagal mengaktualisasikan sifat-sifat ar-rahman dan ar-rahim. Sebut saja stress di kantor menghadapi beban kerja, atasan yang “bawel”, maupun rekan kerja yang “resek”. Belum lagi stress selama perjalanan pulang pergi dari rumah tinggal ke tempat kerja. Last but not least, boleh jadi seorang ibu stress menghadapi sikap dan perilaku suami sendiri. Bukan tidak mungkin para ibu menjadi korban KDRT yang dilakukan oleh para suami. Nah lo!

Karena ketidakmampuan mengelola berbagai stress yang dihadapi, wa bil khususon KDRT oleh para suami, para ibu justru mencari pelampiasan kepada orang lain. Siapapun manusia, tidak mungkin melampiaskan kekecewaan dan kemarahan kepada orang lain yang memiliki otot seperti kawat dan tulang seperti besi. Setiap orang lebih mudah melampiaskan kekecewaan dan kemarahan kepada orang-orang yang lemah dan tidak mampu membalas.

Dalam psikologi, pelampiasan frustrasi kepada orang lain atau obyek yang lemah dan tidak memiliki kemampuan untuk melakukan “serangan balik” disebut dengan displacement. Semua orang boleh jadi pernah mengalami displacement, sebab displacement merupakan salah satu bentuk mekanisme pertahanan diri. Dalam www.psychology.about.com, Kendra Cherry menjelaskan tentang displacement sebagai berikut :

“Displacement involves taking out our frustrations, feelings, and impulses on people or objects that are less threatening. Displaced aggression is a common example of this defense mechanism. Rather than express our anger in ways that could lead to negative consequences (like arguing with our boss), we instead express our anger towards a person or object that poses no threat (such as our spouse, children, or pets).”

Secara “alamiah”, anak-anak dalam status dan posisi lemah dan tidak mampu membalas kemarahan seorang ibu. Sangat logis jika anak kemudian menjadi sasaran empuk KDRT yang dilakukan oleh sebagian ibu. Jadi, dalam konteks KDRT terhadap anak-anak, berlaku “efek domino”, satu domino jatuh maka akan menjatuhkan domino yang lain.

“Efek domino” bahkan tidak terbatas dalam satu keluarga saja, melainkan juga dapat “memakan” korban orang-orang yang tidak terlibat dan tidak bersalah dalam KDRT terhadap anak di dalam satu rumah tangga. Anak-anak yang menjadi korban dalam KDRT berpontensi memiliki karakter dan akhlak yang acakadul dan amburadul. Kelak, dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara, anak-anak “salah asuhan” seperti itu dapat bersikap “garang” dan kurang ajar terhadap siapapun.

Karena tidak ada sebab-musabab tunggal dalam berbagai kasus KDRT terhadap anak-anak, dan sebab-musabab itu membentuk tali-temali yang sangat kuat, maka tidak bijak jika hanya menyalahkan ibu sebagai pelaku tunggal. Bahkan juga tidak bijak jika kemudian “menugaskan” kepada para ibu yang terjerat KDRT terhadap anak-anak, untuk memperbaiki kecerdasan mereka, baik itu IQ, EQ, ESQ, maupun AQ.

Sejatinya, tidak hanya para ibu yang harus memperbaiki karakter dan akhlak mereka agar tidak terjerumus dalam kasus KDRT terhadap anak-anak. Ayah, sebagai seorang pemimpin dalam rumah tangga, sudah sepatutnya menjadi pihak yang paling aktif untuk mengetahui apakah di dalam rumah terjadi KDRT. Jika ya, ayah pula yang harus proaktif menjadikan rumah sebagai tempat di mana anggota keluarga menemukan perasaan nyaman, aman, diperhatikan, dianggap penting, dan dihargai.

 

Kebayoran Baru, 27 Desember 2013

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on December 28, 2013 in Gemeinschaft | Gesellschaft

 

Ibu

Lembaga peradilan tertinggi di bumi pertiwi telah memutuskan bahwa, Lapindo Brantas tidak bersalah dalam kasus luapan lumpur di Kabupaten Sidoarjo (sering disebut “lusi”). Tetapi mengapa keluarga Bakrie bersedia membayar ganti rugi kepada para korban “lusi”?

Tak ada jawaban yang lebih sahih kecuali “apa kata ibu”.  Dalam sebuah talkshow, Aburizal Bakrie yang akrab dipanggil Ical “ditodong” oleh sebuah pertanyaan tentang alasan ia mau menggelontorkan triliunan  Rupiah kepada para korban lusi. Inilah jawaban Ical  :

“Ibu saya memerintahkan, salah atau benar harus tetap bantu korban, dan kita sudah melakukan jual beli tanah dan rumah sampai dana yang kami keluarkan sudah Rp. 9 triliun,” paparnya (www.nasionalnews.viva.co.id, 2 Oktober 2013)

“Apa kata ibu” adalah bagaikan “mantra” dan “titah” yang harus dilaksanakan. Betapa banyak laki-laki yang berterus terang mengakui bahwa, di balik berbagai keputusan penting yang diambilnya, “apa kata ibu” menjadi pertimbangan penting atau pengaruh yang sangat penting. Saya yakin, dalam sistem sosial masyarakat yang selama berabad-abad didominasi oleh sistem patriarkat, relatif banyak laki-laki yang berstatus “DBI” (baca : di bawah bayang-bayang ibu). Mungkin lebih banyak laki-laki yang berstatus “DBI” ketimbang “DKI” (baca : di bawah ketiak istri).

Bahkan, betapa “perkasa” seorang istri terhadap seorang suami, saya yakin seorang istri yang “garang” sekalipun tidak akan merasa iri dan dengki kepada seorang ibu mertua yang memiliki daya “magnet” luar biasa sehingga seorang laki-laki yang tegar pun dapat menangis terisak-isak di hadapan seorang ibu.

Saya juga seorang laki-laki yang memasukkan faktor “apa kata ibu” dalam berbagai kesempatan pengambilan keputusan. Tentu saja berdo’a kepada Tuhan Yang Mahakuasa dan shalat istikharah penting, tetapi pengalaman subyektif saya selalu menuntun saya untuk bertanya kepada ibu.

Saat berada di kisaran usia 30-an, beberapa head hunter hampir setiap bulan menginformasikan lowongan kerja kepada saya. Penawaran yang menarik dari segi gaji dan fasilitas seringkali dari beberapa perusahaan di luar Jawa. Pernah suatu saat saya sangat “tergiur” dengan kesempatan karir di Papua (waktu itu masih Irian Jaya). Setelah mempertimbangkan berbagai faktor dan tinggal mengambil keputusan akhir, saya pun meminta nasehat kepada ibu saya. Ternyata ibu saya tidak setuju dengan rencana saya dan saya pun batal bergabung dengan perusahaan sebuah perusahaan di Papua. Saya dapat “menangkap” dan merasakan suasana hati ibu saya yang tidak nyaman jika saya berada terlalu jauh dari saya (saat itu ibu tinggal di Yogyakarta dan saya tinggal dan bekerja di Jakarta).

RASJIDFoto : Dok. Pribadi Keluarga Besar M.A. Rasjid

Bagi sebagian besar orang yang “macho”, alasan kenyamanan suasana hati ibu sebagai alasan yang kurang beraroma laki-laki. Tetapi ternyata saya tidak sendirian. Di sebuah harian ibukota, saya membaca kisah Alexander Sriewijono (Founder Daily Meaning dan penggagas “Passionate Working Life”)  yang juga menempatkan faktor ibu sebagai pertimbangan utama dalam pengambilan keputusan penting, baik kehidupan pribadi maupun karir. Alexander yang saat itu sudah menyelesaikan S2 di Inggris dan berkesempatan untuk meneruskan S3, bersedia membatalkan cita-cita yang sudah terlanjur digantungkannya setinggi langit, karena mempertimbangkan suasana kenyamanan hati ibu.

Sebagaimana dimuat dalam rubrik Inspiring Person Koran Sindo 8 Desember 2013, Alexander Sriewijono bercerita sebagai berikut : “pada 2004 saat tengah menyelesaikan pendidikan master di London, datang dua kesempatan atau pilihan emas. Pertama, melanjutkan studi doctoral di London, dan kedua panggilan wawancara untuk memimpin sebuah perusahaan konsultan. Di masa gamang antara meraih gelar doktor atau pekerjaan, Alex lebih memikirkan di mana sang ibu merasa lebih nyaman. Alex pun menelepon ibunya. Sang ibu menjawab tidak kuat dingin sehingga keberatan untuk ikut.”

Pengalaman saya pribadi dan Alexander Sriewijono mungkin masih biasa-biasa saja dan “nggak ada apa-apanya”. Maksud saya, bukan hal yang istimewa dan tidak perlu dibesar-besarkan. Apa yang dilakukan oleh sahabat saya (seorang laki-laki) untuk mendampingi ibu kandungnya yang sudah udzur untuk mempersiapkan diri sebaik mungkin menghadap Allah SWT secara khusnul khotimah lebih patut diacungi jempol.

Sahabat saya ikhlas untuk dimutasikan dari Kalimantan ke Jakarta agar dapat berkumpul kembali dengan ibu kandungnya. Pindah ke Jakarta dengan risiko tanpa jabatan, gaji dan fasilitas dikurangi bukan hal yang menakutkan bagi sahabat saya. Bukan hanya sampai disitu, kalaupun perusahaan tidak bersedia memutasikan ke Jakarta, ia sudah siap untuk “nekad” mengundurkan diri dari perusahaan dan mencari pekerjaan lain di Jakarta.

Sikap dan perilaku sahabat saya yang ikhlas mendampingi ibu mungkin terasa naïf bagi orang-orang yang memiliki kesempatan untuk merawat dan mendampingi orang tua di saat udzur, tetapi justru memilih “melarikan diri” dari tanggung jawab dan membuang kesempatan yang hanya datang sekali dalam seumur hidup.

Betapa banyak anak-anak, demi karir, gaji dan fasilitas yang melimpah, memilih “mendelegasikan” tugas dan tanggung jawab merawat dan medampingi orang tua yang sudah udzur kepada orang lain. Sayang sekali, bagi sebagian anak, “menggelontorkan uang” kepada orang tua yang sudah udzur, dianggap sama nilainya dengan pendampingan kepada orang tua mempersiapkan diri Allah SWT secara khusnul khotimah.

***

Surga berada di telapak kaki ibu. Suatu petunjuk betapa mulia seorang ibu sehingga surga pun berada bawah telapak kaki ibu. Maksudnya adalah setiap anak sepatutnya memiliki rasa hormat yang sangat tinggi kepada ibu dan rela menunjukkan darma bakti kepada ibu. Meskipun demikian, menurut pendapat subyektif saya, kita seringkali diingatkan dengan peribahasa tersebut dalam konteks dan tujuan untuk menakut-nakuti. Seolah-olah, untuk berbakti kepada ibu, hanya dapat dilakukan dengan “menakut-nakuti” dan “memaksa” anak-anak untuk hormat kepada ibu.

Padahal, tanpa ditakut-takuti dan dipaksa pun, seorang anak yang dididik secara benar oleh seorang ibu, akan hormat dan patuh kepada seorang ibu. Idealnya, peribahasa itu digunakan untuk menunjukkan betapa terhormat dan kemuliaan seorang ibu. Kemuliaan seorang ibu antara lain adalah kemampuannya mengasuh anak-anak dengan meng”copy paste” sifat-sifat Allah SWT.

Ada 99 sifaf-sifat Allah SWT dan manusia dianjurkan untuk berusaha “copy paste” sifat-sifat tersebut. Mungkin hanya nabi dan utusan Tuhan yang mampu melakukan “copy paste” sifat-sifat Allah SWT. Selain itu, tidak ada manusia biasa yang mampu melakukan “copy paste” sifat-sifat Allah SWT dan menjadikan dasar dari akhlak dan karakternya, kecuali seorang ibu.

Hanya seorang ibu yang mampu mengasuh anak-anaknya dengan sifat kasih dan sayang. Kasih sayang itu diberikan secara tulus kepada anak-anaknya selama hayat dikandung badan, tanpa mengharapkan balasan apapun dari anak-anaknya.

Mengapa seorang ibu mampu dan bersedia mengasuh anak-anaknya dengan kasih sayang secara ikhlas dan totalitas? Semua itu hanya dapat dilakukan oleh manusia yang mampu mencontoh sifat-sifat Allah SWT. Artinya, sifat-sifat Allah yang mampu membuat ibu menjadi manusia yang memiliki akhlak dan karakter sangat mulia.

Bagaimana sesungguhnya menghayati dan mengamalkan “the more you give the more you get”?. Setelah nabi dan utusan Tuhan, tak ada manusia yang lebih baik dalam hal ikhlas dan mengesampingkan kepentingan pribadi. Tetapi ibu adalah orang yang sangat sadar bahwa, pada saat manusia tidak mengharapkan semuanya, justru manusia akan mendapatkan semuanya. Seorang anak yang berbakti kepada ibu akan memberikan semua yang terbaik yang ada pada dirinya kepada ibunya, meskipun ibu tidak pernah mengharapkan apalagi memintanya.

Tahukah anda, bahwa perusahaan-perusahaan yang mencoba meng”copy paste” sifat-sifat kasih sayang ibu, mampu bertahan dan tumbuh sangat mencengangkan? Dalam bisnis, sikap dan perilaku ikhlas tanpa pamrih justru memberikan pendapatan yang luar biasa dibandingkan dengan bisnis yang dijalankan secara kikir dan serakah.

Beberapa sosial media memberikan kemudahan dan kemanfaatan kepada manusia tanpa memungut biaya sepersen pun. Tak terhitung jumlah manusia yang sangat terbantu dan mendapatkan manfaat dari kehadiran Google, search engine yang memungkinkan manusia untuk mendapatkan informasi apa saja secara cepat dan mudah. Demikian juga Facebook yang mampu mempertemukan dan mempersatukan kembali keturunan Adam dan Hawa dari delapan penjuru mata angin. Masih banyak lagi media sosial yang sangat bermanfaat bagi banyak orang dan dapat dimanfaatkan secara gratis, antara lain wordpress, linkedin, dan wix.

Berapa nilai market capitalization / revenue Google dan Facebook. Market capitalization Google mencapai US$ 166,48 milyar dan revenue US$23,65 milyar, sedangkan market capitalization Facebook mencapai US$ 25 milyar dan revenue US$ 0,7 milyar. Tanpa mengharapkan apapun dari para pengguna Google dan Facebook, ternyata kedua media sosial itu tetap meraup pendapatan yang berlipat-lipat ganda dibandingkan dengan perusahaan besar apapun di Indonesia.

***

Tak peduli warna kulit dan budaya, ibu selalu menempati “maqam” yang sangat khusus di hati anak-anak ibu. Tak peduli apakah anak-anak ibu masih anak-anak atau sudah dewasa, semua berlomba-lomba untuk memuji dan memuja keluruhan budi seorang ibu.

Semua orang dari semua kelompok umur di Indonesia mengetahui dan menyukai lagu “Kasih Ibu”. Demikian juga Hendrik Nikolaas Theodoor Simons (saat itu penyanyi cilik dari negara kincir angin yang lebih dikenal dengan nama Heintje) yang menjadi terkenal di seluruh penjuru dunia setelah menyanyikan lagu “Mama”. Paul McCartney pun merasa perlu berbagi cerita tentang kehangatan kasih ibu dalam lagunya yang berjudul Let It Be. Tak ketinggalan Melly Goeslaw yang “memborong” menulis lagu sekaligus menyanyikan sendiri lagu Bunda.

Saya seringkali berandai-andai dan membayangkan, dengan akhlak dan karakter ibu yang mampu meng”copy paste” sifat-sifat Tuhan saat mengasuh anak-anaknya, dunia ini akan “kebanjiran” dengan manusia yang memiliki emotional intelligence. Tiga tahun di awal-awal kelahiran anak, kebersamaan ibu dan anak yang sangat intensif seyogyanya sudah lebih cukup untuk menghadirkan anak-anak manusia yang memiliki kecerdasan emosional yang dapat menjadikan dunia lebih baik.

Sejatinya, jika saja setiap manusia mampu mewarisi sifat-sifat kasih sayang seorang ibu, keteledanan untuk mengampuni seperti yang pernah ditunjukkan mendiang Nelson Mandela bukan sikap dan perilaku yang sulit untuk dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari. Demikian juga, jika setiap manusia mampu meneladani seorang ibu yang mengedepankan hati, tentu bukan hal yang sulit bagi manusia untuk mempraktekkan compassion (welah asih) kepada sesama manusia.

Selamat Hari Ibu!

Kemang, 20 Desember 2013

 
Leave a comment

Posted by on December 22, 2013 in Gemeinschaft | Gesellschaft

 

Selamat Jalan Sepatuku

Beberapa pengumuman yang ditempel di dinding dan tiang-tiang (bahkan di toilet) masjid jami’ di kawasan Jakarta Selatan sudah cukup membuat bulu kuduk saya berdiri dan hormon adrenalin saya bereaksi cepat : “Perhatian..!!! Jangan letakkan tas di belakang pada saat sedang shalat”. 

Saya langsung pasang kuda-kuda dan siaga 1 untuk menghindari berbagai kemungkinan terburuk. Tetapi bukankah saya sedang berada di masjid, rumah Tuhan? Bukankah di rumah Tuhan seharusnya situasi “kondusif, aman, dan terkendali”? Bukankah seharusnya di rumah Tuhan umat dapat fokus melakukan ibadah dan tidak perlu kekhawatiran kehilangan alas kaki? Itu idealnya, tetapi dalam kehidupan nyata dan sehari-hari, das Sollen (yang seharusnya) tidak selalu sama dengan das Sein (apa adanya). Singkat kata, ini Indonesia Bro!

Pengumuman itu tidak berbeda dengan pengumuman di musholla yang berada di mal-mal. Tetapi mal dan pusat perbelanjaan bukan rumah Tuhan sehingga “wajar” kalau situasi tidak aman dan tidak terkendali. “Survei membuktikan” bahwa, selama berpuluh-puluh tahun rumah Tuhan tidak pernah sepi dari maling. Selama bertahun-tahun, umat diminta untuk selalu was-was dan H2C (harap-harap cemas), beribadah sembari “fokus” memikirkan alas kaki.

Itulah yang terjadi pada diri saya dan juga orang lain yang shalat di masjid. November 2013 yang lalu saya kehilangan sepatu di sebuah masjid di kawasan gedongan di Jakarta Pusat. Justru karena berprasangka baik menjadi sasaran empuk bagi para maling. Seminggu sebelum saya kehilangan sepatu, di masjid yang sama juga ada seorang “espass” (baca : eksekutif pas-pasan) yang kehilangan sepatu. TKP (tempat kejadian perkara) kebetulan sama, yaitu di tempat penitipan sepatu yang tidak dijaga oleh petugas khusus.

Bild

 Foto diunduh dari http://www.aliexpress.com

Sejatinya, sandal dan sepatu hilang di masjid bukan kejadian langka dan bukan peristiwa baru. 3 tahun yang lalu saya juga kehilangan sepatu pada saat shalat Jum’at di kawasan perkantoran di bilangan jalan Sudirman. 30 sampai dengan 40  tahun yang lalu saya juga sudah terbiasa kehilangan, meskipun “cuma” sandal. Bahkan di era orang tua dan kakek-nekek saya, kehilangan barang bawaan di masjid sudah dianggap “biasa”. Jadi, selama berpuluh-puluh tahun, rumah Tuhan tidak pernah steril dari maling.

Urusan sandal dan atau sepatu yang hilang di masjid dan musholla tidak pernah dianggap sebagai urusan penting dan mendesak. Karena tidak penting, maka tidak ada solusi untuk mencegah agar kehilangan sandal dan atau sepatu tidak lagi terjadi. Semua dibiarkan berlalu begitu saja. Mungkin karena keterbatasan prasarana dan sarana serta personil keamanan, para pengelola masjid dan musholla cenderung mengangkat “bendera putih” sebagai isyarat “kalah perang” melawan maling.

Bagi saya pribadi, masalah terbesar bukan pada sandal dan sepatu yang hilang. Kalau hanya sandal dan sepatu yang hilang, saya masih bisa beli lagi. Masalah yang perlu mendapat perhatian adalah uang hasil penjualan barang-barang curian itu digunakan untuk menghidupi anak-anak dan istri. Ini berarti, generasi yang akan datang dibesarkan dengan uang haram. Tentu saja hal itu dapat berakibat buruk pada akhlak dan karakter generasi yang dibesarkan dengan uang haram.

Lebih menyedihkan lagi adalah kasus-kasus pencurian banyak terjadi di Indonesia yang notabene adalah negara yang mayoritas berpenduduk Islam. Memang, belum tentu para pencuri itu orang Islam, tetapi karena di Indonesia ateisme dilarang dan kurang lebih 80 % penduduk Indonesia beragama Islam, kemungkinan para maling itu juga berasal dari kalangan penduduk mayoritas.

Tentu saja Islam tidak mengajarkan umatnya untuk mencuri. Tetapi jika para maling tersebut beragama Islam, hal itu merupakan bukti bahwa pendidikan agama belum berhasil membuat kalangan fakir miskin untuk hidup secara bermartabat dan mengadalkan rezeki yang halal.

***

Saat berada di Jerman, beberapa kali saya melihat kebun bunga yang menjual aneka macam bunga. Hal yang unik adalah di kebun bunga tersebut tidak ada penjaga atau penjual yang secara khusus melayani calon pembeli. Semua dilakukan secara swalayan. Untuk memudahkan calon pembeli, di kebun bunga tersebut disediakan daftar harga dan nama-nama bunga serta kotak uang. Pembeli yang bermaksud membeli dapat melihat daftar harga, mengambil bunga yang dikehendakinya, dan kemudian membayar sesuai harga pembelian dengan cara memasukkan uang di kotak yang telah disediakan.

Di Indonesia, penjualan minuman mineral dan berbagai soft drink masih mengandalkan sistem penjualan “man to man marking”. Artinya, kios harus dijaga oleh orang yang secara khusus melayani pembeli. Padahal, teknologi penjualan minuman secara otomatis sudah lama ditemukan dan beberapa negara sudah menerapkannya. Di kota Barcelona yang relatif kurang aman pun penjualan minuman secara swalayan sudah bertahun-tahun dilaksanakan. Di Indonesia, entah kapan dan mungkin hanya bisa bermimpi ada penjualan minuman secara swalayan.

Meskipun Indonesia berideologi Pancasila dan manusia Indonesia seringkali digadang-gadang sebagai manusia religius, saya tidak yakin bahwa sistem jual beli barang tanpa ada penjual dapat terlaksana di Indonesia. Secara teknis tentu saja dapat dilakukan, tetapi masalah utama bukan pada aspek teknis, melainkan kejujuran manusia Indonesia.

Justru masyarakat yang seringkali dipuji-puji sebagai masyarakat yang religius tidak dapat diandalkan dan tidak dapat dipercaya dalam hal kejujuran. Ironisnya dalam masyarakat yang seringkali kita “olok-olok” sebagai masyarakat yang sekuler, tidak percaya Tuhan, dan kafir, dapat diandalkan dan dipercaya dalam hal kejujuran.

Kejujuran orang-orang Jerman tidak hanya di kebun bunga, tetapi hampir di semua tempat publik. Di kereta api para penumpang “sak enak wudele” meletakkan barang-barang berharga di dalam tas atau koper mereka. Sedikitpun tidak ada perasaan was-was dan H2C (harap-harap cemas). Bahkan, saat berada di Kereta ICE (semacam kereta eksekutif super cepat) dari Berlin menuju Frankfurt, penumpang di sebelah saya meninggalkan laptopnya di tempat duduk. Penumpang itu benar-benar ainul yaq’in bahwa Jerman adalah negara yang aman dan nyaman. Penumpang itu percaya bahwa saya tidak akan mencuri laptopnya.

Di Indonesia, jangan harap coba-coba meninggalkan laptop atau bahkan sekedar smartphone di tempat duduk anda pada saat anda sedang menggunakan kereta api atau moda transportasi lainnya. Di berbagai media cetak seringkali kita menemukan surat pembaca yang menceritakan tentang kehilangan barang-barang berharga saat tertidur pulas di kereta api eksekutif. Suatu bukti bahwa di bumi pertiwi ini situasi keamanan yang kondusif, aman dan terkendali masih sekedar isapan jempol.

***

Kita tidak pernah tahu alasan yang sesungguhnya mengapa pencurian sandal dan sepatu di masjid-masjid dan musholla-musholla “dibiarkan”. Alasan yang rada-rada masuk akal adalah karena nilai barang yang dicuri tidak seberapa. Pencurian lain yang lebih besar nilainya mungkin lebih penting untuk mendapatkan perhatian dan penangangan khusus.

Berapapun kecil nilai dari barang-barang yang dicuri di masjid dan atau musholla, “membiarkan” para pencuri meraja lela bukan merupakan sikap yang bijak. Kejahatan atau kesalahan sebesar biji zarah juga akan dipertanggungjawabkan.

Memang benar semua orang butuh modal. Tetapi jangan lupa, untuk mencari modal diperlukan moral. Demikian juga untuk menegakkan moral dibutuhkan modal.

 

Tampak Siring, 15 Desember 2013

 
Leave a comment

Posted by on December 17, 2013 in Selasar

 

The Great Pretender

Setelah mengikuti pelatihan meta-coaching pada bulan November yang lalu, saya merasa ada yang perlu saya lakukan untuk mendefinisikan ulang tentang “orang gila”. Tak hanya berhenti pada pendefinisian, saya bahkan juga harus siap menerima kenyataan jika kemudian saya termasuk dalam kategori “orang gila”.

Banyak hal yang saya pelajari tentang meta coaching, sebuah pendekatan neuro-semantics untuk memahami pikiran dan tubuh manusia yang digagas oleh L. Michael Hall dan Michele Duval. Tetapi tema yang mampu mengaduk-aduk dan memporakporandakan pemahaman saya tentang “body, mind, dan soul” adalah 4 istilah, yaitu Thinking, Feeling, Speaking, dan Behaving. Dalam bahasa Indonesia, Coach Mohammad Utoro, ACMC mengemasnya dalam singkatan PRUL (Pikiran, Rasa, Ucap, dan Laku).

Sejatinya, tidak ada hal yang baru dari TFSB/PRUL tersebut. Saat saya mengikuti pelatihan “Kubik Leadership” gagasan tentang TFSB/PRUL juga dibahas. Demikian pula dalam pelatihan Quantum Ikhlas, TFSB/PRUL adalah tema yang sangat penting. Dalam yoga yang berarti penyatuan antara diri (atman) dengan Brahman (Yang Maha Kuasa), pemahaman tentang TFSB/PRUL menjadi perhatian utama.

Jika tidak ada hal-hal yang baru, lalu apa yang “istimewa” dari TFSB/PRUL?. Selama ini, saya “kesulitan” untuk mendefinisikan tentang kesadaran. Berbagai definisi tentang kesadaran yang saya baca dari berbagai sumber dan pakar, bagi saya terlalu ribet dan rempong. Tetapi dengan menggunakan TSFB/PRUL, maka makna tentang kesadaran menjadi lebih mudah saya pahami.

Menurut pendapat subyektif saya, kesadaran adalah keadaan pada saat pikiran dan perasaan mengetahui, memahami, meyakini, menyetujui, dan bersedia bertanggung jawab atas ucapan dan perilaku.

Pada saat manusia mencapai keadaan sadar, ada koneksi, kebersamaan, dan keselarasan antara body (tubuh), mind (pikiran), dan soul (jiwa, atau saya lebih suka menyebut qalbu). Dalam keadaan sadar, pikiran dan jiwa berada dalam keadaan “berdaulat dan berkuasa” penuh terhadap tubuh.

BildImage courtesy of Lynne Meredith Golodner

Idealnya, manusia selalu dalam keadaan sadar setiap saat dan selama hayat dikandung badan, terutama setelah aqil-balik atau dewasa menurut pengertian umum. Setiap manusia harus selalu sadar karena kelak setiap manusia harus mempertanggungjawabkan perbuatannya. Dengan selalu sadar, maka ruang dan kesempatan untuk kesalahan dan melanggar perintah Tuhan dibatasi dan dikendalikan. Dengan selalu sadar, manusia kelak akan jauh menjadi lebih mudah untuk mempertanggungjawabkan setiap perbuatannya.

***

Apa hubungan antara kesadaran dan gila? Bagi saya pribadi, kesadaran tidak sekedar berarti siuman dan tidak sadar bukan sekedar berarti pingsan. Siuman dan pingsan hanya menggambarkan keadaan tubuh, tetapi tidak menggambarkan keadaan pikiran dan qalbu.

Bagi saya, manusia yang tidak sadar adalah orang gila. Selama ini, kita terbiasa mendefinisikan orang gila sebagai orang yang hilang ingatan, baik mereka yang dirawat di rumah sakit khusus orang-orang gila maupun orang-orang gila yang berkeliaran di jalan raya. Seolah-olah, saat ingatan sudah diketemukan kembali, orang-orang yang semula gila sudah dapat disebut sebagai orang “normal”.

Pemahaman orang gila seperti itu terlalu sempit. Bagi saya, manusia yang pikiran dan perasaannya tidak mengetahui, tidak memahami, tidak meyakini, dan tidak menyetujui apa yang diucapkan dan dilakukan, sudah dapat disebut orang gila. Jadi, meskipun tidak hilang ingatan, seseorang tetap saja menjadi orang gila selama ia tidak berada dalam kesadaran.

Jangan kaget jika orang-orang yang selama ini kita anggap sebagai orang-orang yang sehat jasmani dan rohani, setelah menggunakan definisi kesadaran yang saya gunakan, ternyata tidak lebih sebagai orang gila. Juga jangan kaget, jika orang-orang yang selama ini rajin dan tekun mengerjakan sholat 5 waktu dan semua sholat yang disunahkan untuk dikerjakan, setelah menggunakan definisi kesadaran yang saya gunakan, ternyata adalah orang gila yang paling “top markotop”.

Untuk memudahkan memahami bahwa manusia yang tidak sadar adalah manusia gila, saya meminjam contoh pelaksanaan ibadah sholat. Dalam buku Tuntunan Sholat lengkap, Ustadz Abdurrahim menjelaskan sebagai berikut : “shalat dalam bahasa Arab adalah do’a. Menurut istilah syara’, shalat ialah ibadah kepada Allah dalam bentuk beberapa perkataan dan perbuatan yang dimulai dengan takbir dan diakhiri dengan salam yang dilakukan menurut syarat-syarat yang telah ditentukan syara’.”

Tentu saja perkataan dan perbuatan yang dilakukan dalam shalat bukan abal-abal. Harus ada kesadaran saat manusia mengucapkan ikrar “Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidup dan matiku semua hanya untuk Allah, Tuhan seru sekalian alam.” Pikiran dan perasaan manusia harus secara pasti mengetahui, memahami, meyakini, dan menyetujui saat mengucapkan “tunjukilah kami jalan yang lurus”.

Artinya, setelah shalat, manusia tetap harus dalam keadaan sadar. Pikiran dan perasaan manusia harus memastikan bahwa ucapan dan perilaku yang ditunjukkan harus sesuai dengan ikrar dan permohonan yang telah disampaikan di dalam shalat. Bagaimana jika setelah shalat manusia tidak dalam kesadaran?

Sebutan apa yang pantas diberikan kepada manusia yang pikiran dan perasaannya tidak mengetahui, memahami, meyakini, dan menyetujui saat ia mengucapkan do’a iftitah? Prediket apa yang pantas disandang oleh manusia yang memohon diberikan petunjuk jalan yang lurus, tetapi pikiran dan perasaannya tidak mengetahui, memahami, meyakini, dan menyetujui perbuatan yang dilakukan? Menurut hemat saya, tidak ada sebutan yang lebih pantas kecuali sangat gila dan sangat kurang ajar.

Orang-orang yang tidak sadar saat sekedar mengerjakan shalat, sejatinya tidak sedang mendirikan shalat. Karena pikiran dan perasaannya belum tentu mengetahui, memahami, meyakini, dan menyetujui perkataan dan perbuatan yang dilakukan selama shalat.

Itulah sebabnya seseorang yang sudah beristri dan mengerjakan shalat, bahkan mengerjakan rukun Islam secara lengkap, masih juga “jajan” dan “dokter-dokteran” bersama perempuan lain tidak dalam ikatan perkawinan. Warna Warna hitam yang membekas di kening seseorang sama sekali bukan pertanda bahwa orang-orang yang mengerjakan shalat adalah manusia yang sadar.

Itulah sebabnya seorang pejabat yang sudah mengucapkan sumpah jabatan dan menandatangani pakta integritas masih juga melakukan tindak pidana korupsi. Sumpah jabatan dan pakta integritas tidak ada apa-apanya dan tidak sekuat ikrar yang diucapkan pada saat mengerjakan shalat. Kalau kepada Tuhan saja manusia berani kurang ajar, apalagi kepada rakyat, bangsa dan negara.

Kalau kepada Tuhan saja manusia sudah terbiasa dan merasa biasa-biasa saja berbohong, apalagi kepada orang lain. Kalau kepada Tuhan saja manusia sudah terbiasa dan merasa biasa-biasa saja berpura-pura, apalagi kepada orang lain. Sejatinya, setiap manusia yang tidak sadar, adalah the great pretender.

***

Menurut pendapat subyektif saya, semua pendidikan mulai dari pendidikan dalam keluarga, sekolah, maupun pendidikan agama, berusaha untuk menfasilitasi agar manusia menemukan, mencapai, dan selalu mempertahankan kesadaran dalam menjalankan hidup.

Pendidikan bukan untuk membuat manusia menjadi takut dan hitung-hitungan. Saya tidak mengerti mengapa manusia selalu ditakuti-takuti dengan neraka. “Survei membuktikan” bahwa dengan selalu ditakut-takuti, manusia tidak juga menemukan kesadaran. Alih-alih takut, manusia justru tidak jera mempermainkan Tuhan.

Demikian juga “iming-iming” pahala dan surga, hanya menjerumuskan orang menjadi pandai dalam hal hitung-hitungan balasan yang akan diterima dari Tuhan. Iming-iming pahala dan surga tidak berhasil memfasilitasi manusia mencapai kesadaran untuk beribadah. Ibadah dikerjakan lebih atas dasar motivasi transaksional.

Kontribusi pendidikan (keluarga, sekolah, dan agama) dalam hal mencerdaskan otak manusia tak perlu diragukan. Tetapi kontribusi pendidikan (keluarga, sekolah, dan agama) dalam hal membentuk manusia yang sadar setiap saat dan sepanjang hayat di kandung badan, masih menyisakan tanda tanya besar.

Mengapa manusia tidak mau dan tidak mampu sadar setiap saat selama hayat di kandung badan? Sepengetahuan saya, hal itu disebabkan kegagalan, keengganan, kemalasan, ketidakmauan, dan ketidakmampuan manusia “menghadirkan” Tuhan dalam kehidupannya setiap hari dan setiap saat. Bahkan, pada saat melaksanakan kewajiban ibadah formal, manusia masih juga gagal “menghadirkan” Tuhan.

Tampak Siring, 14 Desember 2013

 
Leave a comment

Posted by on December 14, 2013 in Body | Mind | Soul

 

Lessons Learned

Konon,  Thomas Alfa Edison pernah “ditertawakan” telah gagal 5000 kali sebelum akhirnya berhasil menemukan lampu pijar. Dalam kesempatan wawancara dengan seorang reporter muda yang bertanya kepadanya, Edison berusaha “membela diri”.

“A young reporter interviewed Edison and asked him, “Mr. Edison, how can you continue to try to invent the light bulb when you have failed over 5,000 times.”  To which Thomas Edison replied,  “Young man, I have not failed 5,000 times.  I have successfully discovered 5,000 ways that do not work and I do not need to try them again.”(www. http: //www.dellamenechella.com)

Sejatinya, Edison tidak “bersilah lidah”. Ia juga tidak membela diri membabi buta. Edison memberikan makna yang berbeda tentang suatu proses penemuan. Sementara orang lain  mengatakan Edison telah gagal 5000 kali sebelum ia menemukan lampu pijar. Edison sendiri merasa telah menemukan 5000 cara yang salah dan 1 cara yang benar untuk membuat lampu pijar.

Kegagalan – sebagaimana keberhasilan – dapat dipandang dari berbagai sudut pandang yang berbeda. Ada orang yang berpendapat bahwa kegagalan adalah kegagalan. Ada juga orang yang berpendapat bahwa kegagalan adalah sukses yang tertunda. Edison berpendapat bahwa, “kegagalan” adalah keberhasilan.

Dalam pendapat Edison, tidak ada istilah gagal. Dalam kasus Edison, ia mungkin “gagal”  5000 kali sebelum akhirnya menemukan lampu pijar. Tetapi pada saat yang sama, Edison berhasil menemukan 5000 cara atau metode yang tidak bisa dilakukan untuk menemukan lampu pijar. “This is a great way to interpret failure — as a learning experience”, demikian kata Della Menechella.

Lessons Learned

Dalam konteks knowledge management, proses yang telah dilakukan Edison adalah pengalaman belajar yang sangat berguna, tidak hanya bagi Edison, melainkan juga orang lain. Ada 5000 lessons learned dalam proses penemuan lampu pijar yang dilakukan oleh Edison.

Secara umum, “the purpose of lessons learned is to bring together any insights gained during a project that can be usefully applied on future projects.” Mengapa lessons learned penting?

Lessons learned sangat bermanfaat untuk proses perbaikan secara berkelanjutan. “Everything learned from previous projects, whether they were successes or failures can teach a project manager important lessons. And individual project managers usually do learn from their own previous experiences, but are these “lessons learned” shared with others within the project team or within the same organisation? If they are shared, do other project managers apply the lessons to their own projects?” (www.projectsmart.co.uk)

Banyak orang yang menganggap sepele lessons learned dari suatu proses, terutama jika proses itu gagal membuahkan hasil. Padahal, ketika seseorang tidak memanfaatkan lessons learned dari suatu proses atau peristiwa, orang akan terjebak untuk melakukan kesalahan yang sama yang pernah dilakukannya sendiri, atau kesalahan yang pernah dilakukan oleh orang lain.

In my humble opinion, bahasa kitab suci (dalam hal ini Al-Qur’an) adalah bahasa deskripsi. Ayat-ayat dalam satu surat seringkali berisi deskripsi tentang suatu peristiwa. Bagian penutup ayat seringkali dilengkapi dengan kalimat “pamungkas”, contoh : “…….. Demikianlah, dalam kejadian itu banyak tanda-tanda kekuasaan Allah bagi orang yang berpikir.”

Metode lessons learned memang berbeda dengan storytelling, best practices, dan success story yang cenderung berisi tentang keberhasilan yang pernah dicapai oleh individu, tim, maupun organisasi.

Secara umum,  lessons learned mirip dengan metode After Action Review (AAR) yang lazim dilakukan di organisasi militer. AAR adalah proses untuk mengevaluasi proses dan hasil dari suatu strategi dan rencana. Semua yang benar atau salah, baik atau buruk, dievaluasi. Bukan untuk mencari siapa yang salah, melainkan untuk mengetahui apa yang salah, mengapa salah, dan apa tindakan perbaikan yang harus dilakukan di kemudian hari.

Manusia Lebih Bodoh Dari Keledai?

Setiap manusia harus mampu belajar dari keberhasilan. Adalah baik, jika manusia mampu belajar dari kesalahan yang dilakukannya atau kegagalan yang dialaminya sendiri.  Tetapi akan lebih baik, jika manusia tidak selalu harus belajar dari kegagalan dan kesalahannya sendiri. Banyak pelajaran dari kesalahan dan kegagalan yang pernah dilakukan oleh orang lain.

Manusia harus “mengakrabi” kesalahan dan kegagalan. Mengapa?. Della Menechella mengatakan bahwa, “The bottom line is that we should embrace “failure.”  Because if we are failing, we are learning; and if we are learning, we are growing.  And growing is really what life is all about.”

Masalahnya, manusia seringkali tidak mau dan tidak mau mengambil pelajaran dari kegagalan dan kesalahan yang pernah dilakukannya. Manusia juga tidak mau dan tidak mampu mengambil pelajaran dari kegagalan dan kesalahan yang pernah dilakukan oleh orang lain.

Sesungguhnya, kalaupun manusia tidak mau dan tidak mampu belajar dari kegagalan dan kesalahan yang pernah dilakukan oleh orang lain, akan lebih baik jika manusia mampu dan mau belajar dari kesalahan dan kegagalan yang pernah dilakukannya. Meskipun, proses belajar dari kegagalan dan kesalahan sendiri kurang memadai.

Konon, tidak ada hewan yang lebih bodoh daripada keledai. Tetapi keledai pun tidak mau bertindak bodoh. Paling tidak, keledai tidak mau kesandung di tempat yang sama dua kali. Manusia memang bukan keledai, karena itu manusia bisa kesandung dua, tiga, atau berkali-kali di tempat yang sama dan untuk urusan yang sama.

Image courtesy of http://www.kangdadang.com

Pada saat manusia tidak mau belajar dari kegagalan dan kesalahan (yang dilakukan sendiri maupun orang lain), mungkin manusia tidak lebih terhormat daripada keledai. Soal manusia lebih bodoh daripada keledai atau tidak memang tidak perlu diperdebatkan. Faktanya, manusia memang seringkali tidak mau mengambil pelajaran dari kejadian yang pernah  ada maupun sikap dan perilaku generasi terdahulu.

Menurut pendapat subyektif saya, idealnya generasi sekarang jauh lebih baik daripada generasi terdahulu. Sebab, generasi sekarang dapat belajar dari kesalahan, kegagalan, dan keberhasilan generasi terdahulu. Generasi sekarang dapat menghindari sikap dan perilaku yang membuat generasi terhadulu salah dan gagal.

Ironisnya, manusia memang tidak mau dan tidak mampu belajar dari generasi terdahulu. Manusia seharusnya bisa belajar dari sikap dan perilaku generasi terdahulu – misalnya Qabil dan Fir’aun – sehingga tidak mengalami nasib yang lebih mengenaskan. Jika mau belajar dari Fira’un, Husni Mubarak dan Moamar Khadafi mungkin tidak mengalami peristiwa yang mengenaskan.

Selain tidak mampu dan tidak mau belajar dari proses dan peristiwa di masa lalu, manusia juga mudah lupa terhadap satu peristiwa penting. Peristiwa tenggelamnya kapal Titanic masih segar dalam ingatan sebagian besar orang. Melalui film Titanic, orang diingatkan kembali untuk tidak mengulangi kesalahan yang pernah diperbuat di masa lalu.

Tetapi tidak demikian yang dilakukan oleh Francesco Schettino,  kapten kapal kapal pesiar Costa Concordia. Penyebab kapal Costa Concordia mirip dengan kejadian yang dialami kapal Titanic. Sebagaimana diberitakan oleh Kompas : “Pemimpin perusahaan pemilik kapal itu mengatakan, kapal pesiar itu menabrak karang sebagai akibat dari sebuah kesalahan ”tak terjelaskan” dari kapten kapal Francesco Schettino. Surat kabar Corriere della Sera edisi Senin (16/1) melaporkan, kapten Francesco Schettino lewat dekat pantai pulau itu yang berkarang untuk menyenangkan kepala pelayan yang berasal dari Giglio.”

Satu hal penting, selain memanfaatkan lessons learned dari berbagai proses dan peristiwa, manusia tidak boleh menyerah. Sebab, kata Thomas Alfa Edison, “many of life’s failures are people who did not realize how close they were to success when they gave up”.

Tampak Siring, 5 Februari 2012

 

Fear Motivation

Sejujurnya, saya  sama sekali tidak tertarik mendengarkan atau mengikuti ceramah tentang agama yang isinya hanya halal dan haram, pahala dan dosa, dan surga dan neraka.  Mengapa harus menggunakan metode fear motivation? Apakah tidak ada metode lain yang lebih membuat suasana lebih fun dan hati menjadi tenang?

Secara umum, dari sejak SD sampai saat ini, metode pengajaran agama yang mengandalkan fear motivation masih dipertahankan. Padahal, “Fear motivation coercions a person to act against will. It is instantaneous and gets the job done quickly. It is helpful in the short run.” (www.laynetworks.com).  Pertanyaannya :

  • Apakah pernah diadakan penelitian, bahwa metode fear motivation menghasilkan kehidupan beragama yang lebih baik?
  • Apakah terbukti bahwa metode tersebut berhasil mengantarkan manusia menjadi saleh dan saleha?
  • Apakah  sudah terbukti bahwa metode fear motivation berhasil menjadikan manusia naik tingkat ke jenjang yang lebih tinggi : dari muslimin, mukminin, mustaqim, mukhlisin, sampai muttaqien?

Jika memperhatikan sikap dan perilaku di jalan raya, sulit untuk mengatakan bahwa metode fear motivation berhasil menjadikan manusia lebih baik. Metode fear motivation juga tidak mampu mengendalikan laju pertumbuhan tindak pidana korupsi.

Metode membuat orang menjadi “jinak” dengan cara menakut-nakutin juga tidak mempan terhadap “ABG” (Academician, Businessman, dan Government). Bahkan Good Corporate Governance, Good Governance, dan berbagai Pakta Integritas tidak membuat “ABG” menjadi lebih baik. Entah berapa Kepala Daerah aktif yang terjerat kasus korupsi dan terbukti bersalah. Entah berapa menteri (dan mantan menteri) yang sudah dinyatakan bersalah di sidang Tipikor.

Bahwa metode fear motivation tidak menjadikan kehidupan beragama manusia menjadi lebih baik, bukan berarti metode tersebut salah. Juga tidak salah untuk melulu berceramah tentang halal haram, pahala dosa, dan surga neraka.

Picture courtesy of http://www.babiestoday.info

Analoginya adalah seorang ibu yang memberi makan dan minum susu kepada bayi. Jika si bayi menolak, sulit untuk makan atau minum susu, si ibu bisa saja menjelaskan kepada si bayi berbagai teori gizi dan kesehatan. Misalnya, si ibu mengatakan kepada si bayi bahwa “menurut penelitian ilmiah di negara-negara maju, makanan X,Y,Z mengandung vitamin-vitamin yang dibutuhkan untuk pertumbuhan. Atau, menurut Prof. DR. Bla Bla Bla, susu “ABC” mengandung berbagai vitamin untuk pertumbuhan dan daya tahan tubuh.”

Tidak ada yang salah dari isi penjelasan si ibu. Tetapi penjelasan seperti itu sama sekali tidak diperlukan. Apalagi, kemudian si ibu memaksa dan mengintimidasi si bayi. Bayi akan makan dan minum susu karena memang ia membutuhkannya dan fun, bukan karena ia berpikir bahwa jika ia makan dan minum susu maka ia akan menjadi sehat dan cepat tumbuh menjadi besar.

Tampak Siring,  1 Februari 2012

 
Leave a comment

Posted by on December 5, 2013 in Body | Mind | Soul

 

Where Do I Begin?

Lao Tzu mengatakan bahwa “a journey of a thousand miles begins with a single step”. Pertanyaannya : dari mana memulainya? Langkah pertama selalu penting, tetapi langkah pertama tidak akan pernah terjadi tanpa tujuan yang pasti. Tujuan lah yang menentukan langkah pertama, dan bukan langkah pertama yang akan menentukan proses dan hasil akhir.

Tujuan harus ditetapkan terlebih dahulu sebelum melakukan aktivitas dan proses apapun. Itulah sebabnya, mengapa “begin with end in the mind” sangat penting bagi setiap orang. Dalam bukunya yang berjudul 7 Habits of Highly Effective People, Stephen R. Covey (2001 : 98) menjelaskan sebagai berikut :

To begin with the end in mind means to start with a clear understanding of your destination. It means to know where you’re going so that you better understand where you are now and so that the steps you take are always in the right direction.”

Mengetahui tujuan akhir adalah penting. Tanpa memahami tujuan yang akan dicapai, manusia tidak tahu ke mana akan melangkah. Manusia juga perlu membedakan antara tujuan dan konsekuensi.

Surga dan neraka bukan tujuan, melainkan konsekuensi. Surga dan neraka adalah reward dan punishment dari semua perbuatan yang telah di lakukan manusia di muka bumi. Pahala dan dosa juga bukan tujuan, melainkan konsekuensi dari perbuatan manusia, benar atau salah.

Tujuan manusia adalah kembali kepada Allah SWT. Tujuan manusia adalah mempertanggungjawabkan amanah yang telah dilaksanakan. Analoginya, manusia harus menghadapi semacam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa sekali dalam hidupnya. Dalam “RUPS” tersebut, manusia memberikan laporan pertanggungjawaban kepada “Pemegang Saham” (baca : Allah SWT) tentang amanah yang telah dijalankannya.

Amanah apa yang harus dipertanggungjawabkan manusia kepada Penciptanya? Ada 4 hal yang harus dipertanggungjawabkan manusia. Dalam sebuah hadits riwayat Abu Dawud, Rasulullah saw. Bersabda :

“Seseorang pada Hari Akhir nanti pasti akan ditanya tentang empat hal : usianya untuk apa dihabiskan, jasmaninya untuk apa dipergunakan, hartanya dari mana didapatkan dan untuk apa dipergunakan, serta ilmunya untuk apa dia pergunakan.”

Manusia lebih terlatih untuk membuat rencana stratejik perusahaan daripada rencana stratejik kehidupan pribadi. Padahal, memiliki rencana stratejik pribadi sama pentingnya – atau bahkan lebih penting – dibandingkan rencana stratejik kehidupan perusahaan.

Image of KRI Dewaruci courtesy of http://www.siradel.blogspot.com

Misi dan Visi

Begin with end in the mind berarti menetapkan misi dan visi kehidupan. Misi dan Visi lebih sering ditemukan di tingkat negara, perusahaan, organisasi dan pimpinan (kepala negara, kepala daerah, pimpinan perusahaan, pimpinan organisasi dan lain sebagainya). Pada dasarnya, masing-masing orang juga boleh-boleh saja – bahkan harus – memiliki misi dan visi.

Sebagai pembanding, definisi misi dan visi untuk perusahaan adalah sebagai berikut :

  • Mission : defines the business , the needs of covering their products and services, the market in which it is developed and the public image of the company.

The mission of the company is the answer of the question : why does the organization exists?

  • Vision : defines and describes the future situation that a company wishes to have, the intention of the vision is to guide, to control and to encourage the organization as a whole to reach the desirable state of the organization.

The vision of the company is the response to the question of: What do we want our organization to be? (www.webandmacros.net)

Jika misi dan visi “ditarik” ke tingkat tingkat individu, maka pertanyaan yang dapat diajukan untuk misi adalah “untuk apa tujuan keberadaan manusia di muka bumi?” dan untuk visi adalah “manusia seperti apakah yang akan diwujudkan”.

Misi dan visi sangat penting bagi manusia. Sebab, misi dan visi mempertanyakan tentang tujuan dan manfaat keberadaan manusia di muka bumi dan target jatidiri manusia yang akan diwujudkan selama di muka bumi.

Tanpa misi dan visi, maka manusia tidak memiliki arah yang jelas untuk menjalankan berbagai aktivitas di muka bumi, dan dari mana ia harus memulai melangkah. Dengan memiliki misi dan visi yang jelas, maka manusia memiliki arah yang jelas akan ke mana ia akan menuju, dan aktivitas apa saja harus dan akan dilakukannya untuk merealisasikan misi dan visinya.

 

Bagaimana Menyusun Misi dan Visi Pribadi?

Menurut pendapat subyektif saya, misi dan visi setiap manusia di muka bumi adalah sama. Demikian juga nilai-nilai yang harus menjadi pedoman untuk menjalankan misi dan mencapai visi manusia. Semua sudah ditetapkan oleh Allah SWT.

Dalam Al-Qur’an telah disebutkan misi manusia sebagai berikut :

  • “Sesungguhnya Aku ingin menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” (Qs. Al-Baqarah [2]: 30)
  • “Dan Dia-lah yang menjadikanmu para khalifah di bumi.” (Qs. Al-An’am [6]: 165)
  • “Katakanlah, “Sesungguhnya shalat, ibadah, hidup, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.” (Qs. Al-An’am [6]: 162)
  •  “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.” (Qs. Al-Dzariyyat [56]: 56)

Sedangkan visi manusia adalah menjadi manusia bertakwa. Visi manusia  dapat dipahami dari firman Allah SWT dalam kitab suci Al-Qur’an sebagai berikut : “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kalian dan seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kalian saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kalian. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”(QS Al Hujuraat (49): 13).

Perbedaan manusia dalam hal jenis kelamin, suku, warna kulit, bahasa, kebudayaan dan lain sebagainya tidak menjadikan manusia memiliki misi dan visi yang berbeda-beda. Perbedaan manusia adalah dalam hal “how to” atau bagaimana merealisasikan misi dan visi yang telah ditetapkan oleh Allah SWT.

Setiap manusia boleh berbeda  dalam hal strategi dan rencana kerja untuk mejalankan misi dan mencapai visi. Setiap manusia diberikan kebebasan untuk membuat strategi dan rencana kerja masing-masing untuk merealisasikan misi dan visi. Demikian juga setiap orang bebas untuk menentukan timeframe (penjadualan) dan sumberdaya yang digunakan untuk mencapai misi dan visi. Dengan menggunakan hati dan akalnya, manusia juga diberikan kebebasan untuk menentukan pendekatan dan metode untuk merealisasikan misi dan visi.

Manusia “hanya” diberikan “kisi-kisi” bagaimana untuk merealisasikan misi dan visi yang menjadi amanahnya. Perhatikan sabda Rasulullah SAW dalam dua hadits berikut :

  • ”Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang sholeh”. (HR: Bukhari dalam shahih Bukhari kitab adab, Baihaqi dalam kitab syu’bil Iman dan Hakim).
  • ”Sebaik-baik manusia diantaramu adalah yang paling banyak manfaatnya bagi orang lain” (HR. Bukhari).

Media dan kesempatan untuk menjadi manusia berakhlak mulia dan menjadi manusia yang bermanfaat bagi orang lain tak terhitung jumlahnya. Mulai dari sekedar menyingkirkan paku di jalan raya, menyantuni anak-anak yatim piatu dan kaum dhuafa, mendirikan fasilitas pendidikan dan kesehatan untuk masyarakat, dan lain sebagainya.

Dalam beramal saleh, jumlah bukan hal yang penting. Keikhlasan menjadikan amal saleh seseorang lebih berkualitas. Sebagaimana dikatakan oleh Al-Ghazali : “Semua orang akan rusak, kecuali orang yang berilmu. Orang yang berilmu pun akan rusak, kecuali orang yang beramal. Orang yang beramal pun akan rusak, kecuali yang ikhlas.”

Tampak Siring, 28 Februari 2012

 
Leave a comment

Posted by on December 4, 2013 in Body | Mind | Soul