RSS

Where Do I Begin?

04 Dec

Lao Tzu mengatakan bahwa “a journey of a thousand miles begins with a single step”. Pertanyaannya : dari mana memulainya? Langkah pertama selalu penting, tetapi langkah pertama tidak akan pernah terjadi tanpa tujuan yang pasti. Tujuan lah yang menentukan langkah pertama, dan bukan langkah pertama yang akan menentukan proses dan hasil akhir.

Tujuan harus ditetapkan terlebih dahulu sebelum melakukan aktivitas dan proses apapun. Itulah sebabnya, mengapa “begin with end in the mind” sangat penting bagi setiap orang. Dalam bukunya yang berjudul 7 Habits of Highly Effective People, Stephen R. Covey (2001 : 98) menjelaskan sebagai berikut :

To begin with the end in mind means to start with a clear understanding of your destination. It means to know where you’re going so that you better understand where you are now and so that the steps you take are always in the right direction.”

Mengetahui tujuan akhir adalah penting. Tanpa memahami tujuan yang akan dicapai, manusia tidak tahu ke mana akan melangkah. Manusia juga perlu membedakan antara tujuan dan konsekuensi.

Surga dan neraka bukan tujuan, melainkan konsekuensi. Surga dan neraka adalah reward dan punishment dari semua perbuatan yang telah di lakukan manusia di muka bumi. Pahala dan dosa juga bukan tujuan, melainkan konsekuensi dari perbuatan manusia, benar atau salah.

Tujuan manusia adalah kembali kepada Allah SWT. Tujuan manusia adalah mempertanggungjawabkan amanah yang telah dilaksanakan. Analoginya, manusia harus menghadapi semacam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa sekali dalam hidupnya. Dalam “RUPS” tersebut, manusia memberikan laporan pertanggungjawaban kepada “Pemegang Saham” (baca : Allah SWT) tentang amanah yang telah dijalankannya.

Amanah apa yang harus dipertanggungjawabkan manusia kepada Penciptanya? Ada 4 hal yang harus dipertanggungjawabkan manusia. Dalam sebuah hadits riwayat Abu Dawud, Rasulullah saw. Bersabda :

“Seseorang pada Hari Akhir nanti pasti akan ditanya tentang empat hal : usianya untuk apa dihabiskan, jasmaninya untuk apa dipergunakan, hartanya dari mana didapatkan dan untuk apa dipergunakan, serta ilmunya untuk apa dia pergunakan.”

Manusia lebih terlatih untuk membuat rencana stratejik perusahaan daripada rencana stratejik kehidupan pribadi. Padahal, memiliki rencana stratejik pribadi sama pentingnya – atau bahkan lebih penting – dibandingkan rencana stratejik kehidupan perusahaan.

Image of KRI Dewaruci courtesy of http://www.siradel.blogspot.com

Misi dan Visi

Begin with end in the mind berarti menetapkan misi dan visi kehidupan. Misi dan Visi lebih sering ditemukan di tingkat negara, perusahaan, organisasi dan pimpinan (kepala negara, kepala daerah, pimpinan perusahaan, pimpinan organisasi dan lain sebagainya). Pada dasarnya, masing-masing orang juga boleh-boleh saja – bahkan harus – memiliki misi dan visi.

Sebagai pembanding, definisi misi dan visi untuk perusahaan adalah sebagai berikut :

  • Mission : defines the business , the needs of covering their products and services, the market in which it is developed and the public image of the company.

The mission of the company is the answer of the question : why does the organization exists?

  • Vision : defines and describes the future situation that a company wishes to have, the intention of the vision is to guide, to control and to encourage the organization as a whole to reach the desirable state of the organization.

The vision of the company is the response to the question of: What do we want our organization to be? (www.webandmacros.net)

Jika misi dan visi “ditarik” ke tingkat tingkat individu, maka pertanyaan yang dapat diajukan untuk misi adalah “untuk apa tujuan keberadaan manusia di muka bumi?” dan untuk visi adalah “manusia seperti apakah yang akan diwujudkan”.

Misi dan visi sangat penting bagi manusia. Sebab, misi dan visi mempertanyakan tentang tujuan dan manfaat keberadaan manusia di muka bumi dan target jatidiri manusia yang akan diwujudkan selama di muka bumi.

Tanpa misi dan visi, maka manusia tidak memiliki arah yang jelas untuk menjalankan berbagai aktivitas di muka bumi, dan dari mana ia harus memulai melangkah. Dengan memiliki misi dan visi yang jelas, maka manusia memiliki arah yang jelas akan ke mana ia akan menuju, dan aktivitas apa saja harus dan akan dilakukannya untuk merealisasikan misi dan visinya.

 

Bagaimana Menyusun Misi dan Visi Pribadi?

Menurut pendapat subyektif saya, misi dan visi setiap manusia di muka bumi adalah sama. Demikian juga nilai-nilai yang harus menjadi pedoman untuk menjalankan misi dan mencapai visi manusia. Semua sudah ditetapkan oleh Allah SWT.

Dalam Al-Qur’an telah disebutkan misi manusia sebagai berikut :

  • “Sesungguhnya Aku ingin menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” (Qs. Al-Baqarah [2]: 30)
  • “Dan Dia-lah yang menjadikanmu para khalifah di bumi.” (Qs. Al-An’am [6]: 165)
  • “Katakanlah, “Sesungguhnya shalat, ibadah, hidup, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.” (Qs. Al-An’am [6]: 162)
  •  “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.” (Qs. Al-Dzariyyat [56]: 56)

Sedangkan visi manusia adalah menjadi manusia bertakwa. Visi manusia  dapat dipahami dari firman Allah SWT dalam kitab suci Al-Qur’an sebagai berikut : “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kalian dan seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kalian saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kalian. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”(QS Al Hujuraat (49): 13).

Perbedaan manusia dalam hal jenis kelamin, suku, warna kulit, bahasa, kebudayaan dan lain sebagainya tidak menjadikan manusia memiliki misi dan visi yang berbeda-beda. Perbedaan manusia adalah dalam hal “how to” atau bagaimana merealisasikan misi dan visi yang telah ditetapkan oleh Allah SWT.

Setiap manusia boleh berbeda  dalam hal strategi dan rencana kerja untuk mejalankan misi dan mencapai visi. Setiap manusia diberikan kebebasan untuk membuat strategi dan rencana kerja masing-masing untuk merealisasikan misi dan visi. Demikian juga setiap orang bebas untuk menentukan timeframe (penjadualan) dan sumberdaya yang digunakan untuk mencapai misi dan visi. Dengan menggunakan hati dan akalnya, manusia juga diberikan kebebasan untuk menentukan pendekatan dan metode untuk merealisasikan misi dan visi.

Manusia “hanya” diberikan “kisi-kisi” bagaimana untuk merealisasikan misi dan visi yang menjadi amanahnya. Perhatikan sabda Rasulullah SAW dalam dua hadits berikut :

  • ”Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang sholeh”. (HR: Bukhari dalam shahih Bukhari kitab adab, Baihaqi dalam kitab syu’bil Iman dan Hakim).
  • ”Sebaik-baik manusia diantaramu adalah yang paling banyak manfaatnya bagi orang lain” (HR. Bukhari).

Media dan kesempatan untuk menjadi manusia berakhlak mulia dan menjadi manusia yang bermanfaat bagi orang lain tak terhitung jumlahnya. Mulai dari sekedar menyingkirkan paku di jalan raya, menyantuni anak-anak yatim piatu dan kaum dhuafa, mendirikan fasilitas pendidikan dan kesehatan untuk masyarakat, dan lain sebagainya.

Dalam beramal saleh, jumlah bukan hal yang penting. Keikhlasan menjadikan amal saleh seseorang lebih berkualitas. Sebagaimana dikatakan oleh Al-Ghazali : “Semua orang akan rusak, kecuali orang yang berilmu. Orang yang berilmu pun akan rusak, kecuali orang yang beramal. Orang yang beramal pun akan rusak, kecuali yang ikhlas.”

Tampak Siring, 28 Februari 2012

 
Leave a comment

Posted by on December 4, 2013 in Body | Mind | Soul

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: