RSS

Selamat Jalan Sepatuku

17 Dec

Beberapa pengumuman yang ditempel di dinding dan tiang-tiang (bahkan di toilet) masjid jami’ di kawasan Jakarta Selatan sudah cukup membuat bulu kuduk saya berdiri dan hormon adrenalin saya bereaksi cepat : “Perhatian..!!! Jangan letakkan tas di belakang pada saat sedang shalat”. 

Saya langsung pasang kuda-kuda dan siaga 1 untuk menghindari berbagai kemungkinan terburuk. Tetapi bukankah saya sedang berada di masjid, rumah Tuhan? Bukankah di rumah Tuhan seharusnya situasi “kondusif, aman, dan terkendali”? Bukankah seharusnya di rumah Tuhan umat dapat fokus melakukan ibadah dan tidak perlu kekhawatiran kehilangan alas kaki? Itu idealnya, tetapi dalam kehidupan nyata dan sehari-hari, das Sollen (yang seharusnya) tidak selalu sama dengan das Sein (apa adanya). Singkat kata, ini Indonesia Bro!

Pengumuman itu tidak berbeda dengan pengumuman di musholla yang berada di mal-mal. Tetapi mal dan pusat perbelanjaan bukan rumah Tuhan sehingga “wajar” kalau situasi tidak aman dan tidak terkendali. “Survei membuktikan” bahwa, selama berpuluh-puluh tahun rumah Tuhan tidak pernah sepi dari maling. Selama bertahun-tahun, umat diminta untuk selalu was-was dan H2C (harap-harap cemas), beribadah sembari “fokus” memikirkan alas kaki.

Itulah yang terjadi pada diri saya dan juga orang lain yang shalat di masjid. November 2013 yang lalu saya kehilangan sepatu di sebuah masjid di kawasan gedongan di Jakarta Pusat. Justru karena berprasangka baik menjadi sasaran empuk bagi para maling. Seminggu sebelum saya kehilangan sepatu, di masjid yang sama juga ada seorang “espass” (baca : eksekutif pas-pasan) yang kehilangan sepatu. TKP (tempat kejadian perkara) kebetulan sama, yaitu di tempat penitipan sepatu yang tidak dijaga oleh petugas khusus.

Bild

 Foto diunduh dari http://www.aliexpress.com

Sejatinya, sandal dan sepatu hilang di masjid bukan kejadian langka dan bukan peristiwa baru. 3 tahun yang lalu saya juga kehilangan sepatu pada saat shalat Jum’at di kawasan perkantoran di bilangan jalan Sudirman. 30 sampai dengan 40  tahun yang lalu saya juga sudah terbiasa kehilangan, meskipun “cuma” sandal. Bahkan di era orang tua dan kakek-nekek saya, kehilangan barang bawaan di masjid sudah dianggap “biasa”. Jadi, selama berpuluh-puluh tahun, rumah Tuhan tidak pernah steril dari maling.

Urusan sandal dan atau sepatu yang hilang di masjid dan musholla tidak pernah dianggap sebagai urusan penting dan mendesak. Karena tidak penting, maka tidak ada solusi untuk mencegah agar kehilangan sandal dan atau sepatu tidak lagi terjadi. Semua dibiarkan berlalu begitu saja. Mungkin karena keterbatasan prasarana dan sarana serta personil keamanan, para pengelola masjid dan musholla cenderung mengangkat “bendera putih” sebagai isyarat “kalah perang” melawan maling.

Bagi saya pribadi, masalah terbesar bukan pada sandal dan sepatu yang hilang. Kalau hanya sandal dan sepatu yang hilang, saya masih bisa beli lagi. Masalah yang perlu mendapat perhatian adalah uang hasil penjualan barang-barang curian itu digunakan untuk menghidupi anak-anak dan istri. Ini berarti, generasi yang akan datang dibesarkan dengan uang haram. Tentu saja hal itu dapat berakibat buruk pada akhlak dan karakter generasi yang dibesarkan dengan uang haram.

Lebih menyedihkan lagi adalah kasus-kasus pencurian banyak terjadi di Indonesia yang notabene adalah negara yang mayoritas berpenduduk Islam. Memang, belum tentu para pencuri itu orang Islam, tetapi karena di Indonesia ateisme dilarang dan kurang lebih 80 % penduduk Indonesia beragama Islam, kemungkinan para maling itu juga berasal dari kalangan penduduk mayoritas.

Tentu saja Islam tidak mengajarkan umatnya untuk mencuri. Tetapi jika para maling tersebut beragama Islam, hal itu merupakan bukti bahwa pendidikan agama belum berhasil membuat kalangan fakir miskin untuk hidup secara bermartabat dan mengadalkan rezeki yang halal.

***

Saat berada di Jerman, beberapa kali saya melihat kebun bunga yang menjual aneka macam bunga. Hal yang unik adalah di kebun bunga tersebut tidak ada penjaga atau penjual yang secara khusus melayani calon pembeli. Semua dilakukan secara swalayan. Untuk memudahkan calon pembeli, di kebun bunga tersebut disediakan daftar harga dan nama-nama bunga serta kotak uang. Pembeli yang bermaksud membeli dapat melihat daftar harga, mengambil bunga yang dikehendakinya, dan kemudian membayar sesuai harga pembelian dengan cara memasukkan uang di kotak yang telah disediakan.

Di Indonesia, penjualan minuman mineral dan berbagai soft drink masih mengandalkan sistem penjualan “man to man marking”. Artinya, kios harus dijaga oleh orang yang secara khusus melayani pembeli. Padahal, teknologi penjualan minuman secara otomatis sudah lama ditemukan dan beberapa negara sudah menerapkannya. Di kota Barcelona yang relatif kurang aman pun penjualan minuman secara swalayan sudah bertahun-tahun dilaksanakan. Di Indonesia, entah kapan dan mungkin hanya bisa bermimpi ada penjualan minuman secara swalayan.

Meskipun Indonesia berideologi Pancasila dan manusia Indonesia seringkali digadang-gadang sebagai manusia religius, saya tidak yakin bahwa sistem jual beli barang tanpa ada penjual dapat terlaksana di Indonesia. Secara teknis tentu saja dapat dilakukan, tetapi masalah utama bukan pada aspek teknis, melainkan kejujuran manusia Indonesia.

Justru masyarakat yang seringkali dipuji-puji sebagai masyarakat yang religius tidak dapat diandalkan dan tidak dapat dipercaya dalam hal kejujuran. Ironisnya dalam masyarakat yang seringkali kita “olok-olok” sebagai masyarakat yang sekuler, tidak percaya Tuhan, dan kafir, dapat diandalkan dan dipercaya dalam hal kejujuran.

Kejujuran orang-orang Jerman tidak hanya di kebun bunga, tetapi hampir di semua tempat publik. Di kereta api para penumpang “sak enak wudele” meletakkan barang-barang berharga di dalam tas atau koper mereka. Sedikitpun tidak ada perasaan was-was dan H2C (harap-harap cemas). Bahkan, saat berada di Kereta ICE (semacam kereta eksekutif super cepat) dari Berlin menuju Frankfurt, penumpang di sebelah saya meninggalkan laptopnya di tempat duduk. Penumpang itu benar-benar ainul yaq’in bahwa Jerman adalah negara yang aman dan nyaman. Penumpang itu percaya bahwa saya tidak akan mencuri laptopnya.

Di Indonesia, jangan harap coba-coba meninggalkan laptop atau bahkan sekedar smartphone di tempat duduk anda pada saat anda sedang menggunakan kereta api atau moda transportasi lainnya. Di berbagai media cetak seringkali kita menemukan surat pembaca yang menceritakan tentang kehilangan barang-barang berharga saat tertidur pulas di kereta api eksekutif. Suatu bukti bahwa di bumi pertiwi ini situasi keamanan yang kondusif, aman dan terkendali masih sekedar isapan jempol.

***

Kita tidak pernah tahu alasan yang sesungguhnya mengapa pencurian sandal dan sepatu di masjid-masjid dan musholla-musholla “dibiarkan”. Alasan yang rada-rada masuk akal adalah karena nilai barang yang dicuri tidak seberapa. Pencurian lain yang lebih besar nilainya mungkin lebih penting untuk mendapatkan perhatian dan penangangan khusus.

Berapapun kecil nilai dari barang-barang yang dicuri di masjid dan atau musholla, “membiarkan” para pencuri meraja lela bukan merupakan sikap yang bijak. Kejahatan atau kesalahan sebesar biji zarah juga akan dipertanggungjawabkan.

Memang benar semua orang butuh modal. Tetapi jangan lupa, untuk mencari modal diperlukan moral. Demikian juga untuk menegakkan moral dibutuhkan modal.

 

Tampak Siring, 15 Desember 2013

 
Leave a comment

Posted by on December 17, 2013 in Selasar

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: