RSS

Ibu

22 Dec

Lembaga peradilan tertinggi di bumi pertiwi telah memutuskan bahwa, Lapindo Brantas tidak bersalah dalam kasus luapan lumpur di Kabupaten Sidoarjo (sering disebut “lusi”). Tetapi mengapa keluarga Bakrie bersedia membayar ganti rugi kepada para korban “lusi”?

Tak ada jawaban yang lebih sahih kecuali “apa kata ibu”.  Dalam sebuah talkshow, Aburizal Bakrie yang akrab dipanggil Ical “ditodong” oleh sebuah pertanyaan tentang alasan ia mau menggelontorkan triliunan  Rupiah kepada para korban lusi. Inilah jawaban Ical  :

“Ibu saya memerintahkan, salah atau benar harus tetap bantu korban, dan kita sudah melakukan jual beli tanah dan rumah sampai dana yang kami keluarkan sudah Rp. 9 triliun,” paparnya (www.nasionalnews.viva.co.id, 2 Oktober 2013)

“Apa kata ibu” adalah bagaikan “mantra” dan “titah” yang harus dilaksanakan. Betapa banyak laki-laki yang berterus terang mengakui bahwa, di balik berbagai keputusan penting yang diambilnya, “apa kata ibu” menjadi pertimbangan penting atau pengaruh yang sangat penting. Saya yakin, dalam sistem sosial masyarakat yang selama berabad-abad didominasi oleh sistem patriarkat, relatif banyak laki-laki yang berstatus “DBI” (baca : di bawah bayang-bayang ibu). Mungkin lebih banyak laki-laki yang berstatus “DBI” ketimbang “DKI” (baca : di bawah ketiak istri).

Bahkan, betapa “perkasa” seorang istri terhadap seorang suami, saya yakin seorang istri yang “garang” sekalipun tidak akan merasa iri dan dengki kepada seorang ibu mertua yang memiliki daya “magnet” luar biasa sehingga seorang laki-laki yang tegar pun dapat menangis terisak-isak di hadapan seorang ibu.

Saya juga seorang laki-laki yang memasukkan faktor “apa kata ibu” dalam berbagai kesempatan pengambilan keputusan. Tentu saja berdo’a kepada Tuhan Yang Mahakuasa dan shalat istikharah penting, tetapi pengalaman subyektif saya selalu menuntun saya untuk bertanya kepada ibu.

Saat berada di kisaran usia 30-an, beberapa head hunter hampir setiap bulan menginformasikan lowongan kerja kepada saya. Penawaran yang menarik dari segi gaji dan fasilitas seringkali dari beberapa perusahaan di luar Jawa. Pernah suatu saat saya sangat “tergiur” dengan kesempatan karir di Papua (waktu itu masih Irian Jaya). Setelah mempertimbangkan berbagai faktor dan tinggal mengambil keputusan akhir, saya pun meminta nasehat kepada ibu saya. Ternyata ibu saya tidak setuju dengan rencana saya dan saya pun batal bergabung dengan perusahaan sebuah perusahaan di Papua. Saya dapat “menangkap” dan merasakan suasana hati ibu saya yang tidak nyaman jika saya berada terlalu jauh dari saya (saat itu ibu tinggal di Yogyakarta dan saya tinggal dan bekerja di Jakarta).

RASJIDFoto : Dok. Pribadi Keluarga Besar M.A. Rasjid

Bagi sebagian besar orang yang “macho”, alasan kenyamanan suasana hati ibu sebagai alasan yang kurang beraroma laki-laki. Tetapi ternyata saya tidak sendirian. Di sebuah harian ibukota, saya membaca kisah Alexander Sriewijono (Founder Daily Meaning dan penggagas “Passionate Working Life”)  yang juga menempatkan faktor ibu sebagai pertimbangan utama dalam pengambilan keputusan penting, baik kehidupan pribadi maupun karir. Alexander yang saat itu sudah menyelesaikan S2 di Inggris dan berkesempatan untuk meneruskan S3, bersedia membatalkan cita-cita yang sudah terlanjur digantungkannya setinggi langit, karena mempertimbangkan suasana kenyamanan hati ibu.

Sebagaimana dimuat dalam rubrik Inspiring Person Koran Sindo 8 Desember 2013, Alexander Sriewijono bercerita sebagai berikut : “pada 2004 saat tengah menyelesaikan pendidikan master di London, datang dua kesempatan atau pilihan emas. Pertama, melanjutkan studi doctoral di London, dan kedua panggilan wawancara untuk memimpin sebuah perusahaan konsultan. Di masa gamang antara meraih gelar doktor atau pekerjaan, Alex lebih memikirkan di mana sang ibu merasa lebih nyaman. Alex pun menelepon ibunya. Sang ibu menjawab tidak kuat dingin sehingga keberatan untuk ikut.”

Pengalaman saya pribadi dan Alexander Sriewijono mungkin masih biasa-biasa saja dan “nggak ada apa-apanya”. Maksud saya, bukan hal yang istimewa dan tidak perlu dibesar-besarkan. Apa yang dilakukan oleh sahabat saya (seorang laki-laki) untuk mendampingi ibu kandungnya yang sudah udzur untuk mempersiapkan diri sebaik mungkin menghadap Allah SWT secara khusnul khotimah lebih patut diacungi jempol.

Sahabat saya ikhlas untuk dimutasikan dari Kalimantan ke Jakarta agar dapat berkumpul kembali dengan ibu kandungnya. Pindah ke Jakarta dengan risiko tanpa jabatan, gaji dan fasilitas dikurangi bukan hal yang menakutkan bagi sahabat saya. Bukan hanya sampai disitu, kalaupun perusahaan tidak bersedia memutasikan ke Jakarta, ia sudah siap untuk “nekad” mengundurkan diri dari perusahaan dan mencari pekerjaan lain di Jakarta.

Sikap dan perilaku sahabat saya yang ikhlas mendampingi ibu mungkin terasa naïf bagi orang-orang yang memiliki kesempatan untuk merawat dan mendampingi orang tua di saat udzur, tetapi justru memilih “melarikan diri” dari tanggung jawab dan membuang kesempatan yang hanya datang sekali dalam seumur hidup.

Betapa banyak anak-anak, demi karir, gaji dan fasilitas yang melimpah, memilih “mendelegasikan” tugas dan tanggung jawab merawat dan medampingi orang tua yang sudah udzur kepada orang lain. Sayang sekali, bagi sebagian anak, “menggelontorkan uang” kepada orang tua yang sudah udzur, dianggap sama nilainya dengan pendampingan kepada orang tua mempersiapkan diri Allah SWT secara khusnul khotimah.

***

Surga berada di telapak kaki ibu. Suatu petunjuk betapa mulia seorang ibu sehingga surga pun berada bawah telapak kaki ibu. Maksudnya adalah setiap anak sepatutnya memiliki rasa hormat yang sangat tinggi kepada ibu dan rela menunjukkan darma bakti kepada ibu. Meskipun demikian, menurut pendapat subyektif saya, kita seringkali diingatkan dengan peribahasa tersebut dalam konteks dan tujuan untuk menakut-nakuti. Seolah-olah, untuk berbakti kepada ibu, hanya dapat dilakukan dengan “menakut-nakuti” dan “memaksa” anak-anak untuk hormat kepada ibu.

Padahal, tanpa ditakut-takuti dan dipaksa pun, seorang anak yang dididik secara benar oleh seorang ibu, akan hormat dan patuh kepada seorang ibu. Idealnya, peribahasa itu digunakan untuk menunjukkan betapa terhormat dan kemuliaan seorang ibu. Kemuliaan seorang ibu antara lain adalah kemampuannya mengasuh anak-anak dengan meng”copy paste” sifat-sifat Allah SWT.

Ada 99 sifaf-sifat Allah SWT dan manusia dianjurkan untuk berusaha “copy paste” sifat-sifat tersebut. Mungkin hanya nabi dan utusan Tuhan yang mampu melakukan “copy paste” sifat-sifat Allah SWT. Selain itu, tidak ada manusia biasa yang mampu melakukan “copy paste” sifat-sifat Allah SWT dan menjadikan dasar dari akhlak dan karakternya, kecuali seorang ibu.

Hanya seorang ibu yang mampu mengasuh anak-anaknya dengan sifat kasih dan sayang. Kasih sayang itu diberikan secara tulus kepada anak-anaknya selama hayat dikandung badan, tanpa mengharapkan balasan apapun dari anak-anaknya.

Mengapa seorang ibu mampu dan bersedia mengasuh anak-anaknya dengan kasih sayang secara ikhlas dan totalitas? Semua itu hanya dapat dilakukan oleh manusia yang mampu mencontoh sifat-sifat Allah SWT. Artinya, sifat-sifat Allah yang mampu membuat ibu menjadi manusia yang memiliki akhlak dan karakter sangat mulia.

Bagaimana sesungguhnya menghayati dan mengamalkan “the more you give the more you get”?. Setelah nabi dan utusan Tuhan, tak ada manusia yang lebih baik dalam hal ikhlas dan mengesampingkan kepentingan pribadi. Tetapi ibu adalah orang yang sangat sadar bahwa, pada saat manusia tidak mengharapkan semuanya, justru manusia akan mendapatkan semuanya. Seorang anak yang berbakti kepada ibu akan memberikan semua yang terbaik yang ada pada dirinya kepada ibunya, meskipun ibu tidak pernah mengharapkan apalagi memintanya.

Tahukah anda, bahwa perusahaan-perusahaan yang mencoba meng”copy paste” sifat-sifat kasih sayang ibu, mampu bertahan dan tumbuh sangat mencengangkan? Dalam bisnis, sikap dan perilaku ikhlas tanpa pamrih justru memberikan pendapatan yang luar biasa dibandingkan dengan bisnis yang dijalankan secara kikir dan serakah.

Beberapa sosial media memberikan kemudahan dan kemanfaatan kepada manusia tanpa memungut biaya sepersen pun. Tak terhitung jumlah manusia yang sangat terbantu dan mendapatkan manfaat dari kehadiran Google, search engine yang memungkinkan manusia untuk mendapatkan informasi apa saja secara cepat dan mudah. Demikian juga Facebook yang mampu mempertemukan dan mempersatukan kembali keturunan Adam dan Hawa dari delapan penjuru mata angin. Masih banyak lagi media sosial yang sangat bermanfaat bagi banyak orang dan dapat dimanfaatkan secara gratis, antara lain wordpress, linkedin, dan wix.

Berapa nilai market capitalization / revenue Google dan Facebook. Market capitalization Google mencapai US$ 166,48 milyar dan revenue US$23,65 milyar, sedangkan market capitalization Facebook mencapai US$ 25 milyar dan revenue US$ 0,7 milyar. Tanpa mengharapkan apapun dari para pengguna Google dan Facebook, ternyata kedua media sosial itu tetap meraup pendapatan yang berlipat-lipat ganda dibandingkan dengan perusahaan besar apapun di Indonesia.

***

Tak peduli warna kulit dan budaya, ibu selalu menempati “maqam” yang sangat khusus di hati anak-anak ibu. Tak peduli apakah anak-anak ibu masih anak-anak atau sudah dewasa, semua berlomba-lomba untuk memuji dan memuja keluruhan budi seorang ibu.

Semua orang dari semua kelompok umur di Indonesia mengetahui dan menyukai lagu “Kasih Ibu”. Demikian juga Hendrik Nikolaas Theodoor Simons (saat itu penyanyi cilik dari negara kincir angin yang lebih dikenal dengan nama Heintje) yang menjadi terkenal di seluruh penjuru dunia setelah menyanyikan lagu “Mama”. Paul McCartney pun merasa perlu berbagi cerita tentang kehangatan kasih ibu dalam lagunya yang berjudul Let It Be. Tak ketinggalan Melly Goeslaw yang “memborong” menulis lagu sekaligus menyanyikan sendiri lagu Bunda.

Saya seringkali berandai-andai dan membayangkan, dengan akhlak dan karakter ibu yang mampu meng”copy paste” sifat-sifat Tuhan saat mengasuh anak-anaknya, dunia ini akan “kebanjiran” dengan manusia yang memiliki emotional intelligence. Tiga tahun di awal-awal kelahiran anak, kebersamaan ibu dan anak yang sangat intensif seyogyanya sudah lebih cukup untuk menghadirkan anak-anak manusia yang memiliki kecerdasan emosional yang dapat menjadikan dunia lebih baik.

Sejatinya, jika saja setiap manusia mampu mewarisi sifat-sifat kasih sayang seorang ibu, keteledanan untuk mengampuni seperti yang pernah ditunjukkan mendiang Nelson Mandela bukan sikap dan perilaku yang sulit untuk dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari. Demikian juga, jika setiap manusia mampu meneladani seorang ibu yang mengedepankan hati, tentu bukan hal yang sulit bagi manusia untuk mempraktekkan compassion (welah asih) kepada sesama manusia.

Selamat Hari Ibu!

Kemang, 20 Desember 2013

 
Leave a comment

Posted by on December 22, 2013 in Gemeinschaft | Gesellschaft

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: