RSS

Paradoks Ibu

28 Dec

Dalam kesempatan “ngobar” (baca : ngobrol bareng) bersama psikolog anak Kak Seto Mulyadi, psikolog sosial Sarlito Wirawan Sarwono mendapat “bocoran” informasi tentang KDRT (Kekerasan Dalam Rumah Tangga), wa bil khusus tentang korban dan pelaku KDRT.

Ternyata, sebagian besar korban KDRT adalah anak-anak. Di luar dugaan saya, mungkin juga di luar dugaan anda, pelaku utama KDRT terhadap anak-anak adalah ibu kandung. Sebagai Ketua Umum Komisi Nasional Perlindungan Anak, Kak Seto tentu tidak sembarangan bicara, apalagi “nakut-nakutin”.

Cerita bahwa ibu tiri kejam adalah propaganda dalam film dan sinetron. Tetapi seorang ibu kandung yang bisa kejam dan jahat terhadap anak-anak yang dikandung dan diasuhnya, ternyata bukan isapan jempol. Boleh jadi ibu tiri yang  kejam dan jahat hanya merupakan isapan jempol. Dalam kehidupan nyata, ibu kandung bisa lebih kejam dan jahat ketimbang ibu tiri.

Informasi tentang korban dan pelaku KDRT terhadap anak-anak itu yang saya baca dalam artikel Prof. Sarlito yang ditulis di sebuah harian ibukota, tepat pada hari ibu. Jujur, mengetahui informasi tentang ibu sebagai pelaku utama KDRT terhadap anak-anak serasa “disambar geledek”.

Tak ada ruang sebesar biji zarah pun dalam benak dan lubuk hati saya suudzon terhadap seorang ibu. Saya tidak pernah memberikan kesempatan dan waktu kepada otak dan qalbu saya untuk berandai-andai tentang seorang ibu kandung yang jahat dan kejam.

Pemahaman, pengalaman, dan memori saya tentang seorang ibu adalah persis seperti yang dideskripsikan dalam lagu anak-anak yang sangat populer sejak dahulu kala sampai kini, yaitu : Kasih Ibu. Hanya seorang ibu yang mampu dan mau menebar kasih sayang kepada anak-anak, hanya memberi dan memberi sepanjang hayat di kandung badan, dan tidak mengharapkan balasan apapun.

Setelah para nabi dan rasulullah, tidak ada manusia yang memiliki kemuliaan melebihi kemuliaan seorang ibu. Tidak ada manusia di dunia ini yang mampu meneladani sifat-sifat Allah SWT, kecuali para utusan Allah SWT. Tetapi jika saya menyatakan bahwa jika ada manusia lain yang mampu meneladani sifat-sifat Allah SWT, maka orang tersebut adalah ibu.

Hanya ibu yang mampu meneladani sifat-sifat ar-rahman dan ar-rahim. Tidak semua perempuan memiliki sifat-sifat ar-rahman dan ar-rahim, paling banter baru sekedar potensi. Tetapi begitu menjadi seorang ibu, wes ewes ewes, semua ibu secara naluriah dan alamiah mampu meneladani sifat-sifat ar-rahman dan ar-rahim.

Semua manusia dari kelompok umur apapun secara naluriah dan alamiah memiliki kebutuhan terhadap rasa nyaman, aman, dimengerti, dihargai, dan dianggap penting. Adalah ibu yang dengan sifat-sifat ar-rahman dan ar-rahim, mampu dan mau memberikan rasa nyaman, aman, dimengerti, dihargai, dan dianggap penting kepada anak-anaknya.

Sosiolog Leopold von Wiese dan Howard Becker membedakan hubungan antarmanusia menjadi tiga kategori, yaitu hubungan primer, hubungan sekunder, dan hubungan tersier. Klasifikasi hubungan antarmanusia tersebut berdasarkan kekuatan, kedalaman, dan “sustainability” interaksi sosial di antara anggota kelompok sosial tersebut.

Hubungan primer adalah hubungan antarmanusia yang memiliki kekuatan, kedalaman, dan “sustainability” paling paripurna. Hubungan ibu dan anak yang dilandasi oleh kasih sayang yang tulus adalah satu-satunya bentuk hubungan primer yang tak ada bandingannya. Sulit untuk menemukan hubungan antarmanusia lain yang dapat dikategorikan sebagai hubungan primer.

***

Mendapat informasi yang beraroma seperti “disambar geledek”, saya mencoba menenangkan diri dengan cara bertanya kepada istri saya, apakah memang benar pelaku KDRT terhadap anak-anak adalah para ibu, terutama ibu kandung? (dengan asumsi jumlah ibu kandung pasti lebih banyak daripada ibu tiri). Jawaban istri saya ternyata semakin membuat pikiran dan perasaan saya semakin acakadul dan amburadul.

Istri saya membenarkan 100 % informasi KDRT seperti yang disampaikan oleh Kak Seto. Bahkan istri saya mengingatkan bahwa, tidak perlu ada perdebatan tentang data dan angka. Bagaimanapun, fakta dan kenyataan bahwa ibu kandung dapat melakukan KDRT terhadap anak-anak, jauh lebih penting ketimbang data statistik. Fokus dan tindakan terbaik adalah pada solusi, bukan sekedar mengadakan penelitian ilmiah.

Meskipun demikian, istri saya mengingatkan jangan menyalahkan ibu kandung sebagai “kambing hitam” dan bertanggung jawab 1000 % terhadap KDRT terhadap anak-anak. Sebagai seorang pemerhati “KWRT” (Ketidakberdayaan Wanita Dalam Rumah Tangga)  dan KDRT, istri saya memahami dan meyakini bahwa, dalam kasus-kasus KWRT dan KDRT terhadap anak-anak, ibu sejatinya “merangkap” status sebagai pelaku sekaligus korban. Lho, iki piye iki piye?

Bild

Foto diunduh dari http://www.smallbusiness.chron.com

Otak saya masih dapat mencerna jika istri berstatus sebagai korban dalam konteks KWRT. Tetapi bagaimana menjelaskan bahwa sejatinya ibu juga menjadi korban dalam berbagai kasus KDRT terhadap anak-anak? Jawaban diplomatis terhadap pertanyaan ini adalah tidak ada penyebab tunggal dalam kasus-kasus KDRT terhadap anak-anak.

Secara naluriah dan alamiah, seorang ibu pasti memiliki sifat-sifat ar-rahman dan ar-rahim. Dalam kehidupan nyata dan sehari-hari, boleh jadi sifat-sifat ar-rahman dan ar-rahim itu tidak teraktualisasi. Ada banyak “kambing hitam” mengapa ibu tidak mampu (baca : bukan tidak mau) mengaktualisasikan diri sifat-sifat ar-rahman dan ar-rahim yang seyogyanya sudah menjadi “darah daging”, “denyut nadi”, dan “detak jantung” seorang ibu.

Stress yang dialami oleh ibu merupakan salah satu penyebab mengapa seorang ibu gagal mengaktualisasikan sifat-sifat ar-rahman dan ar-rahim. Sebut saja stress di kantor menghadapi beban kerja, atasan yang “bawel”, maupun rekan kerja yang “resek”. Belum lagi stress selama perjalanan pulang pergi dari rumah tinggal ke tempat kerja. Last but not least, boleh jadi seorang ibu stress menghadapi sikap dan perilaku suami sendiri. Bukan tidak mungkin para ibu menjadi korban KDRT yang dilakukan oleh para suami. Nah lo!

Karena ketidakmampuan mengelola berbagai stress yang dihadapi, wa bil khususon KDRT oleh para suami, para ibu justru mencari pelampiasan kepada orang lain. Siapapun manusia, tidak mungkin melampiaskan kekecewaan dan kemarahan kepada orang lain yang memiliki otot seperti kawat dan tulang seperti besi. Setiap orang lebih mudah melampiaskan kekecewaan dan kemarahan kepada orang-orang yang lemah dan tidak mampu membalas.

Dalam psikologi, pelampiasan frustrasi kepada orang lain atau obyek yang lemah dan tidak memiliki kemampuan untuk melakukan “serangan balik” disebut dengan displacement. Semua orang boleh jadi pernah mengalami displacement, sebab displacement merupakan salah satu bentuk mekanisme pertahanan diri. Dalam www.psychology.about.com, Kendra Cherry menjelaskan tentang displacement sebagai berikut :

“Displacement involves taking out our frustrations, feelings, and impulses on people or objects that are less threatening. Displaced aggression is a common example of this defense mechanism. Rather than express our anger in ways that could lead to negative consequences (like arguing with our boss), we instead express our anger towards a person or object that poses no threat (such as our spouse, children, or pets).”

Secara “alamiah”, anak-anak dalam status dan posisi lemah dan tidak mampu membalas kemarahan seorang ibu. Sangat logis jika anak kemudian menjadi sasaran empuk KDRT yang dilakukan oleh sebagian ibu. Jadi, dalam konteks KDRT terhadap anak-anak, berlaku “efek domino”, satu domino jatuh maka akan menjatuhkan domino yang lain.

“Efek domino” bahkan tidak terbatas dalam satu keluarga saja, melainkan juga dapat “memakan” korban orang-orang yang tidak terlibat dan tidak bersalah dalam KDRT terhadap anak di dalam satu rumah tangga. Anak-anak yang menjadi korban dalam KDRT berpontensi memiliki karakter dan akhlak yang acakadul dan amburadul. Kelak, dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara, anak-anak “salah asuhan” seperti itu dapat bersikap “garang” dan kurang ajar terhadap siapapun.

Karena tidak ada sebab-musabab tunggal dalam berbagai kasus KDRT terhadap anak-anak, dan sebab-musabab itu membentuk tali-temali yang sangat kuat, maka tidak bijak jika hanya menyalahkan ibu sebagai pelaku tunggal. Bahkan juga tidak bijak jika kemudian “menugaskan” kepada para ibu yang terjerat KDRT terhadap anak-anak, untuk memperbaiki kecerdasan mereka, baik itu IQ, EQ, ESQ, maupun AQ.

Sejatinya, tidak hanya para ibu yang harus memperbaiki karakter dan akhlak mereka agar tidak terjerumus dalam kasus KDRT terhadap anak-anak. Ayah, sebagai seorang pemimpin dalam rumah tangga, sudah sepatutnya menjadi pihak yang paling aktif untuk mengetahui apakah di dalam rumah terjadi KDRT. Jika ya, ayah pula yang harus proaktif menjadikan rumah sebagai tempat di mana anggota keluarga menemukan perasaan nyaman, aman, diperhatikan, dianggap penting, dan dihargai.

 

Kebayoran Baru, 27 Desember 2013

 
Leave a comment

Posted by on December 28, 2013 in Gemeinschaft | Gesellschaft

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: