RSS

Kancil Tidak Nakal

01 Jan

Sebagai pencinta satwa, saya sungguh tidak mengerti, mengapa anak-anak – bahkan sejak usia batita (bawah tiga tahun) – oleh para orang tua diajari “kebencian” kepada hewan. Salah satu hewan “terpidana” adalah kancil. Tak ada asas praduga tidak bersalah, juga tidak ada proses persidangan. Pokoknya kancil adalah nakal karena mencuri.

Apa relevansi dan kemendesakan (baca : urgensi) melekatkan “stigma” kepada kancil? Apa benar kancil nakal karena suka mencuri timun? Bukankah kancil tidak punya otak, juga tidak ada standar moral yang mengatur perilaku hewan? Bukankah memang sudah dari “sononya” Tuhan menakdirkan ada hewan herbivora, karnivora, dan omnivora?. Andaikan kancil termasuk hewan pemakan daging, tentu kancil tidak cuma makan timun, tetapi kalau perlu menyerang manusia.

Para orang tua lupa dengan semboyan “jasmerah”, jangan sekali-sekali melupakan sejarah. Di bumi pertiwi ini, dahulu kala, paling tidak ada dua orang yang diberikan julukan “si Kancil”, keduanya sudah almarhum. Pertama adalah almarhum Adam Malik, lulusan SLTA yang sempat malang melintang sebagai Menteri Luar Negeri (dan berpidato di depan PBB) dan mengakhiri karir sebagai Wakil Presiden RI. Kedua, almarhum Abdul Kadir, mantan kiri luar (sebutan saat itu, kini di zaman sepakbola modern biasa disebut gelandang serang) timnas sepakbola Indonesia. Mereka diberikan “gelar” si Kancil bukan karena nakal dan suka mencuri, tetapi karena kecerdikan dan kelincahan mereka. Mengapa bukan sisi positif dari kancil yang cerdik dan lincah yang diajarkan kepada anak-anak?

***

Mungkin maksud para orang tua adalah untuk mengajarkan kepada anak-anak agar tidak nakal dan mencuri. Tetapi kalau maksud dan tujuan memberikan “stigma” kepada kancil adalah untuk mendidik anak-anak, hal itu justru generalisasi dan salah kaprah yang sangat akut.

Dibandingkan manusia, kenakalan kancil tidak ada apa-apanya. Bukankah yang nakal dan suka mencuri itu manusia? Sepengetahuan saya, Komisi Pemberatasan Korupsi belum pernah menangkap hewan yang mencuri. Semua koruptor yang dicokok KPK dan disidang di Pengadilan Tipikor adalah manusia.

BildFoto diunduh dari http://www.pekanbaru.co

Mungkin manusia malu kalau lirik lagu Si Kancil yang biasa diajarkan kepada anak-anak diganti dengan manusia. Kalau itu yang terjadi, maka lirik lagu yang semula berbunyi “Si Kancil anak nakal / suka mencuri timun / ayo lekas ditangkap / jangan diberi ampun”, akan berubah menjadi “Si kakek / nenek (tergantung siapa yang mencuri) orang nakal /  suka mencuri duit / ayo lekas ditangkap / jangan diberi ampun.”

Kalau melihat jumlah koruptor yang ditangkap KPK, tampaknya sudah saatnya anak-anak diajarkan lagu tentang kenakalan orang tua dan kakek dan nenek mereka. Sungguh tidak lucu kalau untuk mengajarkan budi pekerti dan akhlak, kancil masih juga dijadikan “kambing hitam”. Anak, menantu, cucu dan cicit harus diberitahu dan diajarkan tentang kenakalan para orang tua, mertua, dan kakek-nenek mereka. Paling tidak, untuk menyadarkan para orang tua, mertua, dan kakek-nenek agar mereka tidak macam-macam dan membuat malu anak, menantu, cucu dan cicit.

Kejahatan yang dilakukan manusia melebihi kenakalan kancil yang cuma mencuri timun. Sementara manusia, apapun disikat dan dicuri. Mulai dari sandal atau sepatu, kain jemuran, semen, aspal, kabel, minyak, air, listrik, pakaian seragam, sarung, buku, bahkan Al-Quran. Dana BLT (bantuan langsung tunai) pun seringkali “menguap” dan tidak sampai ke orang-orang yang berhak menerimanya. Honorarium gaji guru di daerah dan pedalaman terpencil yang tidak seberapa pun “disunat”. Jadi, sejatinya manusia tidak lebih baik daripada kancil

***

Apa memang sebagian besar hewan adalah ganas dan berbahaya sehingga pantas dijadikan musuh manusia? Apakah bukan sebaliknya manusia yang justru ganas dan berbahaya bagi hewan? Belum ada manusia yang punah karena kebuasan hewan. Tetapi banyak hewan – bahkan hewan buas – yang punah karena tingkah dan polah manusia.

Ada kecenderungan manusia untuk menyimpulkan bahwa hewan-hewan tertentu ganas dan pemangsa manusia. Sudah menjadi rahasia umum bahwa ikan hiu dianggap ganas dan pemangsa manusia. Padahal, ada banyak jenis ikan hiu, whiteshark tidak ganas, tetapi tigershark memang “ganas”. Tetapi apakah memang benar tigershark merupakan pemangsa manusia?.

Silakan dicek, jumlah manusia yang mati karena dimangsa tigershark jauh lebih sedikit ketimbang jumlah ikan hiu yang menjadi korban keganasan manusia. Jarang sekali tigershark membunuh manusia dengan cara menyerang bagian yang mematikan dari manusia. Tigershark “hanya” menggigit kaki manusia. Itu pun disebabkan karena dari bawah air, kaki manusia menyerupai papan selancar. Kalaupun kemudian manusia yang digigit tigershark tewas, salah satu sebabnya adalah keterlambatan pertolongan pertama sehingga korban kekurangan darah.

Sejatinya, manusia harus berterima kasih kepada hewan. Semua bagian dari tubuh hewan dapat dimanfaatkan oleh manusia, mulai dari daging, susu sampai kulit hewan. Justru manusia yang cenderung serakah, jeroan yang tidak thayiban pun disikat karena mampu memenuhi selera “maknyuuus” dan “eunaak tenaaan”.

Bukan hanya tubuh hewan yang bermanfaat untuk nutrisi manusia. Tugas-tugas manusia pun sangat terbantu dengan keberadaan hewan. Para pendaki gunung paham benar atas jasa-jasa hewan di pegunungan Himalaya yang mampu mengangkut barang-barang bawaan manusia yang sangat berat di ketinggian tertentu.

Hampir semua polisi di dunia memanfaatkan anjing yang memiliki indra penciuman istimewa. Bahkan untuk mengusut tuntas kejahatan, polisi juga menggunakan “teori anjing menggonggong”. Berdasarkan “teori anjing menggonggong” pelaku kejahatan lebih mudah dilacak. Jika pada saat tindak kejahatan terjadi dan di TKP (tempat kejadian perkara) ada anjing tetapi tidak menggonggong, maka prioritas kecurigaan layak dialamatkan pada keluarga terdekat atau orang-orang yang sangat dikenal korban.

Di Sumatera, harimau memangsa manusia bukan kejadian yang langka. Demikian juga gajah yang mengamuk dan memporakporandakan perkampungan yang dihuni manusia. Tetapi harimau dan gajah “membalas dendam” kepada manusia karena habitat mereka yang semakin sempit sehingga alam tidak lagi mampu menyediakan pangan kepada gajah dan harimau.

By the way, kalau kancil tidak nakal, lalu siapa yang nakal?

Cirendeu, 31 Desember 2013

 
Leave a comment

Posted by on January 1, 2014 in Selasar

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: