RSS

“The Lord of the Rings”

11 Jan

Ada perubahan peringatan tentang bahaya merokok. Semula berbunyi : “Merokok dapat menyebabkan kanker, serangan jantung, impotensi dan gangguan kehamilan dan janin”. Kini berbunyi : “merokok membunuhmu”.

Tak jelas mengapa ada perubahan konten peringatan bahaya merokok. Salah satu alasan adalah peringatan terdahulu “berbelit-belit” dan “kurang menggigit”. Meskipun ditakut-takuti dengan segambreng penyakit, kebiasaan merokok sulit kali dihentikan. Peringatan tentang bahaya merokok yang baru memang lebih “tembak langsung” dan menakut-nakuti. Tetapi siapa takut mati?

Merokok mungkin dapat menimbulkan berbagai penyakit, tetapi proses untuk sampai ke jatuh sakit terjadi secara pelan-pelan, tidak terasa, dan tidak terlihat. Bagi orang-orang punya mindset  “seeing is believing”, sulit percaya kalau belum melihat dengan “mata kepala” sendiri. Memang banyak contoh orang-orang yang merokok dan kemudian sakit kanker, tetapi kalau tidak mengalami sendiri, sulit bagi perokok untuk percaya bahwa merokok berbahaya bagi kesehatan.

Begitu juga dengan orang-orang yang punya mindsetfeeling is believing”, sulit percaya bahwa merokok menimbulkan rasa sakit. Alih-alih menimbulkan rasa sakit, merokok justru menghasilkan efek “terbang”, merasa nyaman, aman, damai, dan “macho”. Bagi para perokok, merokok dapat menimbulkan perasaan “semriwing’. Tentang hidup dan kesehatan, terserah “gimana nantinya”.

BildFoto : Wisanggenia Photography

Manusia mungkin tidak beda dengan kodok. Menurut “teori kodok rebus”, seekor kodok yang dimasukkan dalam panci yang berisi air  dan kemudian dipanaskan secara pelan-pelan, lambat menyadari perubahan lingkungan dan bahaya yang mengancamnya. Karena perubahan air menjadi panas berlangsung secara pelan-pelan, kodok tidak sadar bahwa ia dalam bahaya.

Berbeda dengan seekor kodok yang secara sengaja diceburkan ke dalam panci yang telah berisi air mendidih. Karena panas yang sangat, kodok segera sadar bahaya yang mengancam dan tanpa berpikir panjang langsung mengambil “langkah seribu” dan meloncat ke luar dari panci. 

Konon, menurut hasil penelitian “teori kodok rebus”, kodok yang dimasukkan kedalam panci membara kemungkinan lebih selamat dan hidup ketimbang kodok yang dimaksukkan ke dalam panci yang berisi air yang panasnya naik secara perlahan. Benarkah demikian? Maybe yes, maybe no.

Peringatan tentang bahaya merokok tentu saja penting dan perlu. Tetapi apakah peringatan itu mampu menjadikan para perokok menjadi manusia yang sadar, itu cerita lain.  

Sejatinya, seseorang dapat disebut dalam kesadaran pada saat pikiran dan perasaannya mengetahui, memahami, meyakini dan menyetujui apa yang dikatakan dan dilakukan oleh tubuh. Dalam keadaan sadar, pikiran dan perasaan bersedia memikul tanggung jawab terhadap apa yang dikatakan oleh mulut dan apa yang dilakukan oleh tubuh.

Bagi Mahatma Gandhi, saat pikiran, perasaan, dan tubuh berada dalam harmoni, pada saat itulah manusia mencapai kebahagiaan. “Happyness is when what you think, what you say, what you do are in harmony”, demikian Gandhi. Lain padang lain belalang, bagi para perokok, ketidakselarasan antara pikiran, perasaan dan tubuh bukan hal yang perlu untuk dipermasalahkan.

Tak ada yang mampu membuat sadar manusia. Tidak seorang nabi, tidak juga Tuhan. Tentu saja, jika mau, Tuhan mampu. Tetapi Tuhan telah “terlanjur” memberi manusia kebebasan untuk menggunakan hak memilih. Seperti diyakini oleh Victor Emil Frankl (seorang psikolog berkebangsaan Yahudi yang selamat dari kamp konsentrasi Nazi), semua hal dapat diambil dan dirampas dari manusia, kecuali hak untuk memilih. Self-esteem memang unconditional, berbeda dengan self-confidence dan self-efficacy yang conditional.

Idealnya, proses memilih didasarkan pada kemampuan untuk memahami dan merasakan. Tetapi manusia tidak selalu mengambil keputusan untuk memilih setelah memahami dan merasakan. Dalam banyak hal, manusia memilih “shortcut” mengambil keputusan.

Itulah sebabnya, meskipun mungkin para perokok mampu memahami dan merasakan bahwa merokok tidak hanya berbahaya bagi kesehatan, melainkan juga berpotensi membunuh, para perokok tetap sulit meninggalkan kebiasaan merokok. Bahkan meskipun sudah sakit jantung dan dipasangi ring, kebiasaan merokok sungguh sulit ditinggalkan.

Kalau demikian, apakah manusia tidak dapat sadar? Tentu saja bisa, tetapi atas dasar kemauan diri sendiri. Kesadaran manusia kadang-kadang disebabkan oleh hal-hal yang sepele, tetapi terlalu naïf untuk disepelekan.

Bagi seorang Adrie Subono, salah seorang perokok “berat” dan “dedengkot” event organizer di Jakarta, kesadaran itu dimulai dari keinginannya hidup “seribu tahun” agar dapat bercengkerama dan menggendong cucunya. Sebuah keinginan yang “sepele”, tetapi butuh perjuangan berat bagi Adrie Subono yang telah dipasangi 5 ring. Apakah Adrie Subono yang menganugerahi gelar sendiri “The Lord of the Rings” itu mampu hidup “seribu tahun” lagi?. Wallahu A’lam.

Menteng Raya, 9 Januari 2014

 
Leave a comment

Posted by on January 11, 2014 in Selasar

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: