RSS

Raja Kecil

14 Jan

Manusia selalu digambarkan sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang sangat kompleks, terutama dari segi akal dan qalbu. Akal manusia mampu memberdayakan manusia yang tidak memiliki sayap untuk dapat terbang sebagaimana unggas. Kedalaman laut pun lebih mudah diukur ketimbang kedalaman hati. Tetapi apakah memang manusia sebegitu njelimet?

Jika disederhanakan, semua manusia di muka bumi ini, dapat dipahami melalui 2 formula yang sederhana, yaitu “can do” dan “will do”. Can do menunjukkan kemampuan manusia untuk melakukan sesuatu. Sedangkan will do menjelaskan tentang kemauan manusia untuk melakukan sesuatu. Apa contoh nyata tentang can do dan will do?

Al kisah, perilaku manusia Indonesia di dalam dan di luar negeri bisa berbeda 180 derajat. Dalam tulisan ini saya mengambil contoh tentang penggunaan pembantu rumah tangga. Konon, kalau di dalam negeri, orang-orang Indonesia suka “berfoya-foya” menggunakan pembantu. Sangking murah gaji pembantu, mempekerjakan pembantu lebih dari 1 orang bukan hal yang langka. Keluarga yang menempati sebuah rumah tipe 36 pun sanggup mempekerjakan 2 orang pembantu.

Bagaimana profil keluarga Indonesia yang hidup di luar negeri? Hampir sebagian besar orang-orang Indonesia yang tinggal di luar negeri tidak mempekerjakan pembantu. Bukan karena tidak mau, tetapi lebih disebabkan karena tidak mampu membayar gaji pembantu.

Sejatinya, orang Indonesia lebih suka mempekerjakan pembantu. Bukan karena tidak mampu dan tidak sempat mengerjakan aneka pekerjaan rumah tangga, melainkan karena tidak mau mengerjakan sendiri.

Gaji pembantu yang relatif sangat rendah dan pekerjaan pembantu yang tidak dilindungi oleh undang-undang ketenagakerjaan merupakan blessing in disguise bagi sebagian besar orang Indonesia yang hidup di dalam negeri untuk berlomba-lomba mempekerjaan pembantu. Kesempatan itu digunakan oleh orang-orang Indonesia untuk menjadi raja kecil di rumah masing-masing.

Padahal, hubungan kerja antara pembantu dan majikan tak berbeda dengan hubungan antara buruh (istilah resmi yang digunakan dalam UU Ketenagakerjaan bukan karyawan dan pekerja. Tetapi karena sebutan buruh dianggap “kurang pantas” sebagaian besar perusahaan dan buruh lebih suka disebut sebagai karyawan dan atau pekerja) dengan pengusaha dan atau perusahaan.

Inti sari dari hubungan kerja adalah ada pekerjaan, ada perintah kerja, dan ada upah. Ketiga unsur tersebut juga ada dalam hubungan antara pembantu dengan majikan dalam sebuah rumah tangga. Jika sampai saat ini para pembantu belum mendapat perlindungan oleh undang-undang, itu disebabkan oleh “kutukan” peribahasa untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak.

Tetapi kesempatan emas untuk mempekerjakan pembantu di luar negeri tidak pernah ada. Sebagian besar orang yang kalau di Indonesia tidak mau mengerjakan pekerjaan rumah tangga, dipaksa oleh keadaan untuk mau mengerjakan sendiri semua tetek bengek urusan keluarga. Toh tidak ada kesulitan, karena sejatinya mereka adalah orang-orang yang mampu tetapi tidak mau mengerjakan pekerjaan rumah tangga sendiri.

Alih-alih menjadi raja kecil di luar negeri, justru tidak sedikit orang Indonesia yang sangat termotivasi untuk menjadi pembantu. Passion untuk menjadi pembantu sangat luar biasa. Salah satu profesi favorit orang Indonesia yang cari “sabetan” di luar negeri adalah menjadi DJ. Oops, bukan disc jockey, melainkan dish jockey, alias tukang curi piring (aneka barang-barang pecah belah), kuali, dan gentong berukuran “jumbo” di restoran-restoran.

Mengapa orang-orang Indonesia mau menjadi “jongos” di luar negeri? Jawaban paling sederhana adalah penghasilan dalam mata uang US Dollar dan atau Euro. Inilah penyakit khas warga negara dari sebuah negara yang nilai tukar mata uangnya selalu kalah telak dibandingkan dari negara-negara besar, bahkan dari negara jiran.

Alasan lain mengapa mau jadi “jongos” adalah karena tidak ada orang Indonesia yang melihat dan mengetahui. Bahkan, pada akhirnya orang lain mengetahui bahwa di luar negeri seseorang menjadi dish jockey setelah orang yang bersangkutan dengan perasaan bangga cerita sendiri. Jadi, tidak ada alasan untuk malu toh?

Tampak Siring, 14 Januari 2014

 
Leave a comment

Posted by on January 14, 2014 in Selasar

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: