RSS

Category Archives: Body | Mind | Soul

“God does not judge you according to your appearance and your wealth, but He looks at your hearts and looks into your deeds”. – Prophet Muhammad S.A.W.

The Great Pretender

Setelah mengikuti pelatihan meta-coaching pada bulan November yang lalu, saya merasa ada yang perlu saya lakukan untuk mendefinisikan ulang tentang “orang gila”. Tak hanya berhenti pada pendefinisian, saya bahkan juga harus siap menerima kenyataan jika kemudian saya termasuk dalam kategori “orang gila”.

Banyak hal yang saya pelajari tentang meta coaching, sebuah pendekatan neuro-semantics untuk memahami pikiran dan tubuh manusia yang digagas oleh L. Michael Hall dan Michele Duval. Tetapi tema yang mampu mengaduk-aduk dan memporakporandakan pemahaman saya tentang “body, mind, dan soul” adalah 4 istilah, yaitu Thinking, Feeling, Speaking, dan Behaving. Dalam bahasa Indonesia, Coach Mohammad Utoro, ACMC mengemasnya dalam singkatan PRUL (Pikiran, Rasa, Ucap, dan Laku).

Sejatinya, tidak ada hal yang baru dari TFSB/PRUL tersebut. Saat saya mengikuti pelatihan “Kubik Leadership” gagasan tentang TFSB/PRUL juga dibahas. Demikian pula dalam pelatihan Quantum Ikhlas, TFSB/PRUL adalah tema yang sangat penting. Dalam yoga yang berarti penyatuan antara diri (atman) dengan Brahman (Yang Maha Kuasa), pemahaman tentang TFSB/PRUL menjadi perhatian utama.

Jika tidak ada hal-hal yang baru, lalu apa yang “istimewa” dari TFSB/PRUL?. Selama ini, saya “kesulitan” untuk mendefinisikan tentang kesadaran. Berbagai definisi tentang kesadaran yang saya baca dari berbagai sumber dan pakar, bagi saya terlalu ribet dan rempong. Tetapi dengan menggunakan TSFB/PRUL, maka makna tentang kesadaran menjadi lebih mudah saya pahami.

Menurut pendapat subyektif saya, kesadaran adalah keadaan pada saat pikiran dan perasaan mengetahui, memahami, meyakini, menyetujui, dan bersedia bertanggung jawab atas ucapan dan perilaku.

Pada saat manusia mencapai keadaan sadar, ada koneksi, kebersamaan, dan keselarasan antara body (tubuh), mind (pikiran), dan soul (jiwa, atau saya lebih suka menyebut qalbu). Dalam keadaan sadar, pikiran dan jiwa berada dalam keadaan “berdaulat dan berkuasa” penuh terhadap tubuh.

BildImage courtesy of Lynne Meredith Golodner

Idealnya, manusia selalu dalam keadaan sadar setiap saat dan selama hayat dikandung badan, terutama setelah aqil-balik atau dewasa menurut pengertian umum. Setiap manusia harus selalu sadar karena kelak setiap manusia harus mempertanggungjawabkan perbuatannya. Dengan selalu sadar, maka ruang dan kesempatan untuk kesalahan dan melanggar perintah Tuhan dibatasi dan dikendalikan. Dengan selalu sadar, manusia kelak akan jauh menjadi lebih mudah untuk mempertanggungjawabkan setiap perbuatannya.

***

Apa hubungan antara kesadaran dan gila? Bagi saya pribadi, kesadaran tidak sekedar berarti siuman dan tidak sadar bukan sekedar berarti pingsan. Siuman dan pingsan hanya menggambarkan keadaan tubuh, tetapi tidak menggambarkan keadaan pikiran dan qalbu.

Bagi saya, manusia yang tidak sadar adalah orang gila. Selama ini, kita terbiasa mendefinisikan orang gila sebagai orang yang hilang ingatan, baik mereka yang dirawat di rumah sakit khusus orang-orang gila maupun orang-orang gila yang berkeliaran di jalan raya. Seolah-olah, saat ingatan sudah diketemukan kembali, orang-orang yang semula gila sudah dapat disebut sebagai orang “normal”.

Pemahaman orang gila seperti itu terlalu sempit. Bagi saya, manusia yang pikiran dan perasaannya tidak mengetahui, tidak memahami, tidak meyakini, dan tidak menyetujui apa yang diucapkan dan dilakukan, sudah dapat disebut orang gila. Jadi, meskipun tidak hilang ingatan, seseorang tetap saja menjadi orang gila selama ia tidak berada dalam kesadaran.

Jangan kaget jika orang-orang yang selama ini kita anggap sebagai orang-orang yang sehat jasmani dan rohani, setelah menggunakan definisi kesadaran yang saya gunakan, ternyata tidak lebih sebagai orang gila. Juga jangan kaget, jika orang-orang yang selama ini rajin dan tekun mengerjakan sholat 5 waktu dan semua sholat yang disunahkan untuk dikerjakan, setelah menggunakan definisi kesadaran yang saya gunakan, ternyata adalah orang gila yang paling “top markotop”.

Untuk memudahkan memahami bahwa manusia yang tidak sadar adalah manusia gila, saya meminjam contoh pelaksanaan ibadah sholat. Dalam buku Tuntunan Sholat lengkap, Ustadz Abdurrahim menjelaskan sebagai berikut : “shalat dalam bahasa Arab adalah do’a. Menurut istilah syara’, shalat ialah ibadah kepada Allah dalam bentuk beberapa perkataan dan perbuatan yang dimulai dengan takbir dan diakhiri dengan salam yang dilakukan menurut syarat-syarat yang telah ditentukan syara’.”

Tentu saja perkataan dan perbuatan yang dilakukan dalam shalat bukan abal-abal. Harus ada kesadaran saat manusia mengucapkan ikrar “Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidup dan matiku semua hanya untuk Allah, Tuhan seru sekalian alam.” Pikiran dan perasaan manusia harus secara pasti mengetahui, memahami, meyakini, dan menyetujui saat mengucapkan “tunjukilah kami jalan yang lurus”.

Artinya, setelah shalat, manusia tetap harus dalam keadaan sadar. Pikiran dan perasaan manusia harus memastikan bahwa ucapan dan perilaku yang ditunjukkan harus sesuai dengan ikrar dan permohonan yang telah disampaikan di dalam shalat. Bagaimana jika setelah shalat manusia tidak dalam kesadaran?

Sebutan apa yang pantas diberikan kepada manusia yang pikiran dan perasaannya tidak mengetahui, memahami, meyakini, dan menyetujui saat ia mengucapkan do’a iftitah? Prediket apa yang pantas disandang oleh manusia yang memohon diberikan petunjuk jalan yang lurus, tetapi pikiran dan perasaannya tidak mengetahui, memahami, meyakini, dan menyetujui perbuatan yang dilakukan? Menurut hemat saya, tidak ada sebutan yang lebih pantas kecuali sangat gila dan sangat kurang ajar.

Orang-orang yang tidak sadar saat sekedar mengerjakan shalat, sejatinya tidak sedang mendirikan shalat. Karena pikiran dan perasaannya belum tentu mengetahui, memahami, meyakini, dan menyetujui perkataan dan perbuatan yang dilakukan selama shalat.

Itulah sebabnya seseorang yang sudah beristri dan mengerjakan shalat, bahkan mengerjakan rukun Islam secara lengkap, masih juga “jajan” dan “dokter-dokteran” bersama perempuan lain tidak dalam ikatan perkawinan. Warna Warna hitam yang membekas di kening seseorang sama sekali bukan pertanda bahwa orang-orang yang mengerjakan shalat adalah manusia yang sadar.

Itulah sebabnya seorang pejabat yang sudah mengucapkan sumpah jabatan dan menandatangani pakta integritas masih juga melakukan tindak pidana korupsi. Sumpah jabatan dan pakta integritas tidak ada apa-apanya dan tidak sekuat ikrar yang diucapkan pada saat mengerjakan shalat. Kalau kepada Tuhan saja manusia berani kurang ajar, apalagi kepada rakyat, bangsa dan negara.

Kalau kepada Tuhan saja manusia sudah terbiasa dan merasa biasa-biasa saja berbohong, apalagi kepada orang lain. Kalau kepada Tuhan saja manusia sudah terbiasa dan merasa biasa-biasa saja berpura-pura, apalagi kepada orang lain. Sejatinya, setiap manusia yang tidak sadar, adalah the great pretender.

***

Menurut pendapat subyektif saya, semua pendidikan mulai dari pendidikan dalam keluarga, sekolah, maupun pendidikan agama, berusaha untuk menfasilitasi agar manusia menemukan, mencapai, dan selalu mempertahankan kesadaran dalam menjalankan hidup.

Pendidikan bukan untuk membuat manusia menjadi takut dan hitung-hitungan. Saya tidak mengerti mengapa manusia selalu ditakuti-takuti dengan neraka. “Survei membuktikan” bahwa dengan selalu ditakut-takuti, manusia tidak juga menemukan kesadaran. Alih-alih takut, manusia justru tidak jera mempermainkan Tuhan.

Demikian juga “iming-iming” pahala dan surga, hanya menjerumuskan orang menjadi pandai dalam hal hitung-hitungan balasan yang akan diterima dari Tuhan. Iming-iming pahala dan surga tidak berhasil memfasilitasi manusia mencapai kesadaran untuk beribadah. Ibadah dikerjakan lebih atas dasar motivasi transaksional.

Kontribusi pendidikan (keluarga, sekolah, dan agama) dalam hal mencerdaskan otak manusia tak perlu diragukan. Tetapi kontribusi pendidikan (keluarga, sekolah, dan agama) dalam hal membentuk manusia yang sadar setiap saat dan sepanjang hayat di kandung badan, masih menyisakan tanda tanya besar.

Mengapa manusia tidak mau dan tidak mampu sadar setiap saat selama hayat di kandung badan? Sepengetahuan saya, hal itu disebabkan kegagalan, keengganan, kemalasan, ketidakmauan, dan ketidakmampuan manusia “menghadirkan” Tuhan dalam kehidupannya setiap hari dan setiap saat. Bahkan, pada saat melaksanakan kewajiban ibadah formal, manusia masih juga gagal “menghadirkan” Tuhan.

Tampak Siring, 14 Desember 2013

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on December 14, 2013 in Body | Mind | Soul

 

Fear Motivation

Sejujurnya, saya  sama sekali tidak tertarik mendengarkan atau mengikuti ceramah tentang agama yang isinya hanya halal dan haram, pahala dan dosa, dan surga dan neraka.  Mengapa harus menggunakan metode fear motivation? Apakah tidak ada metode lain yang lebih membuat suasana lebih fun dan hati menjadi tenang?

Secara umum, dari sejak SD sampai saat ini, metode pengajaran agama yang mengandalkan fear motivation masih dipertahankan. Padahal, “Fear motivation coercions a person to act against will. It is instantaneous and gets the job done quickly. It is helpful in the short run.” (www.laynetworks.com).  Pertanyaannya :

  • Apakah pernah diadakan penelitian, bahwa metode fear motivation menghasilkan kehidupan beragama yang lebih baik?
  • Apakah terbukti bahwa metode tersebut berhasil mengantarkan manusia menjadi saleh dan saleha?
  • Apakah  sudah terbukti bahwa metode fear motivation berhasil menjadikan manusia naik tingkat ke jenjang yang lebih tinggi : dari muslimin, mukminin, mustaqim, mukhlisin, sampai muttaqien?

Jika memperhatikan sikap dan perilaku di jalan raya, sulit untuk mengatakan bahwa metode fear motivation berhasil menjadikan manusia lebih baik. Metode fear motivation juga tidak mampu mengendalikan laju pertumbuhan tindak pidana korupsi.

Metode membuat orang menjadi “jinak” dengan cara menakut-nakutin juga tidak mempan terhadap “ABG” (Academician, Businessman, dan Government). Bahkan Good Corporate Governance, Good Governance, dan berbagai Pakta Integritas tidak membuat “ABG” menjadi lebih baik. Entah berapa Kepala Daerah aktif yang terjerat kasus korupsi dan terbukti bersalah. Entah berapa menteri (dan mantan menteri) yang sudah dinyatakan bersalah di sidang Tipikor.

Bahwa metode fear motivation tidak menjadikan kehidupan beragama manusia menjadi lebih baik, bukan berarti metode tersebut salah. Juga tidak salah untuk melulu berceramah tentang halal haram, pahala dosa, dan surga neraka.

Picture courtesy of http://www.babiestoday.info

Analoginya adalah seorang ibu yang memberi makan dan minum susu kepada bayi. Jika si bayi menolak, sulit untuk makan atau minum susu, si ibu bisa saja menjelaskan kepada si bayi berbagai teori gizi dan kesehatan. Misalnya, si ibu mengatakan kepada si bayi bahwa “menurut penelitian ilmiah di negara-negara maju, makanan X,Y,Z mengandung vitamin-vitamin yang dibutuhkan untuk pertumbuhan. Atau, menurut Prof. DR. Bla Bla Bla, susu “ABC” mengandung berbagai vitamin untuk pertumbuhan dan daya tahan tubuh.”

Tidak ada yang salah dari isi penjelasan si ibu. Tetapi penjelasan seperti itu sama sekali tidak diperlukan. Apalagi, kemudian si ibu memaksa dan mengintimidasi si bayi. Bayi akan makan dan minum susu karena memang ia membutuhkannya dan fun, bukan karena ia berpikir bahwa jika ia makan dan minum susu maka ia akan menjadi sehat dan cepat tumbuh menjadi besar.

Tampak Siring,  1 Februari 2012

 
Leave a comment

Posted by on December 5, 2013 in Body | Mind | Soul

 

Where Do I Begin?

Lao Tzu mengatakan bahwa “a journey of a thousand miles begins with a single step”. Pertanyaannya : dari mana memulainya? Langkah pertama selalu penting, tetapi langkah pertama tidak akan pernah terjadi tanpa tujuan yang pasti. Tujuan lah yang menentukan langkah pertama, dan bukan langkah pertama yang akan menentukan proses dan hasil akhir.

Tujuan harus ditetapkan terlebih dahulu sebelum melakukan aktivitas dan proses apapun. Itulah sebabnya, mengapa “begin with end in the mind” sangat penting bagi setiap orang. Dalam bukunya yang berjudul 7 Habits of Highly Effective People, Stephen R. Covey (2001 : 98) menjelaskan sebagai berikut :

To begin with the end in mind means to start with a clear understanding of your destination. It means to know where you’re going so that you better understand where you are now and so that the steps you take are always in the right direction.”

Mengetahui tujuan akhir adalah penting. Tanpa memahami tujuan yang akan dicapai, manusia tidak tahu ke mana akan melangkah. Manusia juga perlu membedakan antara tujuan dan konsekuensi.

Surga dan neraka bukan tujuan, melainkan konsekuensi. Surga dan neraka adalah reward dan punishment dari semua perbuatan yang telah di lakukan manusia di muka bumi. Pahala dan dosa juga bukan tujuan, melainkan konsekuensi dari perbuatan manusia, benar atau salah.

Tujuan manusia adalah kembali kepada Allah SWT. Tujuan manusia adalah mempertanggungjawabkan amanah yang telah dilaksanakan. Analoginya, manusia harus menghadapi semacam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa sekali dalam hidupnya. Dalam “RUPS” tersebut, manusia memberikan laporan pertanggungjawaban kepada “Pemegang Saham” (baca : Allah SWT) tentang amanah yang telah dijalankannya.

Amanah apa yang harus dipertanggungjawabkan manusia kepada Penciptanya? Ada 4 hal yang harus dipertanggungjawabkan manusia. Dalam sebuah hadits riwayat Abu Dawud, Rasulullah saw. Bersabda :

“Seseorang pada Hari Akhir nanti pasti akan ditanya tentang empat hal : usianya untuk apa dihabiskan, jasmaninya untuk apa dipergunakan, hartanya dari mana didapatkan dan untuk apa dipergunakan, serta ilmunya untuk apa dia pergunakan.”

Manusia lebih terlatih untuk membuat rencana stratejik perusahaan daripada rencana stratejik kehidupan pribadi. Padahal, memiliki rencana stratejik pribadi sama pentingnya – atau bahkan lebih penting – dibandingkan rencana stratejik kehidupan perusahaan.

Image of KRI Dewaruci courtesy of http://www.siradel.blogspot.com

Misi dan Visi

Begin with end in the mind berarti menetapkan misi dan visi kehidupan. Misi dan Visi lebih sering ditemukan di tingkat negara, perusahaan, organisasi dan pimpinan (kepala negara, kepala daerah, pimpinan perusahaan, pimpinan organisasi dan lain sebagainya). Pada dasarnya, masing-masing orang juga boleh-boleh saja – bahkan harus – memiliki misi dan visi.

Sebagai pembanding, definisi misi dan visi untuk perusahaan adalah sebagai berikut :

  • Mission : defines the business , the needs of covering their products and services, the market in which it is developed and the public image of the company.

The mission of the company is the answer of the question : why does the organization exists?

  • Vision : defines and describes the future situation that a company wishes to have, the intention of the vision is to guide, to control and to encourage the organization as a whole to reach the desirable state of the organization.

The vision of the company is the response to the question of: What do we want our organization to be? (www.webandmacros.net)

Jika misi dan visi “ditarik” ke tingkat tingkat individu, maka pertanyaan yang dapat diajukan untuk misi adalah “untuk apa tujuan keberadaan manusia di muka bumi?” dan untuk visi adalah “manusia seperti apakah yang akan diwujudkan”.

Misi dan visi sangat penting bagi manusia. Sebab, misi dan visi mempertanyakan tentang tujuan dan manfaat keberadaan manusia di muka bumi dan target jatidiri manusia yang akan diwujudkan selama di muka bumi.

Tanpa misi dan visi, maka manusia tidak memiliki arah yang jelas untuk menjalankan berbagai aktivitas di muka bumi, dan dari mana ia harus memulai melangkah. Dengan memiliki misi dan visi yang jelas, maka manusia memiliki arah yang jelas akan ke mana ia akan menuju, dan aktivitas apa saja harus dan akan dilakukannya untuk merealisasikan misi dan visinya.

 

Bagaimana Menyusun Misi dan Visi Pribadi?

Menurut pendapat subyektif saya, misi dan visi setiap manusia di muka bumi adalah sama. Demikian juga nilai-nilai yang harus menjadi pedoman untuk menjalankan misi dan mencapai visi manusia. Semua sudah ditetapkan oleh Allah SWT.

Dalam Al-Qur’an telah disebutkan misi manusia sebagai berikut :

  • “Sesungguhnya Aku ingin menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” (Qs. Al-Baqarah [2]: 30)
  • “Dan Dia-lah yang menjadikanmu para khalifah di bumi.” (Qs. Al-An’am [6]: 165)
  • “Katakanlah, “Sesungguhnya shalat, ibadah, hidup, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.” (Qs. Al-An’am [6]: 162)
  •  “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.” (Qs. Al-Dzariyyat [56]: 56)

Sedangkan visi manusia adalah menjadi manusia bertakwa. Visi manusia  dapat dipahami dari firman Allah SWT dalam kitab suci Al-Qur’an sebagai berikut : “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kalian dan seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kalian saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kalian. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”(QS Al Hujuraat (49): 13).

Perbedaan manusia dalam hal jenis kelamin, suku, warna kulit, bahasa, kebudayaan dan lain sebagainya tidak menjadikan manusia memiliki misi dan visi yang berbeda-beda. Perbedaan manusia adalah dalam hal “how to” atau bagaimana merealisasikan misi dan visi yang telah ditetapkan oleh Allah SWT.

Setiap manusia boleh berbeda  dalam hal strategi dan rencana kerja untuk mejalankan misi dan mencapai visi. Setiap manusia diberikan kebebasan untuk membuat strategi dan rencana kerja masing-masing untuk merealisasikan misi dan visi. Demikian juga setiap orang bebas untuk menentukan timeframe (penjadualan) dan sumberdaya yang digunakan untuk mencapai misi dan visi. Dengan menggunakan hati dan akalnya, manusia juga diberikan kebebasan untuk menentukan pendekatan dan metode untuk merealisasikan misi dan visi.

Manusia “hanya” diberikan “kisi-kisi” bagaimana untuk merealisasikan misi dan visi yang menjadi amanahnya. Perhatikan sabda Rasulullah SAW dalam dua hadits berikut :

  • ”Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang sholeh”. (HR: Bukhari dalam shahih Bukhari kitab adab, Baihaqi dalam kitab syu’bil Iman dan Hakim).
  • ”Sebaik-baik manusia diantaramu adalah yang paling banyak manfaatnya bagi orang lain” (HR. Bukhari).

Media dan kesempatan untuk menjadi manusia berakhlak mulia dan menjadi manusia yang bermanfaat bagi orang lain tak terhitung jumlahnya. Mulai dari sekedar menyingkirkan paku di jalan raya, menyantuni anak-anak yatim piatu dan kaum dhuafa, mendirikan fasilitas pendidikan dan kesehatan untuk masyarakat, dan lain sebagainya.

Dalam beramal saleh, jumlah bukan hal yang penting. Keikhlasan menjadikan amal saleh seseorang lebih berkualitas. Sebagaimana dikatakan oleh Al-Ghazali : “Semua orang akan rusak, kecuali orang yang berilmu. Orang yang berilmu pun akan rusak, kecuali orang yang beramal. Orang yang beramal pun akan rusak, kecuali yang ikhlas.”

Tampak Siring, 28 Februari 2012

 
Leave a comment

Posted by on December 4, 2013 in Body | Mind | Soul

 

Telling or Sharing

Ada kecenderungan manusia untuk selalu lebih dari orang lain : lebih baik, lebih pintar, lebih kaya, lebih terhormat, lebih santun, dan sebagainya. Kecenderungan untuk lebih dari orang lain itulah kemudian yang seringkali dimanfaatkan oleh berbagai iklan.

Perhatikan kalimat-kalimat dari berbagai tips, rekomendasi, dan berbagai penawaran pelatihan (training).

  • “Seni Memotivasi Tim Anda”
  • “Seni Untuk Menjadi Pemimpin Yang Visioner”
  • “Seni Untuk Mempengaruhi dan Meyakinkan Orang Lain”.

Terhadap ketiga “kalimat seni” tersebut saya bertanya-tanya : bagaimana orang dapat memotivasi orang lain kalau memotivasi dirinya sendiri tidak bisa; bagaimana orang dapat memimpin orang lain kalau memimpin dirinya sendiri tidak bisa; dan bagaimana orang dapat meyakinkan orang lain kalau dirinya sendiri tidak pernah pe-de (percaya diri).

Menempatkan diri “lebih” dibandingkan orang lain adalah kesombongan, dan kesombongan adalah salah satu sumber dari kejahatan.

Pada awalnya Qabil dan Habil adalah manusia baik-baik. Maklum, babe mereka adalah Nabi Adam A.S. Qabil punya saudari kembar yang bernama Iqlima, dan Habil punya saudari kembar yang bernama Lubuda. Iqlima berparas lebih cantik ketimbang Lubuda.

Nabi  Adam A.S. mendapat petunjuk dari Allah SWT untuk menikahkan kedua putranya, Iqbal akan dinikahkan dengan Lubuda, dan Habil akan dinikahkan dengan Iqlima. Keputusan tersebut ditolak Qabil yang menurutnya lebih pantas menikah dengan saudari kembarnya sendiri Iqlima yang lebih cantik. Singkat cerita, untuk memuluskan kemauannya, Qabil membunuh Habil.

Angkuh, Iri, Dengki, dan Sombong (AIDS) telah menuntun sikap dan perilaku Qabil. Betapa besar (dan berbahaya) pengaruh dan akibat yang ditimbulkan AIDS terhadap hati manusia.

Masyarakat di manapun di dunia mendambakan kemerdekaan, persamaan, dan persaudaraan. Perbedaan hanya dalam istilah bahasa yang digunakan. Orang Perancis menyebutnya sebagai Liberté, égalité, fraternité. Orang Inggris menyebut ketiganya sebagai Liberty, equality, fraternity. Sementara orang Jerman menyebut ketiganya dengan istilah Freiheit, Gleichheit, Brüderlichkeit. Subtansinya tetap sama, hanya berbeda istilah.

Saya lebih suka menggunakan istilah sharing daripada telling. Dalam sharing tidak ada superordinasi dan subordinasi, semua pihak “duduk sama rendah dan berdiri sama tinggi”. Sementara dalam telling, ada situasi salah satu pihak lebih tinggi dan pihak lain lebih rendah.

Lebih penting lagi adalah kesadaran memahami bahwa setiap benda selalu mengandung dua hal, yaitu energi (positif dan negatif) dan informasi. Dalam pandangan subyektif saya, sharing lebih mengandung energi positif dan telling lebih menebarkan energi negatif.

Dalam proses penyucian hati agar tetap dalam kondisi sesuai fitrahnya (suci, tenang dan ikhlas), kata sharing lebih tepat digunakan. Tidak ada seorang pun yang mengetahui tingkat kesucian hati masing-masing. Manusia hanya mengetahui, bahwa ia (sendiri atau bersama-sama orang lain), sedang dalam proses penyucian diri.

Setiap orang mungkin memiliki alat dan metode yang berbeda untuk mensucikan hatinya. Demikian pula pengalaman “jatuh bangun” mensucikan hati.  Pengalaman masing-masing orang itulah yang disharing, bukan telling (dalam konteks mengajari orang lain).

Di hadapan Allah SWT, perbedaan manusia adalah tingkat ketakwaan. Tidak ada satupun manusia yang mengetahui tingkat ketakwaannya. Manusia juga tidak mengetahui apakah alat, metode dan proses yang ditempuhnya sungguh-sungguh efisien dan efektif mengantarkannya ke derajat ketakwaan. Tidak ada yang bisa telling (baca : mengajari) orang lain bagaimana caranya bertakwa. Tetapi setiap orang, tanpa memandang status sosial ekonomid dan latar belakangnya, dapat sharing pengalamannya menuju ketakwaan.

Tampak Siring, 10 Februari 2012

 
Leave a comment

Posted by on December 1, 2013 in Body | Mind | Soul

 

Goyang Lidah

Bagi kebanyakan orang Indonesia, kepuasan makan dinyatakan dalam tiga kata, yaitu : “maknyus”, “euunaaak tenan”, dan “nendang”. “Maknyus” dan “euunaaak tenan” berhubungan dengan lidah. Sedangkan “nendang” berada dalam “teritorial” perut. Bagi orang Indonesia, belum dikatakan makan kalau lidah belum bergoyang.

Konon, tidak ada pekerjaan yang lebih sulit selain daripada  menjadi ahli gizi olahragawan Indonesia. Dalam hal makan, atlit Indonesia terkenal paling “bawel” dan “sulit diatur”. Lebih  mudah adalah menjadi ahli gizi rumah sakit. Sebab, maknyus atau tidak, enak atau tidak enak, nendang atau tidak nendang, pasien tetap wajib makan. Bagi pasien, memilih makan melalui mulut lebih realistis ketimbang menerima asupan melalui infus.

Berbeda dengan selera atlit Indonesia (“atlit domestik”). Atlit kan juga manusia.  Kriteria maknyus, enak tenan, dan nendang lebih atraktif ketimbang penjelasan tentang kandungan gizi atau kalori dalam makanan khusus olahragawan.

Perbandingan tingkat kedisiplinan atlit domestik dan atlit mancanegara  dalam hal makan “makanan khusus olahragawan/wati” memang bagaikan bumi dan langit. Singkat kata, bagi atlit  mancanegara, substansi makan adalah kecukupan kalori. Sedangkan bagi atlit domestik, makan adalah urusan sensasi.

Adalah sifat dasar dari manusia cenderung sulit untuk mengendalikan makanan. Mungkin tidak sulit bagi orang untuk menghindari makanan yang tidak halal. Tetapi untuk menjadi sehat, makan makanan halal saja tidak cukup. Halal dan thayiban (baca : baik dan bermanfaat bagi kesehatan)  adalah “satu paket”.

Makanan yang dihalalkan oleh agama dan diperoleh melalui proses yang halal, tidak serta merta makanan tersebut thayiban bagi seseroang. Ironisnya, kebanyakan manusia tidak mengetahui makanan yang thayiban, terutama utnuk dirinya sendiri. Manusia baru mengetahui bahwa makanan tertentu tidak thayiban setelah menderita penyakit tertentu.

Sebagai contoh, kacang-kacangan adalah makanan yang halal. Karena harganya yang relatif tidak mahal, tidak sulit bagi orang untuk membeli kacang-kacangan dari penghasilan yang halal. Meskipun demikian, makanan tersebut tidak lagi thayiban bagi orang yang menderita asam urat.

Kecuali tidak mengetahui makanan yang thayiban bagi dirinya, biasanya manusia juga sulit dilarang untuk tidak makan atau minum yang tidak thayiban bagi kesehatannya. Justru kelemahan manusia adalah tidak mampu mengendalikan keinginannya untuk makan dan minum yang tidak sesuai dengan kesehatannya. Sejatinya, Tuhan tidak mencoba dan menguji kekuatan manusia, tetapi justru mencoba dan menguji manusia di kelemahannya.

Mungkin tidak mudah untuk mengetahui makanan apa saja yang thayiban untuk diri kita. Rekomendasi diet sesuai dengan golongan darah mungkin juga sulit untuk dilaksanakan. Meskipun demikian, kita tidak perlu khawatir. Selalu ada solusi dan cara mudah untuk mengatasi berbagai masalah kehidupan.

Salah satu solusi dan cara mudah untuk hidup sehat sembari memanjakan diri dengan wisata kuliner adalah memahami dan melaksanakan beberapa tips sebagai berikut :

Pangeran, Raja dan Pengemis

Anda doyan makan dan tetap ingin sehat? Jangan cemas, ikuti saja nasehat dalam peribahasa “breakfast like a prince, lunch like a king, dine like a pauper.” Lakukan saja “makan pagi seperti pangeran, makan siang seperti raja, dan makan malam seperti pengemis.”

Peribahasa tersebut mengingatkan bahwa kebutuhan kalori manusia untuk pagi hari, siang hari dan malam hari sangat berbeda. Kebutuhan kalori di pagi hari sedang-sedang saja (karena itu makanlah seperti pangeran). Kebutuhan kalori di siang hari relatif lebih banyak dibandingkan siang dan malam hari (karena itu makanlah seperti “raja”). Sedangkan kebutuhan kalori di malam hari relatif sedikit dibandingkan (karena itu makanlah seperti “pengemis”).

Peribahasa tersebut juga dapat dipahami dari siklus pencernaan. Pagi hari, kegiatan utama sistem pencernaan adalah pembuangan. Karena itu, disarankan untuk tidak makan dalam porsi yang besar sehingga energi dapat fokus pada pembuangan. Kegiatan utama sistem pencernaan pada siang hari adalah pembakaran. Karena itu, makan dalam porsi relatif banyak tidak masalah. Sistem pencernaan akan segera bekerja membakar lemak dan memanfaatkan kalori yang masuk untuk menunjang aktivitas manusia. Sedangkan pada malam hari, kegiatan utama sistem penceranaan adalah pengendapan. Pada malam hari kebutuhan kalori juga tidak relatif banyak. Karena itu, makan dalam porsi dan kalori yang tepat akan sangat membantu sistem pencernaan fokus pada kegiatan pengendapan.

Hewan Berkaki dan Tidak Berkaki

Ketika bekerja di perusahaan offshore catering, sahabat-sahabat saya seringkali mengingatkan agar selalu mengingat formula “hewan berkaki dan tidak berkaki”. Menurut sahabat-sahabat saya, mengendalikan kebiasaan makan bukan hal yang sulit. Rumus dasarnya adalah sebagai berikut : seiring dengan bertambah usia, kurangi porsi makan makanan dari hewan berkaki menjadi hewan tidak berkaki”.

Saat balita sampai dengan mahasiswa, memakan makanan dari hewan berkaki empat tidak akan menjadi masalah besar. Tubuh masih dalam proses pertumbuhan dan banyak aktivitas,  Tetapi saat sudah bekerja, tubuh sudah melewati masa pertumbuhan dan mobilitas fisik semakin kurang. Pada saat sudah bekerja, makan makanan dari hewan berkaki dua lebih baik. Semakin tua, sebaiknya makan makanan hewan yang tidak berkaki.

Mengapa demikian? Sebab, kandungan protein dan lemak hewan berkaki empat lebih besar dibandingkan dengan hewan berkaki dua dan hewan tidak berkaki. Demikian juga kandungan protein dan lemak hewan berkaki dua relatif lebih banyak dibandingkan dnegan hewan tidak berkaki.

Pada saat pertumbuhan dan aktivitas manusia masih tinggi, kebutuhan protein dan lemak juga masih banyak. Seyogyanya manusia menyesuaikan diri mengurangi makanan yang memiliki kandungan protein dan lemak tinggi seiring bertambah umur dan berkurangnya mobilitas fisik.

Kendalikan “GAM”

Sumber masalah besar bagi kesehatan manusia adalah gurih, asin dan manis. Gurih berasal dari minyak, asin dari garam, dan manis dari gula. Berbagai penyakit yang diderita manusia asal-usulnya berasal dari minyak, garam, dan gula. Nasehat untuk hidup sehat “tidak akan lari” dari ajakan untuk mengendalikan GAM.

Sebagai contoh penyakit diabetes melitus (DM). Cara terbaik untuk menyembuhkan penyakit DM adalah mengurangi makanan dan minuman yang mengandung kadar gula relatif tinggi.  Tentu saja ada metode pengobatan lainnya. Tetapi lebih mudah untuk mengatasi segala sesuatu dengan cara menghilangkan sumber penyakit. Singkat kata, di mana masalahnya, di situ solusinya.

Tampak Siring, 22 Januari 2012

 
Leave a comment

Posted by on May 21, 2013 in Body | Mind | Soul

 

Hati Yang Bergetar

Men go abroad to admire the heights of mountains, the mighty billows of the sea, the broad tides of rivers, the compass of the ocean, and the circuits of the stars, and pass themselves by. – Saint Augustine

***

Dalam salah satu episode acara Mario Teguh Golden Ways (“MTGW”), seorang ibu yang menjadi peserta MTGW tersebut, bertanya kepada “Super Mario” Teguh (Super Mario adalah panggilan akrab untuk Mario Balotelli, pesepakbola Italia). Inti pertanyaannya sebagai berikut : “bagaimana cara untuk mengetahui bahwa diri kita adalah orang yang baik.” Jawaban “Super Mario”  kurang lebih sebagai berikut :

“Jika anda seorang ibu dan mempunyai anak laki-laki, pastikan pada saat ini anda secara spontan berdo’a kepada Tuhan Yang Mahakuasa. Mohonlah kepadaNya agar anak laki-laki anda, kelak diberikan isteri yang takwa dan berakhlak mulia seperti diri anda. Jika anda seorang bapak dan mempunyai anak perempuan, pastikan pada saat ini anda secara spontan berdo’a kepada Tuhan Yang Mahakuasa agar anak perempuan anda, kelak diberikan suami yang bertakwa dan berakhlak mulia seperti anda.”

Tidak ada pertanyaan ataupun sanggahan dari para peserta MTGW. Semua peserta hanya tersenyum malu. Barangkali, suatu pertanda bahwa mereka “kena batu”nya. Jika ingin tahu apakah diri kita adalah orang “baik” atau orang “jahat”, tanyalah diri sendiri. Tidak perlu bertanya kepada orang lain. Juga tidak perlu mengadakan perbandingan dengan orang lain.

Pada dasarnya, kecenderungan manusia adalah tidak suka orang lain mengatakan dirinya “jahat”. Manusia lebih suka orang lain mengatakan dirinya “baik”. Tetapi, manusia lebih siap dan ikhlas untuk mengakui dalam hatinya (tetapi tidak mengatakan secara verbal), bahwa dirinya sendiri “bukan orang baik”.

Informasi tentang apakah seseorang adalah “baik” atau “jahat”  sudah ada dalam hati setiap manusia. Tidak perlu bertanya kepada orang lain. Tidak perlu menunggu setahun untuk mengadakan pemeriksaan keadaan hati. Setiap hari, bahkan setiap saat, setiap manusia diberikan kemampuan untuk self-assessment.

Sesungguhnya  orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila  disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya) dan kepada Tuhan-lah mereka bertawakal.” (QS : Al Anfal 2)

Jadi, kepada setiap manusia, Allah SWT telah memberikan kapabilitas dan akses untuk mengetahui kualitas hatinya. Bahkan, Allah SWT memberikan “wild card” agar setiap manusia mampu untuk menilai dirinya sendiri, apakah dirinya telah beriman dan bertawakal.

Ketika diserahterimakan kepada manusia, fitrah hati adalah suci, tenang, dan ikhlas. Adalah tugas manusia untuk tetap memelihara hati sesuai dengan fitrahnya yang suci, tenang dan ikhlas. Jika suatu saat diminta kembali oleh Pemiliknya – bahkan setiap saat –  manusia harus ikhlas dan siap mengembalikannya sebagaimana fitrahnya.

Masalahnya, manusia suka berulah. Manusia suka mengadakan traveling ke berbagai penjuru dunia, apapun risiko dan berapapun biayanya, manusia siap menanggungnya. Tetapi tidak demikian halnya perlakuan manusia terhadap hatinya sendiri. Hati ada dalam diri manusia. Tetapi hati adalah tempat yang sangat jarang dikunjungi oleh manusia.

Tidak salah jika Dag Hammarskjold mengatakan bahwa “the longest journey is the journey inwards. Of him who has chosen his destiny, Who has started upon his quest for the source of his being.”

Senopati, 2 Mei 2013

 
Leave a comment

Posted by on May 2, 2013 in Body | Mind | Soul

 

Perjalanan Ke Dalam Hati

Jika disederhanakan, ada 3 syarat untuk mengadakan perjalanan wisata, yaitu : sehat, waktu, dan uang. Ketiga syarat tersebut harus ada secara bersama-sama. Jika tidak, maka tidak ada perjalanan wisata. Kalaupun dipaksakan, kemungkinan tidak akan nyaman.

Bagi saya, faktor paling penting adalah kesehatan. Ada waktu dan ada uang tidak ada manfaatnya jika jasmani dan rohani tidak sehat. Jika tidak sehat, maka manusia tidak bisa berbuat banyak dan pergi ke mana-mana.

Jika jasmani dan rohani tidak sehat, maka tidak ada lagi perbedaan antara orang kaya dan miskin. Orang kaya, meskipun punya uang dan waktu banyak, tetapi tidak sehat, tetap tidak bisa berbuat banyak  dan pergi  ke mana-mana. Demikian juga orang miskin, meskipun sehat dan punya banyak waktu, tetapi jika tidak punya uang, juga tidak bisa berbuat banyak  dan tidak bisa pergi ke mana-mana.

Betapa tipis perbedaan antara orang kaya dan orang miskin. Salah satu dari ketiga faktor tersebut tidak ada (misalnya orang kaya tidak sehat dan orang miskin tidak punya uang), maka sejatinya tidak ada perbedaan antara orang kaya dan miskin.

Nah, itu tentang persyaratan perjalanan wisata ke luar diri manusia atau wisata di muka bumi. Bagaimana dengan perjalanan ke dalam diri manusia?. Hampir tidak ada syarat sama sekali. Latar belakang status sosial ekonomi sama sekali tidak berpengaruh terhadap perjalanan menuju ke dalam diri manusia. Ironisnya, manusia jarang mengadakan perjalanan ke dalam dirinya sendiri.

Manusia aktif mengadakan perjalanan wisata ke  berbagai daerah dan negara untuk mengunjungi obyek wisata yang menarik. Kadang-kadang, perjalanan wisata ke luar negeri dianggap sebagai simbol status, dan karena itu lebih bergengsi atau berkelas.

Untuk “mendongkrak” status sosial, kemudian orang mejeng di depan obyek-obyek wisata, dan tentu saja dipotret. Semakin berkelas obyek wisata yang dikunjungi, maka semakin sering “mejeng”, dan semakin banyak foto-foto kenangan.

 

Perjalanan Ke Dalam Hati

Saint Augustine pernah mengatakan : “men go abroad to wonder at the heights of mountains, at the huge waves of the sea, at the long courses of the rivers, at the vast compass of the ocean, at the circular motions of the stars, and they pass by themselves without wondering.”

Senada dengan itu, Dag Hammarskjold mengatakan  : “the longest journey is the journey inwards. Of him who has chosen his destiny, who has started upon his quest for the source of his being.”

Image courtesy of Microsoft Clip Organizer

Jarang sekali manusia mengadakan perjalanan wisata menuju ke dalam hati. Perbandingan ekstrimnya adalah perjalanan wisata di muka bumi sudah tidak terhingga, sementara perjalanan ke dalam hati masih bisa dihitung dengan jari-jari sebelah tangan.

 

Diskriminatif dan Tidak Adil

Sejatinya, manusia sudah bertindak diskriminatif dan tidak adil kepada dirinya sendiri. Perlakuan terhadap tubuh fisik dan hati sangat bertolak belakang. Tubuh mendapatkan perlakuan istimewa, sementara hati diperlakukan seperti “anak tiri”.

Manusia mati-matian menjaga keindahan tubuh. Kulit hitam diputihkan. Kulit yang sudah putih dipoles sedemikan rupa agar menjadi berwarna kecoklat-coklatan. Wajah yang sudah cantik tetapi berhidung pesek dibawa ke meja operasi agar menjadi lebih mancung.

Kesehatan tubuh juga mendapatkan perhatian istimewa. Manusia – tentu saja mereka yang punya uang – tidak segan-segan menggelontorkan uang untuk general medical check-up di luar negeri (apalagi  kalau dibayar oleh perusahaan). Obat apapun ditelan agar tubuh menjadi sehat.

Bagaimana dengan perlakuan manusia terhadap hati. Tidak ada sepersenpun uang, waktu dan energi yang dialokasikan oleh manusia untuk memelihara fitrah hati. Jangankan merawat hati, berkunjung ke dalam hati pun manusia tidak mau.

 

Manusia Juga Tidak Memiliki Profil Hati

Akibat dari tidak pernah berwisata ke dalam hati, maka manusia tidak memiliki “profil” bagaimana keadaan hati dari waktu ke waktu. Jangankan profil hati dari waktu ke waktu, untuk profil hatinya saat ini pun manusia tidak mengetahuinya. Tidak ada kegiatan “potret memotret” hati, akibatnya juga tidak ada profil hati.

Pada saat dititipkan Allah SWT hati memiliki fitrah suci, tenang dan ikhlas. Apakah saat ini profil hati juga masih sesuai dengan fitrahnya yang suci, tenang dan ikhlas? Wallahua’lam. Ironisnya, manusia tidak memiliki kekhawatiran apapun jika saat ini hatinya tidak lagi sesuai fitrahnya yang suci, tenang dan ikhlas.

Bahkan, sikap dan perilaku manusia masih tenang-tenang saja. Andaikan setiap saat manusia dipanggil kembali, manusia berkewajiban mengembalikan hati dalam keadaan fitrah sebagaimana pada awal dititipkan kepada manusia. Mungkin, manusia beranggapan, kebiasaan “ngemplang” di dunia akan menyelesaian semua masalah pertanggungjawaban di hadapan Tuhan Yang Maha Pengasih dan Penyayang.

Tidak Membutuhkan Persyaratan Apapun

Perjalanan ke dalam hati berbeda dengan perjalanan di muka bumi yang membutuhkan kesehatan, uang dan waktu. Perjalanan di muka bumi juga hanya dapat dilakukan oleh orang-orang tertentu yang memiliki keleluasaan dalam hal kesehatan, uang dan waktu.

Perjalanan ke dalam hati tidak membutuhkan syarat apapun dan semua orang bisa dan boleh melakukannya. Siapapun, kapanpun, di mana pun, perjalanan ke dalam hati dapat dimulai. Satu-satunya “syarat” yang memberatkan adalah kemauan.

Tetapi mampu dan mau adalah dua hal yang berbeda. Kemampuan tidak berarti apapun tanpa disertai dengan kemauan. Ironisnya, justru manusia tidak memiliki kemauan mengunjungi hatinya. Tidak ada kebutuhan – bahkan sekedar keinginan – untuk berkunjung ke dalam hati.

Tampak Siring, 26 April  2013

 
Leave a comment

Posted by on April 26, 2013 in Body | Mind | Soul