RSS

Category Archives: Deutschland Wunderbar | Tour d’Europe

Silbermond

Selama di Indonesia, saya belum pernah nonton pagelaran musik baik yang diselenggarakan di dalam gedung, apalagi di lapangan terbuka. Ada beberapa alasan yang sangat pribadi. Pertama, saya “parno” berada di tengah kerumunan yang bisa mendadak sontak menjadi gerombolan liar dan biadab. Kedua, saya takut diinjak-injak, terinjak-injak, dan menginjak-injak orang lain. Ketiga, saya takut diminta naik panggung untuk menyanyi (he……he….).

Saat tinggal di Mannheim, saya justru menyempatkan diri untuk nonton konser Silbermond, salah satu kelompok musin papan atas di Jerman. Sejatinya, saya ingin nonton konser musik The Scorpions dan melihat dengan mata kepala saya sendiri Klaus Meine menyanyikan lagu Wind of Change. Sayang, selama 1 tahun di Jerman, The Scorpions lagi bersemedi (baca : tidak manggung).

Tetapi kekecewaan saya cukup terobati dengan berkunjung ke kota Hannover yang merupakan “markas besar” dari The Scorpions. Penampilan yang gemilang dari Silbermond juga sudah cukup membuat saya puas melihat grup musik Jerman manggung.

Dalam bahasa Jerman, Silber berarti silver dalam bahasa Inggris atau perak dalam bahasa Indonesia. Sedangkan mond dalam bahasa Jerman berarti bulan dalam bahasa Indonesia. Jadi, secara harfiah Silbermond berarti “bulan perak”.

Berbeda dengan senior mereka The Scorpions yang meliris lagu-lagu berbahasa Inggris, Silbermond hanya mengusung lagu-lagu dengan lirik bahasa Jerman. Hal ini membuat “orbit” Silbermond beredar terbatas di negara-negara berbahasa Jerman seperti Swiss, Austria, dan tentu saja Jerman.

Promosi industri musik Jerman memang tidak besar-besaran dan tidak gegap gempita seperti industri musik pop dari negeri Paman Sam. Untuk menjadi kiblat musik dunia, tampaknya para pelaku di industri musik pop Jerman juga tidak terlalu berambisi.

***

Konser musik Silbermond diadakan pada bulan Agustus 2009, pukul 14.00. Saat itu sedang musim panas. Bagi orang Jerman yang hidup dalam 4 musim, berpanas-panas di lapangan terbuka seperti mendapatkan durian runtuh.  Panas terik musim panas di Jerman juga tidak membuat badan saya menjadi basah kuyup mandi keringat. Kelembaban udara di Jerman yang relatif rendah membuat udara cukup bersahabat bagi pendatang dari negara tropis sekalipun.

Bagaimana kerumunan di Jerman, tepatnya di kota Mannheim? Kerumunan ya tetap kerumunan. Teriak dan jingkrak-jingkrak sudah lumrah. Dalam hiruk pikuk sama saja dengan kerumunan di Jakarta. Perbedaannya, kerumunan di Jerman cenderung tidak rusuh dan situasi tetap aman terkendali.

Padahal, minuman keras bukan barang yang haram di bawa sambil nonton konser. Mulut manusia, udara dan bahkan toilet pun bau minuman keras. Tetapi memang ada perbedaan antara mabuk orang Jerman dengan mabuk orang Indonesia. Paling banter mereka teriak-teriak. Semabuk-mabuknya orang Jerman, mereka masih bisa mengontrol diri mereka. Mengapa? Kalau mereka sampai berulah, urusan hukum sudah menanti.

Satu hal yang juga membedakan kerumunan di Indonesia dengan kerumunan di Jerman adalah saat-saat anak cucu Adam dan Hawa sedang mabuk cinta. Di Indonesia, hampir pasti tidak ada muda-muda yang sedang “mabuk kepayang” akan ciuman di tengah-tengah kerumunan dan ditonton banyak orang. Di Jerman, melihat orang-orang berciuman di tengah kerumunan di siang hari bolong adalah hal yang jamak.

***

Pengetahuan saya tentang musik di Jerman, terutama musik pop, sangat minim. Satu-satunya kelompok musik yang saya ketahui adalah The Scorpions dengan tembang hit Always Somewhere dan terutama Wind of Change. Tidak banyak penyanyi yang saya ketahui. Satu-satunya penyanyi yang saya ketahui adalah Klaus Meine yang menyanyikan lagu Wind of Change di Lapangan Merah, Russia.

Meskipun tergolong awam di bidang musik klasik, saya lebih “fasih” menyebutkan beberapa komponis musik klasik asal Jerman. Dari yang paling terkenal seperti Ludwig von Beethoven, Johann Sebastian Bach, George Frederich Haendel, Johannes Brahms, Johann Pachelbel, Franz Schubert sampai dengan Felix Bartholdy Mendelssohn dan Robert Schumann yang tidak begitu dikenal di Indonesia.

Demikian juga dengan karya-karya musik mereka, saya cukup familiar. Sebut saja “Fuer Elise” karya Bach, Hallelujah dari Haendel, Serenade dari Schubert dan Canon in D Major karya Pachelbel yang sering menjadi wedding song standar di negara-negara barat.

Selama ini kita memang lebih mengenal bangsa Jerman sebagai bangsa yang “serius”, berhubungan dengan pemikiran dan filosofi yang “berat”,  teknologi yang serba canggih, dan disiplin yang sekuat baja panser. Hampir tidak pernah kita mendengar tentang Jerman berkaitan dengan cinta dan musik “ngak-ngik-ngok” (istilah yang digunakan Bung Karno untuk musik Barat dan lagu cinta yang cengeng).

Bild

Foto : http://www.unitedcharity.de

Karena itu, kesempatan nonton konser Silbermond benar-benar saya manfaatkan untuk menimba pengetahuan tentang industri musik pop Jerman. Paling tidak, saya punya pengalaman dan bisa merasakan bagaimana orang-orang Jerman yang pendiam dan dingin bisa berjingkrak-jingkrak mengikuti lagu-lagu yang dibawakan Silbermond.

Kecuali tembang lawas Du yang sudah sangat populer di Indonesia, sungguh tidak mudah memahami lirik lagu-lagu berbahasa Jerman. Tetapi bukan berarti melodi dan lirik lagu-lagu berbahasa Jerman “mati gaya”. Lagu The Beatles “I Want To Hold Your Hand” pun tetap hidup saat dinyanyikan dalam bahasa Jerman “Kommt gib mir deine Hand”.

Meskipun berasal dari negara-negara berbeda dan budaya yang juga berbeda, saya menemukan “benang merah” yang sama di antara para pemusik. Tema cinta, terutama “pemujaan” terhadap kekasih memang tidak pernah “lekang karena panas, dan lapuk karena hujan”. Orang-orang Jerman juga manusia biasa, mereka juga mengenal cinta dan “ngak-ngik-ngok”. Perhatikan penggalan bait dari lagu das Beste (the Best) karya Silbermond berikut :

Versi bahasa Jerman :

Du bist das Beste was mir je passiert ist
es tut so gut wie du mich liebst
Vergesse den Rest der Welt
Wenn du bei mir bist
Du bist das Beste was mir je passiert ist
es tut so gut wie du mich liebst
Ich sag’s dir viel zu selten
es ist schön, dass es dich gibt

Dein Lachen macht süchtig
fast so als wäre es nicht von dieser Erde
Auch wenn deine Nähe Gift wär
ich würd bei dir sein solange bis ich sterbe
Dein Verlassen würde Welten zerstören
doch daran will ich nicht denken
Viel zu schön ist es mit dir
wenn wir uns gegenseitig Liebe schenken

Versi bahasa Inggris :

You are the best I have ever met
it feels good that you love me
I forget the whole world
when you are with me.
You are the best I have ever met
it feels good that you love me.
I should tell you more often:
it´s lovely that you are here

I am addicted to your laughter
almost like it is not from this earth
And if your nearness would be poison
I would stay by your side until I die.
Leaving me would destroy earths
but I won´t think of that.


Tampak Siring, 23 Juni 2013

Advertisements
 

Volendam

Sahabat saya, Ignatius Henry Ismadi, sangat suka dengan peribahasa “bahasa adalah jendela dunia”. Saya juga suka dengan peribahasa itu, karena itu saya “memaksakan diri” belajar asing. Tetapi belajar bahasa tanpa mengadakan perjalanan wisata?

Saint Augustine pernah mengingatkan bahwa, “the world is a book, and those who do not travel read only a page”. Kalau hanya belajar bahasa, tetapi tidak mengadakan wisata, maka seseorang hanya membaca 1 halaman saja dari sebuah buku.

Jika saya boleh membandingkan, belajar bahasa tanpa mengadakan wisata adalah ibarat tiki-taka tanpa gol. Tiki-taka adalah “filosofi” permainan sepakbola yang diperagakan oleh anak-anak Catalan yang memperkuat FC Barcelona. Tiki-taka dapat dideskripsikan dengan beberapa kata : indah, cepat, dan menyerang. Tetapi tiki-taka tanpa gol? Seperti apakah rasa tiki-taka tanpa gol?.

Perkenankan saya mengutip pendapat Bixente Lizarazu, bek kiri yang pernah memperkuat timnas sepakbola Perancis dan pernah merumput di Bayern Muenchen. Menurut Lizarazu, tiki-taka tanpa gol adalah ibarat cinta tanpa seks. Alamak!

Saya tidak bermaksud membandingkan belajar bahasa dengan cinta dan wisata sama dengan seks. Yang saya maksud adalah belajar bahasa tanpa mengadakan perjalanan wisata kurang lengkap. Tentang kedua hal tersebut, saya merangkum sebagai berikut : “bahasa adalah jendela dunia, sedangkan wisata adalah pintu dunia’.

Sebuah rumah, betapapun sederhananya, harus punya jendela dan pintu. Untuk melihat dunia, anda cukup mengandalkan jendela (baca : bahasa). Tetapi untuk bisa jalan-jalan keliling dunia, anda harus melewati pintu (baca : wisata).

***

A journey of a thousand miles  begins with one step”, demikian petuah Sun Tzu. Langkah pertama saya untuk melewati pintu dunia ditemani oleh keluarga Aryoso Nirmolo. Saya harus berterima kasih kepada Yosi, Vitri dan Rafi yang telah membuka hati, mata, dan pikiran saya untuk melihat kehidupan masyarakat dan bangsa-bangsa di Eropa. Yosi cs lah yang menemani saya keliling Eropa, antara lain Austria, Belanda, Hungaria, Italia, dan Slovenia.

Setelah Jerman, perjalanan pertama saya ke luar negeri adalah negara Belanda. Ada 2 kota besar yang saya kunjungi, yaitu Rotterdam dan Amsterdam. Satu lagi adalah Volendam, sebuah kota kecil yang sangat ramai dikunjungi wisatawan, meskipun Volendam tidak lebih gede dari kota-kota kabupaten atau kotamadya di Indonesia pada umumnya.

Volendam adalah sebuah kota di sebelah utara Belanda. Pada tahun 2007, jumlah penduduknya hanya 22 ribu orang. Volendam terletak di tepi pantai. Tidak sulit untuk menemukan orang-orang Indonesia “berkeliaran” di Volendam. Dari pegawai negeri sampai dengan orang-orang penting di Indonesia, merasa wajib berkunjung ke Volendam. K.H. Abdurrahman Wahid atau yang akrab disapa Gus Dur pun pernah menjejakkan kakinya di Volendam. Untuk apa? Mejeng!

eVLD 27Image courtesy of Aryoso Nirmolo

Tidak ada hal menarik yang dapat diamati di Volendam. Kehidupan dan suasana pantai di mana mana relatif sama, meskipun beda negara dan beda budaya. Di mana-mana orang pantai selalu egaliter dan terbuka terhadap siapa saja.  Di Volendam juga ada kincir air, tetapi kincir air jamak ditemukan di tempat-tempat lain Belanda. Barangkali, satu-satunya keunikan dan menjadi keunggulan kompetitif adalah kostum nelayan. Tetapi pakaian tradisional nelayan Volendam sudah cukup menjadi “magnet” yang menyedot pundi-pundi wisatawan. Wikipedia menulis sebagai berikut :

Volendam is a popular tourist attraction in the Netherlands, well known for its old fishing boats and the traditional clothing still worn by some residents. The women’s costume of Volendam, with its high, pointed bonnet, is one of the most recognizable of the Dutch traditional costumes, and is often featured on tourist postcards and posters (although there are believed to be fewer than 50 women now wearing the costume as part of their daily lives, most of them elderly). There is a regular ferry connection to Marken, a peninsula close by. Volendam also features a small museum about its history and clothing style, and visitors can have their pictures taken in traditional Dutch costumes.” (www.wikipedia.org, 17 Juni 2013)

***

Indonesia perlu banyak belajar dari Volendam. Bayangkan, “hanya” melalui ritual mejeng (baca : foto mengenakan kostum tradisional rakyat Volendam), devisa pun mengucur deras ke Volendam. Jangan pernah memandang remeh makna dari sebuah foto. Foto adalah sebuah bukti otentik bagi seseorang bahwa ia pernah berkunjung ke suatu tempat wisata. Jika tempat wisata itu di luar negeri, maka  akan menambah “bobot” dari sebuah foto dan “mendongkrak” status sosial orang yang difoto.

Sebuah foto akan membuat seseorang bahagia tiada tara. Bahkan, ketika hasil foto lebih indah dari aslinya, orang yang difoto juga tidak akan tersinggung. Pengalaman saya memotret manusia menyimpulkan bahwa setiap orang pada dasarnya senang dengan foto dirinya. Asalkan dalam foto manusia tiga kriteria terpenuhi, yaitu “ada gue”, “gue banget”, dan “ngagetin” (foto-foto yang diambil secara candid).

Itulah sebabnya, dengan segala daya dan upaya, orang-orang Indonesia selalu menyempatkan diri berkunjung ke Volendam dan “hanya” untuk melakukan ritual foto mengenakan kostum tradisional rakyat Volendam. Terasa belum lengkap jika berkunjung ke Belanda tanpa menyambangi Volendam. Hanya untuk sebuah foto seharga 13 Euro (tahun 2009) orang Indonesia rela “menghamburkan” devisa untuk negara lain.

Tentu saja candi Borobodur, Gunung Bromo, wisata laut di Bunaken dan Rajat Ampat, tempat-tempat wisata lain, dan termasuk pakaian tradisional berbagai suku di Indonesia, tidak kalah menarik dibandingkan dengan obyek wisata di Volendam, terutama kostum tradisional nelayan.

Tetapi sejarah mencatat bahwa dengan “segambreng” keunggulan kompetitif di bidang pariwisata, Indonesia hanya mampu mendatangkan 8,04 juta wisatawan asing pada tahun 2012 (www.antaranews.com). Target tahun 2013 Indonesia kedatangan 9 juta wisatawan asing. Bandingkan dengan negara serumpun Malaysia yang mampu mendatangkan sekitar 23 juta wisatawan asing  pada tahun 2012 (Oops…… 2,5 juta di antaranya adalah wisatawan asal Indonesia!).

Tidak ada yang salah dengan obyek pariwisata di Indonesia.  Dibandingkan sesama negara ASEAN, obyek wisata Indonesia tak ada bandingannya. Dari segi fotografi landscape (pemandangan), Indonesia masuk 5 besar dunia.

Jika kita sepakat analogi bahwa dunia adalah sebuah buku, maka “buku” tentang Indonesia hanya dibaca oleh 8,04 juta orang. Sedangkan “buku-buku” tentang Malaysia, Singapura, dan Thailand dibaca oleh lebih banyak pengunjung. Jika Volendam yang sangat “mungil” itu kita ibaratkan sebagai “buku saku”, maka “buku besar” bernama Indonesia boleh jadi lebih sedikit dibaca oleh orang dibandingkan “buku saku”.

Secara umum, manusia Indonesia termasuk malas dan kurang suka membaca buku. Bagi sebagian orang Indonesia, lebih baik beli DVD film seri atau “telenovela” Korea ketimbang beli buku. Barangkali, jumlah wisatawan asing yang relatif sedikit berkunjung ke Indonesia merupakan “harga” yang pantas dibayar oleh bangsa yang malas membaca buku.

 

Tampak Siring, 17 Juni 2013

 
Comments Off on Volendam

Posted by on September 26, 2013 in Deutschland Wunderbar | Tour d'Europe

 

Mannheim

Ada 2 ciri utama Mannheim yang membedakannya dengan sebagian besar kota-kota di Jerman. Pertama, Mannheim “dibelah” atau “diapit” oleh 2 sungai, yaitu sungai Rhein dan sungai Neckar. Sungai Rhein menjadi pembatas antara Mannheim dengan kota Ludwigshafen (kota kelahiran mantan Kanselir Jerman (Barat) dan Jerman bersatu Helmut Kohl). Kedua, tata kota Mannheim sebagian besar berbentuk bujur sangkar sehingga Mannheim mendapat julukan “die Quadratestadt” (“city of the squares“). Selain Mannheim, tak ada satupun kota di Jerman yang memiliki tata kota berbentuk bujur sangkar.

 

Kedua ciri utama tersebut dapat menjadi “pintu masuk” untuk mengenali lebih jauh tentang Mannheim. Apa fungsi dari sungai di Mannheim? Mengapa kota Mannheim berbentu bujur sangkar?.  Untuk menjawab kedua pertanyaan tersebut, maka kita mesti kembali ke masa lalu dan menengok sejenak sejarah kota Mannheim.

 

Mannheim adalah kota industri. Seperti Ludwigshafen yang juga kota industri, Mannheim memanfaatkan sungai Rhein sebagai jalur distribusi logistik, termasuk hasil-hasil industri. Di era Nazi berkuasa, kedudukan Mannheim sebagai kota pusat industri  semakin bertambah penting. Tetapi kedudukan penting yang disandang Mannheim di bidang industri justru membawa penderitaan bagi kota dan penduduk Mannheim.

 

Di era perang dunia kedua, Mannheim  harus  rela dibom oleh pasukan sekutu sampai luluh lantak. Kota Mannheim yang saat ini eksis adalah “imitasi”. Mannheim dibangun kembali, sebagian bangunan penting di masa lalu yang hancur dibangun kembali, dan sebagian lagi sama sekali baru. Itulah sebabnya, mengapa tata kota Mannheim  berbentuk bujur sangkar.

 

Sejak perang dunia kedua tentara Amerika Serikat mendirikan barak militer di Mannheim dan keberadaanya masih berlangsung sampai dengan tahun 2011. Keberadaan orang-orang Amerika Serikat di Mannheim memberikan pengaruh kepada pembangunan kembali kota Mannheim. “BRR” atau Badan “Rehabilitasi dan Rekonstruksi” membangun kembali Mannheim dengan “cita rasa” Amerika Serikat.

 

Di bidang pendidikan, Universitas Mannheim tidak terlalu terkenal. Tetapi jangan terlalu menganggap remeh universitas di Jerman. Meskipun nama-nama universitas-universitas tidak begitu familiar terdengar di telinga orang-orang Indonesia (terutama bila dibandingkan dengan universitas-universitas di Amerika Serikat), mutu lulusan dijamin OK. Mantan orang nomor 1 di SKK Migas yang baru-baru ini dicokok KPK juga lulus dari Technische Universitaet, Clausthal Jerman.

 

Bagaimana dengan reputasi Universitas Mannheim. Coba kita bandingkan dengan dengan universitas di Indonesia untuk 1 bidang pendidikan saja. Di Uni. Mannheim, mata pelajaran financial behavior sudah diajarkan di tingkat strata 1. Sedangkan di Indonesia, financial behavior adalah menu utama mahasiswa pasca sarjana. Masih nggak percaya? Baca deh promosi Mannheim Business School di laman http://www.mannheim-business-school.com/home.html : “Mannheim Business School (MBS) is Germany’s leading business school and consistently holds top ranking positions.”


Meskipun sebagai kota industri, Mannheim masih tetap Umwelt freundlich (ramah lingkungan) dan “BERAMAL” : BERsih, Aman, nyaMAn, dan Lancar. Hampir semua kota-kota di Jerman memenuhi kriteria “beramal”. Bukan hanya Mannheim, melainkan juga kota industri seperti Wolfsburg yang menjadi “markas besar” produsen mobil Volks Wagen layak disebut “beramal”. Bahkan, kota pelabuhan seperti Hamburg dan “mantan” kota pelabuhan tempo doeloe Bremerhaven juga layak menyandang sebutan “beramal”.

 

Dari segi transportasi darat, mobilitas manusia dan barang relatif sangat lancar di Mannheim. Sistem transportasi darat semua tersedia di Mannheim, mulai dari bis kota, trem, kereta api, dan kendaraan pribadi. Tidak ada kemacetan di Mannheim. Sistem transportasi yang sangat baik di Mannheim menjadikan mobilitas manusia dan barang menjadi sangat lancar.

 

Saat mengunjungi Paris, saya start dari Mannheim dan  hanya butuh waktu 5 jam untuk mencapai Paris. Demikian juga saat berkunjung ke Belanda (Amsterdam, Rotterdam, dan Volendam), saya juga start dari Mannheim dan hanya dalam waktu kurang lebih 3 jam sudah “menembus” perbatasan Jerman – Belanda.

 

Jika anda senang berpelesiran dan bermaksud mengunjungi wilayah Jerman sebelah barat daya, Mannheim adalah (salah satu) kota yang layak menjadi titik start. Jika menggunakan kendaraan bermotor (sewa mobil maupun naik bis), dari Mannheim tidak terlalu jauh untuk menjangkau negara-negara perbatasan Jerman di sebelah barat, seperti Luxemburg, Perancis, Belgia, dan Belanda.

 

Bahkan, untuk berkunjung ke negara-negara Eropa lain, Mannheim masih bisa diandalkan. Dari Mannheim menuju ke bandara Frankfurt-Hahn hanya membutuhkan waktu 1 jam 30 menit. Dari Frankfurt-Hahn anda bisa terbang dengan maskapai penerbangan murah meriah ke seluruh negara di Eropa Barat dan Eropa Timur, terutama yang telah menjadi anggota Europe Union.

 Bild

Foto diunduh dari http://www.wikimedia.org

Kecuali sungai dan tata kota yang berbentuk bujur sangkar sebagai ciri utama kota, Mannheim juga dikenal sebagai “tuan rumah” dari beberapa penemuan besar, tidak hanya untuk bangsa dan negara Jerman, melainkan juga seluruh umat manusia. Laman www.en.wikipedia.org  merangkum beberapa penemuan spektakuler yang pernah terjadi di Mannheim sebagai berikut :

  • Karl Drais built the first two-wheeled draisine in 1817.
  • Karl Benz drove the first automobile on the streets of Mannheim in 1886. At his workshop in Mannheim he produced a lightweight three-wheeled vehicle powered by a single cylinder petrol/gasoline-fueled engine, first shown in public during 1886. This powered tricycle subsequently came to be widely regarded as the first automobile/motor car powered by an internal-combustion engine. Karl’s wife Bertha Benz undertook the world’s first road trip by automobile from Mannheim to Pforzheim in August 1888.
  • The Lanz Bulldog, a popular tractor with a rugged, simple Diesel engine was introduced in 1921.
  • Karl Benz developed the world’s first compact diesel-powered car at the Benz & Cie. motor works in Mannheim during 1923
  • Julius Hatry built the world’s first rocket plane in 1929.

Kecuali menjadi kota kelahiran beberapa penemuan, “putra daerah” terbaik Mannheim juga mengharumkan bangsa dan negara Jerman. Salah satu putra daerah Mannheim adalah Steffi Graf, petenis pertama putri yang meraih gelar golden slam (menjadi juara di 4 turnamen grandslam : Australia Open, French Open, Wimbledon, dan US Open pada satu tahun kalender kejuaraan tenis). Graf adalah petenis putri yang meraih juara grandslam terbanyak (22 gelar), terbanyak di era tenis terbuka.   “Putri daerah” lain adalah Constanze yang memenuhi pinangan sebagai istri dari Wolfgang Amadeus Mozart.

 Bild

Foto diunduh dari http://www.sporteology.com

Dari segi wisata, Mannheim relatif kurang dibandingkan dengan kota-kota wisata lain di Jerman. Mannheim memang lebih menonjol sebagai kota bisnis dan kota industri ketimbang kota wisata. Beberapa perusahaan besar seperti Daimler AG, Hoffmann – La Roche, Fuchs Petrolub AG dan beberapa perusahaan lain memiliki pabrik dan atau kantor di Mannheim. Kecuali itu, bagi wisatawan yang suka berjalan-jalan dengan di taman terbuka dapat mengunjungi Luisenpark.

 

Tidak banyak tempat-tempat wisata yang ada di Mannheim. Mannheim Schloss (Istana Mannheim) –  saat ini menjadi ruang kuliah universitas Mannheim dan memiliki ruang terbuka yang sering digunakan menjadi tempat pentas musik dan kegiatan publik lainnya – memiliki desain arsitektur yang relatif sederhana.

 

Tetapi pengunjung wajib mengunjungi landmark kota Mannheim, yaitu wasserturm (water tower). Demikian juga kota tua di Mannheim yang ditata sebagaimana kota-kota tua di Jerman, pengunjung dapat mengunjungi eks gedung balaikota, Sebastian Church, dan pasar tradisional.

 

Meskipun dari tidak banyak memiliki obyek wisata yang menarik, saya cukup senang tinggal di Mannheim. Bahkan, dari segi waktu, saat di Jerman saya paling lama tinggal di Mannheim (kurang lebih 4,5 bulan) untuk belajar bahasa Jerman. Itulah sebabnya, jika ditanya oleh orang-orang Jerman yang tinggal di Mannheim, saya sering “membual” : “Mannheim ist meine zweite Heimat”.

 

Tampak Siring, 21 Agustus 2013

 

Ramadhan di Jerman

Tahun 1430 H atau bertepatan dengan tahun 2009 M, saya berada di kota Mannheim, Jerman. Itulah untuk pertama kali dalam hidup saya menunaikan ibadah puasa Ramadhan di negara yang mayoritas berpenduduk non-muslim. Bagaimana sih rasa menjadi minoritas di negeri seberang?

Alhamdulillah, semua berjalan lancar. Tak ada kekhawatiran ancaman sweeping dari kelompok mayoritas. Meminjam istilah yang biasa digunakan dalam mata kuliah kewiraan di perguruan tinggi, tidak ada hambatan, tantangan, ancaman, dan gangguan (biasa disingkat “HTAG”) yang bersifat “ipoleksosbud” (baca : ideologi, politik, sosial, dan budaya) bagi umat Islam untuk berpuasa Ramadhan. Bagi masyarakat, bangsa, dan negara Jerman, umat Islam yang berpuasa Ramadhan bukanlah HTAG dari segi pertahanan dan keamanan.

Toleransi orang-orang Jerman kepada orang yang sedang menjalankan puasa sangat kondusif (he…..he…. istilah pejabat!). Tentu saja tidak pada tempatnya dan tidak mungkin mengharapkan restoran, café, bar dan tempat-tempat lain yang menjual makanan dan minuman untuk tutup di siang hari. Justru orang-orang Islam yang sedang berpuasa yang mesti tahu diri dan “membiarkan” orang-orang yang tidak berpuasa untuk menjalankan aktivitas makan dan minum sebagaimana biasa.

Sebagai warga minoritas saya juga tidak bisa mencegah para “srikandi” Jerman berpakaian seronok. Saya sendiri yang harus bisa pura-pura pakai kaca mata kuda sehingga pandangan saya tidak membentur “bukit barisan” yang seolah-olah bermaksud memperlihatkan keindahan dunia barat. Mungkin, paling tidak untuk saya, puasa Ramadhan terberat di Jerman adalah mengendalikan hawa nafsu ketimbang menahan lapar dan dahaga.

Salah satu toleransi yang ditunjukkan oleh orang-orang Jerman, terutama Herr Rheinhard Klose (Project Manager International Leadership Training) dan para staf rumah tangga asrama adalah menyesuaikan jadwal penyediaan makanan untuk orang-orang yang sedang berpuasa. “Jam operasional” kantin tetap buka dan tutup seperti biasa. Tetapi khusus bagi orang-orang yang sedang berpuasa dan memiliki jadwal berbuka puasa dan makan sahur yang berbeda dengan jadwal makan sebagian besar orang Jerman yang tidak berpuasa, diberlakukan jam khusus. Singkat kata, urusan ibadah dan perut difasilitasi sedemikian rupa sehingga orang-orang Islam tidak mengalami kesulitan untuk menjalankan ibadah sesuai dengan keyakinannya.

Padahal, saya sempat ketar-ketir dengan urusan makanan dan minuman selama bulan Ramadhan. Maklum, sebagai seorang yang tidak memiliki kompetensi memasak, urusan perut yang terbengkalai bisa mengganggu perasaan dan emosi. Alhamdulillah, orang-orang Jerman sudah terbiasa berhubungan dengan orang-orang yang memiliki latar belakang yang berbeda, baik dari segi budaya maupun agama.

Salah satu yang “memperkenalkan” masyarakat Jerman dengan agama Islam adalah para imigran asal Turki. Di Jerman, jumlah imigran asal Turki adalah yang terbanyak dibandingkan imigran asal negara lain. Data di laman http://www.tatsachen-ueber-deutschland.de/id/inhaltsseiten-home/angka-dan-fakta/penduduk.html menunjukkan bahwa, jumlah penduduk Jerman tahun 2013 adalah 82 juta jiwa, sekitar 52 juta orang menganut agama Kristiani dan 4 juta beragama Islam. Sekitar 8,2 % dari jumlah seluruh penduduk adalah warga asing, sedangkan imigran asal Turki mencapai 4-5 % dari total penduduk Jerman.

Pada prinsipnya, menunaikan puasa Ramadhan di Jerman dan negara lain sama saja. Yang berbeda adalah suasana khas Ramadhan yang hanya ada pada saat bulan Ramadhan. Di setiap negara pun suasana khas Ramadhan cenderung berbeda dan dipengaruhi oleh budaya setempat.  Tidak sulit untuk menemukan tempat sholat tarawih berjamaah, meskipun lokasinya tidak berdekatan dengan asrama tempat saya tinggal.

Bild

 

(Photo: Khadija Mosque in Berlin October 16, 2008/Fabrizio Bensch / http://www.blog.reuters.com)

Berpuasa Ramadhan di negeri orang juga harus bersiap diri sepi dari undangan buka puasa bersama. Meskipun di Mannheim ada “Deusch-Indonesische Gesellschaft” (semacam paguyuban orang-orang Jerman dan Indonesia), saya tidak pernah dapat undangan buka bersama seperti yang biasa dilakukan di Indonesia.

Juga tidak ada orang-orang yang teriak memekakkan telinga dan bermaksud baik membangunkan umat Islam agar tidak ketinggalan makan sahur. Meskipun tidak ada orang yang mengingatkan saya untuk bangun tengah malam, Alhamdulillah saya tidak pernah ketinggalan makan sahur. Alarm dari handphone sudah cukup untuk membangunkan saya dari tidur.

***

Secara fisik, hampir tidak ada hambatan berarti bagi orang-orang Islam untuk berpuasa Ramadhan di Jerman. Iklim dan cuaca bukan hambatan utama. Jarak antara imsak dan maghrib yang kadang-kadang lebih lama dibandingkan dengan negara-negara tropis, juga tidak dapat digunakan sebagai alasan untuk mengatakan bahwa puasa Ramadhan di Jerman lebih berat.

Apalagi saya saat itu hanya “duduk manis” mengikuti pelajaran bahasa Jerman. Pelajaran hanya berlangsung kurang lebih 6 jam. Praktis tidak ada aktivitas fisik, pikiran, dan psikis yang dapat menggerogoti kemampuan fisik dan psikis seseorang untuk berpuasa secara normal.

Bahkan, seorang pesepakbola profesional yang notabene dituntut memiliki fisik dan stamina yang prima pun masih dapat menjalankan ibadah puasa Ramadhan. Sebut saja 2 kakak beradik Kolo Toure  dan Yaya Toure di klub Manchester City, Frank Ribery di FC Bayern Muenchen, Mezut Oezil dan Karim Benzema di Real Madrid, semua tetap menjalankan rukun Islam ketiga. Secara fisik, tantangan mereka jauh lebih berat dibandingkan dengan tantangan yang saya hadapi.

Semula, saya sempat “termakan” dengan isu jadwal puasa yang lebih panjang di negara-negara Eropa (catatan : jadwal puasa Ramadhan di negara-negara Eropa dapat lebih panjang atau pendek tergantung dari musim dan letak geografis masing-masing negara). Isu itu telah berhasil “menteror” saya bahwa, secara fisik, puasa Ramadhan di Eropa lebih berat ketimbang di Indonesia.

Ternyata semua isu itu hanya isapan jempol. Saat puasa Ramadhan, saya justru terbang ke Austria dan nyambangi keponakan saya di Villach. Ditemani keluarga Aryoso Nirmolo dan Vanda Kugi (noni Manado dan fesbuker yang tinggal di Austria), saya berkunjung ke Venesia. Padahal, perjalanan melalui darat Villach – Venesia p.p. kurang lebih 6 jam. Saat berada di Venesia, sebagian besar kunjungan ke tempat-tempat wisata adalah berjalan kaki. Alhamdulillah, panas terik kota Venesia di musim panas tidak membuat kami dehidrasi dan membatalkan puasa.

Kecuali Venesia, saya juga mengunjungi Salzburg – kota kelahiran Wolfgang Amadeus Mozart – pada bulan Ramadhan. Lagi-lagi ke sana ke mari juga harus berjalan kaki. Capek pasti, tetapi tidak sampai haus dan lapar. Justru dengan jalan-jalan tidak terasa sedang puasa Ramadhan dan waktu berlalu begitu cepat. Saya juga pernah merasakan berbuka puasa dalam perjalanan dengan kereta api dari Salzburg – Muenchen  – Mannheim. Semua biasa-biasa saja, tidak ada yang sulit.

***

Pengalaman lain berpuasa Ramadhan di Jerman adalah makan sahur dan buka puasa bersama dengan teman-teman dari Aljazair. Ada beberapa peserta dari negara-negara berbahasa Arab (Mesir, Yordania, Yaman, dan Aljazair) yang juga tinggal di asrama, tetapi kamar saya kebetulan satu lantai dengan beberapa teman dari Aljazair. Teman-teman  dari Aljazair tersebut antara lain  Abdul Aziz, Rabah Aliane, dan Djamel Eddine Bensidi Ahmed

Saat makan sahur dan buka puasa bersama dengan orang-orang dari negara lain itulah saya merasakan bahwa ukhuwah Islamiah bukan hanya isapan jempol. Saya menjadi teringat kembali ayat dalam Al-Qur’an  yang seringkali diajarkan oleh guru agama saya di SMP sebagai berikut :

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS : Al-Hujurat, ayat 13).

Dalam kehidupan ternyata selalu ada “ndhilalah” (baca : kebetulan). Ndhilalah Aziz  sangat pintar memasak. Saya menghormatinya sebagai Master Chef dan keahliannya memasak tidak kalah dari ibu-ibu (yang pintar memasak) dan Master Chef yang sering tampil di TV swasta nasional di Indonesia. Bumbu dan rempah-rempah yang digunakan memang tidak familiar bagi lidah saya. Tetapi tentang rasa masakan Azis, saya menilai memenuhi standar “seenak malam pertama”.

Selama puasa Ramadhan, saya makan sahur dan buka bersama teman-teman dari Aljazair tanpa mengeluarkan biaya sepersenpun. Saya mau ikut iuran, tetapi mereka tidak mau. Mereka paham benar bahwa bulan Ramadhan adalah bulan yang penuh rahmat, berkah, dan maghfiroh. Mereka juga paham tentang pahala memberi makan orang yang sedang berpuasa.

Meskipun urusan pangan selama bulan Ramadhan beres, saya agak kesulitan juga mengimbangi kemampuan makan teman-teman Aljazair. Porsi makan mereka luar biasa tak sebanding dengan porsi makan saya yang relatif sedikit. Mereka selalu menambahkan makanan dalam piring saya dan “memaksa” saya harus menghabiskannya. Tetapi setelah mengetahui saya harus bekerja keras dan “kerja lembur” untuk menghabiskan makanan, mereka akhirnya pasrah juga.

Tampak Siring, 28 Juli 2013

 

Mainz

Dua orang guru bahasa Jerman saya, yaitu Frau Lila Kurnia dan Herr George Hallemayer, mbujuki saya untuk berkunjung ke kota Mainz. Menurut beliau berdua, Mainz adalah kota kecil yang indah dan penuh dengan cerita sejarah. Saya memang nyambangi Mainz, tetapi dengan alasan yang mungkin sangat berbeda dengan kedua guru bahasa saya tersebut.

Adalah Johannes Gensfleisch zur Laden zum Gutenberg atau lebih dikenal dengan nama Johannes Gutenberg yang menjadi alasan utama saya mengunjungi Mainz. Bagi generasi yang hidup di zaman digital, mereka mungkin lebih akrab dengan nama Steve Jobs ketimbang Gutenberg. Tetapi bagi saya yang hidup di zaman mesin cetak dan zaman digital, nama Gutenberg lebih fenomenal. Dampak perubahan sosial yang dihasilkan dari penemuan Gutenberg sangat luar biasa. Tidak hanya di Jerman, tetapi di seluruh dunia dan bagi seluruh umat manusia.

Pada saat belajar bahasa Jerman, dalam beberapa kali mengisi kuis tentang tokoh-tokoh yang mengubah dunia, saya selalu menempatkan nama Gutenberg dalam 10 besar. Jika kemudian daftar tersebut harus dikerucutkan menjadi 5 besar, saya tanpa ragu-ragu memasukkan nama Gutenberg dalam 5 besar tokoh yang mengubah dunia. Bahkan, jika harus memilih 1 nama saja, saya bulat tekad akan menyebut nama Gutenberg.

Siapa sih Gutenberg? Ia adalah penemu mesin cetak. Sebegitu pentingkah peranan mesin cetak dalam kehidupan manusia? Untuk memahami peranan mesin cetak, tentu harus diletakkan dalam konteks perkembangan masyarakat di abad ke 15.

Tentang Gutenberg dan peranan mesin cetak dalam kehidupan manusia dan perubahan sosial masyarakat, Wikipedia menulis sebagai berikut :

Gutenberg was the first European to use movable type printing, in around 1439. Among his many contributions to printing are: the invention of a process for mass-producing movable type; the use of oil-based ink; and the use of a wooden printing press similar to the agricultural screw presses of the period. His truly epochal invention was the combination of these elements into a practical system which allowed the mass production of printed books and was economically viable for printers and readers alike. Gutenberg’s method for making type is traditionally considered to have included a type metal alloy and a hand mould for casting type.

In Renaissance Europe, the arrival of mechanical movable type printing introduced the era of mass communication which permanently altered the structure of society. The relatively unrestricted circulation of information and (revolutionary) ideas transcended borders, captured the masses in the Reformation and threatened the power of political and religious authorities; the sharp increase in literacy broke the monopoly of the literate elite on education and learning and bolstered the emerging middle class. Across Europe, the increasing cultural self-awareness of its people led to the rise of proto-nationalism, accelerated by the flowering of the European vernacular languages to the detriment of Latin’s status as lingua franca. In the 19th century, the replacement of the hand-operated Gutenberg-style press by steam-powered rotary presses allowed printing on an industrial scale, while Western-style printing was adopted all over the world, becoming practically the sole medium for modern bulk printing.” (Sumber : http://www.en.wikipedia.org, 20 Juli 2013)

***

Mainz adalah sebuah kota kecil yang terletak di sebelah barat Jerman. Sebagaimana kota-kota di Jerman lainnya, Mainz juga “dibelah” oleh sungai, yaitu sungai Rhein. Seperti juga kota-kota lain di Jerman, di “zaman kuda gigit besi”, transportasi sungai memegang peranan penting untuk mendukung mobilitas manusia dan barang.

Sejarah kota Mainz dapat ditelusuri dari zaman Roman Mongontiacum (sekitar abad 12/13 sebelum masehi) sampai dengan abad ke 21. Terlalu panjang untuk diceritakan dan belum tentu menarik.

Mainz adalah kota kecil dan kota “tempo doeloe”. Hanya membutuhkan waktu sebentar untuk “khatam” mengunjungi beberapa destinasi wisata di Mainz, terutama Mainz Cathedral, pasar, dan balaikota yang lokasinya saling berdekatan. Ada juga rumah tradisional Jerman yang arsitekturnya mirip dengan rumah tradisional di Frankfurt am Main.

MAINZ KOLASE1Image courtesy of Wisanggenia Photography

Meskipun kota kecil, Mainz sangat diuntungkan dengan lokasinya yang relatif dekat dengan kota Frankfurt am Main yang hanya berjarak 10 mil. Mainz tidak hanya dekat dengan bandara internasional Frankfurt yang pada tahun 2009 tercatat sebagai bandara tersibuk nomor 3 di Eropa dan nomor 9 di dunia. Mainz juga hanya berjarak 50 mil dari bandara Frankfurt-Hahn, yaitu bandara yang memfasilitasi penerbangan komersial murah meriah ke seluruh negara-negara di Eropa. Wow!

Di era perang dunia kedua, nasib Mainz lebih mujur ketimbang kota Mannheim dan Heidelberg. Tidak ada satupun bom yang dijatuhkan di kota Mainz. Meskipun demikian, pasukan sekutu dari Perancis dan Amerika Serikat ditempatkan juga di Mainz. Lokasi Mainz yang relatif dekat dengan Frankfurt am Main dan bandara Frankfurt-Hahn menjadikan Mainz sebagai tempat yang strategis untuk mobilisasi pasukan.

Di bidang pendidikan, reputasi Universitas Mainz cukup dikenal di dunia. Didirikan pada tahun 1477, Uni. Mainz masuk dalam kategori 10 universitas terbesar di Jerman. Salah seorang putra Indonesia yang pernah menimba ilmu di Uni. Mainz adalah DR. Terry Mart, seorang ilmuwan fisika nuklir dan partikel yang saat ini mengajar di Universitas Indonesia.

Gutenberg adalah salah seorang putra daerah Mainz yang mencatatkan namanya di sejarah peradaban manusia. Teknologi digital dan internet mungkin secara perlahan tetapi pasti akan menggantikan peranan berbagai produk cetak (buku, surat kabar, majalah, dan lain sebagainya). Tetapi peran Gutenberg dan mesin cetak tetap tidak bisa dihapus dari sejarah peradaban manusia.

Trah atau keluarga besar Gutenberg tidak perlu kuatir jasa-jasa kakek moyang mereka tidak dihargai oleh bangsa dan negara Jerman. Bangsa Jerman adalah bangsa yang tidak lupa dengan sejarah. Orang-orang Jerman suka dengan museum. Di beberapa kota yang telah saya kunjungi, selalu ada museum. Bahkan, sebuah gereja di Berlin yang bernama Nikolaikirche (St. Nicholas’ Church, dalam bahasa Inggris) pun berubah menjadi museum. Salah seorang pengunjung yang bermaksud “memotret” dilarang oleh petugas. Fotografer itupun “protes” mengapa memotret di gereja dilarang. Petugas dengan welas asih menjawab bahwa, “ini bukan gereja, tetapi museum”. He…..he….”kena batunya”!.

Bagi saya pribadi, meskipun sudah sangat menikmati manfaat teknologi digital dan rajin “melanglang buana” ke dunia maya, tetap saja tidak bisa meninggalkan kebiasaan saya membaca buku dan surat kabar sambil bermalas-malasan di kursi maupun tempat tidur. Gagasan saya untuk menulis lebih banyak lahir dari “rahim” buku-buku dan surat kabar. Tetapi untuk melengkapi tulisan saya, saya selalu melakukan “riset” dari berbagi sumber dari dunia maya yang tersedia sangat melimpah dan memanjakan otak manusia.

Jika anda tertarik dengan sejarah kehidupan Gutenberg dan penciptaan mesin cetak, anda dapat berkunjung ke museum Gutenberg. Saat berkunjung di Mainz di musim semi 2010 yang lalu, saya tak lupa “mejeng” di depan museum Gutenberg.

MAINZ - 2010Image courtesy of Wisanggeni Photography

Di zaman modern, Mainz masih memberikan kontribusi yang sangat signifikan bagi kehidupan manusia. Salah satu sumbangsih Universitas Mainz adalah polarisasi helium. Untuk mengetahui manfaat polarisasi helium, anda tidak perlu sakit kanker terlebih dahulu. Dalam rubrik persona Kompas Minggu, 7 Juli 2013, DR. Terry Mart menjelaskan sebagai berikut :

Magnetic resonance imaging (MRI) dalam deteksi kanker paru, misalnya, berutang budi kepada riset fisika teori. Di Universitas Mainz, Jerman, terdapat grup ilmuwan yang bertahun-tahun kerjanya hanya memolarisasi helium dengan medan magnet. Mereka memiliki detector pengamat polarisasi helium. Helium yang terpolarisasi yang aman masuk ke paru itu ternyata bisa mendeteksi kondisi paru. Detektor awal itu lalu dikembangkan untuk mengamati paru dalam waktu riil. Yang bisa memproduksi helium polarisasi hanya grup tersebut. Terapannya lalu dipatenkan. Sepintas kerjaannya hanya polarisasi helium. Pemerintah tidak boleh merasa rugi investasi di ilmu dasar. Tidak semua penelitian menghasilkan, tetapi begitu ada satu yang booming bisa menutup biaya.”

Dari beberapa tulisan saya tentang kota-kota di Jerman, semakin jelas perbedaan antara kota-kota di Indonesia dengan kota-kota di Jerman. Di Indonesia, para kepala daerah sibuk membangun mall,  membiarkan kota penuh sesak dan macet dengan kendaraan (karena ada pendapatan dari pajak kendaraan), dan meningkatkan tarif parkir. Mungkin, di benak mereka, hanya itulah satu-satunya sumber dan cara untuk mengisi kas pendapatan asli daerah.

Tidak banyak kota industri di Jerman, tetapi mereka tetap dapat menghidupi dan mengembangkan kota tanpa jor-joran membangun mall. Salah satu cara adalah membangun kota sebagai pusat pendidikan untuk bidang tertentu dan menjadi kota tujuan wisata.

Tampak Siring, 21 Juli 2013

 

I Lost My Heart In Heidelberg

Secara fisik, ciri utama kota Heidelberg adalah sisa-sisa bangunan Heidelberg Castle yang di bom di era perang dunia kedua. Lokasinya berada di perbukitan sehingga terlihat dari jembatan di atas sungai Neckar yang tepat berada di pusat kota.

Bild

Image courtesy of http://www.fotoforum-fotocommunity.de

Heidelberg bukan nama yang asing bagi sebagian orang Indonesia. Bagi mereka yang bekerja di industri percetakan, nama Heidelberg seharusnya bukan nama yang asing. Mesin cetak Heidelberg adalah produk teknologi yang dihasilkan oleh Heidelberg. Banyak yang tidak tahu bahwa mesin cetak (terutama offset printing presses) produksi perusahaan Heidelberg AG menguasai 47 % pangsa pasar di dunia.

Dari segi geografis, jika dibandingkan dengan kota-kota lain di Jerman, letak Heidelberg sebenarnya relatif tidak strategis. Tetapi dari segi pertahanan dan keamanan, Heidelberg adalah wilayah yang sangat strategis. Letak Heidelberg relatif “terisolir” sehingga tidak menjadi sasaran “empuk“ musuh untuk dihancurkan.

Heidelberg juga bukan kota industri sebagaimana kota tetangganya Mannheim dan Ludwigshafen. Dari segi “hankam”, nilai strategi Heidelberg bertambah kuat karena jaringan transportasi darat (jalan raya dan rel) yang menghubungkan Heidelberg dengan kota-kota lain, terutama Mannheim dan Frankfurt am Main.

Untuk anda ketahui, kota Mannheim adalah salah satu pusat (dan sampai saat ini masih) barak milier pasukan Amerika Serikat. Di dekat kota Mannheim ada pangkalan udara (Frankfurt Hahn) yang digunakan semasa PD II. Kini, eks pangkalan udara itu telah berubah fungsi dan dimanfaatkan untuk penerbangan udara komersial, terutama penerbangan “murah meriah” ke manca negara. Saat saya berkunjung ke Villach di Austria, saya lepas landas dari Frankfurt Hahn. Ongkos yang saya bayar untuk terbang bersama Ryan Air cuma 10 Euro!. Everyone can fly!

Saya sempat bertanya-tanya, mengapa istana Heidelberg itu di bom. Di masa lalu, Jerman adalah negara feodal dan karena itu istana bertebaran di hampir semua kota. Sebut saja Schloss Sans Souci di Potsdam, Charlottenburg Schloss di Berlin, Neuschwanstein Schloss di Bayern. Bahkan di kota industri seperti Mannheim pun ada Mannheim Schloss  (dalam bahasa Jerman, Schloss berarti istana). Kalau tentara sekutu mau bikin jengkel dan marah rakyat Jerman, tentu bukan Heidelberg Castle yang diincar.

Faktanya, Heidelberg Schloss yang dibom. Keputusan itu didasarkan atas pertimbangan “hankam”. Kecuali lokasinya yang strategis untuk “hankam”, Heidelberg adalah basis pendukung Hitler. Di Universitas Heidelberg, staf pengajar yang bukan keturunan Arya mendapat perlakuan diskriminasi. Jadi, dari segi pertimbangan politik dan militer, Heidelberg “layak” untuk di bom. Maksud saya, Heidelberg harus ditaklukkan dan “bobotoh” (baca : pendukung) Hitler diusir keluar kota.

Sampai awal abad ke 21, di Heidelberg masih ada barak militer pasukan Amerika Serikat. Di Heidelberg “bersemayam” Campbell barrack. Meskipun pernah diduduki oleh pasukan asing, kota Heidelberg relatif tetap asli dan tidak banyak perubahan. Sangat berbeda dengan kota Mannheim yang berubah menjadi seperti layaknya kota-kota di Amerika Serikat yang berbentuk bujur sangkar, terutama di kawasan kota baru. Heidelberg masih seperti layaknya kota-kota di Jerman pada umumnya dan mampu mempertahankan prediket sebagai kota romantis. Romantisme Heildelberg antara lain mendorong komponis Fred Raymond menggubah lagu I Lost My Heart in Heidelberg yang juga menjadi themesong kota Heidelberg.

***

Heidelberg terletak di sebelah barat daya Jerman. Dari segi iklim dan cuaca, Heidelberg adalah kota yang paling hangat dibandingkan seluruh wilayah Jerman. Berkunjung ke Heidelberg pada musim semi dan musim panas sangat nyaman. Saat saya berkunjung ke Heidelberg Juni 2009, saya berjalan di panas terik tanpa merasa kehausan. Bahkan teman-teman saya dari Aljazair yang berkunjung ke Heidelberg pada bulan Ramadhan (dan musim panas) pun tidak sampai membatalkan puasa mereka.

Meskipun bukan kota industri, dari segi kependudukan “rekor” yang dicatat Heidelberg relatif kurang baik. Kepadatan penduduk Heidelberg termasuk yang tertinggi di wilayah Jerman. Tahun 2011, jumlah penduduk mencapai angka 146.000 jiwa. Untung “program keluarga berencana” di kota Heidelberg sangat sukses. Tingkat fertilitas kaum perempuan di Heidelberg pada tahun 2008 adalah 1,1 atau salah satu yang terbaik di wilayah negara bagian Baden Wuerttemberg.

Heidelberg adalah kota pendidikan dan kebudayaan. Bagi mereka yang belajar sosiologi, pasti tidak aneh dengan kota Heidelberg. Ilmuwan sosial seperti George Wilhelm Friederich Hegel dan Juergen Habermas pernah berkarya di sini. Bagi orang-orang yang belajar sosiologi, Hegel dan Habermas bukan nama yang asing.

Siapa itu Hegel? “Georg Wilhelm Friedrich Hegel  (August 27, 1770 – November 14, 1831) was a German philosopher, and a major figure in German Idealism. His historicist and idealist account of reality revolutionized European philosophy and was an important precursor to Continental philosophy and Marxism.” (www.en.wikipedia.org, 26 Juni 2013). Di Indonesia, kebanyakan orang lebih “mengenal” Karl Marx ketimbang Hegel. Dalam bukunya yang berjudul “Pembagian Kerja SEcara Seksual”, sosiolog Arief Budiman juga mengutip pemikiran Hegel tentang perjuangan kelas.

Heidelberg pantas menyandang prediket kota pendidikan. Yang “berbau” serba tua ada di kota ini. Perpustakaan Heidelberg yang didirikan pada tahun 1421 adalah perpustakaan tertua di Jerman. Heidelberg University yang didirikan pada tahun 1386 adalah salah satu universitas tua di Eropa, bahkan universitas tertua di Jerman.

Sejarah mencatat peran Universitas Heidelberg antara lain sebagai berikut : “Heidelberg University played a leading part in the era of humanism and reformation and the conflict between Lutheranism and Calvinism in the 15th and 16th centuries. Heidelberg’s library, founded in 1421, is the oldest public library in Germany still intact. A few months after the proclamation of the 95 Theses, in April 1518, Martin Luther was received in Heidelberg, to defend them.” (en.wikipedia.org, 3 Juli 2013

***

Kota Heidelberg termasuk  destinasi bagi wisatawan domestik dan manca negara. Pada tahun 2004, jumlah wisatawan (domestik dan asing) yang berkunjung ke Heidelberg mencapai angka 3,5 juta (jumlah yang sangat signifikan bila dibandingkan dengan luas wilayah Heidelberg yang hanya 108,83 km2).   Bandingkan dengan luas wilayah Indonesia dan kekayaan obyek wisata, baik budaya maupun obyek wisata seperti gunung, pantai, kehidupan bawah laut, tetapi hanya dikunjungi oleh 7,04 juta wisatawan asing per tahun (data tahun 2012).

Bahwa Heidelberg bukan merupakan kota industri terbukti dari mata pencaharian penduduknya. Pada tahun 2004, 81,8% penduduk Heidelberg bekerja di sektor industri jasa, terutama industri pariwisata. Hanya 18 % lapangan pekerjaan yang tersedia di sektor industri. Ini berarti bahwa Heidelberg sudah berada di “zaman yang akan datang”.

Para futurolog seperti Alvin Toffler, Patricia Abuderne dan John Naisbitt memprediksi bahwa di masa yang akan datang akan lebih banyak pekerjaan di sektor jasa. Era pekerja pertanian dan industri sudah lewat, meskipun profesi petani dan buruh pabrik tentu saja masih ada. Tetapi peran terbesar akan diambil oleh para pekerja di sektor jasa. “Diam-diam”, Heidelberg sudah berada di “zaman yang akan datang”.

Cukup banyak destinasi wisata yang layak dikunjungi di kota ini. Tetapi yang sudah pasti wajib dikunjungi adalah Heidelberg Castle. Letaknya relatif tinggi di perbukitan. Bisa dicapai dengan berjalan kaki, tetapi setelah itu “ngos-ngos-an”. Agar tidak “ngos-ngos-an”, sudah disediakan alternatif bergbahn (dalam bahasa Jerman, berg berarti bukit, dan bahn berarti kereta api. Berg bahn secara harfiah berarti “kereta perbukitan”). Setelah sampai di Heidelberg Castle, pandangan mata anda bisa  “menyapu” seluruh sudut kota Heidelberg.

Lokasi Heidelberg Castle yang berada di perbukitan itu mengingatkan saya pada sebuah istana di kota Salzburg (kota kelahiran komponis Wolfgang Amadeus Mozart), yang kebetulan juga terletak di atas bukit. Untuk mencapai istana tersebut pengunjung juga boleh memilih jalan kaki sambil “ngos-ngos-an” atau naik bergbahn.

Setelah mengunjungi Heidelberg Castle, anda bisa kembali ke kota tua (alte Stadt) dan di tempat ini anda akan menemukan beberapa obyek wisata yang menarik. Ciri utama kota-kota tua di Eropa pada umumnya dan Jerman pada khususnya adalah letak gereja, balaikota, dan pasar yang selalu berdekatan. Mengapa?

Secara sosiologis, pusat dari kehidupan dan kegiatan manusia adalah agama, politik, dan ekonomi. Itulah sebabnya, di seluruh kota di Jerman, begitu anda mengunjungi kota tua, anda sudah “khatam” mengunjungi tempat-tempat wisata yang penting.

Ciri lain dari kota-kota di Eropa adalah “dibelah” oleh sungai. Kota baru dan kota lama seringkali dipisahkan oleh sungai. Karena itu, jembatan selalu memegang peranan yang sangat penting di kota-kota di Jerman. Kalau anda suka difoto, jangan lupa “mejeng” di atas jembatan. Jembatan di atas sungai Neckar yang tepat berada di pusat kota Heidelberg “sunnah” untuk dikunjungi.

Bild

 Image courtesy of Wisanggenia Photography

Last but not least, salah satu keunggulan kompetitif Heidelberg dibandingkan dengan kota lain di Jerman adalah wisata air. Sejatinya, atraksi yang disuguhkan di Heidelberg tidak terlalu canggih dibandingkan dengan fasilitas dan teknologi maritim di Hamburg. Tetapi untuk ukuran sungai dan kapal kecil, pengalaman wisata air di Heidelberg sudah cukup sensasional.

Ada dua tempat di sungai Neckar yang memiliki ketinggian air berbeda dan seperti “tangga”. Kapal wisata harus melalui dua tempat yang memiliki dua ketinggian air yang berbeda tersebut. Ada kalanya kapal harus naik ke tempat yang lebih tinggi, tetapi di saat lain harus turun ke tempat yang lebih rendah. Bagaimana caranya?

Tidak terlalu sulit bagi orang Jerman yang gemar mengandalkan otak mereka. Jangankan kapal kecil, kapal besar di Hamburg pun bisa dinaikkan dan diturunkan ke dua tempat yang memiliki ketinggian air yang berbeda. Tetapi kali ini bukan teknologi yang kita bicarakan. Bagi wisatawan, yang penting adalah pengalaman dan sensasi naik dan turun “tangga” air dengan menggunakan kapal wisata.

Bukan itu saja, kapal wisata yang mengarungi sungai Neckar menggunakan sumber energi dari matahari. Dasar benar-benar khas orang Jerman. Jadi, harga BBM naik  atau inflasi “terbang” tidak jadi masalah. Bukan saatnya untuk berwacana tentang penggunaan energi alternatif. Just do it!

***

Pertengahan tahun 2013 ini, keponakan saya  Yodi Mahendradata PhD, memutuskan untuk “hijrah” dan  memboyong keluarganya tinggal di kota Heidelberg. InsyaAllah bukan keputusan yang keliru. Beberapa nama besar di masa lalu seperti Joze Rizal (pahlawan nasional Philipina) dan Muhammad Iqbal (filsuf dan pujangga asal Pakistan) pernah merasakan betapa nyaman tinggal dan bekerja di Heidelberg.

Bahkan, untuk mendapatkan “pencerahan” (baca : menemukan gagasan), seorang pujangga besar Jerman Johann Wolfgang von Goethe pernah merasa perlu jalan-jalan di Heidelberg Castle. Orang pintar memang sudah sepatutnya tinggal di Heidelberg.

Menurut saya, kalau benar-benar pintar, belajar dan bekerja lah di universitas terbaik yang dan kaya dengan berbagai riset dan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Kesempatan seperti itu bisa ditemukan antara lain di Heidelberg :

In addition to the research centers and institutes of the university, there are numerous research institutions situated in the city of Heidelberg. Among them are the European Molecular Biology Laboratory (EMBL), European Molecular Biology Organization (EMBO), the German Cancer Research Center (DKFZ), Max Planck Institute for Medical Research, Max Planck Institute for Astronomy, Max Planck Institute for Nuclear Physics, Max Planck Institute for Comparative Public Law and International Law.” (www.en.wikipedia.org, 26 Juni 2013).

Jadi, jangan hanya minum tolak angin agar disebut “pintar” dan “bejo”!

Tampak siring, 26 Juni 2013

 

Villach

Apa perbedaan wisata di Indonesia dengan di Eropa Barat?. Di Indonesia, kita harus percaya dan patuh pada peribahasa warisan leluhur : “malu bertanya sesat di jalan”. Meskipun tidak ada jaminan bahwa setelah bertanya tidak akan tersesat, peribahasa itu kita terima “taken for granted”.

Saat wisata di Eropa, tidak ada keharusan bagi kita untuk bertanya. Kita bisa menggunakan peribahasa “baru”, yaitu “tidak perlu bertanya dan pasti tidak sesat di jalan”. Justru “malu-maluin” kalau banyak bertanya. Kelihatan banget berasal dari “emerging country”. Apakah tidak akan sesat di jalan?. Apakah ini bukan sikap dan perilaku sombong? Bukankah para leluhur sudah meningatkan kita agar “ojo dumeh” (jangan mentang-mentang)?.

Di Indonesia, ada kecenderungan petunjuk selalu dipahami sebagai informasi lisan. Nara sumber yang dapat dipercaya adalah manusia. Ada kecenderungan untuk “husnudzon” bahwa nara sumber yang dapat dipercaya adalah orang-orang setempat. Bagaimana jika orang-orang lokal tidak mampu berbahasa Inggris atau bahasa Indonesia? Bukankah informasi yang disampaikan oleh nara sumber bisa salah pada saat diterjemahkan dalam bahasa Inggris? Atau, nara sumber telah memberikan informasi yang benar, penerima informasi salah memahaminya?

Industri penerbangan mencatat sejarah, bahwa komunikasi yang tidak becus antara pilot dengan petugas ATC (Air Traffic Control) dapat berujung pesawat menabrak gunung. Kita semua mahfum, pilot dan petugas ATC adalah orang-orang yang cakap berbahasa Inggris. Tetapi “forty” dan “fourteen” bisa kedengaran di telinga sangat mirip. Boleh jadi petugas ATC memerintahkan pilot bertahan di ketinggian 40.000 kaki (“forty”), tetapi pilot mendengarnya “fourteen”.

Di Eropa Barat, petunjuk tersedia dalam jumlah melimpah, mudah diakses, dan mudah dipahami oleh siapapun. Informasi tentang kota dan tempat-tempat wisata selalu tersedia secara tertulis. Informasi juga tersedia di website dan dapat diunduh setiap saat oleh siapapun.

Sebagian besar kota-kota di Eropa selalu memiliki peta kota dan peta transportasi. Mobilitas manusia sangat penting, baik untuk tujuan bersenang-senang seperti wisata, maupun tujuan “serius” seperti perjalanan dinas. Karena itu, keberadaan peta kota dan peta transportasi sangat penting.

Setiap masuk kota yang saya kunjungi, saya selalu mengambil peta kota dan peta transportasi yang ada di setiap stasiun KA dan disediakan gratis. Meskipun sebelumnya saya telah browsing peta dan tempat-tempat wisata suatu kota, “edisi” hardcopy selalu menjadi pegangan saya.

Bagaimana dengan kota Jakarta?. Kota tua yang baru saja merayakan hari jadi ke 486 ini memang memiliki peta kota, tetapi tidak memiliki peta transportasi. Bayangkan, sebuah ibukota negara tidak memiliki sebuah peta transportasi. Walikota dan gubernur boleh silih ganti berdatangan, tidak satupun yang tergerak untuk menyediakan peta transportasi Jakarta.

Keramahtamahan sebuah kota tidak hanya diukur dengan karakter, sikap, perilaku sopan dan santun dari warganya. Keramahtamahan sebuah kota juga ditentukan oleh keberadaan peta kota dan terutama peta transportasi. Tanpa peta tranportasi, setiap pengunjung seperti disambut dengan salutasi “selamat datang di hutan belantara kota”.

Kota kecil seperti Villach memiliki peta kota dan peta transportasi yang dapat diperoleh, diakses, dan dipahami secara mudah dan cepat oleh para pendatang. Tidak perlu bertanya, semua informasi diterangkan sangat jelas.

Itulah sebabnya, saya tidak merasa sedikitpun khawatir untuk mengunjungi Villach seorang diri. Perjalanan wisata ke Villach adalah perjalanan pertama saya ke luar negeri seorang diri. Sebelumnya, saat melaksanakan ibadah haji, tidak ada kekhawatiran karena memang perjalanan ke luar negeri bersama-sama dengan banyak orang. Demikian juga saat ke Belanda, saya dipandu oleh keluarga Aryoso Nirmolo, sehingga tidak ada rasa cemas.

Meskipun tidak dijemput di bandara Klagenfurt, saya tidak khawatir untuk “menjajal” sistem transportasi di Austria. Secara umum tidak ada perbedaan yang signifikan dengan sistem transportasi di Jerman. Sistem transportasi di Austria juga menyediakan jaminan tepat waktu, aman, dan nyaman. Petunjuk yang diberikan oleh keponakan saya Yosi sangat jelas dan di lapangan memang seperti itu adanya.

***

Tidak ada orang yang tahu arti dan asal kata Villach. Seorang kakek dan penduduk Villach yang “ngobrol” dengan saya di bandara internasional Klagenfurt (“tetangga” Villach di Austria) bilang bahwa Villach berasal dari kata viel dan lach (lachen). Austria juga menggunakan bahasa Jerman, sebagian dengan dialek masyarakat Bavaria. Dalam bahasa Jerman, viel berarti banyak, dan lachen berarti tertawa. Jadi, Villach berarti banyak tertawa.

Bild

Image courtesy of http://www.region-villach.at

Benar atau tidak arti dan sejarah kata Villach tidak penting bagi saya. Yang pasti, saya memang merasakan ada perbedaan antara karakter, sikap, dan perilaku orang-orang Austria pada umumnya, dan orang-orang Villach pada khususnya. Tidak jarang saya disapa oleh orang-orang Austria yang kebetulan berpas-pasan dengan saya di jalan. Karakter, sikap, dan perilaku yang hampir pasti jarang ditemukan di Jerman, apalagi di kota Leipzig dan Dresden.

Villach adalah sebuah kota kecil yang terletak di sebelah selatan Austria dan termasuk dalam wilayah negara federal Carinthia (kalau di Indonesia semacam propinsi). Peringkat Villach adalah sebagai  kota nomor 7 terbesar di Austria, tetapi kota nomor 2 terbesar di Carinthia. Meskipun demikian, per 1 Januari 2012 penduduknya hanya 59.585  jiwa.

Meskipun kota kecil, perusahaan-perusahaan asing juga memiliki kantor di Villach. Dengan tingkat kepadatan penduduk yang hanya 440 jiwa / km2, saya berani menyimpulkan bahwa Villach adalah kota yang ideal untuk hidup dan bekerja. Saya tidak heran keponakan saya Yosi dan keluarga betah tinggal di sini. Sangat mungkin mereka menemukan kondisi yang dicari-cari semua orang Jakarta : work-life balance!.

Austria dan Swiss adalah tuan rumah Piala Eropa tahun 2008. Villach juga “kecipratan” rezeki, salah satu hotel di Villach ditunjuk sebagai tempat penginapan salah satu timnas sepakbola peserta kejuaraan tersebut.

Seperti kota-kota di Eropa pada umumnya, Villach juga “dibelah” oleh sungai Drava. Indikasi bahwa perkembangan kota, mobilitas manusia dan barang di masa yang lalu tergantung pada sistem transportasi air dan sungai. Tetapi saat ini, saya tidak melihat sungat Drava dimanfaatkan untuk wisata air.

Secara geografis, Villach relatif jauh dari kota Wina, ibukota negara Austria. Tetapi itu tidak menjadi masalah besar. Dengan sistem transportasi kereta api yang relatif maju, jarak antara Villach dengan Wina dapat ditempuh dalam waktu kurang lebih 3 jam. Untuk mengunjungi kota Salzburg (kota kelahiran Wolfgang Amadeus Mozart) pun hanya butuh waktu kurang lebih 2 jam.

Salah satu keunggulan kompetitif dari Villach adalah letaknya yang berdekatan dengan negara-negara lain, terutama Italia dan Slovenia di sebelah selatan, dan Swiss dan Liechtenstein di sebelah barat. Bahkan, untuk “nembus” ke Hungaria dan Slovakia yang berada di sisi timur perbatasan Austria pun tidak terlalu sulit. Dari Villach sampai ke perbatasan Itali hanya membutuhkan waktu 30 menit. Saat berkunjung ke Venesia pada tahun 2009 yang lalu, saya juga berangkat dari Villach. Demikian juga saat mengunjungi Slovenia, terutama kota Bled dan Ljubljana, keberangkatan juga dari kota Villach.

***

Saya tidak rugi berkunjung ke Villach 2 kali, yaitu musim panas Agustus 2009 dan kemudian saat musim dingin Desember 2009. Saya juga melewatkan malam tahun baru di Villach. Paling tidak ada 3 keuntungan yang saya peroleh. Pertama, saya dapat mengunjungi keponakan saya. Kedua, Yosi dan keluarga secara suka rela (atas biaya mereka sendiri) mengantar saya untuk wisata ke beberapa negara tetangga. Ketiga, saya menikmati wisata kuliner.

Semula, wisata ke berbagai negara adalah tujuan yang paling realistis. Tetapi karena Vitri Sidharta, istri dari Yosi sangat pintar memasak, maka saya seperti mendapat durian runtuh berupa wisata kuliner. Soal rasa masakan Vitri saya tidak mungkin berbohong : seenak malam pertama!.

Bild

Image courtesy of La Sagrada Familia Aryoso Nirmolo

Tidak banyak pesan yang dapat saya sampaikan kepada anda. Tetapi jika anda adalah wisatawan tulen,  punya hasyrat yang menggebu-gebu untuk mengunjungi beberapa negara di Eropa sekaligus, dan bernafsu mempercantik “portofolio” kota-kota yang pernah anda kunjungi, maka Villach adalah kota yang tepat untuk menjadi titik start. Coba-en Rek!

Tampak Siring, 24 Juni 2013

Catatan : data tentang Villach diunduh dari en.wikipedia.org pada tanggal 24 Juni 2013