RSS

Category Archives: Gemeinschaft | Gesellschaft

Paradoks Ibu

Dalam kesempatan “ngobar” (baca : ngobrol bareng) bersama psikolog anak Kak Seto Mulyadi, psikolog sosial Sarlito Wirawan Sarwono mendapat “bocoran” informasi tentang KDRT (Kekerasan Dalam Rumah Tangga), wa bil khusus tentang korban dan pelaku KDRT.

Ternyata, sebagian besar korban KDRT adalah anak-anak. Di luar dugaan saya, mungkin juga di luar dugaan anda, pelaku utama KDRT terhadap anak-anak adalah ibu kandung. Sebagai Ketua Umum Komisi Nasional Perlindungan Anak, Kak Seto tentu tidak sembarangan bicara, apalagi “nakut-nakutin”.

Cerita bahwa ibu tiri kejam adalah propaganda dalam film dan sinetron. Tetapi seorang ibu kandung yang bisa kejam dan jahat terhadap anak-anak yang dikandung dan diasuhnya, ternyata bukan isapan jempol. Boleh jadi ibu tiri yang  kejam dan jahat hanya merupakan isapan jempol. Dalam kehidupan nyata, ibu kandung bisa lebih kejam dan jahat ketimbang ibu tiri.

Informasi tentang korban dan pelaku KDRT terhadap anak-anak itu yang saya baca dalam artikel Prof. Sarlito yang ditulis di sebuah harian ibukota, tepat pada hari ibu. Jujur, mengetahui informasi tentang ibu sebagai pelaku utama KDRT terhadap anak-anak serasa “disambar geledek”.

Tak ada ruang sebesar biji zarah pun dalam benak dan lubuk hati saya suudzon terhadap seorang ibu. Saya tidak pernah memberikan kesempatan dan waktu kepada otak dan qalbu saya untuk berandai-andai tentang seorang ibu kandung yang jahat dan kejam.

Pemahaman, pengalaman, dan memori saya tentang seorang ibu adalah persis seperti yang dideskripsikan dalam lagu anak-anak yang sangat populer sejak dahulu kala sampai kini, yaitu : Kasih Ibu. Hanya seorang ibu yang mampu dan mau menebar kasih sayang kepada anak-anak, hanya memberi dan memberi sepanjang hayat di kandung badan, dan tidak mengharapkan balasan apapun.

Setelah para nabi dan rasulullah, tidak ada manusia yang memiliki kemuliaan melebihi kemuliaan seorang ibu. Tidak ada manusia di dunia ini yang mampu meneladani sifat-sifat Allah SWT, kecuali para utusan Allah SWT. Tetapi jika saya menyatakan bahwa jika ada manusia lain yang mampu meneladani sifat-sifat Allah SWT, maka orang tersebut adalah ibu.

Hanya ibu yang mampu meneladani sifat-sifat ar-rahman dan ar-rahim. Tidak semua perempuan memiliki sifat-sifat ar-rahman dan ar-rahim, paling banter baru sekedar potensi. Tetapi begitu menjadi seorang ibu, wes ewes ewes, semua ibu secara naluriah dan alamiah mampu meneladani sifat-sifat ar-rahman dan ar-rahim.

Semua manusia dari kelompok umur apapun secara naluriah dan alamiah memiliki kebutuhan terhadap rasa nyaman, aman, dimengerti, dihargai, dan dianggap penting. Adalah ibu yang dengan sifat-sifat ar-rahman dan ar-rahim, mampu dan mau memberikan rasa nyaman, aman, dimengerti, dihargai, dan dianggap penting kepada anak-anaknya.

Sosiolog Leopold von Wiese dan Howard Becker membedakan hubungan antarmanusia menjadi tiga kategori, yaitu hubungan primer, hubungan sekunder, dan hubungan tersier. Klasifikasi hubungan antarmanusia tersebut berdasarkan kekuatan, kedalaman, dan “sustainability” interaksi sosial di antara anggota kelompok sosial tersebut.

Hubungan primer adalah hubungan antarmanusia yang memiliki kekuatan, kedalaman, dan “sustainability” paling paripurna. Hubungan ibu dan anak yang dilandasi oleh kasih sayang yang tulus adalah satu-satunya bentuk hubungan primer yang tak ada bandingannya. Sulit untuk menemukan hubungan antarmanusia lain yang dapat dikategorikan sebagai hubungan primer.

***

Mendapat informasi yang beraroma seperti “disambar geledek”, saya mencoba menenangkan diri dengan cara bertanya kepada istri saya, apakah memang benar pelaku KDRT terhadap anak-anak adalah para ibu, terutama ibu kandung? (dengan asumsi jumlah ibu kandung pasti lebih banyak daripada ibu tiri). Jawaban istri saya ternyata semakin membuat pikiran dan perasaan saya semakin acakadul dan amburadul.

Istri saya membenarkan 100 % informasi KDRT seperti yang disampaikan oleh Kak Seto. Bahkan istri saya mengingatkan bahwa, tidak perlu ada perdebatan tentang data dan angka. Bagaimanapun, fakta dan kenyataan bahwa ibu kandung dapat melakukan KDRT terhadap anak-anak, jauh lebih penting ketimbang data statistik. Fokus dan tindakan terbaik adalah pada solusi, bukan sekedar mengadakan penelitian ilmiah.

Meskipun demikian, istri saya mengingatkan jangan menyalahkan ibu kandung sebagai “kambing hitam” dan bertanggung jawab 1000 % terhadap KDRT terhadap anak-anak. Sebagai seorang pemerhati “KWRT” (Ketidakberdayaan Wanita Dalam Rumah Tangga)  dan KDRT, istri saya memahami dan meyakini bahwa, dalam kasus-kasus KWRT dan KDRT terhadap anak-anak, ibu sejatinya “merangkap” status sebagai pelaku sekaligus korban. Lho, iki piye iki piye?

Bild

Foto diunduh dari http://www.smallbusiness.chron.com

Otak saya masih dapat mencerna jika istri berstatus sebagai korban dalam konteks KWRT. Tetapi bagaimana menjelaskan bahwa sejatinya ibu juga menjadi korban dalam berbagai kasus KDRT terhadap anak-anak? Jawaban diplomatis terhadap pertanyaan ini adalah tidak ada penyebab tunggal dalam kasus-kasus KDRT terhadap anak-anak.

Secara naluriah dan alamiah, seorang ibu pasti memiliki sifat-sifat ar-rahman dan ar-rahim. Dalam kehidupan nyata dan sehari-hari, boleh jadi sifat-sifat ar-rahman dan ar-rahim itu tidak teraktualisasi. Ada banyak “kambing hitam” mengapa ibu tidak mampu (baca : bukan tidak mau) mengaktualisasikan diri sifat-sifat ar-rahman dan ar-rahim yang seyogyanya sudah menjadi “darah daging”, “denyut nadi”, dan “detak jantung” seorang ibu.

Stress yang dialami oleh ibu merupakan salah satu penyebab mengapa seorang ibu gagal mengaktualisasikan sifat-sifat ar-rahman dan ar-rahim. Sebut saja stress di kantor menghadapi beban kerja, atasan yang “bawel”, maupun rekan kerja yang “resek”. Belum lagi stress selama perjalanan pulang pergi dari rumah tinggal ke tempat kerja. Last but not least, boleh jadi seorang ibu stress menghadapi sikap dan perilaku suami sendiri. Bukan tidak mungkin para ibu menjadi korban KDRT yang dilakukan oleh para suami. Nah lo!

Karena ketidakmampuan mengelola berbagai stress yang dihadapi, wa bil khususon KDRT oleh para suami, para ibu justru mencari pelampiasan kepada orang lain. Siapapun manusia, tidak mungkin melampiaskan kekecewaan dan kemarahan kepada orang lain yang memiliki otot seperti kawat dan tulang seperti besi. Setiap orang lebih mudah melampiaskan kekecewaan dan kemarahan kepada orang-orang yang lemah dan tidak mampu membalas.

Dalam psikologi, pelampiasan frustrasi kepada orang lain atau obyek yang lemah dan tidak memiliki kemampuan untuk melakukan “serangan balik” disebut dengan displacement. Semua orang boleh jadi pernah mengalami displacement, sebab displacement merupakan salah satu bentuk mekanisme pertahanan diri. Dalam www.psychology.about.com, Kendra Cherry menjelaskan tentang displacement sebagai berikut :

“Displacement involves taking out our frustrations, feelings, and impulses on people or objects that are less threatening. Displaced aggression is a common example of this defense mechanism. Rather than express our anger in ways that could lead to negative consequences (like arguing with our boss), we instead express our anger towards a person or object that poses no threat (such as our spouse, children, or pets).”

Secara “alamiah”, anak-anak dalam status dan posisi lemah dan tidak mampu membalas kemarahan seorang ibu. Sangat logis jika anak kemudian menjadi sasaran empuk KDRT yang dilakukan oleh sebagian ibu. Jadi, dalam konteks KDRT terhadap anak-anak, berlaku “efek domino”, satu domino jatuh maka akan menjatuhkan domino yang lain.

“Efek domino” bahkan tidak terbatas dalam satu keluarga saja, melainkan juga dapat “memakan” korban orang-orang yang tidak terlibat dan tidak bersalah dalam KDRT terhadap anak di dalam satu rumah tangga. Anak-anak yang menjadi korban dalam KDRT berpontensi memiliki karakter dan akhlak yang acakadul dan amburadul. Kelak, dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara, anak-anak “salah asuhan” seperti itu dapat bersikap “garang” dan kurang ajar terhadap siapapun.

Karena tidak ada sebab-musabab tunggal dalam berbagai kasus KDRT terhadap anak-anak, dan sebab-musabab itu membentuk tali-temali yang sangat kuat, maka tidak bijak jika hanya menyalahkan ibu sebagai pelaku tunggal. Bahkan juga tidak bijak jika kemudian “menugaskan” kepada para ibu yang terjerat KDRT terhadap anak-anak, untuk memperbaiki kecerdasan mereka, baik itu IQ, EQ, ESQ, maupun AQ.

Sejatinya, tidak hanya para ibu yang harus memperbaiki karakter dan akhlak mereka agar tidak terjerumus dalam kasus KDRT terhadap anak-anak. Ayah, sebagai seorang pemimpin dalam rumah tangga, sudah sepatutnya menjadi pihak yang paling aktif untuk mengetahui apakah di dalam rumah terjadi KDRT. Jika ya, ayah pula yang harus proaktif menjadikan rumah sebagai tempat di mana anggota keluarga menemukan perasaan nyaman, aman, diperhatikan, dianggap penting, dan dihargai.

 

Kebayoran Baru, 27 Desember 2013

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on December 28, 2013 in Gemeinschaft | Gesellschaft

 

Ibu

Lembaga peradilan tertinggi di bumi pertiwi telah memutuskan bahwa, Lapindo Brantas tidak bersalah dalam kasus luapan lumpur di Kabupaten Sidoarjo (sering disebut “lusi”). Tetapi mengapa keluarga Bakrie bersedia membayar ganti rugi kepada para korban “lusi”?

Tak ada jawaban yang lebih sahih kecuali “apa kata ibu”.  Dalam sebuah talkshow, Aburizal Bakrie yang akrab dipanggil Ical “ditodong” oleh sebuah pertanyaan tentang alasan ia mau menggelontorkan triliunan  Rupiah kepada para korban lusi. Inilah jawaban Ical  :

“Ibu saya memerintahkan, salah atau benar harus tetap bantu korban, dan kita sudah melakukan jual beli tanah dan rumah sampai dana yang kami keluarkan sudah Rp. 9 triliun,” paparnya (www.nasionalnews.viva.co.id, 2 Oktober 2013)

“Apa kata ibu” adalah bagaikan “mantra” dan “titah” yang harus dilaksanakan. Betapa banyak laki-laki yang berterus terang mengakui bahwa, di balik berbagai keputusan penting yang diambilnya, “apa kata ibu” menjadi pertimbangan penting atau pengaruh yang sangat penting. Saya yakin, dalam sistem sosial masyarakat yang selama berabad-abad didominasi oleh sistem patriarkat, relatif banyak laki-laki yang berstatus “DBI” (baca : di bawah bayang-bayang ibu). Mungkin lebih banyak laki-laki yang berstatus “DBI” ketimbang “DKI” (baca : di bawah ketiak istri).

Bahkan, betapa “perkasa” seorang istri terhadap seorang suami, saya yakin seorang istri yang “garang” sekalipun tidak akan merasa iri dan dengki kepada seorang ibu mertua yang memiliki daya “magnet” luar biasa sehingga seorang laki-laki yang tegar pun dapat menangis terisak-isak di hadapan seorang ibu.

Saya juga seorang laki-laki yang memasukkan faktor “apa kata ibu” dalam berbagai kesempatan pengambilan keputusan. Tentu saja berdo’a kepada Tuhan Yang Mahakuasa dan shalat istikharah penting, tetapi pengalaman subyektif saya selalu menuntun saya untuk bertanya kepada ibu.

Saat berada di kisaran usia 30-an, beberapa head hunter hampir setiap bulan menginformasikan lowongan kerja kepada saya. Penawaran yang menarik dari segi gaji dan fasilitas seringkali dari beberapa perusahaan di luar Jawa. Pernah suatu saat saya sangat “tergiur” dengan kesempatan karir di Papua (waktu itu masih Irian Jaya). Setelah mempertimbangkan berbagai faktor dan tinggal mengambil keputusan akhir, saya pun meminta nasehat kepada ibu saya. Ternyata ibu saya tidak setuju dengan rencana saya dan saya pun batal bergabung dengan perusahaan sebuah perusahaan di Papua. Saya dapat “menangkap” dan merasakan suasana hati ibu saya yang tidak nyaman jika saya berada terlalu jauh dari saya (saat itu ibu tinggal di Yogyakarta dan saya tinggal dan bekerja di Jakarta).

RASJIDFoto : Dok. Pribadi Keluarga Besar M.A. Rasjid

Bagi sebagian besar orang yang “macho”, alasan kenyamanan suasana hati ibu sebagai alasan yang kurang beraroma laki-laki. Tetapi ternyata saya tidak sendirian. Di sebuah harian ibukota, saya membaca kisah Alexander Sriewijono (Founder Daily Meaning dan penggagas “Passionate Working Life”)  yang juga menempatkan faktor ibu sebagai pertimbangan utama dalam pengambilan keputusan penting, baik kehidupan pribadi maupun karir. Alexander yang saat itu sudah menyelesaikan S2 di Inggris dan berkesempatan untuk meneruskan S3, bersedia membatalkan cita-cita yang sudah terlanjur digantungkannya setinggi langit, karena mempertimbangkan suasana kenyamanan hati ibu.

Sebagaimana dimuat dalam rubrik Inspiring Person Koran Sindo 8 Desember 2013, Alexander Sriewijono bercerita sebagai berikut : “pada 2004 saat tengah menyelesaikan pendidikan master di London, datang dua kesempatan atau pilihan emas. Pertama, melanjutkan studi doctoral di London, dan kedua panggilan wawancara untuk memimpin sebuah perusahaan konsultan. Di masa gamang antara meraih gelar doktor atau pekerjaan, Alex lebih memikirkan di mana sang ibu merasa lebih nyaman. Alex pun menelepon ibunya. Sang ibu menjawab tidak kuat dingin sehingga keberatan untuk ikut.”

Pengalaman saya pribadi dan Alexander Sriewijono mungkin masih biasa-biasa saja dan “nggak ada apa-apanya”. Maksud saya, bukan hal yang istimewa dan tidak perlu dibesar-besarkan. Apa yang dilakukan oleh sahabat saya (seorang laki-laki) untuk mendampingi ibu kandungnya yang sudah udzur untuk mempersiapkan diri sebaik mungkin menghadap Allah SWT secara khusnul khotimah lebih patut diacungi jempol.

Sahabat saya ikhlas untuk dimutasikan dari Kalimantan ke Jakarta agar dapat berkumpul kembali dengan ibu kandungnya. Pindah ke Jakarta dengan risiko tanpa jabatan, gaji dan fasilitas dikurangi bukan hal yang menakutkan bagi sahabat saya. Bukan hanya sampai disitu, kalaupun perusahaan tidak bersedia memutasikan ke Jakarta, ia sudah siap untuk “nekad” mengundurkan diri dari perusahaan dan mencari pekerjaan lain di Jakarta.

Sikap dan perilaku sahabat saya yang ikhlas mendampingi ibu mungkin terasa naïf bagi orang-orang yang memiliki kesempatan untuk merawat dan mendampingi orang tua di saat udzur, tetapi justru memilih “melarikan diri” dari tanggung jawab dan membuang kesempatan yang hanya datang sekali dalam seumur hidup.

Betapa banyak anak-anak, demi karir, gaji dan fasilitas yang melimpah, memilih “mendelegasikan” tugas dan tanggung jawab merawat dan medampingi orang tua yang sudah udzur kepada orang lain. Sayang sekali, bagi sebagian anak, “menggelontorkan uang” kepada orang tua yang sudah udzur, dianggap sama nilainya dengan pendampingan kepada orang tua mempersiapkan diri Allah SWT secara khusnul khotimah.

***

Surga berada di telapak kaki ibu. Suatu petunjuk betapa mulia seorang ibu sehingga surga pun berada bawah telapak kaki ibu. Maksudnya adalah setiap anak sepatutnya memiliki rasa hormat yang sangat tinggi kepada ibu dan rela menunjukkan darma bakti kepada ibu. Meskipun demikian, menurut pendapat subyektif saya, kita seringkali diingatkan dengan peribahasa tersebut dalam konteks dan tujuan untuk menakut-nakuti. Seolah-olah, untuk berbakti kepada ibu, hanya dapat dilakukan dengan “menakut-nakuti” dan “memaksa” anak-anak untuk hormat kepada ibu.

Padahal, tanpa ditakut-takuti dan dipaksa pun, seorang anak yang dididik secara benar oleh seorang ibu, akan hormat dan patuh kepada seorang ibu. Idealnya, peribahasa itu digunakan untuk menunjukkan betapa terhormat dan kemuliaan seorang ibu. Kemuliaan seorang ibu antara lain adalah kemampuannya mengasuh anak-anak dengan meng”copy paste” sifat-sifat Allah SWT.

Ada 99 sifaf-sifat Allah SWT dan manusia dianjurkan untuk berusaha “copy paste” sifat-sifat tersebut. Mungkin hanya nabi dan utusan Tuhan yang mampu melakukan “copy paste” sifat-sifat Allah SWT. Selain itu, tidak ada manusia biasa yang mampu melakukan “copy paste” sifat-sifat Allah SWT dan menjadikan dasar dari akhlak dan karakternya, kecuali seorang ibu.

Hanya seorang ibu yang mampu mengasuh anak-anaknya dengan sifat kasih dan sayang. Kasih sayang itu diberikan secara tulus kepada anak-anaknya selama hayat dikandung badan, tanpa mengharapkan balasan apapun dari anak-anaknya.

Mengapa seorang ibu mampu dan bersedia mengasuh anak-anaknya dengan kasih sayang secara ikhlas dan totalitas? Semua itu hanya dapat dilakukan oleh manusia yang mampu mencontoh sifat-sifat Allah SWT. Artinya, sifat-sifat Allah yang mampu membuat ibu menjadi manusia yang memiliki akhlak dan karakter sangat mulia.

Bagaimana sesungguhnya menghayati dan mengamalkan “the more you give the more you get”?. Setelah nabi dan utusan Tuhan, tak ada manusia yang lebih baik dalam hal ikhlas dan mengesampingkan kepentingan pribadi. Tetapi ibu adalah orang yang sangat sadar bahwa, pada saat manusia tidak mengharapkan semuanya, justru manusia akan mendapatkan semuanya. Seorang anak yang berbakti kepada ibu akan memberikan semua yang terbaik yang ada pada dirinya kepada ibunya, meskipun ibu tidak pernah mengharapkan apalagi memintanya.

Tahukah anda, bahwa perusahaan-perusahaan yang mencoba meng”copy paste” sifat-sifat kasih sayang ibu, mampu bertahan dan tumbuh sangat mencengangkan? Dalam bisnis, sikap dan perilaku ikhlas tanpa pamrih justru memberikan pendapatan yang luar biasa dibandingkan dengan bisnis yang dijalankan secara kikir dan serakah.

Beberapa sosial media memberikan kemudahan dan kemanfaatan kepada manusia tanpa memungut biaya sepersen pun. Tak terhitung jumlah manusia yang sangat terbantu dan mendapatkan manfaat dari kehadiran Google, search engine yang memungkinkan manusia untuk mendapatkan informasi apa saja secara cepat dan mudah. Demikian juga Facebook yang mampu mempertemukan dan mempersatukan kembali keturunan Adam dan Hawa dari delapan penjuru mata angin. Masih banyak lagi media sosial yang sangat bermanfaat bagi banyak orang dan dapat dimanfaatkan secara gratis, antara lain wordpress, linkedin, dan wix.

Berapa nilai market capitalization / revenue Google dan Facebook. Market capitalization Google mencapai US$ 166,48 milyar dan revenue US$23,65 milyar, sedangkan market capitalization Facebook mencapai US$ 25 milyar dan revenue US$ 0,7 milyar. Tanpa mengharapkan apapun dari para pengguna Google dan Facebook, ternyata kedua media sosial itu tetap meraup pendapatan yang berlipat-lipat ganda dibandingkan dengan perusahaan besar apapun di Indonesia.

***

Tak peduli warna kulit dan budaya, ibu selalu menempati “maqam” yang sangat khusus di hati anak-anak ibu. Tak peduli apakah anak-anak ibu masih anak-anak atau sudah dewasa, semua berlomba-lomba untuk memuji dan memuja keluruhan budi seorang ibu.

Semua orang dari semua kelompok umur di Indonesia mengetahui dan menyukai lagu “Kasih Ibu”. Demikian juga Hendrik Nikolaas Theodoor Simons (saat itu penyanyi cilik dari negara kincir angin yang lebih dikenal dengan nama Heintje) yang menjadi terkenal di seluruh penjuru dunia setelah menyanyikan lagu “Mama”. Paul McCartney pun merasa perlu berbagi cerita tentang kehangatan kasih ibu dalam lagunya yang berjudul Let It Be. Tak ketinggalan Melly Goeslaw yang “memborong” menulis lagu sekaligus menyanyikan sendiri lagu Bunda.

Saya seringkali berandai-andai dan membayangkan, dengan akhlak dan karakter ibu yang mampu meng”copy paste” sifat-sifat Tuhan saat mengasuh anak-anaknya, dunia ini akan “kebanjiran” dengan manusia yang memiliki emotional intelligence. Tiga tahun di awal-awal kelahiran anak, kebersamaan ibu dan anak yang sangat intensif seyogyanya sudah lebih cukup untuk menghadirkan anak-anak manusia yang memiliki kecerdasan emosional yang dapat menjadikan dunia lebih baik.

Sejatinya, jika saja setiap manusia mampu mewarisi sifat-sifat kasih sayang seorang ibu, keteledanan untuk mengampuni seperti yang pernah ditunjukkan mendiang Nelson Mandela bukan sikap dan perilaku yang sulit untuk dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari. Demikian juga, jika setiap manusia mampu meneladani seorang ibu yang mengedepankan hati, tentu bukan hal yang sulit bagi manusia untuk mempraktekkan compassion (welah asih) kepada sesama manusia.

Selamat Hari Ibu!

Kemang, 20 Desember 2013

 
Leave a comment

Posted by on December 22, 2013 in Gemeinschaft | Gesellschaft

 

Perubahan Sosial Dimulai Di Kamar Tidur

Apakah ada hubungan antara kemacetan dengan pola perilaku seksual pasangan suami istri (pasutri)? Bagaimana sesungguhnya pengaruh kemacetan terhadap pola perilaku seksual pasangan suami istri?

Tanpa mengadakan penelitian sosial dan pengkajian secara ilmiah, saya merasa haqqul yaqin, bahwa kemacetan memiliki hubungan dan pengaruh terhadap pola perilaku seksual pasutri. Tanpa berpikir panjang pun saya merasa benar bahwa dalam hubungan dan pengaruh tersebut, kemacetan bertindak sebagai independent variable, sedangkan pola perilaku seksual menjadi dependent variable. Kalau anda masih tidak percaya, silakan mengadakan penelitian sosial untuk membuktikannya.

Salah satu tema “klasik” dan favorit dalam diskusi interaktif antar sesama warga di kompleks perumahan saya adalah kemacetan. Banyak pertanyaan, berbagi pengalaman dan strategi untuk mengatasi kemacetan, mulai berangkat dari rumah menuju ke tempat kerja, sampai dengan pulang dari tempat kerja menuju ke rumah. Maklum, bertempat tinggal di pinggiran Jakarta dan bekerja di Jakarta maupun kawasan industri yang tersebar di pinggiran Jakarta, berangkat dan pulang kerja adalah “jihad” yang melelahkan.

Salah satu pertanyaan yang sering diajukan kepada sesama warga adalah “jam berapa berangkat kerja?”. Tidak ada satupun yang malu-malu untuk menjawab pertanyaan tersebut. Justru, ada keinginan untuk “mengalahkan” orang lain. Semakin pagi berangkat ke tempat kerja, semakin mendapat pujian dan standing ovation dari peserta diskusi interaktif.

Berangkat ke tempat kerja pukul 6.30 sudah dianggap “terlalu siang”. Berangkat ke kantor pukul 6.00 dianggap biasa-biasa saja. Berangkat kerja lebih awal lagi pukul 5.30 masih belum terlalu istimewa di mata warga perumahan. Berangkat kerja pukul 5.00 sudah mendapat tepuk tangan. Tetapi “juara pertama” diraih oleh warga yang berangkat kerja persis setelah sholat subuh yang biasanya untuk wilayah DKI Jakarta berkisar pukul 4.15 sampai dengan 4.30.

Untuk ukuran bapak-bapak di kompleks perumahan, apalagi pasutri yang berada di usia subur, berangkat dini hari setelah sholat subuh dianggap prestasi yang langka. Berangkat sepagi itu berarti “dokter-dokteran” atau “serangan fajar” menjadi terganggu. Kalaupun masih ada yang melakukan “ritual” itu, frekuensi dan intensitasnya tentu sudah mulai berkurang. Karena terburu-buru, mungkin juga kenikmatannya juga berkurang. Nah lo!.

Kemacetan memiliki hubungan dan pengaruh yang signifikan terhadap pola perilaku seksual pasutri. Gara-gara menghindari kemacetan, para pekerja, terutama mereka yang mengandalkan double income, terpaksa berangkat pagi dan meninggalkan “ritual” yang dianggap sangat penting dan wajib. Kemacetan tidak hanya membuat orang harus berangkat dini hari, melainkan juga pulang dari kerja “berdarah-darah” menghadapi kemacetan. Sebagian pekerja memilih pulang larut malam untuk menghindari kemacetan. Pulang on time maupun larut malam sama-sama menyebabkan pekerja kelelahan. Akibatnya sudah bisa ditebak, hasyrat dan selera untuk melaksanakan “ritual” pasutri pun menjadi terganggu.

***

Sejatinya, kemacetan tidak hanya menjadi variabel sangat penting terhadap perubahan pola perilaku seksual pasutri. Dampak yang diakibatkan oleh kemacetan lebih besar dari yang kita rasakan dan pikirkan. Kemacetan antara lain juga memiliki hubungan dan pengaruh terhadap pola asuh anak.

Jangan pernah anggap remeh urusan pengasuhan terhadap anak-anak. Pasutri yang mempunyai orang tua dan atau mertua tinggal di kota yang sama – misalnya Jakarta – masih dapat berharap banyak kepada orang tua dan atau mertua. Sementara pasutri yang memiliki saudara kandung tinggal di kota yang sama, di kompleks perumahan yang sama, atau bahkan di rumah yang sama, masih dapat mengharapkan bantuan dari saudara ipar. Sedangkan pasutri yang “sebatang kara” tinggal di kota besar, terpaksa memilih untuk menyerahkan atau mendelegasikan tugas-tugas pengasuhan anak kepada para pembokap.

Beres? Maybe yes maybe no. Tidak semua urusan pendelegasian pengasuhan anak kepada pembantu berjalan mulus. Ada yang justru ibarat menyelesakan masalah dengan menghadirkan segudang masalah, bahkan berakhir tragis seperti kasus pembunuhan anak. Kalaupun dapat pembantu “baik-baik”, bukan berarti urusan telah beres.

Setiap anak dilahirkan dalam keadaan suci. Rasulullah Muhammad SAW mengibaratkan qalbu anak yang suci seperti kertas putih. Orang tua bertugas untuk “menggambar” dan memelihara agar “kertas putih” itu tetap suci sebagaimana Allah SWT menitipkan kepada para orang tua.

Menyerahkan kepada pembantu untuk mewakili para orang tua dalam proses pengasuhan anak jelas sangat berisiko. Kualitas akhlak, pendidikan agama, pendidikan moral antara orang tua dengan pembantu jelas-jelas sangat berbeda. Dengan kualitas IQ (kecerdasan intelektual), EQ (kecerdasan emosional) dan ESQ (kecerdasan emotional dan spiritual) yang berbeda antara orang tua dan para pembantu, tentu saja kesucian dan kualitas “kertas putih” itu tidak akan sebaik jika para orang tua turun tangan sendiri mengasuh anak.

Dalam situasi seperti itu, sejatinya anak berpotensi menjadi korban dari keputusan orang tua menyerahkan pengasuhan anak kepada pembantu, meskipun “hanya” untuk beberapa jam. Memang selalu ada orang tua yang berdalih bahwa yang paling penting bukan kuantitas waktu, melainkan kualitas waktu. Meskipun waktu orang tua dan anak untuk relatif terbatas, tetapi jika kualitas hubungan sangat baik, maka kuantitas waktu itu tidak menjadi masalah besar, atau malah dapat diabaikan.

Weleh-weleh, kok masih berdebat dan ngeyel. Anak-anak batita (bawah tiga tahun) belajar tidak seperti remaja dan orang dewasa. Anak-anak batita belajar dengan cara melihat, mendengar, merasakan dan meniru melakukan apa yang dilakukan orang-orang yang mengasuhnya. Singkat kata, anak-anak belajar melalui kebiasaan-kebiasaan dan mereka belum mampu melakukan penyaringan mana yang baik dan mana yang buruk.

Kebiasaan-kebiasaan itulah yang kemudian diulang-ulang secara otomatis dan dibawa sampai dewasa, bahkan sampai mati. Hal yang paling sulit dilakukan manusia adalah mengubah kebiasaan yang sudah diajarkan oleh para orang tua (dan para pembantu) sejak usia batita. Tidak percaya?

Jika anda memiliki kebiasaan menulis dengan tangan kanan, coba anda ubah kebiasaan itu dengan menulis menggunakan tangan kiri. Jika saya motivasi anda dan puji bahwa tulisan tangan kiri anda akan sebaik tulisan tangan kanan, saya yakin anda akan tertawa terbahak-bahak, terpingkal-pingkal, terkekeh-kekeh dan termehek-mehek. Jangankan melatih diri menulis dengan tangan kiri, untuk mencobanya pun mungkin  anda akan berkata judes dan ketus : “ngapain!”. Mungkin, kalau mengubah kebiasaan menulis dengan tangan kanan menjadi dengan tangan kiri itu ada penghargaan bantuan langsung tunai Rp. 1 milyar, anda tidak akan berpikir panjang dan ngeyel lagi.

Akhlak, karakter, sikap, dan perilaku anak-anak yang saat ini kita lihat di sekitar kita adalah hasil dari proses pengasuhan anak-anak yang telah dilakukan para orang tua. Saya tidak terkejut, karena perubahan sosial yang terjadi di masyarakat, terjadi akibat dari perubahan-perubahan dalam rumah tangga. Kemacetan di jalan raya di kota-kota besar seperti di Jakarta adalah salah satu kontributor utama untuk perubahan-perubahan sosial yang terjadi di masyarakat, bangsa dan negara.

***

Dalam konteks perubahan sosial dalam masyarakat, saya tidak mengerti mengapa “keluh kesah” Jokowi, Gubernur DKI Jakarta, terhadap proyek low cost green car (LCGC) ditanggapi secara lebay oleh kalangan tertentu.

Bild

Foto diunduh dari http://www.pertamax7.com

Sudah menjadi pengetahuan umum, bahwa kebijakan pengelolaan energi  di Indonesia tidak pernah menyentuh sisi demand (permintaan). Saat Indonesia sudah “murtad” dari negara pengekspor minyak menjadi negara pengimpor minyak tidak menumbuhkan kesadaran untuk mengatur sisi permintaan energi, terutama BBM untuk kendaraan bermotor. Setelah impor BBM secara pasti dan meyakinkan menjadi kontributor utama defisit neraca perdagangan, masih juga mengabaikan pembangunan sistem transportasi massal. Subsidi negara untuk BBM yang telah mencapai ratusan triliun (sebagian bahkan didanai dari sumber hutang) masih dianggap bukan masalah yang perlu dirisaukan.

Berapa nilai kerugian yang ditanggung Jakarta per tahun? Sampai dengan tahun 2013, Jakarta “hanya” menanggung kerugian akibat kemacetan senilai Rp. 12,8 triliun per tahun. Jika kemacetan di Jakarta tidak juga dapat diatasi, maka pada tahun 2020 Jakarta “hanya“ akan menderita kerugian Rp. 65 triliun per tahun (www.sindonews.com, 28 Mei 2013). Jumlah itu tentu saja belum dihitung dengan penghamburan devisa negara untuk menambal subsidi BBM.

Tak seimbang jika saya hanya memaparkan sisi kerugian saja. Apa manfaat dan keuntungan yang diperoleh dari industri otomotif yang terus berkembang? Yohannes Nangoi, Ketua II Gaikindo (Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia), memaparkan sebagai berikut :

“….. dari sisi pemerintah disukai karena menyumbang pajak kira-kira Rp. 75 triliun dan menyerap tenaga kerja. Saya ambil contoh, 20 perusahaaan otomotif yang punyai assembling (perakitan) di Indonesia mempekerjakan 55.000 karyawan. Lalu, di Indonesia ada kira-kira 500 supplier dengan jumlah tenaga kerja 100.000 orang, dan masih banyak lagi.” (Kontan 16-22 September 2013).

Biaya dan kerugian ekonomis dari kemacetan secara matematis mudah dihitung. Tetapi biaya sosial dan kerugian sosial akibat dari kemacetan jauh lebih sulit untuk dikalkukasi. Jika hutang ekonomis baru dirasakan dan ditanggung oleh generasi yang akan datang, maka biaya sosial dan kerugian sosial akibat dari kemacetan itu sudah dirasakan dan akibatnya ditanggung oleh generasi saat ini. Kecuali perubahan pola perilaku seksual dan pola pengasuhan anak, tentu saja masih banyak dampak sosial dari kemacetan.

Sikap dan perilaku warga Jakarta dan sekitarnya terhadap kemacetan cenderung “benci tapi rindu”. Karena tidak ada kesamaan pandangan tentang dampak dan kerugian yang harus ditanggung bersama yang diakibatkan oleh kemacetan, tampaknya kita perlu berpaling mencari kambing hitam lain. Mungkin, kalau ada yang patut dan layak disalahkan dan menjadi penyebab kemacetan adalah : Sapa suru datang ke Jakarta?

Tampak Siring, 29 September 2013

 
Leave a comment

Posted by on September 30, 2013 in Gemeinschaft | Gesellschaft

 

“Dinding Badinding”

Saat sedang membaca koran minggu, secara tidak sengaja mata saya tertuju pada rubrik kontak jodoh. Beberapa tahun yang lalu, sebelum ketemu jodoh, saya sering “iseng” menyempatkan diri membaca rubrik yang ternyata tidak hilang dengan kehadiran teknologi dan media sosial.

Kalau sekarang saya membaca lagi rubrik kontak jodoh, sama sekali tidak ada niat saya untuk “tebar pesona” mencari istri kedua. Jangankan nikah lagi, untuk perkenalan saja saya tidak punya uang. Maklum, sebagai purnawirawan karyawan swasta, saya tidak sanggup kalau harus membayar uang senilai Rp. 10 juta agar dapat berkenalan dengan seorang wanita. Bahkan, kalau Rp. 10 juta itu ada tambahan doorprize “bobok-bobok sore”, saya tetap tidak sanggup menggelontorkan uang sejumlah itu.

Lalu mengapa saya tertarik dengan rubrik kontak jodoh? Zaman sudah banyak berubah. Teknologi sudah sangat maju. Berbagai media jejaring sosial juga tumbuh menjamur. Semuanya memberikan kemudahan bagi manusia untuk mengadakan kontak sosial dengan banyak orang dari 8 penjuru mata angin.

Para ahli memang meramalkan bahwa teknologi akan mengubah kehidupan manusia. Bukan hanya sampai di situ, para ahli juga berpendapat teknologi bahkan akan mengubah cara manusia memandang kehidupan itu sendiri. Bagi sebagian orang yang “melek teknologi”, harkat dan martabat manusia pun ditentukan dari penguasaan teknologi.

Teknologi juga telah merubah cara manusia berkomunikasi. Teknologi mampu menyiasati jarak dan waktu sehingga jarak dan waktu bukan lagi perkara besar bagi manusia untuk menyampaikan data dan informasi dalam waktu “seketika”. Kehadiran internet telah memungkinkan manusia mengirimkan data dan informasi dalam waktu sekejap ke seluruh penjuru dunia.

Teknologi juga telah merubah cara manusia bersosialisasi. Teknologi juga telah merubah mindset untuk berpikir, bersikap, dan berperilaku praktis. Ucapan permintaan maaf, ucapan selamat ulang tahun, undangan pernikahan, atau bahkan ucapan turun berduka cita, dianggap telah cukup memadai dan santun meskipun hanya disampaikan melalui pesan singkat (sms), e-mail, maupun kicauan di media twitter.

Tetapi perubahan teknologi yang relatif cepat sama sekali tidak membuat urusan jodoh menjadi lebih mudah. Kemudahan-kemudahan yang ditawarkan teknologi tidak serta merta diimbangi dengan kemudahan dalam urusan menemukan jodoh. Buktinya, komunitas bernama Ijolumutan (ikatan jomblo lucu imut-imut pisan) masih tetap eksis.

***

Dalam film You’ve Got Mail yang dibintangi oleh aktor kawakan Tom Hanks dan aktris cantik Meg Ryan dikisahkan bahwa cinta bisa datang dari e-mail. Jalur dan proses cinta tidak lagi datang dari mata turun ke hati. Di zaman modern, dua anak cucu Adam dan Hawa tidak perlu bertemu muka untuk saling mencintai. Melalui e-mail pun cinta dapat bersemi. Anda tidak percaya?

Bild

Image courtesy of http://www.ownlocal.com

Dua keponakan saya ketemu jodoh melalui “mak comblang” bernama internet. Berkat “rajin” chatting dan saling kirim e-mail, cinta tidak hanya bersemi, tetapi berlanjut sampai ke hadapan penghulu. Padahal, kedua keponakan saya adalah orang yang pintar (keduanya doktor lulusan universitas di Eropa Barat), ganteng-ganteng,  supel, grapyak, dan jauh dari karakter clingus (pemalu). Last but not least,  mereka adalah anak-anak yang saleh.

Tetapi kesibukan dan waktu yang terbatas tidak memungkinkan mereka menjadi lebih mudah menemukan jodoh. Beruntung mereka hidup di zaman yang disebut oleh Bill Gates sebagai zaman Web Lifestyle dan Web Workstyle. Singkat kata, mereka mampu memanfaatkan secara optimal kehadiran teknologi untuk memburu pasangan hidup.

***

Saya membayangkan, dengan kemajuan teknologi yang semakin canggih dan perkembangan media jejaring sosial yang semakin pesat, manusia akan semakin mudah berkomunikasi dan menemukan pasangan hidup. Bahkan, kesempatan dan kemudahan untuk menemukan pasangan hidup tidak hanya difasilitasi melalui dunia maya saja.

Saat ini komunikasi sosial sudah sangat terbuka dan berbagai komunitas tumbuh menjamur, mulai dari komunitas yang berbasis hobby sampai dengan komunitas yang ditujukan untuk aktivitas sosial. Melalui keanggotaan partai politik pun orang bisa menemukan jodoh. Dibandingkan dengan kakek dan nenek kita “tempo doeloe”, anak-anak muda sekarang menjadi lebih mudah untuk menjalin persahabatan.

Ternyata, masih banyak anak cucu Adam dan Hawa yang mengalami kesulitan besar untuk menemukan pasangan hidup. Tidak hanya itu, jika ada yang berhasil naik ke pelaminan, dalam waktu yang relatif singkat sudah bercerai.

Teknologi memang mampu mengatasi kendala jarak dan waktu. Tetapi teknologi ternyata tidak serta merta mampu mengatasi jarak sosial dan jarak psikologis di antara sesama manusia. Meskipun manusia sudah mencapai tahap ketergantungan dan ketagihan terhadap teknologi, tetap saja teknologi tidak mampu menumbuhkan saling pengertian, saling menghormati, dan saling menyayangi di antara sesama manusia.

Jarak sosial dan psikologis itu masih tetap ada, meskipun dua sejoli telah sepakat berikrar sehidup semati sampai akhir hayat. Jarak sosial dan psikologis di antara manusia masih akan tetap ada ………. sebagaimana Merle Haggard mengingatkan dalam lagunya “Somewhere Between” :

Somewhere between your heart and mine

There’s a window that I can’t see through

There’s a wall so high it reaches the sky

Somewhere between me and you

Tampak Siring, 2 Juni 2013

 
 

“Samudera Imajiner”

Nun jauh di sana, di sebuah desa nelayan yang terletak di sebelah tenggara Indonesia, tepatnya di pantai Kuta, Lombok, seorang istri nelayan bertanya kepada saya sebagai berikut : “Pak, apakah bapak kenal sama fotografer yang berkumis tebal dan berkaca mata?”.

Sejenak saya terkejut dengan materi pertanyaan ibu tersebut. Sebab, maaf saya tidak bermaksud underestimate, yang bertanya adalah “wong ndeso” dan bukan “orang gedongan”. Tentu saja saya tahu (dan mengenal) fotografer yang dimaksud oleh si ibu tersebut. Tidak salah lagi, dia adalah Andreas Darwis Triadi, salah satu ikon fotografi di Indonesia, terutama untuk fotografi fesyen  dan model. Si ibu ternyata memang membenarkan jawaban saya.

Saya justru balik bertanya kepada si ibu : “bagaimana ibu tahu Darwis Triadi?”. Jawaban si ibu tambah membuat gusar saya : “Tahu dong Pak, lha wong dia kan pernah motret Sophia Latjuba”. Saya menduga-duga,  ibu tersebut telah membaca sebuah majalah khusus untuk laki-laki dewasa, yang memuat foto-foto “seronok” Sophia Latjuba.

“Dari mana ibu tahu”, saya terus “mencecar” si ibu dengan pertanyaan lanjutan. “Ya tahu dong Pak, kami kan pakai indovision, bukan yang lain”. Weleh-weleh!

Rumah Nelayan di Desa Kuta, Lombok

Pantai dan Keterbukaan

Secara tradisional, dibandingkan pedalaman, kawasan pantai sangat akrab dengan keterbukaan dan perubahan. Sebelum teknologi pesawat udara mencapai tingkat kemajuan seperti saat ini, pamor dan kontribusi pelabuhan laut sangat strategis dibandingkan dengan bandar udara.

Dalam sejarah kehidupan manusia, pantai adalah tempat manusia dari berbagai daerah dan manca negara saling bertemu. Peran dan kontribusi pantai tidak hanya di bidang perdagangan, melainkan juga dalam perjumpaan kebudayaan yang saling berbeda. Bahkan, di masa lalu, penyebaran agama masuk ke satu wilayah selalu dimulai dari pantai.

Mengingat bahwa orang-orang yang tinggal di pantai berjumpa dengan banyak manusia dengan latar belakang status sosial, ekonomi, budaya, ideologi yang berbeda, maka orang-orang yang tinggal di pesisir pantai cenderung lebih mudah bersikap terbuka dan menyambut hangat terhadap perubahan.

Seiring dengan perkembangan dan kemajuan teknologi di bidang informasi dan komunikasi, manusia memiliki metode yang berbeda untuk mengakses keterbukaan dan perubahan. Peran dan kontribusi pantai dalam konteks keterbukaan dan perubahan, mungkin tidak lagi strategis seperti periode sebelumnya. Tetapi, karakter orang-orang pesisir pantai yang cenderung lebih terbuka dan menerima perubahan, mungkin tetap menjadi trademark mereka.

The World Is Flat

Dialog saya dengan istri nelayan tersebut di atas mengingatkan saya pada sebuah “jargon” dari Thomas Friedman, yaitu “the world is flat”. Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang pesat telah memungkinkan dunia menjadi “rata” dan seolah-olah tidak ada lagi jarak ruang dan waktu yang memisahkan manusia dari belahan dunia manapun.

Teknologi informasi dan komunikasi telah membuat ruang dan waktu tidak berbatas.  Jarak tidak lagi menjadi masalah besar, sementara perbedaan waktu tidak lagi menjadi kendala. Siapa saja, di mana saja, dan kapan saja, dapat mengakses informasi yang sama dan pada saat yang sama.

Pantai, dalam pengertian fisik, adalah tepi dari sebuah samudera. Tetapi pantai dalam pengertian imajiner, sangat berbeda dengan pemahaman pantai secara fisik. Dalam pengertian imajiner, semua tempat di muka bumi ini telah berubah menjadi sebuah pantai. Mengapa?

Begitu manusia connect dengan internet, maka pada saat itulah manusia berhadapan dengan “samudera”. Secara fisik, manusia masih berada di tempat yang sama. Tetapi tidak demikian halnya dengan imajinasi dan pikiran manusia. Di dunia maya, imajinasi dan pikiran manusia dapat melakukan surfing tak terbatas di samudera imajiner.

Di tempat yang bernama samudera imajiner, manusia dapat beraktivitas dan bergerak ke mana saja dan kapan saja hampir tanpa hambatan. Tak ada lagi kendala musim dan cuaca. Yang menentukan adalah mood orang yang bersangkutan. Manusia dapat mengunjungi siapa saja di manapun mereka berada. Sebaliknya, orang lain juga dapat mengunjungi dirinya tanpa hadir secara fisik dan tatap muka.

Intensitas dan Dampak Informasi

Di sebuah pantai dalam pengertian fisik, intensitas komunikasi manusia dengan dunia luar relatif terbatas. Secara fisik, manusia harus mengalokasikan waktu khusus untuk hadir di pantai. Karena itu, informasi yang diperoleh melalui komunikasi tatap muka juga terbatas, hanya dalam waktu-waktu tertentu saja.

Dampak informasi yang masuk di sebuah pantai dalam pengertian fisik juga cenderung terbatas. Tidak semua orang dapat mengakses informasi. Kadang-kadang, informasi baru harus terlebih dahulu “disensor” oleh aparat yang berwenang sebelum sampai ke tangan publik. Karena itu, manfaat informasi yang positif maupun dampak dari informasi yang negatif, relatif terbatas dan terkendali.

Tidak demikian halnya dengan keadaan di “samudera imajiner”. Intensitas komunikasi manusia dengan dunia luar hampir tidak terbatas. Tidak diperlukan kehadiran secara fisik untuk hadir di mana-mana dalam waktu sekejap. Karena itu, informasi yang diperoleh melalui dunia maya, dari segi intensitas, bobot, dan kriteria lainnya, relatif lebih tinggi.

Karena hampir tidak ada entry barrier dan sensor oleh aparat yang berwenang, dampak positif dan negatif dari informasi yang diperoleh melalui dunia maya jauh lebih dahsyat. Semua informasi yang baik maupun yang berkualitas sampah ada. Individu memiliki kebebasan dan kekuasaan tanpa batas untuk memilih informasi yang sesuai dengan kepentingan, kebutuhan, dan tentu saja, nafsunya.

So What Gitu Loh?

Yusuf Bachtiar Iskandar, saat itu Direktur Jenderal Pos dan Telekomunikasi, memiliki cara yang unik untuk melindungi keluarganya dari pengaruh informasi negatif. Pada saat banyak orang berlomba-lomba memasang koneksi internet di rumah, Yusuf memilih untuk tidak memasang koneksi internet di rumahnya.

Alasannya sangat logis. Jalan keluar yang paling jitu adalah menutup akses untuk menuju ke samudera imajiner. Mungkin, cara seperti itu mampu melindungi keluarga Yusuf Bachtiar dari pengaruh negatif samudera imajiner. Tetapi sampai kapan? Selalu saja ada banyak jalan menuju ke Roma. Akses menuju samudera imajiner bisa ditemukan dengan berbagai cara, di mana saja, dan dengan biaya relatif sangat murah.

Pengalaman menunjukkan bahwa kekuatan militer dan kekuasaan luar biasa diktator seperti Husni Mubarak tidak mampu membendung pengaruh jejaring media sosial. Kedudukan terhormat juga tidak serta merta  mampu membuat seseorang menjauhkan diri situs-situs porno. Di bumi pertiwi ini, seorang anggota dewan terhormat pernah tidak malu-malu, di tempat terhormat pula, membuka situs porno.

Bagaimana dengan pendidikan agama dan akhlak?. Mungkin saja pendidikan agama dan akhlak dapat membekali anak-anak dari pengaruh negatif samudera imajiner. Tetapi harapan dan kenyataan seringkali berbeda. Pada akhirnya, pendidikan agama dan akhlak saja tidak akan menjamin seseorang tidak akan berkunjung ke situs-situs “bernapas dalam lumpur”.

So what gitu loh? Selain membekali anak-anak dengan pendidikan dan akhlak yang kuat, pendampingan dari para orang tua dan guru masih sangat dibutuhkan. Jika berkunjung ke “situs-situs bernapas dalam lumpur” di dunia maya dikategorikan sebagai kejahatan, maka – seperti kata Bang Napi – kejahatan itu ada karena ada niat dan kesempatan. Pendampingan dari orang tua dan guru, mungkin bermanfaat untuk mempersempit kesempatan.

Tampak Siring, 31 Maret 2012.

 
 

La Sagrada Familia

Sepengetahuan dan seingat saya, jarang sekali khotib kutbah Jum’at yang membawakan tema perceraian. Minggu pertama Februari 2012, tumben-tumbennya seorang khotib di sebuah mesjid, memberikan ceramah tentang perceraian. Khatib mengingatkan, meskipun perkara halal, Allah SWT membenci perceraian.

Minggu ketiga Februari 2012, harian Republika “mengangkat” tema perceraian, terutama di Arab Saudi, sebagaimana saya kutip sebagai berikut :

“Masalah perceraian kini menjadi persoalan pelik bagi Arab Saudi. Bukan tanpa alasan, berdasarkan penelitian Kementerian Urusan Sosial, angka perceraian di negara itu meningkat drastis hingga 35 persen pada 2011.

Jumlah ini berada di atas ratarata perceraian di dunia, yakni antara 18 sampai 22 persen. Ironisnya, sebanyak 60 persen di anta ranya terjadi pada tahun pernikahan pertama.” (Sumber : http://republika.pressmart.com, 17 Februari 2012).

***

Perceraian sudah seperti komoditas. Siapa saja, di mana saja, dan kapan saja, dapat melakukan perceraian. Perbedaan status sosial ekonomis, usia, lokasi geografis tidak lagi memiliki pengaruh yang signifikan terhadap perceraian. Keputusan bercerai begitu mudah dibuat. Seolah-olah perkawinan tidak lebih dari sekedar “disposable marriage”.

Perceraian tidak lagi eksklusif perilaku selebriti, tetapi “orang biasa” pun tidak segan untuk melakukan perceraian. Usia perkawinan juga tidak menjadi jaminan apapun. Mulai dari perkawinan yang masih “seumur jagung” sampai dengan perkawinan yang berlangsung 4 windu, sama-sama berakhir tragis. Di desa maupun di kota sama saja, perceraian sama-sama marak.

Sangking sudah biasa mendengar berita perceraian, kebanyakan orang sudah tidak kaget lagi mendengar perceraian. Tetapi tingkat perceraian di atas 30 persen tentu bukan sembarang angka yang dapat dianggap urusan sepele. Terlebih tingkat perceraian yang relatif tinggi itu terjadi di Arab Saudi.

Keluarga adalah bentuk kelompok sosial terkecil dalam masyarakat.  Keluarga memiliki peranan vital bagi masyarakat, bangsa dan negara. Richard R. Clayton (2003 : 58) dalam bukunya yang berjudul “The Family, Mariage and Social Change”, menyebutkan fungsi keluarga sebagai berikut :

  1. Fungsi Pendidikan dilihat dari bagaimana keluarga mendidik dan menyekolahkan anak untuk mempersiapkan kedewasaan dan masa depan anak.
  2. Fungsi Sosialisasi anak dilihat dari bagaimana keluarga mempersiapkan anak menjadi anggota masyarakat yang baik.
  3. Fungsi Perlindungan dilihat dari bagaimana keluarga melindungi anak sehingga anggota keluarga merasa terlindung dan merasa aman.
  4. Fungsi Perasaan dilihat dari bagaimana keluarga secara instuitif merasakan perasaan dan suasana anak dan anggota yang lain dalam berkomunikasi dan berinteraksi antar sesama anggota keluarga. Sehingga saling pengertian satu sama lain dalam menumbuhkan keharmonisan dalam keluarga.
  5. Fungsi Agama dilihat dari bagaimana keluarga memperkenalkan dan mengajak anak dan anggota keluarga lain melalui kepala keluarga menanamkan keyakinan yang mengatur kehidupan kini dan kehidupan lain setelah dunia.
  6. Fungsi Ekonomi dilihat dari bagaimana kepala keluarga mencari penghasilan, mengatur penghasilan sedemikian rupa sehingga dapat memenuhi rkebutuhan-kebutuhan keluarga.
  7. Fungsi Rekreatif dilihat dari bagaimana menciptakan suasana yang menyenangkan dalam keluarga, seperti acara nonton TV bersama, bercerita tentang pengalaman masing-masing, dan lainnya.
  8. Fungsi Biologis dilihat dari bagaimana keluarga meneruskan keturunan sebagai generasi selanjutnya.
  9. Memberikan kasih sayang, perhatian, dan rasa aman di antara keluarga, serta membina pendewasaan kepribadian anggota keluarga. (sumber : www.id.wikipedia.org,  21 Februari 2012)

Senada dengan Clayton, Friedman (1992) berpendapat fungsi keluarga adalah : fungsi afektif dan koping, fungsi sosialisasi, fungsi reproduksi, fungsi ekonomi, fungsi fisik. Fungsi keluarga menurut Allender (1998) adalah  “affection, security and acceptance, identity and satisfaction, affiliation and companionship, socialization, and controls”.

Image courtesy http://www.nfsctour.com

Memperhatikan fungsi-fungsi yang diemban oleh sebuah keluarga, dapat disimpulkan bahwa keberadaan keluarga sangat penting bagi masyarakat, bangsa dan negara. Keluarga adalah fondasi dari kelompok sosial yang lebih besar yang bernama masyarakat, bangsa dan negara.

Bukan hanya fungsi-fungsi keluarga yang sangat penting. Kesucian anak dan cucu manusia dimulai dari keluarga. Dapat dikatakan bahwa keluarga adalah satu-satunya kelompok sosial yang suci. Dalam sebuah keluarga kesucian dimulai, tumbuh, dan dipertahankan. Dalam bahasa Spanyol, sebuah keluarga adalah La Sagrada Familia (arti harfiahnya adalah keluarga yang suci atau sakral. La Sagrada Familia adalah nama sebuah gereja di Barcelona yang dirancang oleh Antoni Gaudi – penulis).

Perceraian sebuah keluarga  berarti ada fungsi-fungsi keluarga yang tidak lagi berlangsung sebagaimana mestinya. Dampak perceraian keluarga, antara lain dampak psikologis dan sosial, terutama pada perkembangan mental anak-anak, tentu sangat merugikan. Saya beberapa kali menghadiri akad nikah dan mendokumentasikan prosesi akad nikah, saya dapat merasakan suasana duka keluarga yang tidak utuh.

Saya menganalogikan sebuah keluarga sebagai “jembatan sosial” yang menghubungkan hubungan antarindividu, antarkeluarga, antarmasyarakat, antarbangsa, dan antarbudaya. Ikatan lahir batin antara seorang laki-laki dan seorang perempuan sebagai pasangan suami isteri, merupakan fondasi dari ikatan lahir dan batin antarkeluarga, antarmasyarakat, antarbangsa, dan antarbudaya.

Dalam konteks hablum minallah manfaat sebuah keluarga juga sangat strategis. Menikah adalah “menyempurnakan” agama. Di dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Baihaqi dari Anas bahwa Rasulullah saw bersabda,”Apabila seorang hamba menikah maka sungguh orang itu telah menyempurnakan setengah agama maka hendaklah dia bertakwa kepada Allah dalam setengah yang lainnya.” (Hadits ini dishahihkan oleh Al Banni didalam Shahihut Targhib wat Tarhib) (sumber : www.eramuslim.com).

***

Perubahan-perubahan sosial, terutama yang terjadi dalam keluarga, tidak menunggu waktu yang lama. Pada saat saya belajar sosiologi, pembahasan tentang keluarga masih tentang perubahan dari extended family (keluarga luas) menjadi (nuclear family) keluarga inti.

Industrialisasi yang memisahkan tempat kerja (kantor dan pabrik) dan tempat tinggal diduga sebagai salah satu penyebab perubahan keluarga luas menjadi keluarga inti. Urbanisasi dan kehidupan yang keras di kota-kota besar juga menuntut perempuan bekerja untuk mendapatkan tambahan income. Perubahan-perubahan tersebut diduga berpengaruh terhadap pola asuh terhadap anak-anak.

Kini, pembahasan tentang keluarga sudah lebih “canggih”. Tema perceraian lebih mendominasi pembahasan tentang keluarga. Hampir semua media cetak dan media elektronik bernafsu memberitakan perceraian. Tidak heran jika keponakan saya yang masih kelas 2 sekolah dasar sudah mengerti tentang perceraian. Bahkan, ia sudah bisa bercerita tentang perceraian orang tua dari sahabatnya. Oh my God!

Tampak Siring,  18 Februari 2012

 
Leave a comment

Posted by on February 24, 2012 in Gemeinschaft | Gesellschaft

 

Suicide

Tindakan bunuh diri atau suicide selalu “ngagetin” dan pelakunya tidak terduga. Bunuh diri tidak hanya dilakukan oleh orang-orang yang putus asa karena teralineasi, tereliminasi, stress, depresi, ikatan yang lemah kepada kelompok sosial, nilai-nilai sosial maupun nilai-nilai agama. Justru pelaku bunuh diri bisa seseorang yang sedang “on fire” memiliki ikatan kuat terhadap kelompok sosial, nilai-nilai sosial dan nilai-nilai agam.

Dari segi teknik, tidak ada teknik bunuh diri yang baru. Dari dahulu sampai sekarang, teknik bunuh diri ya begitu-begitu saja. Mulai dari minum racun, gantung diri, terjun bebas dari gedung tinggi, meledakkan bom, sampai dengan harakiri (menusuk perut dengan pedang samurai). Teknik bunuh diri yang relatif “moderen” adalah dengan cara menabrakkan pesawat ke menara kembar (World Trade Center) di New York. Sesungguhnya, teknik bunuh diri dengan menggunakan pesawat juga tidak terlalu baru. Teknik yang sama juga sudah diimplementasikan oleh pilot pesawat tempur Jepang melalui aksi kamikaze, tepatnya saat membumihanguskan Pearl Harbour.

Setali tiga uang, motivasi bunuh diri dari dahulu sampai sekarang juga begitu-begitu saja. Mulai dari putus cinta, hamil sebelum nikah, kalah judi, investasi yang ditanamkan rugi, “atas nama agama”, sampai dengan pertanggungjawaban atas kegagalan melaksanakan amanah (terutama dilakukan oleh orang Jepang).  Motivasi yang relatif “baru” adalah bunuh diri yang dilakukan oleh anak-anak sekolah dasar. Motivasi pelaku adalah malu karena tidak mampu bayar uang sekolah. (Kenapa anak-anak SD itu mesti malu ya? Lha wong negara yang berjanji dalam UUD 1945 bertanggung jawab kepada anak-anak terlantar saja “tidak malu”? – red.)

Pandangan umum individu dan masyarakat tentang tindakan bunuh diri cederung negatif. Tetapi juga ada masyarakat yang memiliki sistem nilai budaya yang “mengagungkan” tindakan bunuh diri sebagai bentuk pertanggungjawaban dan kesetiaan kepada kelompok sosial. Di Jepang, hara-kiri bukan dianggap sebagai perbuatan konyol, melainkan the traditional Japanese of honorable suicide.

Faktanya, semua orang, apapun latar belakang status sosial ekonomi, agama, suku, bangsa dan ideologi, berpotensi melakukan bunuh diri. Potensi bunuh diri tentu saja berbeda, dan terutama tingkat “keberanian” masing-masing orang untuk melakukan bunuh diri.

Perbedaannya, jika yang melakukan bunuh diri adalah orang-orang miskin, publikasi relatif minim, banyak orang tidak “ngeh” dan cepat melupakannya. Sebaliknya, jika yang bunuh diri orang terkenal, publikasi melimpah dan orang masih teringat, meskipun peristiwanya sudah lama berlalu.

Public figure yang bunuh diri memang lebih menarik atensi dan simpati. Paling tidak, hal ini terjadi di dunia sepakbola. Tahun 2009 Robert Enke – mantan kiper nomor 1 timnas sepakbola Jerman – bunuh diri. November 2011, Gary Speed, pelatih timnas sepakbola Wales juga bunuh diri. Bahkan, Babak Rafiati – seorang wasit sepakbola di Jerman – juga “berminat” bunuh diri, meskipun gagal.

Photo courtesy of AFP / Getty Image

Tulisan ini membatasi diri untuk tidak memberikan penilaian apapun terhadap tindakan bunuh diri, apapun metode dan medium yang digunakan. Bagi saya, minum obat tidur overdosis, menusuk perut dengan samurai, dan bakar diri hanya metode, substansinya adalah sama : bunuh diri. Tulisan ini menjelaskan tindakan bunuh diri dari sudut pandang sosiologi.

Jenis-Jenis Bunuh Diri

Emile Durkheim, seorang sosiolog berkebangsaan Perancis, adalah orang pertama yang secara ilmiah meneliti tentang bunuh diri. Temuan utama dari Durkheim adalah tindakan bunuh diri tidak selalu disebabkan oleh motivasi individual, melainkan juga faktor-faktor sosial masyarakat seperti norma-norma sosial, perubahan sosial, dan lain sebagainya. Artinya bunuh diri dapat saja dilakukan untuk memenuhi kepentingan individu yang bersangkutan maupun kepentingan sosial yang lebih luas.

Durkheim juga menemukan bahwa orang-orang yang hidup dalam masyarakat yang memiliki hubungan sosial yang relatif erat, kecenderungan untuk melakukan bunuh diri lebih kecil atau bahkan besar. Sebaliknya, meskipun secara seseorang dalam status sosial ekonomi relatif baik, namun jika orang tersebut teralienasi, “tereliminasi”, dan merasa terasing – sekalipun ia hidup dalam masyarakat yang memiliki hubungan sosial relatif kuat – bisa saja melakukan bunuh diri.

Secara sosiologis tidak ada hal-hal baru dalam tindakan bunuh diri. Dari dahulu sampai sekarang, motivasi dan bentuk-bentuk bunuh diri tidak mengalami perubahan yang signifikan. Mungkin saja cara dan medium yang dipilih untuk melakukan bunuh diri baru, tetapi substansinya tetap sama saja.

Sosiologi tidak menilai apakah tindakan bunuh diri salah atau benar dan baik atau tidak. Setiap sistem nilai budaya dan agama memiliki kriteria yang berbeda-beda untuk menilai bunuh diri. Sosiologi membedakan tindakan bunuh diri menjadi tiga jenis, yaitu anomic suicide, egoistic suicide dan altruistic suicide.

Klasifikasi bunuh diri didasarkan atas sebab-sebab atau motivasi dari bunuh diri. Perbedaan sebab-sebab atau motivasi tersebut lebih bersifat teoritis daripada praktek. Faktanya, yang sering terjadi adalah pencampuradukan antara ketiga jenis bunuh diri.

Setiap orang bisa saja mengaku bahwa tindakan bunuh diri yang dilakukannya didasarkan atas “perintah agama”, “menegakkan kebenaran” dan lain sebagainya sehingga seolah-olah tindakan bunuh diri yang dilakukan lebih pantas disebut altruistic suicide daripada egoistic suicide. Apakah pernyataannya benar atau tidak, hanya Tuhan Yang Mahamengetahui yang bisa menjawab.

Anomic Suicide

Dalam karya mereka berjudul “A Modern Dictionary of Sociology”, Theodorson dan Theodorson (1979 : 427)  mendefinisikan anomice suicide sebagai “a type of suicide that results from normlessness or social and personal disorganization. The value system of the group no longer has meaning for the individual, and he feels isolated, lonely, and confused. Any disruption of a way of life may leade to this type of suicide.”

Anomic suicide terjadi dalam masyarakat yang dalam kondisi tidak normal, antara lain akibat perubahan sosial yang relatif cepat, krisis ekonomi, resesi ekonomi, konflik sosial antar warga dalam satu masyarakat, maupun konflik sosial antarmasyarakat. Contoh dari anomic suicide yang disebabkan oleh krisis atau resesi ekonomi seperti diberitakan harian replubika (9 September 2011) sebagai berikut :

“Jumlah kasus bunuh diri meningkat drastis di Uni Eropa. Demikian kesimpulan tim peneliti seperti diterbitkan dalam majalah ilmiah Inggris The Lancet.

Peneliti membandingkan angka bunuh diri di sepuluh negara anggota Uni Eropa dari tahun 2007 hingga 2009. Hasilnya: di sembilan negara terjadi peningkatan kasus bunuh diri, bervariasi antara lima sampai 17 persen.

Di Inggris misalnya, angka bunuh diri meningkat dari 6,14 per 100.000 orang di bawah usia 65 tahun, pada tahun 2007, menjadi 6,75 tahun 2009. Ini peningkatan sepuluh persen.

Penyebab terbesar kasus bunuh diri di negara Yunani dan Irlandia, adalah krisis ekonomi. Peneliti tidak terkejut dengan hasil tersebut. Sudah sejak awal krisis, mereka meramalkan akan terjadi peningkatan jumlah bunuh diri. Juga di masa lampau terlihat adanya kaitan antara jumlah bunuh diri dengan situasi ekonomi.”

Egoistic Suicide

Egoistic suicide adalah “suicide that is due to the existence of strong social norms for which the individual is made to feel personally responsible, resulting in an overwhelming burden  on the individual. The group itself is not strong enough to provide the individual with a sufficient source of support and strength  outside himself. Nor is it sufficiently integrated to be able collectively to mitigate the individual’s feeling of responsibility and guilt for moral weaknesses and failure. Egoistic suicide is due to a strong value system, weak group integration, and an overpowering sense of personal responsibility.” (Theodorson and Theodorson, 1979 : 428)

Egoistic suicide bisa dilakukan oleh siapa saja, tidak peduli status sosial ekonomi orang yang bersangkutan. Orang-orang miskin yang terjerat kemiskinan struktural turun temurun dan bertahun-tahun, atau bahkan “hanya” karena tidak mampu membayar uang sekolah, “menemukan” jalan keluar dengan cara bunuh diri.

Orang kaya yang serba berkecukupan, memiliki harta benda yang dapat diwariskan sampai tujuh turunan, juga bisa bunuh diri. Perasaan terasing, kosong, dan tidak memiliki pedoman hidup yang jelas dapat mendorong orang kaya untuk bunuh diri. Demikian juga orang kaya yang mendadak miskin, antara lain investor dan spekulan yang tiba-tiba mendadak miskin, kadang-kadang lebih cepat mengambil keputusan untuk bunuh diri.

Altruistic Suicide

Altruistic suicide adalah “a type of suicide in which an individual who is very closely integrated into a gropu  or society kills himself for the welfare of the group. Altruistic suicide is motivated by a desire to serve the needs of the group. It is suicide based on self-sacrifice and tends to occur in social systems that deemphasize the importance of the individual.

Photo courtesy of http://www.historylink101.com

Contoh “klasik” tindakan bunuh diri jenis altrustic suicide adalah tindakan yang dilakukan oleh para penerbang pesawat tempur Jepang selama Perang Dunia II, terutama dalam penyerangan Pearl Harbour. Tindakan mereka dikenal dengan sebutan Kamikaze (secara harfiah berarti “angin topan”). Tindakan mereka dipuji dan dipuja. Para pelaku kamikaze dianggap sebagai pahlawan yang berjasa besar kepada bangsa dan negara.

Sejarah mencatat bahwa pengorbanan dan hasil dari misi Kamikaze sangat sangat spektakuler pada zamannya. Di pihak Jepang sendiri berkorban  2.525 pesawat terbang dan 1.387 pilot. Sementara di pihak tentara sekutu, terutama Amerika Serikat, tercatat 81 kapal tenggelam, 195 kapal perusak (destroyer) rusak berat, 4.900 awak kapal terbunuh, dan melukai  lebih dari 4.800 pasukan sekutu (www.id.wikipedia.org).

Sosiologi tidak berpihak dan netral terhadap ketiga jenis bunuh diri yang ada dalam masyarakat. Artinya, sosiologi tidak menilai apakah tindakan bunuh diri benar atau salah, baik atau tidak baik. Individu dan masyarakat sendiri yang memberikan penilaian terhadap tindakan bunuh diri sebagai tindakan yang benar atau salah, baik atau tidak baik.

Meskipun ada perbedaan penilaian terhadap tindakan bunuh diri, altruistic suicide cenderung lebih bisa diterima oleh individu, kelompok dan masyarakat dari agama dan sistem nilai budaya yang beragam. Dalam kondisi tertentu, sesuai “syarat-syarat dan ketentuan-ketentuan” yang berlaku, altruistic suicide tidak dipandang sebagai perbuatan salah dan dosa, melainkan sebagai honorable suicide.

Tampak Siring,  7 Januari 2012

 
2 Comments

Posted by on January 20, 2012 in Gemeinschaft | Gesellschaft